KAFKA

KAFKA
SEKALI GUE GENGGAM, ENGGAK AKAN GUE LEPAS.


__ADS_3

•Happy Reading•


Tok...


Tok...


Ali mengetok kaca mobil Honda Civic berwarna rose gold yang terparkir tidak jauh dari Jl. XX.


"KELUAR WOY." seru Ali kencang.


"Gimana nih, guys? Itu si Ali ngetok-ngetok." tanya Unge ketar-ketir.


"Ya udah sih buka aja dari pada ntar dia ngamuk." Sarkas Mitha.


"Kalau dia yang ngamuk, gue nggak ngeri. Lah kalau Gaishan, Sanz atau Kafka yang ngamuk, bisa serangan jantung mendadak gue." kata Cherry dan langsung membuka setengah kaca mobil Jessie. "Eh, Abang Ali." sambil nyengir di jok samping kemudi.


"Jess, pindah ke belakang lo. Biar gue yang nyetir mobil lo."


"Tapi Li, kenapa harus lo yang nyetir mobil gue?" gumam Jessie waspada. Ia tau bakal di bawa kemana mereka setelah ini, sudah pasti markasnya Waldemarr.


"Gaishan yang nyuruh gue buat ngajak lo semua cabut dari sini, sebelum Kafka tau kalau lo semua yang ngajakin Alta. Kalau mau protes, lo protes ke Gaishan aja langsung." ucap Ali sinis.


"Tapi, Alta belum naik mobil gue. Dia gimana?"


Ali menarik napas dalam-dalam. "Biarin." sanggah nya pelan.


"Kok biarin sih, Li. Kalau ada apa-apa sama Alta gimana?" protes Cherry.


Ali tidak menanggapi perkataan Cherry. "CEPETAN PINDAH KE BELAKANG, SEBELUM GAISHAN ATAU SANZ YANG KESINI." ucapnya penuh penekanan dengan intonasi yang sudah meninggi. Sebab sedari tadi Sanz sudah menatap nyalang ke arah mobil Jessie.


"Oke, gue pindah." ucap Jessie, pasalnya ia menyadari kalau sedari tadi Sanz menatap nyalang ke arah mobilnya. Ia tidak ingin terlibat dan berakhir di markas Waldemarr.


Setelah Jessie pindah ke bangku belakang, Ali dengan cepat membawa mobil rose gold itu pergi dari jalan XX.


"Kita mau kemana Li??" tanya Mitha.


"Diem lo, gak usah banyak tanya. Intinya lo semua nggak akan berakhir di markas." nyolot Ali.


"Rileks yuk guys," Cherry menepuk punggung tangan Mitha. "Tarik napas."


Mitha, Jessie, Unge, dan Maurin mengikuti perintah Cherry. Mereka menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan. "Huhf"

__ADS_1


...****************...


"MARKAS WALDEMARR "


Kafka melangkah ke arah Alta, mata tajamnya menilik tepat pada mangsanya kali ini. Kedua tangan Kafka tenggelam di dalam saku celana.


Aura mencekam dapat Alta rasakan ketika Kafka benar-benar berdiri di hadapan dirinya.


"Gue bisa jelasin." kata Alta tegas.


"Enggak perlu!"


Jawaban Kafka berhasil membuat Alta menggeram gemas. Tangannya terkepal, siap menonjok patung hidup di depannya ini.


"Ck, sok penting."


Kafka mendelik, ia menatap Alta dingin tanpa banyak bicara.


Gadis itu kini mencoba menetralkan tubuhnya, mengontrol emosi, dan menghela napasnya pelan. "Gini ya kaf, tadi itu kita gak sengaja lewat jalan XX." jelas Alta masih dengan intonasi kesabaran.


"TERUS??" balas Kafka singkat.


"Em, ya gitu." Bulu kuduk Alta seketika meremang, karena sorot mata tajam Kafka.


"Ya, ya pokoknya gitu deh. Udah deh kaf, gue mau balik udah malam." ucap Alta tidak mau memperpanjang.


"Sanz, anterin gue balik, yuk?" pinta Alta, menarik tangan Sanz. Sedangkan Sanz hanya duduk diam saja tidak menghiraukan permintaan Alta.


"Ish, Gaishan please anterin gue balik." memohon pada Gaishan.


Lagi-lagi hal yang sama juga di lakukan Gaishan, ia hanya terdiam tanpa mau menanggapi Alta.


Seakan tak kehabisan semangat, kini giliran Aleshaqi yang dimintai tolong untuk mengantarkannya pulang. Namun hal yang sama pun dilakukan oleh Aleshaqi, tidak ada yang mau bertindak sebelum ketua mereka memberikan isyarat.


"Oke, gue bisa balik sendiri." Alta berlalu melewati Kafka begitu saja, niatnya ingin pulang sendiri. Namun, baru satu langkah kakinya menapak. Sebuah tangan kekar menariknya kembali sehingga dahi Alta menubruk dada bidang seseorang, ya siapa lagi kalau bukan Kafka.


Aroma parfum yang bercampur bau rokok, tercium jelas di hidung Alta. Ia dengan segera menarik tubuhnya dua langkah kebelakang. Entah kenapa kali ini Alta menjadi sangat takut.


"Gu... Gue, mau balik." ujar Alta membalikkan badannya.


"Siapa yang nyuruh lo pergi?"

__ADS_1


Kafka melangkah santai dengan kedua tangan yang masih masuk ke dalam saku celananya. Ya, santai bagi Kafka tapi tidak untuk orang lain yang melihatnya. Setiap langkah yang di ambilnya mengeluarkan aura mencekam yang mengintimidasi dari tubuhnya.


Kafka, memberhentikan langkahnya tepat di depan Alta, sontak Alta pun memundurkan satu langkahnya kebelakang lagi.


"Gue mau balik, Kaf." ucap Alta.


Kafka tak menggubris perkataan Alta. Ia mengikis jarak yang membentang di antara mereka. Atmosfer ruangan yang di penuhi udara pendingin pun menjadi terasa panas dan menegangkan. Kaki mungilnya pun terus melangkah mundur, hingga Alta merasakan punggungnya menyentuh sebuah dinding di sudut ruangan itu.


Tanpa membuang kesempatan yang ada, Kafka langsung mengunci pergerakan Alta menggunakan kedua lengan kokohnya yang ia letakan di sisi kanan dan kiri kepala Alta.


"Mau kemana? Bukannya lo yang mau nonton gue war sama yang katanya sepupu lo itu??" tanya Kafka, yang di tambah dengan tatapan tajam yang berhasil membuat Alta keringat dingin.


"Ish minggir, nggak usah deket-deket kaya gini. Tadikan gue udah bilang kalau kita gak sengaja lewat jalan XX. Sebenernya lo itu tuli atau budek sih?" ucap Alta, seakan-akan ia mendapatkan kembali keberaniannya yang sempat hilang.


"Wah, Bebep gue kaga ada taku-takuttnya." pekik Gaishan berbisik di telinga Sanz.


"Budek sama tuli apa bedanya?" kini Aleshaqi ikut berbisik.


"Ada, ege." jawab Sanz.


"Apaan?" ucap Gaishan penasaran.


"Makanya otak lo jangan cewek mulu, budek sama tuli itu perbedaan nya di tulisan dan pengejaan. Budek, B.U.D.E.K sedangkan Tuli, ya T.U.L.I." tekan Sanz.


Kafka tersenyum Devils, baru kali ini Kafka bertemu gadis batu dengan nyali yang luar biasa.


"Gue peringatin." tekan Kafka. "Sekali lagi lo dan temen-temen lo ada di area gue berkelahi, gue nggak akan segan-segan kasih lo pelajaran. Paham lo?"


"Terus, gue harus perduli?"


"ALTA." Bentak Kafka, mencoba menahan diri untuk tidak memukul Alta saking kesalnya dengan gadis itu.


"Sabar kaf, inget dia itu cewek." Gaishan memperingatkan Kafka.


Kafka mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku tangannya tercetak jelas memutih, ia tidak suka di bantah apalagi itu seorang wanita. Sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya. Tidak ada satu orang pun yang berani melakukan hal itu, tapi gadis ini?


Perlahan, Kafka mendekatkan wajahnya. Dengan refleks sang gadis menahan dan mendorong dada bidang Kafka. Namun hal tersebut tidak berpengaruh terhadap sang empu. Jarak wajah mereka hanya di kikis dengan satu jari, membuat Alta dapat merasakan deru napas yang berbau bubblegum itu menerpa kulit wajahnya.


Pandangan Alta kini tak lagi berani menatap mata Kafka. Ia hanya mampu menutup mata, serta menahan napas, karena hal ini.


Satu detik, dua detik, tiga detik, berlalu. Namun tidak terjadi sesuatu. Dengan ragu, Alta kembali membuka matanya. Gadis itu sedikit terkesiap ketika tangan kekar Kafka bergerak menyelipkan sejumput rambut Alta ke belakang telinganya. Jantung Alta berseru dengan kencang di dalam sana.

__ADS_1


Bibir Kafka mendekati telinga Alta dan membisikkan sesuatu. "Gue, enggak suka dibantah. Sekali gue genggam, enggak akan pernah gue lepas. Jadi paham lo, Aludra Altalune?!"


__ADS_2