KAFKA

KAFKA
ANTARA JESSIE, GAISHAN, DAN ZEA.


__ADS_3

Keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah Jessie yang terletak di kawasan Jakarta barat. Tak banyak pembicaraan yang terjadi di antara keduanya di dalam mobil dari sejak ia keluar gedung apartemen Sanz sampai di kawasan S. Parman.


Mobil itu berhenti, lantaran apill menunjukkan lampu berwarna merah yang artinya kendaraan harus berhenti.


Tanpa sengaja Jessie melihat interaksi kedua muda-mudi yang nampak familiar baginya.


"Gaishan, cewek lo lagi enggak kemana-mana kan? Terus dia tau lo nganterin gue balik?"


"Kenapa Jess?"


"Gue nanya Gaish? Emangnya gak boleh?"


"Dia tau gue nganterin lo kok, dan dia juga gak kemana-mana kayanya deh."


"Tumben lo nanyain Zea?"


"Tuh," tunjuk Jessie kearah sebuah motor yang berada tak jauh di depan mobil mereka. "Coba lo perhatiin deh, mirip banget sama cewek lo gak sih Gaish?" tanya nya, sedikit ragu-ragu.


Gaishan mengikuti arahan Jessie, ia memperhatikan gadis yang seperti nya memang kekasih nya itu. Namun ia masih tak meyakini bahwa itu adalah Zea.


Gaishan masih mengamati setiap interaksi keduanya, buru-buru ia menelpon seseorang. Berdering, namun tidak di angkat-angkat.


Sampai ia yakin bahwa cewek itu memang kekasih nya, karena gadis yang sedang di bonceng itu mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas dan seperti mengetikkan sesuatu.


Tak lama handphone Gaishan berbunyi.


"Tring!!"


💌 Zea. :" Maaf, aku gak denger kamu telepon. Ada apa Ay?


💌 Gaishan. : "Aku cuman mau tau kamu lagi apa?"

__ADS_1


💌 Zea. : Oh, aku lagi di kamar baca buku. Kamu masih sama Jessie?


💌 Gaishan. : " Masih, aku masih di jalan. Ya sudah ya Ay, aku masih nyetir.


Tak ada balasan lagi seperti gadis yang di depan nya yang juga sudah menaruh ponselnya kembali ke dalam tas.


"Anj*ng?!!" sanggah nya kesal, menggenggam erat Kemudi ketika gadis itu sepertinya memang benar-benar Zea.


"Kenapa enggak lo samperin aja sih, Gaish?"


"Lo gak liat lampu nya sudah berwarna hijau."


Gaishan mengejar laju motor di depannya, ia sengaja berjalan mendahului motor tersebut.


Deg!!


Gadis itu ternyata memang Zea.


"Mau lo ikutin dulu?" tawar Jessie yang melihat raut wajah berbeda dari sebelumnya.


"Enggak apa-apa."


"Ya udah ngebut, jangan sampai ketinggalan."


"Thank's ya Babe!" Mengusap lembut jari tangan Jessie.


Refleks Jessie menarik tangan nya. " Jangan bikin gue baper deh."


Gaishan langsung menengok menatap Jessie sedetik, kemudian ia kembali fokus menatap kearah depan. Sampai dimana ia mengikuti motor tersebut berhenti dan masuk kedalam parkiran sebuah Coffe shop.


"Liat" pekik Jessie, tangan nya mengarah ke arah meja yang berada di pinggir, yang memang terlihat karena Coffe shop itu hanya di batasi dengan dinding kaca. Terlihat jelas apa yang di lakukan cowok itu, ia tengah menggenggam erat tangan Zea sambil berbincang hangat di iringi sebuah senyuman yang terlihat manis.

__ADS_1


"Ayo, samperin." ajak Jessie menggebu.


" Nggak usah, kita lihatin dari sini aja."


"Gobl*k lo, kenapa gak lo samperin aja sih? Kenapa lo malah menghindar?" tanya Jessie kesal.


Gaishan menarik napasnya perlahan, "Biarin aja, malas gue, bikin repot."


"Gaishan, tapi dia cewek lo? Emang nya lo gak sakit hati, liat mereka seperti itu."


Gaishan tersenyum, mengarahkan wajah nya menatap manik coklat gadis yang tengah duduk di sebelah nya.


"Gimana sama perasaan lo?"


"Kesel lah gue? Gue aja gak pernah nyakitin perasaan lo dulu. Malah dia berani-beraninya mengkhianati kepercayaan lo buat dia."


"Maafin gue Jess, mungkin ini karma yang memang harus gue rasain. Maaf kalau dulu gue gak pernah benar-benar menghargai lo yang memang ada buat gue. Maaf kalau gue egois yang gak bisa lebih sabar menghadapi situasi yang ada dulu. Bukan karena kita tidak lagi cocok, tapi karena gue yang terlalu egois yang gak pernah menghargai perasaan lo."


"Gaish," kelu gadis itu, ia menunduk seraya meneteskan air mata nya.


"Lo tau, kenapa gue sesantai ini lihat Zea sama cowok lain? Semuanya itu karena lo Jess. Gue jadi begini itu karena rasa bersalah gue terhadap lo." serunya, ia mengambil napas dalam-dalam.


"Demi nutupin perasaan gue ke lo, gue jadi penjahat yang nyakitin perasaan cewek lain, sampai saat nya kemarin gue tau kalau ternyata mulut lo berbeda sama hati lo. Sampai saat nya gue tau kalau hati lo masih sayang sama gue."


"Ma_maksud lo apa Gaish?" ucap Jessie terbata-bata, ia menangis sesenggukan.


"Lo tau? Gue itu masih sayang sama lo, gue gak bisa ngelupain lo Jess. Tapi setiap gue berusaha untuk mengungkapkan lagi perasaan gue, malah justru lo seperti menolak gue untuk kembali. Sampai akhirnya selama kurang lebih setahun belakangan ini gue berusaha buat nutup kembali perasaan gue buat lo dengan bersikap seperti Bangs*t!"


"Maaf!"


Gaishan memeluk Jessie. "Lo gak boleh minta maaf, lo gak boleh merasa bersalah. Kita sama-sama egois yang gak berani buat mengungkapkan apa yang ada di hati kita masing-masing. Gue gak mau lihat lo nangis Jess, dan gue gak mau bohongin perasaan gue lagi, kalau gue juga masih sayang lo. Gue gak akan maksa lo, sampai saat nya lo sendiri siap buat kita bareng-bareng lagi." mengusap sisa air mata Jessie.

__ADS_1


Jessie tersenyum,"Terus bagaimana sama hubungan lo? Gue gak mau orang-orang mikirnya gue perusak hubungan lo sama Zea."


"Nih," Gaishan menunjukkan chattingan nya pada Zea, ia mengirimkan sebuah foto yang di mana, Zea tengah mengarahkan tangan nya untuk di cium lelaki di depan nya. Dan dengan gampang nya Gaishan menuliskan satu kata yaitu kata "Putus." tanpa embel-embel apapun lagi, ia langsung memblokir nomer Zea.


__ADS_2