KAFKA

KAFKA
TOLONG DI KONDISIKAN!


__ADS_3

•Happy Reading •


Lelaki dengan garis wajah yang terlihat begitu tampan, kini tengah melangkah menuju sebuah lobi apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Kaos putih yang membalut tubuhnya di mix dengan sebuah jaket hitam, celana jeans hitam serta sepatu putih bermerk. Paras tampan yang sedikit terhalang topi hitam terus berjalan santai menuju sebuah lift yang notabene bukan tempat tinggal nya.


Pemuda itu terburu-buru untuk datang ke apartemen Sanz setelah beberapa saat lalu dirinya di telepon oleh Kafka untuk di minta balik lagi ke apartemen itu.


Sesampainya pemuda itu di depan pintu kamar apartemen milik Sanz. Lelaki itu langsung menekan code sandi yang memang sudah ia ketahui, lalu kembali mengunci pintu kamar tersebut dan berjalan kearah ruang televisi di mana hanya ada Jessie dan Alta.


"Kok lo berdua doang? Yang lain nya mana?" tanya Gaishan pada kedua gadis cantik yang sedang menyantap bubur ayam dan nasi goreng.


"Sanz lagi nganterin balik Cherry. Kalau Ali lagi disuruh beli baju dan celana buat Kafka." jawab Alta.


"Terus Kafka nya sendiri mana?"


"Lagi mandi."


"Kenapa gak pakai baju Sanz aja sih!"


"Bos lo ketengilan, mentang-mentang tinggal gesek doang." ketus Jessie.


"Biarin aja sih Jess, kok lo yang ngegas. Lah duit, duit, dia. Bebas lah mau ngapain."


"Belain aja terus!!"


"Dih sewot lo." seru Alta sambil iseng menyuapi Jessie bubur dengan kerupuk terakhir milik nya.


"Alta" teriak Jessie kesal namun ia tetap mengunyah bubur tersebut.


"Enak nggak?" tanya Alta.


Jessie hanya mampu menganggukkan kepala karena mulutnya penuh dengan bubur dan kerupuk yang Alta masukkan tadi.


"Lo semalam balik Gaish?" kini pandangan Alta menatap Gaishan yang sedang duduk bersender di sofa sambil merokok.


"Nggak!!"


"Lah ini lo dari mana?"


"Rumah."

__ADS_1


"Gimana sih lo, gak jelas banget kalau di tanyain" sambar Jessie ketus sambil terbata-bata sebab mulutnya masih mengunyah.


"Alta kan nanyain nya semalam Babe. Yah semalam gue gak balik, gue baru balik tadi pagi. Salah gue dimana, jawab nya??"


"Au ah, susah kalau ngomong sama..."


"Sama apa? Lo bisa diem gak Jess" potong Gaishan.


"Kenapa emangnya?"


"Iya lo bisa diem gak? Diem dihati gue. Nggak usah kemana-mana lagi!!" gombalan receh Gaishan.


Alta langsung tertawa terbahak-bahak "Widih, mulut lo lancar banget ye Gaish. Playboy mah lain, apa lagi sama mantan terindah, itu mah susah di lupain Jess!"


Mata Jessie mendelik tajam "Dih, nazis bed gue dengernya."


Gaishan tersenyum manis menatap wajah Jessie yang terlihat jutek sekaligus menggemaskan bagi Gaishan. "Gimana lo semalam Al, lancar?"


"Lancar apanya?"


"Lo semalaman berduaan sama Kafka?"


"Lo kaga inget?"


Alta menggeleng


"Seriusan lo gak inget? Apa pura-pura nggak inget?" tanya Gaishan penasaran.


"Bentar gue gak paham nih! Maksud lo Alta berduaan sama Kafka?" tanya Jessie heran.


Gaishan mengangguk.


"Berduaan dimana?"


"Sok polos lo nj*rr, pakai nanyain berduaan dimana?"


"Nj*ng, beneran gobl*k, gue kaga paham. Kan bisa berduaan di ruang tv, di kamar mandi. Salah gue nanya?"


"Di dalam kamar nya Sanz."

__ADS_1


"Hah seriosly?" Jessie menatap Gaishan tak percaya, sampai di saat Gaishan berkata "Iya"


"ALTA SOK POLOS LO NJ*RR!!" teriak Jessie menggelegar.


"Bacot lo Jessie, kuping gue budek anjir!! Mulut lo sama-sama lancar ya berdua."


"Jangan gosip lo, gue nggak ngapa-ngapain gobl*k!!" seru pemuda tampan yang baru saja keluar dari salah satu kamar apartemen nya Sanz. Siapa lagi kalau bukan Kafka. Ia baru saja selesai dengan ritual nya di kamar mandi. Pemuda itu keluar hanya dengan mengenakan boxer bermerk C*lvin Kl*in yang terbalut handuk putih yang ia lilitkan asal di pinggang nya.


"Ngeles aja lo kaya bajay, kalau nggak ngapa-ngapain kenapa pintu kamar Sanz lo tutup!"


"Gue tutup sedikit, tapi gak gue kunci." ngeles Kafka.


"Yang gue pikirin dari tadi ternyata beneran dong. Semalam beneran Kafka nemenin gue di dalam kamar." Alta membatin.


"Baru Dateng lo?" tanya Kafka beralih, lalu menatap datar kearah Gaishan.


"Baru, baru satu jam yang lalu"


Kafka mengangguk seraya berjalan ke arah dapur. Ia mengambil dua kaleng minuman dingin milik Sanz tanpa persetujuan sang empu, rasanya sudah seperti apartemen nya sendiri. Sesuka hati mengambil apapun yang pemuda itu inginkan. (Jangan di tiru ya guys.!!🤭🤭 Kalau Kafka sih enak punya kartu Hitam, bisa beli apapun dan bisa ganti apa pun yang ia ambil, Lah kita?🤣🤣 Kita? Author aja kali ya, kalian nggak.✌️)


"Lo yang anterin Jessie balik ya Gaish." titah kafka sambil duduk di sofa depan Alta dan Jessie, serta melemparkan satu kaleng minuman dingin itu ke pangkuan Gaishan. Ia mengambil satu batang rokok milik Gaishan dan memantik nya.


"Tolong itu di kondisikan handuk lo, Alta sih enak udah ngeliat junior lo. Lah gue belum lihat junior siapa-siapa, takut ternodai mata gue." ketus Jessie frontal pada kafka.


Alta menaboki paha Jessie. "Tolong ya di rem mulut lo, gak berfilter banget sih gue punya bestie. Selama pacaran sama playboy bohong banget gak pernah liat pentol nya."


"Gue?" tanya Gaishan pada kafka. Ia tidak mau ambil pusing dengan perdebatan dua cewek bar-bar di depan nya itu. "Tapi kaf, gue.." Gaishan tidak melanjutkan ucapannya.


"Iya, masalah nya dia gak bawa mobil. Tadi mau balik bareng Cherry malah di tinggal Sanz. Kafka gak ada kendaraan apapun, mobil nya di pakai Ali, dari tadi juga tuh anak gak balik-balik. Beli baju di Mall Xx udah kaya beli baju di Amrik aja." oceh gadis itu.


"Kenapa? Lo gak mau nganterin sahabat gue? Lo udah ada temu janji sama beberapa koleksi lo?" gerutu Alta, tanpa jeda.


"Kaf, mulut cewek lu lancar banget udah kaya jalan tol."


Kafka hanya terdiam, lantas menatap Alta.


"Tolong di Garis bawahi, gue bukan cewek nya Kafka. ucapan lo tolong di ralat."


"Terus apa dong? TTM?" celetuk Jessie.

__ADS_1


Alta melirik sesaat ke arah Kafka yang terlihat santai tanpa sedikitpun merasa terganggu dengan ucapan Jessie atau pun Gaishan. Ia nampak nya tidak mengiyakan atau pun menampik nya. Ia hanya lah Kafka yang terlihat cuek dan nampak tidak perduli, sebelum akhirnya Alta bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur, membawa bekas mangkuk dan gelas kotor miliknya dan Jessie.


__ADS_2