KAFKA

KAFKA
KEMBALI DI KECEWAKAN


__ADS_3

•Happy Reading •


Kafka sibuk berlari kecil mengitari lapangan Lentera Bangsa bersama dengan kawan-kawannya yang lain, yang juga berkeliling mengitari lapangan namun bedanya mereka berlari sambil menghapal beberapa materi Antropologi.


"Tolong... Tolong...!! " Terdengar samar teriakan yang entah siapa meminta pertolongan, terdengar dari suaranya sepertinya itu adalah suara seorang perempuan.


"Woy, lo semua denger suara orang minta tolong nggak sih?" Seru Bumi.


Aleshaqi baru saja membuka mulutnya hendak menyahuti pertanyaan Bumi, namun urung ia lakukan ketika kekasihnya Bunga berseru memanggil nama Kafka.


"Kaf, Kafka."


Kafka berhenti dan menoleh ke arah Bunga (Unge)


"Ay, kok yang di panggil malah Kafka sih!" Perotes Aleshaqi tak terima.


"Kamu bisa diam dulu nggak sih, Ay." Sentak Bunga. "Kaf, tolongin anak Cheers."


"Kenapa sama anak Cheers?" Kini Sanz yang bertanya.


"Tolong bantu gotong Aluna ke Uks. Ayo dong cepetan."


"Emangnya kenapa Luna, Ay ?"


"Dia jatuh dan pingsan."


"Kok kamu bisa tau Ay?"


"Em, aku nggak sengaja ketemu Lily di lorong. Dia minta tolong aku buat minta bantuan. Ayo cepetan!"


Kafka langsung berlari cepat menuju lapangan basket indor tempat anak-anak Cheerleader biasa melakukan latihan di iringi anak-anak inti Waldemarr di belakang.


Sampai di lapangan basket indor, banyak dari anggota anak-anak Cheerleader Menggerubungi Aluna yang tergeletak di lantai. Gadis itu kehilangan keseimbangan saat hendak melakukan gerakan Pyramid cheer. Beruntung ia masih belum berada di posisi paling teratas.


"Lun, Luna." Panggil Kafka panik.


Gaishan meminta teman-teman Cheerleader yang lain agar memberikan ruang, supaya Kafka dapat segera menggendong Aluna sekaligus memberikan ruang agar Aluna juga dapat lebih leluasa menghirup oksigen.


"Orang UKS sudah pada balik." Ujar Lily memberikan informasi, supaya Kafka tidak usah capek-capek membawa Aluna ke ruang UKS.


"Bawa langsung ke rumah sakit aja, Kaf." Kata Sanz pelan.

__ADS_1


Kafka meraih tubuh Luna dalam gendongannya ala bridal style. Sanz membenarkan letak kepala Luna agar bersandar tepat di dada bidang kafka.


"Ada yang bawa mobil?" Tanya Aleshaqi, pasalnya mereka semua hanya menggunakan motor sport.


"Gue bawa mobil Kaf!" Kata Lily.


Kafka mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya menuju parkiran khusus mobil di sekolah mereka. Di sepanjang koridor sekolah keadaan Aluna yang di gendong Kafka menjadi sorotan anak-anak yang memang masih berada di sekolah dan juga pihak guru yang beberapa dari mereka hendak ingin pulang.


"Eleh, eleh, naha eta si Luna?" Tanya Pak Didit guru Agama mereka.


"Jadi Sleeping Beauty Pak." Jawab ngaur Sanz. Sambil berlari menyusul langkah sahabatnya.


Kafka menggeram kecil, jika tidak dalam keadaan genting sudah ia tabok mulut Sanz yang asal jeplak saja.


"Lun," Lirih Kafka. Berharap Aluna dapat tersadar di dalam gendong nya. Namun ternyata Aluna masih begitu betah menutup matanya.


Sesampainya di parkiran mobil, mobil milik Lily sudah bertengger rapih. Gaishan langsung membukakan pintu penumpang dibagian belakang untuk meletakkan Luna yang pingsan dengan sangat cekatan.


Kafka meletakan Luna dengan begitu hati-hati di jok belakang mobil, serta berlari kecil mengitari mobil yang kemudian duduk di samping Aluna untuk menopang tubuh lemah Aluna dengan raut wajah khawatir. Gaishan sendiri duduk di bagian kemudi yang disampingnya sudah terdapat Lily.


Tanpa mereka sadari, seluruh adegan dari lorong hingga kedalam mobil pun tak luput dari pandangan seseorang yang memang benar-benar menyaksikan adegan demi adegan mereka dengan sangat baik hingga membuat hatinya sedikit tercubit tak kala melihat raut wajah khawatir dari seseorang yang dicintanya.


...****************...


Langkahnya mengarah turun, menghampiri Mamanya yang sedang berada di ruang makan.


"Em, cantiknya anak Mama."


Alta tersenyum manis sebagai respon terhadap ucapan mamanya. "Papa udah pulang, ma?" Tanya Alta sambil menarik bangku untuk ia duduki.


"Em, dan sekarang lagi membersihkan diri."


Alta mengangguk mengerti.


"Kenapa nanyain papa? Kamu kangen?"


Alta menoleh saat mendapati papa Arta yang sudah mengenakan pakaian santai khas rumahan. Papa Arta mengecup singkat pucuk kepala Putri tunggalnya itu, sebelum duduk di kursi tempat Papa Arta biasanya duduk saat menikmati makan bersama.


"Kamu tidak makan, sayang?"tanya Papa Arta."


"Nanti aja Pa, takut nanti Kafka dateng dan ngajak aku makan di luar."

__ADS_1


"Oh, mau ada yang dateng ya. Pantas saja anak Papa kelihatan cantik banget malam ini."


"Biasanya nggak cantik ya?"


"Bukan tidak cantik Sayang, kamu itu Anak Gadis Papa yang paling cantik sejagat raya. Tapi malam ini terlihat dua kali lipat lebih cantik."


"Mungkin aura orang kasmaran kali ya, Pah."


"Apaan sih mah." Seru Alta tersipu malu. Membuat Papa Arta dan Mama Gaby tertawa.


"Pa, Ma, aku tunggu Kafka di teras ya?" Seru Alta berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk segera pergi ke teras depan.


Sembari menunggu Kafka di teras depan rumah, Alta memilih membaca Platform Novel Online di ponselnya hingga tanpa ia sadar sudah menghabiskan waktu 50 menit lamanya.


"Belum datang juga Kafkanya?"


"Belum Mam. Mungkin macet kali ya."


"Macet bagaimana? Orang jarak dia ke rumah kita kan tidak jauh. Memangnya dia kabarin kamu kalau memang beneran macet?"


Alta tertawa, "Alta lupa kalau rumah Kafka tidaklah begitu jauh. Tapi mungkin bisa aja macet beneran kan ma?" Jawabnya.


Mama Gaby menghela napas "Mybee. Coba kamu telepon aja biar pasti."


Bagaimana bisa dia lupa kalau jarak kompleks Kafka ke kompleks rumah mereka hanya berjarak kurang lebih 1,1km bila di tempuh menggunakan motor.


"Iya ma."


"Ya sudah, mama masuk ke dalam kamar duluan ya sayang. Jangan lupa makan."


Setelahnya Mama Gaby melangkah meninggalkan Alta sendirian di teras depan.


Alta membuka Lock Screen handphone miliknya serta mengklik ke sebuah roomchat dengan Kafka.


"Setidaknya lo ngabarin, kek." Kesal Gadis itu sambil mengetik pesan untuk ia kirim ke Kafka.



Alta menatap centang satu pada chatnya yang ia kirim kan untuk Kafka. "Kenapa nggak aktif." Ucap Alta sedikit panik, kala mendapati centang satu pada nomer Kafka di Aplikasi tersebut.


"Lo nggak biasa-biasanya, nggak aktifin nomer lo kaya gini. Kalau handphone lo low, pasti lo bakalan kabarin gue terlebih dahulu." Monoloknya sendiri.

__ADS_1


Alta berusaha menepis pikiran yang macam-macam yang terlintas di dalam benaknya. Alta yakin bahwa Kafka tak akan melupakan ucapannya tadi.


__ADS_2