KAFKA

KAFKA
AKHIRNYA BALIKAN


__ADS_3

•Happy Reading•


"Gimana hubungan lo sama Gaishan? Ada kemajuan nggak?" Alta bertanya sambil ngemil keripik kentang bumbu rumput laut yang Jessie bawa tadi. Saat ini Alta dan jessie sedang duduk di ruang TV. Alta memang sudah meminta gadis itu untuk menginap malam ini di rumah nya, lantaran Mama Gaby sedang berada di luar kota mengikuti Ayah Arta yang bertugas dan Bang shaka seperti biasa di akhir pekan selalu naik gunung. Jadilah Alta meminta Jessie untuk menginap menemaninya. Bukan hanya Jessie saja yang ia pinta untuk menemaninya menginap melainkan Cherry, Bunga, Mitha dan juga Debby. Sayang yang hanya bisa menemani Alta saat ini hanya Jessie, dikarenakan yang lainnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Jessie berdecak pelan "Gue bingung," ucapnya lalu berhenti dan tak melanjutkan perkataan nya.


"Kenapa?" Tanya Alta merespon jawaban Jessie sambil memfokuskan matanya ke layar pipih yang berada di tangan.


"Gue takut, kalau nantinya gue nggak bisa memenuhi ekspetasi Gaishan. Gue takut rasanya nggak akan sama seperti dahulu."


Alta menengok sesaat, lalu ia kembali memfokuskan diri pada handphonenya. "Bukannya, beberapa kali belakangan ini lo sering jalan bareng dia lagi.?"


"Iya" Jawab Jessie, matanya terus saja menonton drama Korea di layar TV.


"Justru lo masih merasa nyaman, kan? Jadi bisa kembali mengingat memori saat-saat bahagia dulu lo bareng dia."


"Nyaman sih Al, tapi ada rasa yang berbeda yang nggak bisa gue utarakan lewat ucapan."


"Contohnya?"


"Gue takut niatnya malah buat gue jadi pelampiasan Zea."


"Gue rasa Gaishan bukan cowok sepicik itu. Semisalnya Gaishan ngajak lo bener-bener buat balikan lagi dengan tulus, Apa lo mau?"


"Andai aja beneran dia bilang tulus ke gue soal itu. Selama beberapa kali jalan dan deket lagi sama dia, dia emang ngajakin gue balikan lagi, tapi dengan nada yang nggak serius. Gue berpikir kalau dia cuman main-main karena pelampiasan amarah dia ke Zea." Dengus Jessie.


"Jadi lo beberapa kali nggak jawab pertanyaan gue buat mau balikan, itu karena lo nganggep gue nggak serius?" Orang yang menjadi topik obrolan antara Alta dan Jessie tiba-tiba saja muncul, serta merta langsung memposisikan dirinya duduk di sebelah Jessie yang memang sedang duduk di lantai.


Alta yang melihat Gaishan sudah berada di dalam rumahnya, langsung berdiri dan bergegas pergi ke halaman depan menemui kafka. Membiarkan Gaishan melancarkan aksinya untuk mengatakan dengan serius tentang rencananya untuk kembali mengubah hubungan masa lalu nya bersama Jessie yang kandas menjadi masa depan untuk selalu bersama.


"Alta lo mau kemana?"


"Mau nemuin Cowok gue lah."


"Terus kenapa kita di tinggal berduaan?"


"Biar Gaishan bisa ngomong serius sama lo."


"Lo ngejebak gue ya?"


"Eem, bisa dikatakan begitu sih Jess."


"Alta sial*n lo ya."


"Gue kasih ruang dan waktu buat lo ngomong tentang hubungan lo, sampai gue balik lagi sama Kafka."


"Ini gue ditinggal berduaan?"


"Ya, lo bebas mau ngapain aja. Bye Jessie." Seru Alta yang benar-benar meninggalkan Jessie bersama Gaishan.


"Ish, bener-bener ya tuh anak!! " gerutu Jessie.


...****************...


Kafka menipiskan senyumannya ketika gadis berparas cantik itu menghampiri dirinya yang tengah nyebat di area teras. Tangan kiri nya bergerak mengusap rambut Alta lembut sesaat Alta sudah berada tepat diposisi samping Kafka.


"Cantik banget sih" Celetuk Kafka, memuji Alta.


Alta langsung memasang wajah songong, sembari tersenyum lebar. "Udah dari lahir kali. Dan sudah paten tak perlu di ragukan." Kata Alta.

__ADS_1


Kafka berdecih pelan. "Kalau kepedeannya kayak gini sih malah jadi luntur, cantiknya. "


"Enak aja!!" Semprot Alta memukul lengan Kafka. Membuat prmuda di samping nya tertawa sambil menyelipkan beberapa anak rambut Alta kebelakang kuping.


"Gimana Jessie? Apa dia misuh-misuh?"


"Em, karena gue langsung tinggal."


Kafka menganggukkan kepala, "Mau ikut gue nggak?"


"Kemana?"


"Tempat prostitusi."


"KAFKAAA," Lagi-lagi Alta memukul lengan Kafka. "Ish, lo mah begitu. Yang bener mau kemana? "


"Jalan malem keliling komplek lo! Gue nggak mau ninggalin makhluk dua yang ada di dalem lama-lama. Takut iman Gaishan nggak kuat. Keluar dari rumah lo malah jadi ponakan gue lagi."


"Ish, sembarangan banget sih bicaranya."


Kafka tersenyum, langsung berdiri menarik tangan Alta. "Ayo, keburu malem."


Sedangkan Alta langsung menurut, mengikuti langkah Kafka di samping nya sambil terus menggandeng jemari besar Kafka.


...****************...


Dua manusia berbeda jenis yang tengah berada di ruang televisi di rumah Alta, pun menjadi kikuk sendiri setelah kepergian sang pemilik rumah.


"Mau sampai kapan woy, lo diem aja di samping gue?" Tanya Jessie sambil matanya melirik kearah Gaishan.


"Nunggu sampai episodenya habis, gue tau lo nggak akan suka kalau gue gangu saat lagi nonton drakor. Setelahnya baru gue akan ngomong."


"Kenapa di matiin?"


"Gue udah nonton dua kali." Jawab Jessie berbohong, tentunya.


"Marah ya? Karena udah ngerusak kegiatan lo?"


"Nggak, tau dari mana kalau gue ada di rumah Alta?"


"Gue nggak tau kalau ada lo. Kafka yang ajakin gue kesini. Dia bilang suruh temenin dia dirumah Alta."


"Oh, Kenapa minta temenin?"


"Takut-takut kalau berduaan malah ada orang ketiga. Jadi dia ajakin gue."


Tanpa disadari, Jessie malah tertawa terbahak-bahak. "Secara nggak langsung dia nganggep lo orang ketiga nya. Untung ada gue, jadi lo bukan orang ketiga yang berarti "Setan" Ucap Jessie menahan tawa.


Gaishan tersenyum tipis "Jangan terlalu manis tawanya. Kalau lo gini terus, gue malah susah lupain lo, Jes."


Reflek Jessie malah menatap wajah Gaishan dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kenapa? Kenapa lo mau lupain gue?" Tanya Jessie gemetar.


"Biar gue bisa lebih tenang kalau suatu saat nanti akan ada seseorang yang akan bahagiain lo." balas Gaishan, menatap intens Jessie.


"Mungkin ini cara terbaik buat gue bisa bikin lo bahagia, Jess. Bener yang lo bilang tadi, kalau kita paksain yang ada rasa itu tak lagi akan sama."


"Lo dengerin omongan gue sama Alta? "


"sedikit" jawab Gaishan.

__ADS_1


Jessie menggelengkan kepala dengan gerakan cepat. Rasa-rasanya bibirnya pun terasa kelu untuk berbicara. Hanya ada genangan air mata yang membendung di pelupuk mata. Mengapa, kata demi kata yang terucapkan oleh Gaishan terdengar begitu menyayat hati.


"Maaf ya, kalau gue terus menerus bikin hati lo sakit. Lo gak perlu lagi dengerin nada permintaan gue yang terkesan bercanda, buat minta balikan lagi. Makasih udah mau buang-buang waktu buat cowok yang modelan nya berengs*k dan gak guna kaya gue." Tutur Gaishan pelan. Makin membuat hati Jessie tersayat.


"Gimana kalau kebahagiaan gue itu ada sama lo?" Setetes air mata jatuh dari pelupuk Jessie. Dan dengan cepat ia menyekanya, membuat Gaishan tertegun.


"Mana ada kebahagiaan lo itu ada di gue, Jess. Rasanya terdengar aneh bukan? Di menit ini lo bilang kebahagiaan lo ada pada gue, dan di menit yang sama pula, gue adalah orang yang selalu buat lo menitikan air mata."


Mati-matian Jessie menahan gejolak pada dadanya, Jessie sedikit mendongkak agar air matanya tak luruh.


"Lo emang nggak ada niatan serius yang bikin gue yakin kalau lo emang nggak akan buat gue gak nangis lagi. Ternyata, lo biarin asumsi gue terlihat nyata Gaishan."


Gaishan mendekat, menangkup kedua pipi gadis yang tengah menunduk di depannya. "Ini cara gue mencintai lo Jess. Asal lo tau, di balik perkataan gue yang terdengar tidak serius. Adalah pengalihan diri gue dari rasa bahagia gue yang seakan takut jadi salah tingkah. Harus nya lo paham dan gak akan meragukan sayang gue bukan?" Ujarnya jujur, salah satu tangan nya ia gunakan untuk menghapus air mata yang sudah tak lagi di tahan oleh pemiliknya.


Jessie memeluk erat Gaishan, seakan-akan tidak ingin Gaishan pergi darinya sambil terus menangis.


"Yah, nanti hoodie gue kena ingus lo." Sentak Gaishan tiba-tiba.


"Bodo!!" Malah dengan begitu sengaja nya Jessie mengeluarkan ingus nya.


"Bahagia selalu, beb. Jangan lagi ada air mata yang keluar setetes pun hanya karena cowok brengs*k kaya gue."


Jessie menganggukan kepala. "Gaishan, boleh nggak gue egois sekali ini aja dan nggak tau diri?"


"Apa?"


"Don't go, stay by my side. (Jangan pergi, dan tetaplah berdiri di sisi gue)"


"Am i the source of your happiness? (Apakah gue sumber kebahagiaan lo?)"


"Em, gue cuma iri sama Zea. Karena cuma sama dia lo terlihat bahagia."


"Lo salah beb, lo nggak perlu iri sama Zea."


"Kenapa?"


"Yang seharusnya iri itu Zea. Karena, In my heart there is only your name, in my mind there is only your face. ( di hati gue ada nama lo, di pikiran gue cuma ada wajah lo.) "


"Sial*n banget sih, kenapa gombalan buayanya di keluarin!"


Gaishan tertawa renyah "Ngerusak momen lo, beb. gue udah mode serius dan romantis juga. "


"Katanya nggak boleh gue nangis?"


"Em, lo harus tersenyum terus sampai-sampai orang beranggapan lo gila. "


"GAISHAN!!!" teriak Jessie memukul Gaishan.


"Berisik tau nggak!"


"Lagian lo, sih!! "


Tanpa aba-aba, Gaishan menarik tangan Jessie agar tubuh nya lebih mendekat pada nya. Perasaannya tak dapat di kendalikan. Matanya menatap Jessie dalam mengikis jarak yang membentang kedua-duanya. Deru nafas keduanya saling bersahutan, menciptakan irama sendiri.


Hidung mereka tak lagi berjarak, Jessie memejamkan mata, merasakan nafas hangat Gaishan yang menerpa lembut kulit wajahnya. Seperkian detik tubuh Jessie menegang ketika sebuah benda kenyal mendarat tepat di atas bibirnya.


Tangan Jessie mencengkram kuat di kedua sisi jaket Gaishan. Darahnya berdesir hebat kala merasakan ******n kecil nan lembut yang di berikan Gaishan. Denyut jantung nya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Membalas tak kalah lembut sampai pada akhirnya keduanya pun terhanyut memperdalam ciuman mereka, ******* satu persatu seperti sedang mengabsen jajaran gigi keduanya dengan penuh kelembutan tanpa adanya nafsu.


"Be the only queen in this heart. (Jadilah satu-satunya Ratu di hati ini.)" Ucap Gaishan setelah pungutan mereka terlepas. Dan di hadiahi anggukkan.

__ADS_1


__ADS_2