KAFKA

KAFKA
SIAPA YANG PERDULI.


__ADS_3

•Happy Reading•


"ISH, NGAPAIN SIH LO BUKA BAJUNYA DI DEPAN GUE. EMANGNYA LO ENGGAK MALU APA." teriak Alta mencak-mencak saat Kafka hendak membuka bajunya.


Kafka langsung menatap nyalang Alta. "Shtttt, kaga usah teriak. Nanti di pikirnya gue mau ngapa-ngapain lo lagi, tadi lo bilang mau ngobatin gue!"


Alta tersenyum, "Maaf kaf, lo juga kaga usah ngengg. Kan yang luka muka lo, kenapa juga malah lo buka baju?"


Kafka kembali membuka kaos putih yang ia kenakan dan menampilkan punggung putih bersihnya, sehingga Alta bisa melihat luka sayatan yang sudah hampir mengering.


"Kaf, kenapa harus gue yang obatin?" Alta jadi ngeri sendiri melihat luka sayatan itu.


Kafka tersenyum tipis. "Kan tadi lo yang mau. Katanya enggak terima penolakan, ya sudah sekalian obatin semua luka yang ada di tubuh gue termasuk yang ini."


"Tapi gue gak tau kaf, kalau ada luka sayatan di punggung lo!"


"Kaga usah bawel deh lo, buka kotaknya dan cepat obatin." titah kafka tak terbantahkan yang langsung dibalas anggukan kecil oleh Alta.


Alta langsung mengambil Sedikit kapas, lalu menuangkan cairan antiseptik yang berwarna kuning tersebut di atasnya. Alta diam sejenak menetralkan degup jantung nya yang sejak tadi sudah bertalu-talu sebelum akhirnya ia membubuhkan kapas tersebut tepat di luka Kafka dengan fokus dan berhati-hati. Tak berbeda hal nya dengan Kafka yang sejak tadi juga menahan napas lantaran degup jantung nya yang terus saja berdegup kencang.


"Lukanya bukan luka baru yang lo dapat hari ini. Sudah nggak ada darah yang mengalir dan sudah agak mengering?"


"Emm!"


"Kalau gue boleh tau, sejak kapan luka nya?" tanya Alta pelan, takut-takut Kafka murka.


"Sejak tiga hari yang lalu."


"Karena tauran?"


"Emm."


"Ya ampun kaf, bisa nggak sih lo berhenti buat gak tauran. Emang nya enggak sakit apa dapat luka kaya gini?"


"Udah biasa."


"Lo bilang apa tadi, kaf? Sudah biasa, lo bilang sudah biasa dapat luka Kaya gini?" Alta sejenak berhenti.

__ADS_1


"Emm" rasanya, Alta sangat gemas mendengar jawaban santai Kafka sambil melanjutkan mengobati luka sayatan tersebut dengan mengolesi salep pengering luka. Setelah selesai dengan luka yang berada di punggung Kafka, Alta merubah posisi duduk nya menjadi di depan Kafka.


Alta mendekat, lalu menunduk seraya menempelkan kapas yang sudah ia bubuhi dengan cairan antiseptik yang sama ke bibir Kafka yang sedikit lebam dan sobek. Sedangkan kafka diam memperhatikan wajah cantik Alta.


"Cantik." itulah, sebuah kata yang keluar dari mulut Kafka.


"Kenapa kaf?"


"Sakit" Kafka berdalih atas kebodohan nya barusan.


"Oh sakit, gue kira tadi dengernya cantik." Alta tersenyum, lalu kembali mengobati luka Kafka.


"Kaf."


"Emm?"


"Kenapa sih lo sering banget tempur, tauran, emang nya gak ada hal positif yang bisa lo lakuin selain buat masalah, ya?"


"Udah jadi hobi."


"Hobi? Kayanya lo menganggap enteng banget prihal seperti ini deh, Kaf. Tadi lo bilang udah biasa dapat luka-luka kaya gini, sekarang tauran lo bilang hobi. Kaya nya lo sakit deh kaf." raut wajah Alta berubah kesal lantaran menurutnya, Kafka terlalu mengabaikan prihal seperti ini.


"Kenapa?"


"Awww!!" Kafka meringis saat Alta menekan lukanya menggunakan kapas.


"Kenapa kaf, sakit?? Katanya udah biasa dapat luka seperti ini?" sindir Alta.


"Jangan di tekan." gumam Kafka, meringis.


"Lagian sih, kenapa bisa sebiasa itu dan seabai sama luka-luka seperti ini kaf, lo nggak sayang apa sama tubuh lo sendiri? Emang lo gak berpikir resiko apa yang bisa terjadi kalau lukanya nggak lo obatin dengan benar. Terus lo juga nggak berpikir jauh tentang resiko apa yang lo dapat nantinya. Mungkin sekarang lo cuman dapat luka-luka kecil dan lebam, tapi nanti kalau sampai lo ketebas, kebacok, atau di tusuk."


"Lo nyumpahin gue." gumam Kafka kembali menyentil kening Alta.


"Bukan kaf, gue cuma mau mengingatkan lo aja. Apa nanti nya orang yang sayang sama lo nggak akan sedih kaf, lihat lo terbaring lemah atau terbaring kaku?"


"Enggak perlu lo ingetin gue Al, memang nya ada yang masih perduli dan sayang sama gue?"

__ADS_1


"Ya, pasti ada lah kaf."


"Siapa, hum?"


" Gue kaf, gue perduli dan sayang sama lo."


Ha.ha.ha. "**** lo."


Alta menatap wajah Kafka dengan penuh arti, lalu berkata. "Nunduk sedikit, tinggal dahi lo yang belum gue obatin, pasti sakit kan?" ucap Alta pelan. Namun entah mengapa Kafka merasa ikut sedih dan merasa bersalah dengan perkataan nya barusan. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa aneh saat Alta masih memperdulikan kondisi nya, bahkan pada luka kecil yang tidak berarti bagi Kafka.


Mungkin, Kafka yang merasa kalau beberapa tahun terakhir ini tidak ada seorang pun yang memperhatikan Kafka, apalagi seperti perhatian Alta barusan, bahkan perasaan nya tidak begitu berdebar jika dibandingkan Saat berada di dekat Luna.


"Gue tempelin plester boleh?"


Kafka mengangguk setuju, lalu Alta berdiri mengambil plester di dalam tas nya. Setelah itu Alta kembali mendekat untuk menempelkan plester di atas luka kecil yang berada di dahi Kafka.


Alta sempat menatap Kafka karena jarak mereka sangat dekat. Tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain seolah kedua nya tersihir tak mampu berpaling, membuat jantung keduanya semakin berdebar-debar kencang tak karuan. Apalagi saat tangan Kafka meraih tangan Alta.


"Sorry in advance, I didn't mean to hurt your feelings. And I also thank you for being so considerate. (Maaf sebelumnya, gue nggak bermaksud menyakiti perasaan lo dan gue juga berterima kasih karena lo begitu perhatian.)


"I understand" jawab Alta tersenyum.


Refleks membuat kafka menyelipkan beberapa helai rambut panjang Alta kebelakang telinga nya sambil tersenyum tulus menatap Alta.


"Lo harus sering-sering senyum, kaf."


"Why?"


"Biar kaga kaku kaya kanebo kering."


Kafka kembali menyentil kening Alta.


Awww!!


"Lo gila ya kaf, dari tadi nyentilin kening gue terus." ucap Alta cemberut.


"Maksud lo apa ngatain gue, hah?"

__ADS_1


Ha.ha..ha..,"Sorry, lo itu kelihatan ganteng banget kalau tersenyum. Makanya gue bilang, lo harus sering-sering senyum."


Kafka terdiam menatap Alta, sedangkan diam-diam dari luar kamar Kafka ada seseorang yang tersenyum melihat interaksi mereka sedari tadi.


__ADS_2