KAFKA

KAFKA
CALON MASA DEPAN


__ADS_3

•Happy Reading•


Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 Alta langsung memakai sepatu dan menenteng ransel berwarna hitam miliknya, ia segera bergegas turun. Melangkahkan kaki nya menuju meja makan untuk sarapan.


"Pagi semua?" sapa Alta pada seluruh keluarganya sambil menyeret bangku untuk ia duduki.


"Pagi sayang." jawab Mama Gaby dan langsung mencium pucuk kepala anak perempuan satu-satunya itu. "Kamu mau sarapan pakai apa sayang?"


"Roti selai coklat aja, Ma."


Mama Gaby pun dengan cekatan mengambil beberapa lembar roti dan di olesi selai coklat di dalam nya, lalu memberikan kepada Alta.


"Gimana sama sekolah kamu?" tanya Papah Arta sambil menyesap kopi hangat di depannya.


Alta yang baru akan menyuapkan roti nya pun langsung menoleh "Baik kok, Pah." balas Alta.


"Tidak ada kesulitan apapun kan?"


"Tidak, papah kan cukup tau bagaimana kecerdasan Alta. Jadi gak perlu di ragukan lagi bukan?"


"Narsis lo gak ketulungan, dek!" seru Shaka agak sewot.


"Biarin, dari pada lo. Kerjaan nya kalau gak naik gunung ya balapan. Sedangkan nilai akademik lo rata-rata di bawah gue."


"PERMISI," suara keras itu terdengar dari luar pagar rumah Alta membuat satu keluarga itu langsung melempar pandang satu sama lain nya.


"Siapa itu Mah, tumben pagi-pagi sudah ada yang bertamu?"


"Mama juga gak tau, Pah." jawab Mama Gaby pada suaminya lalu menatap kearah anak pertamanya. "Teman kamu, Bang?"


"Kaya nya bukan deh, Ma."

__ADS_1


"Lalu siapa?" tanya papah Arta.


"Coba biar Mama liat dulu kedepan deh"


"PERMISI... ALTA... PERMISI..." seru nya lagi hingga membuat Mama Gaby tak jadi melangkah keluar.


Alta jadi tersentak, wajah nya terlihat panik


"De, itu temen kamu. Coba kamu samperin."


"Iya Ma." buru-buru Alta bangkit dari kursi dan berjalan menuju kedepan.


"PERMISI... ALTA....!"


"Woy, ngapain lo pagi-pagi berisik di rumah orang." sembur Alta galak.


Pemuda itu tersenyum lebar, "Jemput lo lah"


Alta jadi melongo "Jemput gue? Gila ya lo?! Jelas-jelas sekolah kita beda. Jarak nya juga jauh, dan kesini kok enggak bilang-bilang?" tanya Alta seakan protes.


"Hadeh, maksain banget sih lo."


"Gue gak terpaksa kok, justru malah gue ikhlas. Tiap hari lo suruh gue jemput, gue rela."


"Gue yang gak rela" kesel Alta.


"Mama kira, Kafka? Ternyata bukan ya?"


"Bukan Tante, kenalin saya Prince. Calon masa depan nya Alta" kata cowok itu santai.


Alta refleks menghembuskan napas kasar dan langsung menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Masa depan apa maksudnya?" tanya papah Arta jadi galak.


"Prince bercanda pah, aku sama dia cuma teman." jelas Alta sungguh-sungguh.


"Temen apa demen lo" celatuk Shaka jadi kompor.


"Berisik lo, bisa diem gak!" kini sembur Alta galak pada Abang nya.


"Kamu kesini mau ngapain pagi-pagi?"


"Mau jemput Alta, Om."


"Jemput Alta? Sekolah kalian aja berbeda kan?"


"Iya Om, saya anak Nusabangsa."


"Kok kamu mau sih di repotin anak saya, untuk jemput dia?"


"Bukan Alta yang nyuruh Tante, tapi inisiatif sendiri" seru prince tersenyum canggung.


Mamah Gaby geleng-geleng, tak habis pikir dengan anak muda zaman sekarang.


"Ya sudah sana berangkat dari pada nanti kamu telat."


"Papah yakin? Ngizinin Alta berangkat kesekolah bareng dia" tunjuk Alta pada Prince.


"Mau bagaimana lagi? Dia juga sudah ada di sini, masa Papah harus usir dia"


"Terimakasih Om udah mengizinkan saya buat berangkat bareng Alta, kita berangkat dulu ya." Pamit Prince menyalami satu-satu tangan orang tua Alta. Di susul Alta yang ikut menyalami dan berpamitan "Berangkat Pah, Mah"


"Iya hati-hati ya sayang," seru Mama Gaby mencium kening Alta.

__ADS_1


"Woy, cium tangan gue juga dong. Kenapa gue di lewatin. Calon kakak ipar lo nih" protes Shaka menyodorkan tangannya ke arah Prince.


"Kakak ipar mata lo soak." sembur Alta galak.


__ADS_2