
•Happy Reading •
Setelah beberapa lama mengantri, akhirnya Kafka dan Gaishan kembali ke meja dan menempati bangku yang kosong di samping pasangan mereka masing-masing dengan menu pesan yang sudah mereka bawa dan mereka letakan di meja.
"Kenapa kalian yang bawa sih? Kenapa nggak mas nya aja." Protes Jessie.
"Lama kalau nunggu pesen sama mas nya, mending kita langsung pesen ke dapur nya aja. Mereka juga udah kenal kita." Balas Gaishan.
Disaat mereka menikmati makanan mereka, Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Gue boleh gabung nggak?" Tanyanya pelan disambut reflek dari mereka berempat yang secara kompak mengarahkan atensi mereka ke seruan tersebut.
Jessie menatap Alta dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Gaishan langsung mempersilahkan seseorang tersebut untuk bergabung. "Boleh kok!!"
Seseorang tersebut tersenyum senang dan langsung menyeret bangku kosong untuk ia duduk bergabung bersama di meja mereka.
"Lo sama siapa?" Seru Gaishan.
"Aku sendirian, sebenarnya aku lagi janjian sama Lily. Tapi Lily nggak jadi deteng." Jawabnya sambil tersenyum. "Alamat sendirian deh aku" Sambungnya.
Alta, Kafka dan Jessie hanya menikmati makanan mereka tanpa mau berbicara atau hanya sekedar berbasa-basi. Mereka hanya terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing sambil terus menghabiskan makanan mereka yang memang tinggal sedikit.
"Kalian berempat aja? Yang lain mana?"
"Yang lain di markas. Lo udah pesen?" Tanya Gaishan lagi, Gaishan meresa tidak enak jika ikutan mengabaikan Luna seperti mereka bertiga.
"Udah, aku nggak jadi makan disini tapi di take away." jawab Aluna.
Alta meletakan sendok dan garpu yang ia pakai untuk menikmati makanan yang ia pesan tadi, lalu Gadis itu meraih tissue dan membersihkan area bibirnya. Takut ada noda saos atau sisaan makanan yang ia makan yang mungkin saja tertinggal.
"Terimakasih" Seru Alta disaat Kafka menyodorkan segela air putih ke arah Gadis itu. Alta meminum beberapa teguk. Lalu ia menatap Kafka intens. "Kaf, " Panggil Alta pelan.
"Hm?"
"Habis ini langsung pulang kan?"
"Iya," Mengusap lembut pucuk kepala Alta. Membuat atensi seseorang menatap nya dengan rasa tidak suka.
"Gue bayar dulu." Kafka bangkit lalu menuju kearah kasir untuk membayar, bertepatan dengan seruan nama Luna yang di panggil ke arah kasir karena pesannya sudah selesai di buat.
Alta terdiam sesaat melihat interaksi Aluna yang mencoba mengajak Kafka berbicara. Entah apa yang gadis itu bicarakan pada kekasihnya tetapi Alta mulai merasakan gelagat Aluna yang berusaha kembali merebut perhatian Kafka, semenjak kejadian beberapa hari saat Alta melihat mereka berdua di Lapangan basket.
__ADS_1
"Alta" Panggil Jessie pelan, namun sang empu hanya terdiam memandang ke arah kasir.
"Woy, Alta." Kini Jessie memanggilnya dengan sedikit memberikan tepukan kecil pada bahu Alta.
"Ya"
"Ngapain lo diem aja. Ayok balik. Udah kenyang Ogeb lo. Lapar galak!" gerutunya.
"Enak aja lo" Keselnya disambut gelak tawa dari Jessie.
...****************...
Motor hitam yang melintasi jalan sepi di penghujung komplek Anara di kejutkan dengan segerombolan motor yang tengah mengelilingi seseorang sambil terlihat mengancam. Belum sempat salah satu pemuda itu merampas tas milik nya. Terdengar deruaan motor yang memekikan telinga. Pemuda dengan garis mata tajam dan wajah datarnya pun segera turun dari motor dan melangkah menghampiri.
"Ibu bisa tunggu di motor saya" Ucapnya pelan.
Ibu itu pun mengangguk, sementara para pemuda di hadapannya tertawa berlaga layaknya jagoan. "Lo mau jadi pahlawan? Gak usah lo ikut campur urusan gue, brothers. Pulang gih, cuci kaki, mimi cucu dan bobo di kelonin mamak." Hahahah!!!
Kafka tak menjawab, pemuda itu melepaskan helm fullface hitam miliknya yang menutupi sebagian wajah. Matanya kini menatap satu persatu pemuda-pemuda didepannya yang ternyata seumuran dengan dirinya. Mereka masih petantang petenteng dengan gaya tengil sebelum salah satu dari mereka menyadari kalau pemuda itu adalah "KAFKA AEFAR KEIZKARA"
"Bangs*t, itu Kafka gobl*k." Seru kencang salah satunya.
Sedangkan pemuda yang lainnya bingung, "Kafka? Kafka siapa? Nggak perduli gue siapa dia, yang jelas gue bisa happy nih malam."
Mereka yang mendengar kata Waldemarr pun dengan cepat memasang wajah terkejutnya, dan memandang wajah Kafka takut-takut.
Baru di gertak dengan Kafka maju satu langkah, mereka semua sudah membubarkan formasi dan dengan cepat mereka lantas kabur menaiki motor nya. Melaju ngebut meninggalkan Kafka yang menghela nafas dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Tubuhnya kini berbalik arah menuju motornya. "Ibu bisa kembali melanjutkan perjalanan. Atau ibu mau saya antar?"
"Terimakasih, tidak perlu repot-repot. Saya bisa kembali berjalan pulang karena jaraknya sudah dekat." Tolak nya halus sambil merogoh tas miliknya.
"Baik lah kalau begitu, saya izin pamit." Jawab Kafka.
"Nak, ini untuk mu. Saya sangat berterimakasih karena sudah di bantu." Ibu itu berkata kembali, sambil memberikan beberapa lembar lipatan uang berwarna merah.
Kafka merespon nya dengan menolak pemberian itu secara halus tanpa berniat menyinggung. "Maaf, saya ikhlas membantu Ibu."
"Saya tau kamu pasti ikhlas membantu saya. Tapi saya tidak enak jika harus berhutang budi terhadap siapapun. Atau kamu mau mampir sebentar kerumah ibu?"
"Maaf mungkin lain waktu Bu, saya harus segera pergi."
__ADS_1
"Baiklah, sekali lagi saya sangat berterimakasih."
...****************...
Alta terdiam, sambil duduk menunggu kedatangan Kafka. Sesekali ia melihat handphone miliknya yang terasa tak begitu menarik. Hampir satu jam ia duduk di pinggiran lapangan parkiran gang namun fokusnya masih belum menangkap kedatangan orang yang ia tunggu.
"Jess," Panggil Alta pelan.
Jessie yang sedang asik mengobrol dengan Gaishan mengalihkan pandangan nya ke arah Alta "Apa?" Tanya Jessie.
"Balik aja yuk, Gue pesen ojek online aja. "
Jessie kemudian menggelengkan kepala. "Kan cowok lo bilang tunggu Al, sampai dia dateng buat jemput lo lagi."
"Tapi gue capek anj*rr. Dari tadi kaga nongol-nongol."
"Bentar lagi Al, mungkin Kafka udah arah balik." Seru Gaishan menenangkan Alta agar Alta mau menunggu sedikit lagi.
"Atau lo coba telpon Al."
Kini Alta mengangguk seraya menekan tombol calling di layar handphone nya. Hampir tiga kali melakukan panggilan, namun orang yang di tuju tak kunjung mengangkat pangilan tersebut. "Nggak di angkat." Rengek Alta
"Berarti lagi di jalan. Tunggu sebentar lagi, Al." Gaishan.
"Lagian kenapa harus repot-repot nganterin balik dia sih. Emang tuh cewek kagak ada cowok nya apa?" Gerutu Jessie.
Alta menghela nafas pelan. " Leo lagi di Singapore buat nemenin adiknya yang lagi dirawat di sana."
"Pantes, tapi emang nya tuh cewek nggak bisa naik ojol aja. Manja banget sih."
Tidak berselang lama, Alta melihat motor hitam yang mengarah kepadanya. "Be, ayok naik."
Alta tidak memberikan respon apapun kepada Kafka, ia hanya menatap Kafka dengan wajah datar dan langsung naik ke atas motor. Di susul oleh Gaishan dan Jessie yang juga sudah naik keatas motor mereka.
"Maaf" Hanya kata itu yang Kafka lontarkan. Ia tau kalau saat ini Alta sedang merasa kesal.
Alta berdecih kecil "Lupa kalau gue lagi disini nungguin atau emang ke enakan nostalgia dulu!" Tutur Alta telak.
Kafka menjalankan motornya ke bahu jalan. Merapat ke bagian tengah.
"Aku jelasin di rumah kamu, ya.?"
__ADS_1
"Gak perlu! Baru juga sejam bareng dia. Cara ngomong nya ke gue aja juga udah beda. Udah terbiasa dengan aku, kamu sih ya sama dia."
"Nggak gitu be" Ucap Kafka, sambil menarik tangan Alta untuk memeluknya. Namun Alta tidak menolak, ia memeluk Kafka dengan wajah ditekuk. Dapat Kafka lihat dari pantulan spion, yang membuat Kafka menaikan satu senyum tipis. Terlihat lucu dan menggemaskan.