KAFKA

KAFKA
PACAR BUKAN, MANTAN JUGA BUKAN.


__ADS_3

•Happy Reading•


Alta turun dari atas motor dan di susul oleh Kafka. Saat motor sport hitam itu berhenti di sebuah kedai seafood yang cukup ramai dan terkenal di daerah tersebut.


Jalan raya masih terlihat basah namun hujan sudah berhenti dari sepuluh menit yang lalu. Mata Alta terlihat mengamati sekitar, suasananya cukup begitu ramai walaupun hanya sebuah kedai di pinggir jalan gang yang tidak terlalu begitu luas. Bahkan hampir semua pelanggan mereka di dominasi oleh kalangan remaja seusianya mereka yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Kaf, lo tau dari mana tempat ini?" ujar Alta.


Kafka melirik, "Sanz."


"Oh, pasti makanannya enak-enak deh, soalnya ramai banget. Lo kenapa nggak ajak cewek lo aja kesini buat temenin lo makan."


Alta langsung diam, seketika Kafka sudah menatapnya dengan tatapan intimidasi elangnya.


"Udah ngocehnya? Lo nyindir gue?"


Cewek itu meringis, lalu nyengir kuda.


"Ayo!!"


Kafka langsung menarik pergelangan tangan Alta, cewek itu mau tidak mau mengikuti. Namun ketika sampai di depan pintu masuk kedai, langkah Kafka sepontan terhenti saat melihat sepasang remaja laki-laki dan perempuan tengah duduk santai sambil memakan makanan pesanan mereka di bangku pojok sebelah kanan. Hampir tak terlihat karena terhalang sebuah pilar.


"Kenapa kok berhenti?" tanya Alta, membuat Kafka menoleh kaget.


"Eh, i...iya, iya Tha. Enggak apa-apa kok, gue lagi nyari tempat buat kita duduk" seru Kafka berbohong.

__ADS_1


"Oh, gue kira kenapa. Kita duduk di pojok sana aja ya." tunjuk Alta ke arah bangku sebelah kiri dipojok ruangan itu.


"Ayo," Kafka kembali menarik pergelangan tangan Alta. Gadis itu langsung menurut, namun Kafka masih saja melirik kearah objek yang menyesakan dadanya tadi.


"Kenapa sih lo, kaf? Gue perhatiin dari tadi lo ngelirik ke arah samping kanan terus. Lo kenal sama cewek yang berseragam sekolah Lentera Bangsa? Apa jangan-jangan cewek yang berseragam yang sama kaya kita itu cewek lo ya? Cewek lo selingkuh kaf?" Tanya Alta berentet dengan intonasi yang cukup kencang, sehingga menarik perhatian banyak orang yang berada di sana.


Sepontan Kafka langsung menutup mulut Alta. "Shutt, nggak usah pakai gas kali."


"Ya maaf kaf, gue refleks. Jadi beneran cewek lo selingkuh sama anak Pelita School?" bisik Alta begitu pelan.


"Lo tau darimana kalau tuh cowok anak PS?"


"Seragam nya sama kaya sepupu gue."


"Terus?"


"Ck, banyak b*cot lo ya. Cepet lo pesen apa? biar bisa cepet balik, lama-lama nyusahin lo." kesel Kafka.


Cewek cantik itu hanya mengumpat dalam hati sambil melihat menu apa yang ingin ia pesan.


"Mbak?" panggil Kafka pada salah satu pelayan di kedai itu.


"Sore Ka Kafka, mau pesan apa?" ujar pelayan ramah yang memang sudah mengenal Kafka.


"Udang saos menteganya satu, lo apa Alta?"

__ADS_1


"Gue cumi tepung asam manis, nasi, dan minum nya lemon tea." jawab Alta.


"Kafka kembali mengulang pesanan Alta kepada pelayan. "Udang saos menteganya satu, cumi tepung asam manisnya satu, dua nasi, dan dua lemon tea ya mbak."


"Ok Ka, ada tambahan lagi tidak?"


"Tidak itu aja Mbak."


"Baik, silahkan ditunggu sebentar ya." setelah semua pesanan mereka tercatat, Mbak pelayan itu pun segera pergi dari meja mereka.


"Kaf, lo kenal mereka? Mereka siapa sih kaf? Kayanya mereka pacaran deh. Tuh, coba lo lihat ke arah mereka, so sweet banget kan? Pakai acara di bersihin mulutnya gitu. Mereka kaya gak asing buat gue dan kaya gue kenal deh?"


"Kepo banget sih lo." Namun ia juga menengok kearah objek yang di bicarakan Alta. "Ck, sok iya Anji*r."


"Tuh kan, kayanya lo kesel banget. Mantan pacar lo?"


"Bukan!"


"Pacar bukan, mantan juga bukan, terus apa dong kaf?"


"Bisa gak, lo nggak usah Tanya-tanya terus."


"Oke gue silent, tinggal Jawab pertanyaan gue aja kok repot." gerutu Alta.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Mereka menunggu pesanan datang, bahkan disaat mereka menikmati makanan yang mereka pesan pun mereka masih terdiam, sesekali Alta berbicara seperlunya saja namun mereka lebih banyak terdiam, makan dengan tenang. Setelah selesai dengan ritual mereka barusan, Kafka langsung mengantarkan Alta pulang tanpa ada pembicaraan lagi.

__ADS_1


__ADS_2