KAFKA

KAFKA
ENGGAK SEHARUSNYA NANGIS KAN?


__ADS_3

•Happy Reading•


"Lama banget sih lo, ngapain aja lo di toilet?" tanya Cherry.


"Bertapa!" ketus Alta.


"Gue kira nyari wangsit." jawab Jessie takalah ketus.


"Gue duluan ya guys." ucap Cherry berpamitan, pasalnya jemputan yang ia tunggu sudah sampai.


"Iya Cherr, hati-hati."


"Ayo Al, udah mendung nih." ajak Jessie pada Alta.


" Sorry Jess, gue gak jadi pulang bareng lo."


"Kenapa Al?"


"Gue balik barengan Bang Shaka, tadi dia wa gue."


"Oh, dia gak jadi latihan?"


"Enggak."


"Ok deh gue balik duluan. Beneran nih lo gak pulang bareng gue?"


"Iya Jessie cantik, bawel banget sih."


"Gue hanya memastikan Al, takut -takut lo gak jadi di jemput bagaimana? Gue kan khawatir kalau nantinya lo balik sendirian."


"Emm, sweet banget sih lo Jess. Sayang aja gue cewek normal, coba kalau gue..."


"Gue apa hah? Najiss lo."


Ha..ha.ha.. "Kenapa lo?"


"Merinding gobl*k dengernya."


"Ya sudah sana pulang, atau mau gue..." ucap Alta menakuti Jessie berlaga seperti penyuka sesama jenis.


"ALTA GUE JIJIKKK TAU" teriak Jessie sambil berlari kecil menjauhi Alta.

__ADS_1


"Ha.ha.ha...ha..." tawa Alta pecah seketika.


...****************...


Setelah mobil Jessie keluar dari lapangan sekolah, Alta pun mulai berjalan keluar dari sekolah. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan trotoar yang menghubungkan jalan ke arah jalan arteri di kawasan itu.


Dan disinilah sekarang Alta berada, berdiri sendirian di pinggir jembatan. Ia menatap kearah langit mendung yang tidak ada sama sekali bintang yang terlihat. Hanya ada sebuah lampu jalan yang menjadi penerangan nya saat ini.


Sesekali tangan nya menyeka air mata yang tiba-tiba tak terbendung, tak seharusnya air mata ini mengalir, tak seharusnya ia berada di sini bukan? Mengingat siapa Kafka baginya. Tetapi justru perasaan nya semakin berdenyut perih ketika ia menyangkal bahwa Kafka itu tidak lah berarti. Tangis yang ia tahan sejak tadi, berpura-pura terlihat seperti Alta yang biasa nya, namun secara naluri, mendengar perkataan yang di ucapkan pemuda yang ia sukai menyatakan perasaannya kepada perempuan lain. Apakah salah jika perasaan nya terluka? Apakah salah jika ia bersikap seperti ini?


"Gue gak seharus nya nangis kan? Gue gak seharus nya patah hati begini kan? Kenapa sih sama perasaan gue, kenapa Alta, cengeng banget?" gumam Alta pelan.


"Lo boleh nangis sepuas nya. Sampai lo ngerasa tenang dan lelah. Bahkan itu lebih baik ketimbang lo tahan sampai akhirnya rasa itu tak terbendung."


Deg


Suara ini?


Alta kembali menyeka air matanya yang masih menetes.


"Gak perlu malu sama gue. Lo nangis didepan gue juga gak akan gue katain cengeng." seru pemuda tampan yang tiba-tiba saja muncul tanpa pertanda apapun.


Alta melirik sesaat, kemudian ia kembali menatap langit.


"Enggak!"


"Dih, jujur banget sih lo."


"Lo itu bukan anak kecil, gue gak harus kan berpura-pura mengatakan bisa, demi membuat lo bahagia? Tapi lo bisa bersinar terang seperti sebuah bintang kalau lo mau!" ucap pemuda itu menyandarkan punggungnya pada besi jembatan.


"Lo mau denger gue cerita sedikit gak? Cerita ini tuh gak jauh beda sama apa yang lo alamin sekarang. Beda nya, ini rahasia gue dan bahkan gue gak pernah jadian sama dia."


Alta menatap pemuda itu yang menatap lurus ke arah jalan di depannya tanpa menoleh pada Alta.


"Dulu, semasa gue smp. Gue punya dua orang sahabat dari masa orientasi siswa sampai kita bertiga duduk di kelas dua. Awalnya gue yang deket banget sama itu cewek, sampai akhirnya timbul perasaan suka. Gue ungkapkan rasa di hati gue terhadap nya namun cewek itu nolak gue dengan alasan ia sudah terlebih dahulu menyukai salah satu sahabat gue.


Singkat cerita, cewek itu bunuh diri karena dia hamil, setelah beberapa hari ia menyatakan perasaannya kepada sahabat gue."


"Hamil karena sahabat lo?"


"Bukan, tapi dia di perkosa sama orang yang gak di kenal. Dari situ lah hubungan gue dan sahabat gue itu renggang sampai akhirnya kita musuhan sampai sekarang"

__ADS_1


"Terus gimana cara nya lo bisa sesantai ini dan lupain perasaan lo?"


"Gue gak pernah bisa lupain perasaan gue kedia, sampai kapan pun rasa sayang gue ke dia itu akan tetap ada Al. Yang ngebuat gue sedikit kecewa, kenapa dia harus suka sama seseorang yang bahkan gue kenal baik dan bahkan dia pun ditolak karena sahabat gue menyukai cewek yang sama dengan sahabat gue yang satu nya lagi."


"Kenapa lebih rumit? Lo suka sama ini cewek, tapi cewek ini suka sama sahabat lo dan sahabat lo suka sama cewek yang sama dengan sahabat lo yang satu nya lagi."


"Entah lah, karena perasaan suka itu gak bisa kita atur sesuka hati kita."


"Lo bener sih!"


"Lo bukan cewek nya Kafka? Berarti lo lagi patah hati sama dia?"


"Ia, gue lagi Patah hati sama dia" sebel Alta.


"Kenapa? Kafka selingkuh. Setau gue dia bukan cowok bertipe itu."


"Bukan, tapi intinya gue lagi kecewa sama dia."


Alta sedikit lega, ia berhenti menangis karena cerita cowok ini mengalihkan perasaan nya untuk sementara waktu.


"Udah mulai gerimis dan udah malam juga. Gue anterin lo balik ya?"


Alta terdiam sejenak.


"Kenapa? Lo takut kalau tiba-tiba Kafka mergokin gue yang anterin balik cewek nya?"


"Bukan, tapi gue gak enak kalau harus ngerepotin lo"


"Ck, belaga sok mikir lo. Pakai ngerasa gak enak segala, padahal yang ada di otak lo bersyukur kan ada gue yang mau nganterin lo balik?"


"Tau aja lo." ucap gadis itu nyengir, sambil menaboki lengan pemuda di sampingnya.


"Dih, nyengir lagi lo."


"Ayok ah, keburu gerimisnya jadi hujan." ajak Alta.


"Bentar" cowok itu melepaskan jaket hitam kebanggaan nya yang bertuliskan VOLZER, lalu memberikan nya kepada Alta. "Nih lo pakai, takut lo ke dinginan."


"Beneran gue yang pakai? Gak apa-apa juga kali gue begini."


"Pakai, gak usah banyak drama deh lo"

__ADS_1


"Ya udah deh kalau lo maksa."


Cowok itu tersenyum lalu menaikan diri di atas kuda besi milik nya.


__ADS_2