KAFKA

KAFKA
MARMUT


__ADS_3

•Happy Reading•


Sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Kafka Aefar Keizkara. Apapun yang bersangkutan dengan pemuda itu, pasti akan menjadi pusat perhatian dan topik terhangat bagi kaum siswi Lentera Bangsa. Contoh nya seperti sekarang, ini. Kedatangan Kafka bersama Alta pagi ini membuat beberapa gadis menatap iri.


Banyak asumsi-asumsi baru yang tercipta, terutama karena keadaan wajah Kafka yang masih sedikit terlihat beberapa goresan luka. Namun mereka tetap lah mereka, Kafka dengan rasa tidak perduli dan rasa dinginnya, sedangkan Alta dengan rasa cueknya yang barbar malah berjalan dengan sengaja menggandeng tangan Kafka sambil melemparkan celotehan khas nya dari parkiran menuju ke lorong tangga untuk kekelas. Serasa dunia adalah milik mereka berdua dan yang lain hanyalah bayangan yang tak berarti atau pengontrak di bumi ini.


"Nj*r, cepetan gelarin karpet merah sama ambil terompet marching band di ruang osis." kata Ali menyuruh adik kelasnya yang sedang lewat.


"Buat apa?" tanya Cherry yang kali ini juga berangkat bersama dengan Sanz.


"Buat nyambut pangeran sama ratunya Waldemarr. tuh, di belakang kita." tutur Ali membuat Cherry menengok ke belakang.


Alta menghela napas jengah saat mendengar ucapan Ali dan mendelik malas kearah tiga kawan kelasnya. "Diem deh, gak usah aneh-aneh lo, Li."


"Maaf Bang, ini jadi nggak ngambil terompet nya?"


"Ye si gobl*k, gue becanda doang tadi. Ngapain lo tanggepin serius. Kaga usah, lo jalan lagi dah Sono." mengibaskan tangannya mengusir.


"Wah, wah, parah lo emang. Ngerjain anak orang aja lo, udah nyuruh terus sekarang di usir." Alta.


"Tau lo kaga bertanggung jawab banget." timpal Cherry.


Sambil mereka berlima berjalan menaiki anak tangga satu persatu dengan Ali yang ikut membantu Kafka berjalan menaiki tangga. Sesampainya di lantai tiga mereka lagi-lagi menjadi pusat perhatian anak-anak kelas 12 IPA maupun IPS lainnya yang mereka lewati karena letak kelas mereka di area pojok sekolah.


"Njir, gue berasa jadi artis." narsis Cherry.


"Jangan geer lo. Mereka liatin Alta yang sibuk gandengan tangan sama Kafka, bukan lo!"


"Oh my God, bisa gak sih Li lo nggak ngerusak hanyalan gue yang sesaat ini."


"Lagian lo nggak bisa bedain apa pusat perhatian mereka itu natap memuja apa natap nggak suka."


"Yang gue lihat sih mereka natap kearah Alta dengan tatapan enggak suka nya." jawab Cherry.


"Nah, itu lo tau."

__ADS_1


"Ya ampun Al, mulai sekarang lo harus siapin mental baja ya kalau jadi pacar Kafka."


"Betul tuh, Al. Lo cuekin aja mereka yang nggak suka lihat kebersamaan lo sama Kafka. Apalagi cibiran mereka di belakang lo, anggap aja angin lalu." petuah Ali.


"Iya, lo nggak akan mungkin bisa nutup mulut mereka dengan kedua tangan lo, tapi lo bisa nutup kedua telinga lo pakai dua tangan yang lo punya. Jadi berhenti dengerin kata orang-orang yang cuma bisa iri aja. Bener nggak Li?"


"Em,"


"Resiko jadi pacar cowok most wanted mah, emang gitu" ujar Sanz ikut menimpali.


"Cewek gue itu udah punya bekel tersendiri buat ngehadapin mereka yang nggak suka. Tanpa kalian suruh juga mentalnya udah lebih dari baja." kini sahut Kafka yang sejak tadi hanya terdiam.


"Cewek gue nggak tuh, Li." nyinyir sanz, membuat Kafka sedikit menoyor kepala Sanz pelan.


"Bener lo kaf, gue setuju kali ini sama lo. Cewek lo itu lebih dari mental baja. Mental nya udah kebentuk mental ODGJ, Yang kaga punya urat malu."


CHERRY, BRENGS*K LO CHERR. MULUT LO JAHAN*M KALAU UDAH NGOMONG." teriak Alta menggema kencang, membuat telinga tiga cowok yang berada di deket Alta menjadi pengang dan secara kompak pula mereka langsung menutup gendang telinga mereka.


Cherry sudah tertawa terbahak-bahak, berlari kecil masuk terlebih dahulu ke dalam kelas.


Tak lama beberapa menit kemudian disusul oleh Kafka, Alta, Ali dan Sanz, yang ikut masuk ke dalam kelas.


"Hem, udah." jawabnya sambil duduk.


"Kaf, gue butuh diskusi sama anak-anak inti " Gaishan dan Aleshaqi berjalan ke arah bangku Kafka.


Kafka merespon penuturan Gaishan dengan mengangguk kecil. "Lo jadwalin balik sekolah aja."


"Oke kaf"


...****************...


Derum motor besar, kini memenuhi pendengaran Gaishan dan beberapa Anggota Waldemarr yang kini sedang berkumpul di ruang tengah dalam markas besar mereka. Sementara Gaishan yang penasaran mendengar deru bunyi motor yang asing, pun kini ikut melangkah pergi keluar markas untuk melihatnya.


"Widih, siapa lagi yang lo bawa?" tanya Gaishan yang melihat Kafka tengah turun dan membuka helmnya.

__ADS_1


"Marmut" sebutan untuk motor sport Ducati Leggera yang Kafka bawa.


"Marmut? Itu motor Lo?"


"Em, si Merah nan imut!"


"Anj*ng, nemu aja lagi namanya. Si black lo museumin?"


"Nggak, masih dapet perawatan dia. Nggak mungkin juga dia gue museumin, kes gue tuh motor" ujar Kafka, menepuk pundak Gaishan. "Ayo"


Gaishan merespon ajakan kafka dengan mengangguk, lalu kemudian mereka berjalan masuk kedalam Markas.


"Panggil Ali, Sanz sama Aleshaqi, kita diskusi di ruang pertemuan." tuturnya, melangkah keruang pertemuan. Di susul oleh Gaishan yang melangkah ke ruang belakang markas untuk memanggil Ali, Sanz, dan Aleshaqi untuk berdiskusi.


Langkah pertama nya menuju kepada Ali yang sedang bermain bilyard dengan beberapa anggota biasa. Ia kemudian menepuk bahu Ali dan mengkodenya dengan menggunakan mata dan dagu seperti biasanya. Ali yang melihat kode panggilan Gaishan pun langsung paham dan berhenti.


"Lanjutin," seru Ali memberikan play cue stick bilyardnya kepada Bumi.


Sedangkan Gaishan lanjut mencari keberadaan Sanz dan Aleshaqi yang tak ada di setiap sudut ruangan Markas, "Sanz dan Aleshaqi mana, Bang?" tanyanya kepada Bang Flo yang sedang duduk sambil menyeruput secangkir kopi hitam bersama Samudera.


"Gue lihat sih tadi Sanz di ruang latihan fisik sama Jo kalau Aleshaqi gue gak lihat Gaish!" jawab Bang Flo. "Lo lihat Aleshaqi nggak Sam?"


"Lagi nonton drakor Bang di Rooftop ruang latihan."


"Nonton drakor apaan lagi tuh anak? Perasaan semua drakor terbaru tahun ini udah dia tonton."


Gaishan mengangguk mengerti, "Ok Bang, thanks." kakinya kini ia langkahkan menuju ruang latihan untuk menemui Aleshaqi dan Sanz. Sesampainya di sana ia langsung meneriaki Aleshaqi. "Alesh, turun lo"


"Napa Gaish?"


"Panggilan, ke ruang pertemuan jangan lupa ajak Sanz di ruang latihan. Jangan lama lo, udah di tunggu sama Kafka."


"Serius lo? Kesini sama siapa tuh bocah?"


"SENDIRI, CEPETAN NJ*NG!" teriak Gaishan berlalu pergi meninggalkan Aleshaqi.

__ADS_1


"Oke!!"


...****************...


__ADS_2