
•HAPPY READING•
"Sial*n!!"
Pemuda berdarah jawa itu menendang meja kayu yang berada di dalam kamarnya. Ia menarik rambutnya kasar dan kepalan di tangan nya pun terkepal dengan sangat kuat. Ia melempar ponsel miliknya ke atas kasur. Mencoba tenang sedikit dan kembali memutar otak agar perbuatan nya tidak dapat diketahui.
"Gimana bisa lo seceroboh itu." gumamnya kesal.
...****************...
Disisi lainnya, keadaan markas Waldemarr malam ini begitu cukup ramai. Para anggota Waldemarr tengah berpesta di temani musik dari sebuah speaker besar, juga di tambah minuman beralkohol yang berkualitas tinggi serta berlabel terkenal dan mahal yang biasa Gaishan pesan dari sebuah club' langganan yang memang sering Waldemarr kunjungi di weekend.
Mereka dikejutkan dengan kedatangan Prince dan Joel yang tiba-tiba, membuat anggota Waldemarr kini berkumpul bersiap siaga. Terkecuali Kafka yang memang sedang beristirahat di kediaman nya.
Mata elang Prince mencari kesekeliling ruangan Markas tersebut, namun ia tak menemukan sosok dari Leader Waldemarr.
Sanz yang semula terfokus pada layar pipih di depan nya, pun kini mendongakkan wajah nya. Wajahnya menegang dengan kilatan yang tak terbaca ketika mengetahui Prince berada di hadapannya.
"Mau ngapain lo kesini, Bangs*t!!" seru Sanz dengan intonasi nada yang tidak santai.
__ADS_1
"Mau nyerahin nyawa lo berdua kesini?" timpal Chalief.
"Mana Leader lo? Oh iya, gue lupa kalau Leader lo lagi tahap pemulihan." seru Prince santai, meskipun ia sedang berada di markas lawan.
"Anj*ng!!" umpat Ali menarik jaket Prince. Membuat keadaan yang semula tenang menjadi tegang. Kecuali satu orang yang terlihat begitu santai sambil memutar-mutarkan es batu yang berada di dalam gelasnya dengan posisi duduk menyender di sofa.
"Hal menarik apa yang bisa lo kasih ke Kafka? Gak mungkin dong, kalau lo nggak punya hal menarik yang buat kalian berdua harus repot-repot dateng menginjakkan kaki ke markas Waldemarr." serunya sambil tersenyum tipis.
Prince menyingkirkan genggaman tangan Ali secara kasar.
Prok..
Prok..
Prok..
Sementara anggota Waldemarr lainnya terdiam bagai patung yang sama sekali tidak menggerakkan tubuh mereka. Mereka hanya akan bergerak jika Gaishan yang berintruksi, menggantikan Kafka saat ini.
"Kalian semua balik lanjutin kegiatan kalian. Biar Prince dan Joel, gue yang tanganin." seru Gaishan yang di balas tatapan tak terima oleh Sanz dan Ali.
__ADS_1
Ali membuang puntung rokok nya secara asal. "Gak bisa gitu Gaish, gimana kalau mereka berdua lagi buat sekenario untuk nyerang kita tanpa ada Kafka disini!" selanya tak terima.
Joel menaikan satu alisnya. "Lo pikir Prince punya nyawa berapa sampai berani datang ke sini hanya untuk menjalankan sekenario halu yang terlintas di otak random lo itu."
"Diem lo!!" sentak Ali.
"Mereka aman. Kalau lo masih gak percaya, lo bisa suruh beberapa anggota kita buat berjaga di depan Markas."
"Gue nggak setuju kali ini sama lo, Gaish." tutur Sanz menatap datar ke arah Gaishan.
"Lo berdua bisa gabung di sini. Kita lihat apa yang bisa mereka lakukan."
Akhirnya Ali menurut. Ia menghela napasnya dengan cukup kasar, ikut duduk di sofa samping Gaishan.
Joel mengeluarkan sebuah flashdisk dari kantong sakunya. "Lo bisa liat rekaman yang ada di flashdisk ini, mungkin ini bisa menjawab pertanyaan kalian serta mencabut tuduhan kalian terhadap Leader gue."
"Apa salah satu anggota dari Volzer?"
Prince mengangguk, lalu meneguk habis gelas berisikan alkohol yang entah punya siapa. "Gue yakin tim intelijen Waldemarr sudah mengantongi satu nama itu."
__ADS_1
Gaishan tersenyum tipis. "Gue ikut alur kalau gitu."
"Kali ini gue gak akan buat satu gerakan, lo bisa eksekusi setimpal dengan apa yang udah di perbuat nya. Cukup satu, tarik nama gue dari permasalahan ini." Jelas Prince yang di respon anggukan setuju Gaishan.