
•Happy Reading•
"Woy, kenapa lo bengong?" tanya Jessie, menyikut lengan Alta yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Gue gak lagi bengong, Jes."
"Masa? Tapi kok lo kaya lagi memikirkan sesuatu gitu, lo ada masalah? Atau Bang Shaka gak jadi jemput lo? Gue bisa kok Al ngaterin lo balik, lagian gue juga balik bawa mobil sendiri." cerocos gadis cantik yang wajahnya sebelas dua belas dengan Alta.
"Ish, apaan sih lo Jess. Gue enggak lagi memikirkan apapun kali. Gih lo balik sekarang sana udah mendung takutnya hujan. Lagian ngapain juga sih lo nemenin gue, gue gak apa-apa sendiri."
"Yaelah Al, gue pakai mobil kali. Gak bakalan basah juga kalau pun turun hujan."
"Iya sih, tapi kan lo nyetir sendiri Jess. Mana rumah lo jauh lagi, mendingan lo balik sekarang deh. Gue khawatir nantinya."
"Lo ngusir gue nih ceritanya?" ucap Jessie cemberut sambil sedekap kedua tangannya di dada.
"Apaan sih lo, siapa juga yang mau ngusir lo. Gak berani gue ngusir Mak Lampirnya IPS¹." jawab Alta, meledek Jessie.
"Ish, masa Mak lampir sih Al? Sumpah, enggak elite benget deh. Masa gadis cantik membahana begini lo samain sama Mak lampir." seru Jessie narsis yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama.
"Ya Udah gih balik."
"Bentar lagi deh, Mami gue pasti belum balik jemput Ade gue. Bete tau gue dirumah sendirian kalau Mami dan Ade gue nggak ada di rumah."
Alta menganguk mengerti, dengan posisi mereka yang masih duduk di bangku taman sekolah dekat parkiran.
"Jess." panggil Alta ragu dengan intonasi suara yang teramat pelan.
"Iya Al, kenapa?"
"Emm, lo tau enggak sih alesannya Kafka bisa sebucin itu sama Luna?"
__ADS_1
"Tumben kepo nanyain Kafka."
Alta tersenyum, "Gak kepo, cuma mau tau aja, sih." sedetik kemudian Jessie menanggapi pertanyaan Alta.
"Yang gue tau, Kafka bisa sebucin itu sama Luna dari dua tahun yang lalu. karena apa Kafka bisa sebucin itu, gue kaga tau pasti sih, Al. Gaishan pernah cerita tentang mereka sedikit-sedikit doang. Kenapa emangnya, Al?"
"Gak Kenapa-kenapa."
"Mungkin, karena baru pertama kalinya Kafka naksir dan suka sama seseorang. Udah gitu, sekalinya dia suka sama Luna, eh malahan Lunanya udah punya cowok dari dia sewaktu smp."
"Oh,"
"Yang gue denger dari Gaishan, itu anak juga udah berkali-kali pula di tolak cintanya sama si Luna, tapi gak pernah nyerah bahkan berpaling. Padahal yang suka dia itu banyak. Lo kenapa nanyain Kafka tiba-tiba?"
"Gue penasaran aja."
"Yakin cuman penasaran? Atau lo jangan-jangan suka sama si kulkas berjalan?" tebak Jessie.
"Jujur lah."
"Emm, salah gak sih Jess kalau gue beneran suka sama Kafka?"
"Seriusan lo suka Kafka?" Jessie tercengang tak percaya, ia hanya menduga-duga saja tadi.
Alta mengangukan kepalanya pelan. "Salah ya Jess?" tanyanya sekali lagi.
"Ya, enggak salah sih. Karena kita enggak tau rasa suka itu datang untuk siapa. Rasa suka itu timbul berdasarkan hati, Al. Tapi masalahnya lo itu udah tau kalau mungkin cinta lo bakalan bertepuk sebelah tangan. Dan mungkin lo juga harus ekstra berjuang buat bisa bikin kulkas berjalan itu berpaling. Yang sabar ya Al, gue cuman bisa saranin ke lo, kalau masih banyak cowok di luar sana tapi bukan Kafka." ucap Jessie mengelus punggung Alta.
"Tapi, gue rasa gue udah mulai sayang bukan sekedar suka."
Jessie tersenyum manis menatap Alta. "Lo juga tau kan, kalau perasaan itu enggak bisa di paksa. Terus bagaimana kalau cuman lo doang Al yang sayang dia sedangkan dia sayangnya sama yang lain. Bahkan dia rela bertahan buat suka Luna meskipun tau kalau Luna enggak akan bisa dia milikin. Pasti rasanya sakit sendiri, nantinya Al."
__ADS_1
Alta hanya diam menatap Jessie bingung harus berbicara apa lagi.
"Jes, kenapa lo enggak bertanya sama gue. Kenapa gue bisa suka Kafka padahal gue itu belum lama kenal dia?"
"Gue tau Al, lo punya alesan sendiri untuk hal itu." jawab Jessie.
Alta menghembuskan napasnya perlahan. "Lo bener, gue punya alasan tersendiri untuk hal ini. Meskipun Kafka enggak pernah bicara apapun tentang dirinya ke orang lain bahkan sahabat-sahabatnya. Gue bisa lihat beberapa hari gue kenal sama dia, kalau hati dia terluka saat Kafka lihat Luna sama pasangannya. Dan gue berharap bisa jadi pengobat luka itu Jess." ungkap Alta mengeluarkan unek-uneknya.
"Tapi Alta, lo bakalan ekstra berjuang buat bisa jadi pengobat luka itu dan malah lo sendiri yang akan terluka. Gue enggak mau sampai lo pun merasakan hal yang sama. Bertahan dengan rasa suka lo yang enggak pernah terbalaskan nantinya."
"Terus gue harus apa Jess?" tanyanya lagi.
"Jangan jadi pengobat luka itu kalau nantinya lo yang bakalan terluka. Gue harap lo paham ucapan gue. Lo beneran masih mau nungguin Abang lo? Atau lo bareng gue aja, udah sore banget lo ini dan gelap pula." Jessie berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Lo duluan aja Jess mungkin Bang Shaka kejebak macet, bentar lagi juga nyampe."
"Ya udah deh kalau gitu gue duluan ya, Babe." ucap Jessie memeluk Alta.
"Emm, thanks ya Jess lo udah baik banget sama gue. Meskipun kita berteman belum terlalu lama tapi lo udah baik banget sama gue. " membalas pelukan Jessie.
"Karena lo itu juga baik, makanya bisa masuk circle gue dan Cherry. Gue duluan ya, Mami gue udah bawel banget chat nyuruhin balik."
"Iya, hati-hati jangan ngebut lo ya." ucap Alta kearah Jessie sambil melambaikan tangan.
Alta berjalan keluar gerbang utama menuju halte dimana iya meminta untuk di jemput Abangnya tadi.
"Ish, Bang Shaka kemana sih, ah. Dari tadi enggak dateng-dateng." kesel Alta menghentakkan kakinya.
"Tringgg." bunyi notifikasi tanda pesan di handphone miliknya berbunyi, Alta dengan segera mengambil benda pipih itu dari saku roknya dan melihat chatting yang dikirimkan Bang Shaka.
"Kalau tau gak bisa jemput gue, mendingan balik bareng Jessie aja tadi." dumelnya sambil memesan ojek online.
__ADS_1