KAFKA

KAFKA
BECAUSE, YOU'RE MY PRIORITY.


__ADS_3

•Happy Reading•


Rasanya waktu yang dihabiskan Kafka bersama Alta masih saja kurang. Setelah semalam baru pulang sehabis makan malam bersama dengan keluarga Alta. Kini di hari Sabtu pagi pun Kafka sudah berada dikediaman Arta Narendra. Dirinya sudah bertengger manis menyantap sarapan pagi di temani Gaby. Sedangkan Alta masih bergulung malas di atas tempat tidur nya. Tak perduli jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


"Kamu habiskan dulu sarapan nya, biar Alta Tante yang panggilin."


Kafka mengangguk seraya tersenyum. "Iya Tante, Terimakasih."


Setelah beberapa menit mendengarkan omelan Gaby yang menyuruh nya untuk bangun dan segera turun untuk sarapan. Dengan langkah gontai ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Butuh waktu setengah jam untuk gadis itu melakukan ritual mandinya untuk keluar dan menuruni anak tangga, melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia menatap datar kearah Gaby yang sedang asik mengobrol bersama kekasih nya.


"Udah lama?" tanya Alta sambil menarik kursi meja makan.


Kafka mengangguk sambil mengunyah sarapan pagi nya. Dan Gaby menyuruh BI Narti untuk mengambilkan nasi goreng sosis dan telur mata sapi kesukaan Alta. "Sarapan dulu dek,"


"Iya Ma"


"Kaf, paksa Alta buat menghabiskan makanannya, ya." ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar. Yang di balas anggukan kepala oleh Kafka.


Setelah beberapa menit kemudian, Gaby keluar kamar dengan dress code rapih ala wanita pemilik butik. "Dek, mama berangkat ke butik dulu. Mungkin akan pulang sore dan kamu di rumah sama Kafka ya, BI Narti izin pulang setelah rapih beres-beres."


"Ini weekend, kenapa masih aja ke butik sih? Terus aku dirumah dibiarin buat berduaan sama Kafka?" Protes gadis itu, ia tak percaya bagaimana bisa kedua orang tua nya mempercayai kafka dan membiarkan anak gadis mereka berada di rumah sebesar ini hanya berdua saja dengan seorang cowok. Pasalnya ia benar-benar berduaan saja, karena Abang nya sejak kemarin sudah pergi naik gunung bersama teman-teman kampus, sedangkan Papa Arta sejak pagi sudah berangkat keluar kota.

__ADS_1


"Mama ada janji dengan klien hari ini, kamu tenang aja Kafka juga gak akan berani macam-macam." Gaby menatap jam yang melingkar di tangan kiri nya. "Kaf, Tante titip Alta. Kalau dia cerewet dan nyusahin, kamu tinggal pulang aja."


"Ma," protes Alta. Ia merasa terdzolimi sebagai anak. "Ini yang anak nya siapa sih? Kok malah Kafka yang terlihat seperti anak buat Mama."


"Biarin, kan calon."


Alta mendengus. "Ye baru calon juga."


"Lo mau official sekarang juga? Gue sih oke-oke aja. Udah dapet restu juga dari kedua orangtua lo. beneran kan, Tan?"


Gaby tersenyum dan langsung menganguk. "Udah akh, Mama sudah telat" Gaby tak perduli dengan rengekan anaknya. Ia langsung mengecup paksa kening anak gadisnya dan menyodorkan tangannya ke arah Kafka untuk di Salami.


Setelah beberapa menit dari kepergian Gaby, Alta pun mengajak Kafka buat keluar rumah.


"Mau kemana? Nanti rumah lo gak ada yang jagain?!"


"Ada pak security, kemana kek. Mumpung kencan perdana." gadis itu menghampiri Kafka yang masih anteng duduk di kursi sambil nyebat. "Ayo," ajaknya menarik tangan Kafka. Bukannya menjawab, Kafka malah balik menarik pergelangan tangan Alta dan merengkuh pinggang gadis itu.


"Kafka."


"Emm,"

__ADS_1


"Ayok."


Bukan mengiyakan ajakan Alta justru ia kembali mempererat rengkuhannya. Wajahnya kini semakin dekat dengan wajah Alta. Hembusan napas Kafka dengan aroma mint menguar dan dapat di rasakan oleh Alta. Begitupun sebaliknya Alta justru menahan dada Kafka dengan tangannya dan memalingkan wajah.


Kafka terkekeh kecil "Liat gue, Al." lalu Kafka tersenyum dengan seringai nakalnya "Gue nggak mau jalan kalau lo masih berpakaian yang seperti ini, Al. Lo boleh menggoda gue, tapi gue gak akan rela kalau lo berusaha menggoda banyak cowok lain di luar sana." Kafka mengecup kening Alta sekilas, kemudian mundur selangkah. "Lo ganti dulu celana, lo. Gue tunggu di halaman rumah."


Alta menganggukkan kepala, lalu dengan gerakan cepat ia mengecup pipi kanan Kafka, berlari kearah tangga menuju kamarnya.


...****************...


Setelah menunggu Alta beberapa menit bersiap, kini keduanya sudah berada di depan halaman.


Kafka memberikan jaket hitam kebanggaan nya "Mana tangganya?" pinta Kafka agar Alta memasukkan tangan nya ke jaket dan memakaikan hingga membalut sempurna di tubuh Alta. Rapih dengan itu, pun Kafka tidak lupa juga memasang kan helm di kepala kecil Alta.


"Lengkap banget sih"


"Harus, because you're my priority."


"Sh*** lo, bikin gue salting aja." Alta menahan senyumnya. Sementara Kafka hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Alta sambil menaiki motor dan memakai helm full face hitam miliknya, serta disusul Alta menaiki motor.


"Siap?" tanyanya lembut.

__ADS_1


"Em," seru Alta dengan senyum lebarnya. Ia juga meletakan kepalanya di bahu Kafka, memeluk erat tubuh pemuda tampan yang beberapa hari ini membuat Alta melayang karena perlakuan pemuda itu, yang begitu manis.


Motor yang kini Kafka Kendarai sudah melaju di badan jalan yang ramai.


__ADS_2