
•Happy Reading •
Malam kian pekat, jam di tangan pun sudah menunjukkan pukul Setengah Dua malam, namun kedua remaja yang sedang duduk di pelataran gedung masih enggan untuk bangkit.
Alta masih mempertahankan posisi duduk nya yang selonjoran sambil menyenderkan kepalanya di bahu Kafka, sedangkan Kafka duduk di samping Gadis itu sambil merokok. Mereka menunggu Ali datang, karena Kafka menyuruh Ali agar mengambil mobil nya yang berada di markas besar Waldemarr sedangkan tadi ia hanya memakai motor untuk pergi ke sini.
"Kaf," panggil gadis itu, mengenali Kafka dari Aroma parfum musk yang wanginya sudah sangat di hafal Alta.
"Emm,"
"Lo tau nggak bintang apa yang paling dekat dengan bumi?" tanya Alta ngelantur.
"Proxima Centauri" Jawab Kafka sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.
"Terus lo tau nggak bintang apa yang paling bersinar terang di malam hari atau di alam semesta?"
"Sirius"
"Gue bertanya tentang ini tuh, juga serius kaf!"
"Bukan serius Alta, tapi Sirius. S.I.R.I.U.S," Kafka mengeja kata Sirius dengan penuh penekanan. "Sirius adalah bintang yang paling terang di alam semesta Yang dikenal juga dengan nama Alfa Canis Major." lanjut nya kesal sambil mematikan puntungan rokok yang sudah tinggal sedikit.
Alta tertawa. "Ternyata lo pinter juga ya, Kaf."
"Lo baru tau?"
"Emm," Alta mengangguk.
"Terus, maksudnya apa lo bertanya tentang bintang?"
Kini, Alta menggelengkan kepalanya. "Gak ada maksud, gue cuma bertanya aja." jawab gadis itu, membuat Kafka menengok kesal ke arah nya. Sehingga terdengar helaan napas yang halus dan samar.
"Gak usah ngegas kaf." mendorong wajah Kafka pelan.
__ADS_1
"Kalau lo jadi pacar gue, gue bakalan jadi bintang kaf!!"
Kafka kembali menengok kearah Alta, mengernyit bingung. "Kenapa begitu?"
"Soalnya gue gak mau kalah terang dari bulan!"
"Emang bisa?"
"Bisa lah, gue bakalan nego sama langit." jawab gadis itu yakin seolah-olah ia berteman baik dengan alam semesta. "Karena pada dasarnya bintang tidak pernah meninggalkan langit malam,"
"Walaupun langit malam jatuh cinta pada bulan?" Tanya Kafka menimpali.
Alta mengangguk." Makanya lo jangan terlalu fokus mencari satu bulan tanpa menghiraukan beribu bintang yang ada buat lo!"
Dari jarak sekian dekat, Kafka bisa merasakan keseriusan gadis itu. Walapun dalam keadaan mabuk, tapi, kafka bukan anak kecil yang percaya begitu saja. Meskipun ia tau kalau gadis itu sedang menjabarkan perasaan nya lewat analogi.
"Bagaimana kalau misalnya, sampai kapanpun lo gak akan pernah bisa jadi bintang? Karena, mustahil."
"Yakin, lo gak akan sakit hati kalau gue jadian sama orang lain?"
Alta menggeleng.
"Lo geleng-geleng, yakin gak sakit hati atau apa?"
"Gue geleng-geleng, gak tau nanti nya gue akan kuat lihat lo sama orang lain atau nggak."
Kafka menyentil kening Alta.
"Awww, sakit Kaf." keluh gadis itu masih dengan posisi yang menyenderkan kepalanya ke bahu Kafka. Rasanya ia tidak mampu lagi untuk menegakkan kepalanya, terlalu berat.
"Makanya berusaha dong."
"Kalau gue berusaha, apa lo mau jadi pacar gue?"
__ADS_1
"Kenapa enggak, kan gak ada yang mustahil."
Alta mengangguk setuju seraya matanya terpejam.
Setelah hampir satu jam Ia dan Alta menunggu. Akhirnya mobil yang di kendarai Ali tiba di depan mereka.
"Lama banget lo nj*ng."
Ali langsung buru-buru turun."Sorry Bos, Pom bensin ngantri. Lagian juga belum subuh."
"Bantuin nih."
"Yaelah pakai acara bantuin, bopong aja si Bos. Itung-itung latihan fisik."
"Bantuin bukain mobil nya, gobl*k. lo kira gue Krisna."
"Krisna?"
"Kelamaan, berat ini gue."
"Maksud nya Krisna apa nj*ng, gue kaga paham." Ucap Ali, sambil membantu Kafka membukakan pintu mobil belakang.
"Tangan nya banyak." memposisikan Alta di bangku belakang dengan sangat nyaman, lalu ia kembali menutup pintu mobil.
Ali memutar bola matanya kesal. "Bilang aja tangan nya banyak pakai acara muter-muter lo Bos." Berlari kecil, mengambil alih duduk di balik kemudi kembali.
"Berisik lo" ucap Kafka yang juga sudah berada di sebelah Alta.
"Bos, ngapain lo duduk di belakang? Berasa gue jadi supir dan lo majikannya, bangs*t."
"Sekali-kali ngerasain gemb*l."
Ali tak ingin memperdulikan lagi ucapan Kafka, Ia sudah tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Kafka, baginya gak berguna. Karena pada akhirnya ia juga yang akan kalah.
__ADS_1