
•Happy Reading•
Rumah berukuran sangat besar dan luas yang di dominasi dengan warna putih itu nampak terlihat sangat sunyi. Dari bagian depan hanya terlihat seorang security yang menjaga.
"Pak Aman, bukain gerbang." Instruksi Kafka dari sebuah layar pipih (Door bell) di samping gerbang.
"Siap Mas."
"Mas jalan? Si black kemana?"
"Kafka Tinggal Pak, Kafka masuk dulu."
"Iya Mas."
Kafka berjalan terlebih dahulu dan di ekori oleh Alta.
"Assalamualaikum, Mbu." ucap Kafka sambil memencet bel, sesekali ia juga mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam, tunggu sebentar A." jawab seseorang dari dalam rumah Kafka.
Tak lama suara cekrekan kunci pintu pun terdengar dibuka dan pintu pun terbuka lebar menampilkan sesosok wanita paruhbaya, siapa lagi kalau bukan Bi Maemunah.
"Tumben A, tidak terdengar suara si black. Aa pulang naik apa?" tanya Bi Mae.
Bukan menjawabnya, justru Kafka langsung menyalami tangan Bi Mae.
"Kafka jalan kaki, Mbu."
"Motor Aa kemana emangnya?"
"Di tinggal di dekat Jl. Garuda. Tapi sudah Kafka suruh Gaishan untuk ambil."
"Ya sudah atuh, Aa mandi terus ganti baju dan makan malam dulu, Mbu sudah masak." ucap Bi Mae sambil melirik ke arah Alta. Bi Mae tidak berani menanyakan sesuatu yang sifatnya private dan menyudutkan. Seperti bertanya tentang Alta, bertanya mengapa motornya di tinggalkan di Jl. Garuda, bahkan menanyakan keadaan wajah Kafka yang terlihat lebam. Sebelum Kafka sendiri yang bercerita atau meminta tolong.
"Makanannya, bawain satu saja ke kamar Kafka ya, Mbu."
"Baik A."
"Ayo." ajak Kafka menggandeng tangan Alta menuju kearah tangga rumahnya.
"Kenapa kesini?" tanya Alta bingung.
"Gak usah banyak tanya, tinggal ikutin gue." ketus Kafka.
"Gue tunggu lo disini aja."
"Ayo ikut."
"Pemaksaan lo." gerutunya sambil mengekor.
Dengan langkah gontai dan pandangan yang celangak-celinguk melihat sekeliling. "Kaf, ini rumah gede banget tapi kok sepi yah. Bonyok lo belum balik kerja?"
"Belum."
__ADS_1
"Emang mereka baliknya jam berapa?"
"Tergantung mereka mau."
"Hah? Gimana maksudnya? Terus lo enggak ngerasa kesepian apa?" seru Alta sambil menaiki anak tangga dan melihat-lihat sekeliling rumah megah bernuansa white .
"Nggak." meskipun jawabannya tidak, tetap saja perasaannya berbeda dengan kenyataan yang ada. Selama ini ia merasa kesepian dengan kondisi ini, kedua orang tuanya yang hanya selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Pergi pagi pulang malam, terkadang tidak pulang berbulan-bulan hanya karena sebuah pekerjaan. Maka dari itu ia selalu menjadi anak yang berulah demi mencari sebuah perhatian dan kasih sayang. Pada dasarnya Kafka adalah anak yang baik dan pintar.
"Wait, ngapain lo ajak gue masuk kedalam kamar lo? Lo nggak akan macem-macem kan kaf sama gue??" tanya Alta lagi saat mereka berdua berada di ambang pintu sebuah ruangan yang bernuansa modern didominasi warna black and white.
"Kaf, woi, Kafka? Lo dengerin nggak sih?" seru Alta pelan, namun sepertinya Kafka enggan menjawab.
"Kaf, lo jangan diem dong?" namun Alta masih saja mengekori Kafka yang berjalan semakin jauh kedalam kamarnya. Tepat di ranjang, Kafka duduk di sofa kecil depan ranjang dan melempakan sepatunya kesembarang arah. Kafka lantas mengusap wajahnya kasar.
Alta menjadi kikuk sendiri dengan keadaan yang ada. Gadis cantik berambut panjang yang masih mengenakan seragam sekolah khas Lentera Bangsa itu hanya diam sambil berdiri di ambang pintu memperhatikan Kafka.
"Permisi A." ucap Bi Mae sambil membawakan nampan yang berisikan dua gelas bening jus jeruk dan satu buah makanan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Lalu ia menaruh nampan tersebut tepat di nakas pojok kamar Kafka.
"Kok Nona tidak masuk? Kenapa hanya berdiri saja di depan pintu?" ucap Bi Mae kembali setelah ia melihat Alta hanya berdiri.
Alta hanya tersenyum menanggapi perkataan Bi Mae.
"Nona takut ya jika Aa akan macam-macam?" lalu bi Mae tersenyum. "Tenang saja Non, Aa tidak akan macam-macam. Meskipun Aa Kafka terlihat sangat dingin dan garang namun ia tidak akan melakukan hal yang mencoreng harga dirinya sebagai anak laki-laki keluarga Keizkara, jadi silahkan masuk."
Alta kembali menatap Kafka lalu ia beralih menatap Bi Mae, perasaan nya berkecamuk.
"Silahkan Non masuk." kembali Bi Mae mempersilahkan Alta sambil mengangguk.
Lantas seperti mendapat jawaban yang meyakinkan dari Bi Mae kalau Kafka tentu tidak akan pernah melakukan hal yang macam-macam, maka disaat itu juga Alta masuk dan duduk di sofa dekat nakas pojok kamar Kafka.
"Iya A." berlalu pergi meninggalkan kamar Kafka.
Kafka yang semula duduk di sofa ranjangnya kini berjalan kearah Alta. Ia berdiri menatap nyalang Alta sambil menundukkan wajahnya ke arah wajah Alta.
Alta dengan gerakan refleks langsung memundurkan duduknya, ia menatap takut kearah Kafka, perasaannya semakin berdebar-debar.
"MAU NGAPAIN LO?" ucap nya naik satu oktaf.
Kafka tersenyum jail menatap wajah Alta. Entah mengapa disaat Alta menunjukkan suatu sikap sok beraninya malah membuat perasaan Kafka menjadi begitu sangat senang. Ada rasa yang tidak bisa Kafka jelaskan, kafka semakin berniat mendekatkan wajahnya ke wajah Alta.
"BANGS*T." teriak Alta sambil mencoba memukul kepala Kafka.
Dengan cekatan Kafka menangkap tangan Alta. Kini wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi dengan posisi Alta yang duduk menyender ketembok dan Kafka berdiri rukuk dengan menyondongkan wajahnya.
"Gue gak akan maafin lo, kalau lo macem-macem sama gue." ucap Alta Bergetar, Kafka langsung menyentil kening Alta dan tertawa manis.
Ha..ha.haa.haa.."Alta, Alta, siapa juga yang mau macam-macam sama lo. Gue itu mau ngambil piring ini. Lo pikir gue mau ngapain, hah?" ucap Kafka membuat Alta mendongak melihat Kafka.
"Nih, makan dulu. Gue tau lo laperkan? Maaf udah bikin lo berpikiran yang macem-macem." Kafka menyodorkan piring nasi itu kearah Alta dan duduk di sampingnya.
"Kok cuman satu? Lo enggak makan?"
"Gue masih kenyang."
__ADS_1
"Seriusan, gue makan sendirian? Atau lo mau gue suapin?"
"Gue masih kenyang." jawabnya, lalu fokus kearah handphone.
Bi Mae masuk kedalam kamar Kafka dengan membawa sebuah kotak putih di tangannya. "Kotaknya saya taruh di sini ya, A."
"Iya, terimakasih. Oh iya Mbu, kalau nanti ada Gaishan kesini bawa motor kafka. Suruh taruh motornya di bagasi aja, ya. Dan kalau Gaishan tanyain Kafka, bilang aja Kafkanya belum pulang."
"Baik, Mbu permisi dulu. Mau lanjut beres-beres lagi."
Kafka menganguk "Iya."
"Kenapa harus bohong?" oceh Alta sambil mengunyah suapannya.
"Kenapa juga harus jujur?" menatap datar kearah Alta.
"Ye, ditanya malah balik nanya." protes Alta menatap balik Kafka.
Kafka yang mendapatkan tatapan balik Alta pun menjadi grogi sendiri sehingga membuatnya salah tingkah.
"*BANGS*T, kenapa malah bikin perasaan gue nggak karuan begini." batin Kafka*.
Sementara di pintu gerbang utama sudah ada dua pemuda tampan yang memang sejak tadi di amanahkan untuk mengambil dan mengantarkan si black, motor kesayangan Kafka.
TET...TETTTTTT...TEEETTTTT!!!
Dengan segera pak Aman security rumah Kafka langsung membukakan gerbang tersebut.
"Kira Bapak siapa? Eh ternyata Mas Gaishan dan Mas Sanz, tumben kemari?"
"Kita kemari mau numpang makan, Pak." celetuk Sanz.
"Waduh, Mas telat kemarinya. Bi Mae baru saja pergi buat bagi-bagi makanan ke security depan komplek." timpal Bapak Aman.
"Jangan dengerin Sanz, Pak. Kafka nya ada?"
"Tidak ada yo Mas." jawab Pak Aman yang memang sudah diamanahkan Bi Mae untuk tidak mengatakan kalau Kafka sudah berada di rumah.
"Emang kemana Pak?" kini giliran Sanz yang bertanya.
"Lah, Bapak yo ndak tau. wong dari sewaktu pagi pas berangkat sekolah sampai gini hari masih belum Muleh, mungkin nongkrong sama kawan-kawan yang lainnya."
"Gak mungkin Pak, si black aja sama kita."
"Lah, piye. Berarti si Masnya jalan kaki dong ya? Terus sampean berdua mau ngapain?"
"Mau nganterin black balik lah, masa iya kita mau ngapelin Bi Mae. Ya udah deh, Pak. Kita mau kemarkas dulu. Siapa tau Kafka di markas."
"Iya Mas,"
Nih, Bapak aja yang masukin black ke bagasi. Kita berdua pamit ya, Pak."
"Iya Mas, terimakasih banyak. Si black udah dianterin balik."
__ADS_1
"Sama-sama, pak."