KAFKA

KAFKA
BERUSAHA MENATA PERASAAAN


__ADS_3

•Happy Reading•


"Naik," perintah Kafka tanpa bisa di tolak saat mereka berdua sudah berada di parkiran.


Alta pun menuruti perintah Kafka. Ia naik ke boncengan pemuda itu, ketika Alta sudah bertengger manis, Kafka langsung menancapkan gas keluar gerbang.


"LOH...LOH..., MAS KAFKA MAU KEMANA? KENAPA SUDAH MASUK KEDALAM SEKOLAH MALAH JUSTRU KELUAR LAGI TOH MAS. BEL MASUK SUDAH MAU BERBUNYI!!!!" teriak security sekolah namun diabaikan oleh Kafka.


"Pegangan."


Alta terdiam, ia tidak mau menuruti perintah Kafka kali ini. Kafka pun tak ingin mempermasalahkan hal sepele tersebut lalu melajukan motornya ke badan jalan dengan cepat. Setelah hampir empat puluh menit mereka membelah jalan ibu kota yang hampir setiap hari, macet. Kini motor yang dikendarai oleh Kafka pun berhenti di sebuah bangunan tua dengan bendera kebangsaan Waldemarr.


Markas besar Waldemarr, ketempat itulah Kafka membawa Alta. Mungkin tidak ada seseorang yang akan berani mendengar kan semua ucapan kafka. meskipun di ruang tengah terdapat beberapa anak-anak yang bolos dan bang Jo. Sementara Kafka, melangkah terlebih dahulu masuk ke ruang tengah sambil menenteng helm full face hitam nya dan jaket kebesaran Waldemarr.


"Siapa Kaf? Tumben lo bawa cewek? Gue kira cinta lo cuma mentok di Aluna?!" ucap Bang Jo dengan kekehan mengejeknya.


Kafka mendecak sebal, ia mendekat ke arah Bang Jo. "Masalah kecil, tolong lo bawa anak-anak yang lainnya ke Gedung belakang Markas."


"Siap, 86."


Alta menatap keduanya, matanya terus saja memandangi keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Kafka setelah berbicara dengan Bang Jo, yang memang sudah mengintruksikan untuk yang lainnya ke gedung belakang, ia langsung melangkahkan kakinya lagi, mendekat kearah Alta yang masih berdiri di luar pintu.


"Masuk,"


Alta menggeleng cepat.


"Masuk."


"Gak."


"Please masuk." Kafka menatap Alta yang juga tengah menatap dirinya. Lalu Alta kembali menggeleng "Gue gak mau masuk."


Kafka menghela napas perlahan, ia masih menatap Alta dingin. Tanpa banyak bicara, Kafka langsung menarik tangan Alta untuk mengikuti nya.


"Bisa pelan sedikit nggak sih? Kasar banget!!" Alta merengut kesal lantaran Kafka memaksanya untuk masuk kedalam mengikuti langkah besar pemuda itu.


Lagi-lagi Kafka menghela napas, bukan napas perlahan namun lebih kasar. Mengusap wajah nya pelan mencoba tidak terpancing emosi pada Alta."Sorry, gue gak akan narik lo kalau lo gak batu."


Alta terdiam.


"Ayo masuk" kini Kafka meraih pergelangan tangan Alta dengan sangat perlahan.

__ADS_1


Namun justru Alta berusaha menarik pergelangan tangan nya dari Kafka. "Gue bilang gue gak mau masuk!"


"Kenapa?"


"LO YANG KENAPA? MARAH-MARAH GAK JELAS MAKSA GUE BUAT IKUTIN LO!" Nada bicara Alta meninggi.


"Lo berangkat kesekolah bareng siapa?" tanya Kafka to the points.


Alta tertawa sumbang, "Masalah nya sama lo apa?" Bukan menjawab Alta malah balik bertanya.


"Gue tanya lo berangkat kesekolah bareng siapa?"


"Dan gue tadi juga bertanya sama lo, ada masalah apa lo sampai marah-marah cuma buat nanyain gue berangkat bareng siapa."


"Sekali lagi gue tanya lo berangkat kesekolah bareng siapa?" Kafka membalas, sekuat tenaga ia menahan emosi nya agar tidak lepas.


"Gue bareng sama Prince, puas lo!!" jawab Alta angkuh.


"Sejak kapan lo deket sama Prince?"


Alta terdiam, sama sekali ia enggan menjawab pertanyaan Kafka.


Alta masih terdiam.


"ALTA," bentak Kafka, ia mendekat sambil menggeram tertahan. Lalu menarik satu tangan Alta dengan sedikit kasar. Refleks gadis itu pun terseret beberapa langkah lebih dekat dengan Kafka.


"Lepas!" Alta memberontak, tapi Kafka tidak perduli. Ia justru memojokkan tubuh Alta pada dinding. Satu tangannya ia letakkan di samping kepala Alta. Di sorotnya mata berwarna langit itu dengan tajam, penuh intimidasi.


"Gue berusaha untuk nahan buat nggak emosi dari tadi, jadi jangan coba-coba buat mancing emosi gue Alta," ujar Kafka memperingatkan.


Alta menatap Kafka sengit "Ya terus mau lo apa?!"


"Jelasin." Suara dingin Kafka kembali terdengar. Ia mengunci pergerakan Alta, membuat Alta benar-benar tidak dapat berkutik. Sorot matanya menatap tajam membuat nyali Alta menciut takut. Alta menunduk dalam tidak ingin menjelaskan.


"GUE BILANG JELASIN, SEJAK KAPAN LO DEKET SAMA PRINCE, ALTA!!" Gertak Kafka nyaris berteriak, matanya kembali menyorot dengan tajam. Mengangkat dagu gadis di hadapannya hingga manik mata mereka bertemu.


Alta tersentak, matanya memerah menahan tangis. Ia tidak suka di bentak, kedua orangtuanya bahkan tidak pernah membentaknya sekalipun mereka dalam keadaan marah. Alta mendorong tubuh Kafka. "Kenapa lo bentak gue?"


"Jelasin, sejak kapan lo deket sama Prince? Apa susah nya sih lo jawab, lo hanya cuman tinggal jawab Alta."


"Sejak kemarin, apa urusan nya sama lo, Kaf."

__ADS_1


"Gue gak suka lihat lo deket sama dia."


"Kenapa?"


"Gue gak suka lihat lo sama cowok lain"


"Iya kenapa?"


"Gue bilang gue gak suka, ya gak suka Alta!"


"Lo lucu kaf, lo bilang gak suka lihat gue sama cowok lain, gue tanya kenapa? Lo gak mau jawab. Kenapa lo ngatur hidup gue? Kenapa lo ngelarang gue? Sedang gue itu bukan siapa-siapa buat lo. Lo ternyata egois ya kaf, lo gak pernah ngerti sama perasaan gue!" Ucap Alta, ia masih berusaha menahan buliran bening di pelupuk matanya dengan membuang pandangannya kearah lain.


"Karena gue gak suka lihat lo tersenyum manis buat cowok lain Alta, gue gak suka lihat lo meluk cowok lain, selain gue. Gue gak suka lo di sentuh orang lain, lo itu cuma milik gue!" Nada Kafka tak lagi tinggi, sekarang suara itu cenderung terdengar lirih matanya menatap penuh kepada Alta.


Deg


Hening, Alta mencoba mencerna ucapan Kafka baik-baik.


"Maksudnya?" balas Alta pelan. Ia tidak mau menyalah artikan ucapan Kafka barusan.


"I fell in love with you Alta, I was jealous when I saw you earlier." (Gue jatuh cinta sama lo Alta, gue cemburu lihat lo tadi.)


Alta tertawa miris "Hey, lo lagi gak bercanda kan? Lo barusan bilang apa? Lo bilang lo jatuh cinta sama gue? Lo bilang lo cemburu sama gue? Mudah banget buat lo mainin sebuah perasaan."


"Gue serius, gue lagi gak bercanda."


"Lo bilang, lo serius? Gue cukup sadar diri kaf, gue akuin sama lo kalau gue itu suka sama lo dan gue mungkin sudah masuk ke katagori sayang. Tapi gue gak mungkin egois memaksa lo buat sayang gue kan, Kaf? Hiks.." Kini air mata yang sejak tadi di tahan nya pun akhirnya tak terbendung lagi. Air mata nya menetes membasahi pipinya yang putih.


"Karena gue tau, ternyata level tertinggi sebuah rasa sayang itu adalah mengikhlaskan. Merelakan bukan berarti menyerah, tetapi menyadari bahwa ada hal yang tidak mungkin untuk menjadi nyata. Sebelum semua terlalu jauh, mengiklaskan dan merelakan adalah cara satu-satunya, Gue lagi mencoba itu." Alta mengambil napas banyak-banyak. Oksigen seakan menjauh. Sedetik kemudian, ia kembali berkata.


"Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan, tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan kan? Gue berusaha buat menata perasaan gue kaf. Jadi tolong jangan lo permainkan perasaan gue, sedangkan lo baru kemarin menyatakan perasaan lo ke Luna, Kaf." Alta membuang pandangannya kearah lain, serta menghapus air mata nya kasar.


"Lo salah paham, Al." ucap Kafka menatap Alta dalam-dalam dan menangkup dagu Alta perlahan, agar Alta mau kembali menatap nya. Sayang, Alta hanya terdiam sambil terus menerus meneteskan buliran bening.


"Lo liat mata gue Al, apakah ada sebuah kebohongan? Lo rasain detak jantung gue" kini giliran tangan Alta ia tempelkan di dadanya, agar Alta dapat merasakan detak jantung nya. "Lo bisa merasakan bagaimana jantung gue berdegup kencang saat ini. Itu semua tulus Karena rasa gue buat lo. Gue minta ini pertama dan terakhir kalinya lo meneteskan air mata di depan gue, karena gue gak akan lagi bisa melihat air mata jatuh untuk kedua kalinya di mata lo." Kafka menghapus pelan air mata Alta yang terus jatuh menggunakan ibu jarinya.


"Please jangan nangis, Al. From now on, my feelings are completely yours. I destroy the wall of defense of my heart so you can erase another name in my heart and write your name in it, I love you Aludra Altalune." (Mulai sekarang, perasaan gue sepenuhnya milik lo. Gue hancurkan tembok pertahanan hati gue agar lo bisa menghapus nama lain di hati gue dan menuliskan nama lo di dalamnya. Gue mencintai lo, Aludra Altalune.)"


Hiks... hiks... "Lo bohong, lo jahat, Kaf." Memukul-mukul kan tangannya di dada Kafka.


Refleks Kafka langsung menarik Alta kedalam pelukannya, ia tidak sanggup melihat Alta menangis. Hal itu terlalu menyakitkan. "I'm not lying" katanya sambil mengusap pelan pucuk kepala Alta. Mencoba memberikan ketenangan pada gadis nya.

__ADS_1


__ADS_2