
•Happy Reading•
"INI MAU KEMANA?" teriak Alta.
Kafka yang mendengar Alta mengatakan sesuatu pun memperlambat laju kendaraannya. Lalu ia pun membuka visor helm dan menolehkan wajahnya sedikit kearah kiri, "Kemarkas sebentar, ada yang mau di omongin anak-anak ke gue."
Alta mengangguk kecil "Oke"
"Is it okay to go there first, before we date?" (Tidak apa-apa kan kalau pergi ke sana dulu, sebelum kita berkencan?)
"Date?"
"Ya, our first date" pemuda itu mengatakan dengan tersenyum tipis lewat kaca spion, membuat gadis yang berada di belakangnya menjadi tersipu malu. Tangan Kafka kini mengusap lembut punggung tangan Alta sambil menunggu traffic light berubah hijau.
"Kemana?"
"Kemana pun lo mau?" jawabannya, membuat Alta semakin mengeratkan pelukannya di perut kafka, menikmati kembali perjalanan mereka menunju markas Waldemarr.
...****************...
Setelah sampai di depan parkiran markas, Kafka kini sibuk membukakan helm yang di kenakan Alta.
"Terimakasih," ucap Alta lalu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Kafka mengangguk pelan dan mereka masuk ke dalam markas Waldemarr Secara bersamaan dengan Kafka yang menggandeng erat jari jemari tangan Alta, berjalan duluan. Sesaat sampai di ruang tengah mereka malah justru mendapati siulan dan sautan menggoda kepada Kafka dan Alta kini begitu memenuhi telinganya.
Bang Jovan dan Ali sudah senyum-senyum gak karuan, melihat kedua pasangan yang baru saja masuk kedalam ruang tengah dengan tangan yang terus saja bergandengan. Sementara Aleshaqi sudah berdehem-dehem kencang, meskipun tenggorokan nya tak terasa gatal.
"Mau nyebrang lo kaf?" seru Gaishan yang memang to the points, membuat kedua remaja yang baru masuk itu berdecih kompak.
"Ck, bangs*t. Berisik lo semua."
Sial, para sahabatnya sudah mulai ngelunjak. Pasalnya, bukan para anggota Waldemarr inti saja yang tengah berkumpul di ruang tengah. Para anggota Waldemarr biasa pun juga tengah ikut berkumpul dengan formasi lengkap hari ini.
"Duduk di sini" Kafka mempersilahkan Alta untuk duduk di salah satu sofa kosong tepat di samping Sanz. Sedangkan ia ingin kembali berjalan menuju ruang istirahat khusus dirinya.
"Mau kemana?"
"Bentar ya, gue mau ambil sesuatu. Sekalian minum buat lo" ucapnya sambil mengacak-acak pucuk kepala Alta dengan pelan.
"Jagain cewek gue, awas kalau sampai lo semua godain."
__ADS_1
"Ck, jagain cewek gue nggak tuh. Lain dah yang sekarang udah punya cewek, ngerriii." sindir Bang Jo.
"Cot loh, Bang!"
"Slow Bos, gak ada yang berani juga buat godain Alta." kata Calief kencang, yang merupakan teman sekelas mereka juga.
Sanz dan Gaishan terkekeh kompak melihat tingkah Kafka yang begitu terlihat berbeda pada Alta. Sanz sudah mengeleng-gelengkan kepala dan berbisik pada Gaishan yang duduk di sampingnya. "Cinta emang bisa ngalahin semuanya, sekuat apapun manusia tetap saja lemah jika sudah ketemu sama yang namanya cinta. Contoh nya kaya Bos lo, anj*r. Intonasi nada bicaranya lembut bener, udah ngalahin tahu sutera. Beda banget, apalagi kalau ngomong sama kita. Boro-boro ngomong panjang kali lebar, ngomong satu kata aja udah bersyukur."
Gaishan tertawa, "Sial*n lo, kalau ngomong kadang emang suka bener."
Hingga terdengar dua mobil yang baru saja berhenti dan dimatikan mesin nya di depan markas. Terlihat satu remaja putri yang baru saja turun mengenakan rok mini denim beraksen kancing dengan di padupadankan turtle neck berwarna merah maroon yang terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih, disusul di belakang gadis itu yang juga terlihat remaja putri bergaya casual yang pas berbalut ditubuhnya. Mereka masuk kedalam Markas Waldemarr menghampiri ke ruang tengah.
"ALTA!!" teriak Jessie yang memang sudah melihat Alta duluan, menghampiri dengan berlari kecil.
Alta menengok, lantas melambaikan tangan.
"Dari kapan lo disini?" seru Jessie memeluk Alta. Kemudian beralih kepada Gaishan. "Gaish, geseran." Gaishan langsung mengalah, berdiri memberikan duduk kepada Jessie. Lalu ia berpindah duduk sedangkan Sanz yang memang berada di samping Alta langsung bergeser setelah Gaishan berdiri.
"Belum lama," jawab Alta.
Jessie mengangguk dan tak lama Kafka datang sambil membawa satu kaleng minuman dingin untuk Alta dan kemudian ia duduk di sebelah Ali.
"Ya ampun seger banget, kaf. Buat gue sama yang lain nya mana?" ujar Aleshaqi yang merasa iri.
"Iya yang lain mah jompo kaf, yang kaga jompo Alta doang." sahut Aleshaqi kesal sekaligus menyindir.
"Ngomong lagi, gue timpuk sepatu gue, lo!" Alta.
Aleshaqi mengangkat kedua tangan nya, menyerah. Bukan karena takut ancaman Alta tapi lebih tepatnya ia dibuat ngeri oleh tatapan membunuh Kafka.
"Udah kaga usah ngengg, biar Chalief yang ambil minuman buat kita-kita orang." ujar Gaishan menengahi sekaligus menyuruh Chalief.
"Jadi maksud dan tujuan nya apa kita di suruh kesini?" ujar Jessie yang juga ikut menengahi.
"Kalau urusan itu biar Sanz yang jelasin."
Jessie mengangguk, mengerti akan ucapan Gaishan dan kembali berbicara dengan Cherry dan Alta. Untuk Bunga Mitha bahkan Debby kali ini tidak dapat hadir di karenakan ada urusan lain.
"Udah pada ngumpul kan? Gue mulai sekarang aja." terang Sanz.
"Udah," sahut semua yang berada di ruangan ini.
__ADS_1
"Gue mulai sekarang aja. Jadi seperti biasa, Waldemarr akan selalu ada acara setiap dua kali dalam setahun yang di bikin oleh anak-anak Waldemarr secara turun temurun sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Bagaimana untuk acara kedua kali ini di tahun yang sama, kita buat acara di panti asuhan Harapan kasih di daerah Jawa barat Deket villa milik Kafka. Dan gue juga udah omongin sama Kafka soal ini dan Kafka sendiri nyaranin untuk kita sekalian liburan bareng. Gimana kalian setuju nggak?"
"Gue sih setuju-setuju aja, tapi untuk pelaksanaan acara nya kapan?" seru Ali yang mewakili anak-anak lainnya.
"Untuk acara nya, bagaimana kita realisasikan besok pagi? Berhubung tiga hari kedepannya kita libur panjang dari hari Minggu sampai Selasa?" usul Gaishan.
"Jadi berangkat Minggu pagi?" Cherry bertanya kepada Gaishan lalu yang di tanya pun langsung mengangguk.
"Apa ada usulan lain?" Ali menambahkan.
Alta mengangkat tangan "Gue mau tanya dulu, berhubung gue baru di sini dan ini pertama kalinya gue ikut acara Waldemarr. Apakah tidak terlalu mendadak? Karena mungkin kita butuh persiapan dan bahkan anggaran."
"Gue bantu jawab. Kalau soal anggaran, udah ready karena Waldemarr itu punya anggaran pribadi yang kita kumpulkan dari hasil balapan. Dan anggaran kita cukup kalau untuk acara ini bahkan untuk keperluan anak-anak jika memang kita akan sekalian berlibur. Nah yang mau kita bahas itu, soal yang lo tanyain tadi Al. Kita butuh persiapan disini." Jelas Sanz panjang kali lebar.
"Oke, kalau anggaran memang sudah aman, untuk persiapan gampang. Kita tinggal cari tahu kebutuhan di panti asuhan Harapan kasih itu apa aja yang mereka butuhkan. Setelah kita ketahui apa yang di butuhkan mereka, kita tinggal persiapkan dan bisa langsung eksekusinya."
"Bagaimana Bos?" tanya balik Sanz.
"Gue ikut baik nya aja. Kalau untuk informasi apa yang mereka butuhkan, itu gampang. Tinggal gue yang tanyain langsung dengan IBu panti, apa saja yang akan mereka butuhkan." saut Kafka.
"Oke, berarti rencana kita sudah bisa terealisasikan dengan baik. Dan semoga besok lancar tanpa halangan apapun." kata Gaishan serius.
"Amin" jawab semuanya.
"Tinggal siapa aja yang akan ikut berangkat dan transportasi apa yang akan kita pakai buat kesana bawa barang. Selebihnya bisa pakai motor untuk berangkat ke sana."
"Slow Lesh, kalau untuk transportasi kita bisa pakai mobil Kafka dan Sanz." tutur Gaishan yang berbicara dengan mode santai kembali, sambil menikmati sebatang rokok di tangan nya.
"Kalian juga bisa pakai mobil gue kalau kalian mau dan butuh?!" ucap Jessie menimpali.
"Mobil gue juga bisa kalian gunakan, kok." Cherry tak mau kalah untuk ikut andil dalam kebaikan.
"Cakep lo pada sadar diri. Nah, gitu dong jadi peran kalian disini tuh bermanfaat tau gak. Gak bisa bantu tenaga tapi kan kalian bisa kasih pinjam apa yang kalian punya." oceh Ali.
Cherry dan Jessie langsung menatap nyalang kearah Ali dengan wajah tak terimanya. Inti Waldemarr yang satu itu kalau ngomong kadang suka gak berfilter atas ucapannya "Sial*n, ya lo Li kalau ngomong. Kita disini bisa bermanfaat tau nggak, iya kan Jess?"
Jessie mengangguk dengan cepat sebagai bentuk persetujuan nya. Gaishan dan Sanz yang melihat perdebatan dua gadis cantik di depan nya itu ikutan membela mereka "Ribut Yo?!" Sanz membela Cherry dan satu detik kemudian Gaishan yang berseru "Gelut sama kita yo, Li?"
Ali menghela napas nya, "Gue mendingan nyerah aja deh, daripada suruh duel sama lo berdua. Belum lagi mulut rombengan Jessie dan Cherry bikin fokus buyar, jelas gue kalah lah."
"Brengs*k ya mulut lo Ali, minta gue sambit sepatu lo ya?" Cherry sudah misuh-misuh sembari melepaskan sepatunya. Belum sempat Cherry melepaskan sepatunya untuk menyambit Ali, Ali sudah lebih dulu kabur sambil meledek, menjulurkan lidahnya kearah Jessie dan Cherry.
__ADS_1
Sedangkan Alta sudah terkekeh geli melihat ke absurdtan sahabat mereka yang sejak tadi berdebat dengan salah satu inti dari Waldemarr. Kafka yang melihat Alta terkekeh jadi ikutan tersenyum.