KAFKA

KAFKA
POSESIF


__ADS_3

•Happy Reading•


Sanz mulai bangkit dari duduknya, melangkah kan kaki menuju ruang belakang markas menemui Bang Jo yang sedang latihan fisik bersama anggota Waldemarr lainnya.


"Bang, Gaishan nyariin gitar yang kemarin di bawa Moriz. Di taruh di mana?"


"Ruang istirahat, pojok lemari." jawab bang Jo sambil mengangkat barbel.


Setelah mendapat jawaban, Sanz kembali berjalan menuju ruang istirahat, meraih gitar yang tergeletak di pinggir lemari. Lalu kini kembali duduk di kursi dan mulai memainkan gitar, disebelah nya terdapat Aleshaqi yang merequest lagu untuk di nyanyikan.


"Lagu yang Ini, Sanz. biarkan saja, biarkan duduk dengan tenang."


Sanz menaikan satu alis nya. "Judul nya gobl*k"


"Gue kaga tau."


Gaishan dan Ali terkekeh kecil mendengar requestan dari Aleshaqi. Gaishan menggeleng kepala, sebab tidak mengerti selera Aleshaqi.


"Ye si gobl*k." Sanz mulai ngedumel.


"Gue tau lagu yang di maksud Alesh! Sini gitarnya," sahut Alta, mengambil gitar dari pangkuan Sanz.


"WOY, AYO KITA BERDENDANG BERSAMA" teriak Aleshaqi, meneriaki anggota yang lainnya agar ikut bergabung.


"Bila ingin melihat ikan, di dalam kolam.


Tenangkan dulu airnya sebening kaca.


Bila mata tertuju pada gadis pendiam.


Caranya tak sama menggoda dara lincah." lirik pertama di nyanyikan oleh Alta, sedangkan Aleshaqi sudah berjoget heboh ala pargoy.


"Oh, gue tau nih lagu. Yang ada lirik nya, senyum, senyum dulu. Senyum dari jauh, kalau dia senyum tanda hati nya mau." seru Gaishan ikut heboh.


"Hey, sek." imbuh Ali ikut serta berjoget bersama Aleshaqi.


"Jangan, jangan dulu.


Janganlah di ganggu


Biarkan saja biar duduk dengan tenang" lanjut Aleshaqi di iringi petikan gitar oleh Alta.


"SENYUM, SENYUM DULU.


SENYUM DARI JAUH


KALAU DIA SENYUM TANDA HATI NYA MAU." teriak Gaishan melanjutkan lirik Aleshaqi.


"Hei" teriak Alta, Aleshaqi, Ali dan Gaishan berbarengan lalu mereka tertawa terbahak-bahak bersama.


"Aji gile Queen Bos kita biduan, nj*rrr." teriak Sanz, sedangkan Kafka terkekeh geli melihat kelakuan absurd Alta karena dengan mudah nya ia berbaur bersama tanpa ada rasa malu.


Kegiatan bernyanyi itu dilakukan hingga matahari bersinar terik di atas kepala, dari mulai lagu lawas, dangdut, pop, dan barat hingga lagu mellow. Mereka menyanyikan secara bergantian begitupun dengan permainan gitar yang juga bergantian.


Deret..dret..!!


Terdengar suara notifikasi tanda pesan masuk.


Tak sengaja Kafka sedikit membaca pesan tersebut. Lalu Ia melangkahkan kakinya keluar markas, melemparkan batang rokok yang masih terbakar setengah kesembarang arah.


"Mau kemana lo Bos?" tanya Ali yang menyadari kalau Kafka ingin melangkah keluar markas.

__ADS_1


"Bentar, gue titip Alta."


"Lah, kenapa gue di titipin. Gue ikut lo balik aja, kaf."


"Lo tunggu di sini, gue ada urusan sebentar. Habis itu gue antar lo balik."


"Tapi tas gue masih di sekolah."


"Nanti gue suruh Gaishan buat ambil."


Alta menurut, ia kembali duduk menunggu Kafka.


...****************...


Tak biasa nya pintu gerbang sepi dan beberapa murid berlarian keluar gerbang namun parkiran masih di penuhi banyak mobil dan motor.


Membuat empat gadis yang baru keluar koridor menuju parkiran itu mengernyit heran sekaligus bingung.


"Lah ini parkiran tumben masih rame, tapi orang nya sepi."


"Ho'oh,"


"Ada apa?" tanya Cherry.


Mitha serta Unge pun kompak menjawab pertanyaan Cherry dengan sebuah gelengan kepala."Nggak tau."


"Woy, mau kemana lo buru-buru gitu?" tanya Jessie pada salah satu adik kelas nya yang keluar gerbang.


"Mau lihat yang gelut."


" Hah, siapa? dimana?"


"Halte, cepetan!"


"Ka Kafka."


"Kafka? Sama siapa?"


"Gak tau gue, tapi yang gue denger. Seragam tuh cowok, seragam Nusabangsa."


Jessie buru-buru berlari menuju halte, meninggalkan teman-teman nya yang masih bingung mencerna keadaan.


"JESSIE TUNGGUIN GUE, ANJ*RR!"


Cherry langsung ikut menyusul Jessie, berlari mengejar bersama dengan Mitha dan Unge yang heboh ingin menyaksikan drama apa lagi yang terjadi hari ini.


...****************...


BUGKHH!!


Satu pukulan keras berhasil di layangkan oleh Kafka kepada Prince. Cowok itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tapi Sedetik kemudian ia kembali maju menyerang Kafka, mengesampingkan rasa takutnya pada ketua Waldemarr yang ada di hadapannya itu.


Prince tersenyum tipis, lantas mengarahkan kakinya kearah tepat bagian perut Kafka. Tak siap akan hal itu, Kafka pun jatuh tersungkur kearah badan jalan.


Sontak membuat pekikan histeris menggelegar dari beberapa murid wanita yang menyaksikan pertarungan tersebut.


"Bastrad!!"


Kafka menyeringai, ia kembali bangkit dan memberikan bogeman pada wajah Prince hingga membuat sudut bibir Prince mengeluarkan darah.


"Ngapain lo jemput Alta?" pertanyaan itu pun tercetus dari mulut Kafka. Emosi nya benar-benar di ambang batas.

__ADS_1


Prince tersenyum, ia mengusap darah segar yang mengalir di ujung bibirnya. "Dari pada lo anggurin, mendingan gue yang deketin."


"Ngapain lo deketin cewek gue?" Kafka balas bertanya. Matanya tak suka menatap Prince. "Jauhin Alta, dia itu cewek gue!"


Prince lagi-lagi tertawa sinis. "Menurut lo, gue mau nurutin perintah lo?" Prince maju satu langkah mendekat. "Lo tau kan, gue gak pernah main-main kalau suka sama cewek?"


Tatapan Kafka berubah tajam dan dingin. "Mau lo apa, sih?"


"Jelas lo tau mau gue itu apa, gue suka sama cewek lo. Kalau lo emang gak bisa buat jaga dia, mending gue aja yang jagain."


"Diem lo, lo gak tau apa-apa."


"Gue emang gak tau apa-apa kaf, tapi yang jelas, gue tau satu hal. Kalau lo udah buat Alta nangis, kemarin."


Kafka mendorong tubuh Prince kearah tembok halte. Lalu kemudian ia mencengkram erat kerah seragam sekolah Prince. "Gue bilang lo gak tau apa-apa. Jadi jangan sok merasa paling tau."


"Gue cuma mau ingetin lo buat kedua kalinya. Jangan sampai gara-gara lo masih menyimpan rasa ke Aluna, lo sampai nyakitin lagi orang yang beneran gue suka kaf. Lo udah bikin orang yang gue cinta itu mati sia-sia dan gue gak mau kalau sampai Alta juga melakukan hal yang sama."


"Anj*ng, Alta bukan cewek gobl*k. Dia gak akan ngelakuin hal sebodah itu. Naura mati bukan karena gue tapi dia bunuh diri, brengs*k!"


BUGKHH!!


Kini Kafka kembali memukuli wajah Prince. Kedua remaja itu kembali baku hantam hingga menyebabkan kerumunan orang yang membuat macet jalan.


"Hajar Kaf, jangan di kasih ampun."


Di bagian belakang, Jessie, Cherry, Mitha dan Unge menerobos masuk ke depan kerumunan. Jessie dengan cepat mengambil handphone nya dan melakukan panggilan video ke nomer Gaishan, dan dengan cepatnya pemuda itu pun mengangkat panggilan video Jessie.


"Bos lo lagi baku hantam nih, cepetan kesini."


"Kenapa Jessie telepon lo?" terdengar sayup-sayup di belakang Gaishan.


"Kafka gelut di halte deket sekolah."


"kok bisa?" suara Ali.


"Akh ****, dia baca chat Prince di handphone gue." seru Alta berteriak kencang di belakang panggilan video Gaishan.


"Oke Beb, gue langsung cabut ke sekolah." setelah berbicara itu, Gaishan langsung mematikan panggilan video nya.


...****************...


"KAFKA, BERHENTI!" seru gadis cantik yang kini juga ikut menerobos masuk ke arah depan.


"Cukup kaf, udah cukup, please berhenti." Gadis itu menarik tangan Kafka. "Akibat ulah lo berdua, jalan jadi macet dan mobil gue gak bisa buat keluar. Lo berdua dilahirin kedunia ini gak dikasih urat malu apa? Kerjaan lo cuman baku hantam aja. Semuanya bisa kan di bicarakan baik-baik."


Bukan berhenti, Kafka malah makin menjadi. Seperti orang kesetanan yang haus akan darah. Pemuda itu kembali menghajar Prince, kini Kafka tak memperdulikan ucapan Aluna. Ada rasa sedikit kecewa yang melanda perasaan Aluna. Secepat itukah Kafka melupakan dirinya, hingga ia tak lagi perduli dengan nasihat atau ucapan nya barusan.


"Stop!! Gue bilang stop, anj*rr!!" seru gadis cantik yang baru saja berlari, napas gadis itu terengah-engah lantaran berlari menerobos kemacetan di jalan.


Gerakan Kafka berhenti secara tiba-tiba. Refleks matanya menatap mata teduh biru langit itu. Tatapan Kafka berubah melunak seperti sebuah obat penenang bagi Kafka.


"Aduh, bisa gak sih kalian itu gak bikin masalah dan lo ngapain coba pakai acara jemput gue? Gue bukan anak TK kali, gue bisa pulang sendiri tanpa harus di jemput. Dan lo ngapain coba bolos kesekolah malah datang kesekolah buat ribut. Kalau pihak sekolah tau, nanti lo dihukum." oceh Alta seraya membantu Prince berdiri.


Kafka yang melihat itu pun langsung menarik tangan Alta, hingga tubuh Alta terseret beberapa langkah kedalam pelukan Kafka.


"Cih, Posesif." ucap Aluna seraya berjalan pergi meninggalkan mereka.


Ali terkekeh geli, "Bos gue udah normal, sekali nya normal jadi posesif banget."


"Bac*t, cepet seret Prince buat pergi. Nanti singa ngamuk lagi." ujar Aleshaqi berbisik.

__ADS_1


"Gak akan, udah ada pawang nya, tuh!" samber Baim, adek kelas mereka yang juga anggota biasa Waldemarr.


Alta menggenggam erat tangan Kafka, lalu menarik nya untuk segera pergi.


__ADS_2