
Jika diawali dengan bismillah
Maka harus diakhiri dengan hamdalah
Tibalah kita di hari yang fitrah
Harap dimaafkan segala salah.😊
Minal 'aaidiin wal faaiziin, mohon maaf lahir dan batin. 🙏
•Happy Reading•
Pagi-pagi sekali Kafka sudah berada di rumah Alta, ia selalu menjemput gadis itu semenjak hubungan mereka resmi berpacaran.
Alta mengunyah nasi goreng yang berada di dalam mulutnya sesekali menyuapi Kafka yang juga ikut sarapan di rumah mereka.
"Emangnya kamu baby siternya Kafka ya, nak?" tanya Arta menggeleng heran.
"Alta emang suka gitu om, bukan karena aku yang minta. Tapi agar makanan yang dia makan cepat habis." jelas Kafka.
"Memang begitu?" tanya Arta, kali ini kepada istrinya.
Istrinya tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya "Iya, kalau Alta makan makanan berat, Pah."
"Biasanya Shaka Pah yang jadi korban nya Alta." rengek Shaka mengadu ke pada Ayahnya.
__ADS_1
"Begitu ya? Kok Papah baru tau." menatap ke arah Alta bergantian menatap ke arah Istrinya.
"Makanya om, sering-sering perhatiin keluarga om. Jadi hal sekecil itupun dapat om tau."
"Sembarangan kamu kalau bicara."
Kafka tertawa di susul oleh yang lainnya.
"Sudah cepat berangkat, nanti kalian terlambat lagi." elak Arta kepada kedua remaja di depan nya itu.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Alta, kedua remaja itupun berangkat dengan menggunakan motor sport milik Kafka.
Alta mendekatkan kepalanya, menyender ke bahu pemuda yang kini fokus nya kedepan jalan.
"Lo capek?" tanyanya di sela-sela suara hiruk-pikuk drama pagi hari.
"Lo mau bolos?"
"Nggak," tuturnya menggeleng. "Gue bisa tidur di kelas nanti."
Gadis itu kini dibuat fokus pada jari jemari tangan yang di penuhi luka dan sedikit lebam milik Kafka. "Jari lo kenapa?"
Kafka terdiam sejenak, lalu kemudian mengangkat tangannya "Ini?"
"Em, lo ribut lagi? Setelah habis nganterin gue balik semalam?"
__ADS_1
Kafka tersenyum, namun pandangan nya masih fokus pada jalan macet didepan nya. "Latihan fisik." celoteh nya pelan dan asal.
Alta menghela napas pelan, "Lo bohong kaf, gue paham itu."
Tawa Kafka kini pecah membuat gadis yang berada di belakangnya pun menjadi mencak-mencak serta mencubit pelan perut pemuda itu. "Kenapa ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?"
"Gue mau uji lo, seberapa besar lo mengenal gue. Tapi ternyata lo cukup mengenal diri gue." serunya sambil kembali melanjutkan perjalanan kesekolah.
"Apa menurut lo gue harus di uji?"
"Em, ternyata lo sudah cukup teruji tanpa harus di uji."
"Gila lo." seru Alta malas.
"GUE EMANG UDAH GILA, BAHKAN JADI TERGILA-GILA. DAN GUE SAYANG BANGET SAMA LO, ALUDRA ALTALUNE. KARENA LO SATU-SATU NYA YANG PAHAM BAGAIMANA DIRI GUE." teriak pemuda itu mengalihkan semua atensi orang disekeliling nya dengan pandangan yang penuh asumsi dibenak mereka masing-masing, dan ada pula yang tertawa menanggapi teriakan Kafka, ada pula yang biasa saja tak perduli.
Alta tertawa mengalihkan rasa malu nya, bahkan wajah nya kini terlihat memerah, merona. "WOY, GUE JUGA SAYANG KAFKA AEFAR KEIZKARA" teriak Alta tak kalah kencang membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
"DASAR PASANGAN STRESS, TERIAK-TERIAK DI JALANAN LAGI" seru Jessie kencang melewati motor mereka.
"Cie, lampu hijau lo sama ayang Gaishan. Tumbenan mau di jemput gak naik mbem sendiri." Balas Alta kencang.
Gaishan mengacungkan jempol nya, tanpa menengok "Doain gue, semoga gue official lagi." sedangkan Jessie menengokan kepala memberi satu jari tengah dan meledek kearah Alta. "Dunia ini bukan cuma milik kalian, woy. Sadar diri kenapa."
"Gue rela berbagi dunia asal jangan lupa setiap bulan nya bayar sewa ke gue, berdua." jawab nya sambil membalas mengacungkan jari tengahnya.
__ADS_1
"Gak usah lo pikirin mereka, nanti kalau lo terlalu banyak mikir malah botak lama-lama kepala lo, Jess." tutur Gaishan.
Jessie dengan sigap mencubit perut Gaishan. lelaki itu terkekeh geli kemudian melanjutkan motor nya mendahului motor Kafka.