
•Happy Reading•
Keduanya saling diam, setelah Kafka menjelaskan prihal ia mengungkapkan perasaannya pada Aluna. Tidak ada yang ia tutupi dan tidak ada yang di kurang-kurangi, semua ia ceritakan sesuai dengan apa yang ia bicarakan pada Aluna.
Mereka tidak tau harus memulainya dari mana lagi. Mereka hanya saling duduk bersebelahan, tak berselang lama, Kafka mengikis jarak di antara keduanya. Mata tajam Kafka kembali menatap Alta serius.
"Apa ada lagi hal lain yang ingin lo dengar?"
Alta menggelengkan kepalanya. "Nggak"
"Jadi gimana?" tanya Kafka ambigu.
"Gimana apanya?" Bingung Alta.
"Kita?"
Alta kembali mengulang ucapan Kafka. "Kita?"
"Iya maksudnya kita, lo sama gue?" seru Kafka.
Mengetahui arah pembicaraan Kafka, tiba-tiba saja Alta menjadi gelagapan. Ia menjadi gugup seketika. "Ke... kenapa sama lo dan gue? Lo kalau ngomong tuh yang bener dong, jangan bikin gue jadi bingung!" Berpura-pura tidak mengerti maksud Kafka.
Kafka tersenyum tipis, "Kita resmi taken?"
Alta tertawa kencang "Lo pikir kita lagi ada kerjasama? Udah kaya kontrak kerja aja."
Kafka menghembuskan napas panjang. Ia terpaksa harus berbicara panjang dari biasanya. "Oke, sekarang gue nembak lo secara resmi. I want, Aludra Altalune to belong only to Kafka Aefar Keizkara, because Kafka only loves, Alta. (Gue mau, Aludra Altalune cuma jadi miliknya Kafka Aefar Keizkara, karena Kafka cuma mencintai Alta.)
Alta menunduk dalam, ia menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa gugup yang melanda dirinya. "Gue udah nggak lagi jatuh cinta sama lo!"
Sontak Kafka langsung memandang tajam ke arah Alta, "Secepat itu, lo sudah nggak lagi cinta gue? Bukan nya beberapa menit tadi lo bilang lo cinta sama gue?!"
"Itu kan beberapa menit tadi, sekarang gue udah gak cinta sama lo!"
"Alasan nya?" seru Kafka bertanya, nada bicaranya berubah. Tatapan matanya menatap tajam, raut wajahnya pun kembali datar.
"Alasan nya, karena gue..." Alta menatap Kafka yang juga lagi menatapnya. "Lo nungguin jawaban gue?"
Kafka Menjawab pertanyaan Alta dingin "Menurut lo?"
Alta tertawa. "Tegang banget muka lo, calm. Lo nggak lagi mau war kaf."
Kafka terdiam, ia tidak ingin menanggapi candaan Alta yang menurutnya sangat kurang tepat.
"Lo makin buat gue takut." Alta menunduk.
"Itu alasan lo?"
"Bu.. bukan" dengan cepat Alta mendongak, lalu menggeleng. "Alasan gue udah gak cinta lagi itu karena gue, gue sayang lo kaf, menurut gue cinta itu sementara tapi kalau rasa cinta itu berubah sayang, dia akan langgeng bukan? Gue gak mau sementara sama lo."
Kafka tersenyum lebar, jantung nya berdebar hebat. Perutnya terasa geli, seperti di gelitik oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Seketika ide jahil muncul di kepalanya. Ia ingin membalas perbuatan Alta barusan. Ia mendekat, berbisik perlahan di kuping sebelah kiri Alta. "Love you, Be. Berarti kita resmi?"
__ADS_1
Wajah cantik Alta seketika merona, lucu sekali gadis ini. Bagaimana mungkin Kafka bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada gadis itu. Sifatnya yang sulit di tebak, mood nya yang mudah sekali berubah, kadang ia bisa menjadi pribadi yang menyebalkan, terkadang juga ia bisa menjadi pribadi yang begitu menyenangkan.
"Kaf, lo mau buat gue mati muda?" seru Alta tak terima.
"Iya, lo lama-lama nggak aman Al buat jantung." jawab Kafka asal.
Alta cemberut, "Lo yang nggak aman buat jantung gue kaf."
Mendengar penuturan gadis cantik yang duduk disampingnya, ia pun merapatkan duduk, mengikis jarak diantara keduanya. Refleks Alta memundurkan tubuhnya ketika Kafka makin memajukan wajahnya. "Gak aman gimana?" tanya Kafka semakin memajukan wajahnya sambil mengungkung tubuh gadis itu.
"Dih anj*rr, lo mau ngapain." refleks Alta mendorong wajah Kafka.
"Menurut lo?" tersenyum menggoda.
"Macem-macem gue teriak ya" ancam Alta.
"Teriak aja, anak-anak juga gak ada disini. Markas kalau jam segini sepi, Be. Cuma ada kita berdua." Kafka semakin mendekat, kini hidungnya yang mancung pun sudah menempel di hidung Alta, mengusap lembut pucuk hidungnya.
"Kaf sumpah, lo beneran bikin jantung gue nggak aman."
"Gue jagain deh biar aman."
"Nanti temen-temen lo dateng."
Kafka tak menghiraukan ucapan Alta, ia sedang asik menikmati setiap jengkal wajah gadis itu, mengabsen satu persatu di mulai dari hidung mancung Alta, bibir gadis itu, mata biru langit yang indah di-mix bulu matanya yang lentik dan berakhir pada bagian pipi. Mengecup-ngecup pipi itu perlahan namun berkali-kali.
Alta tertawa dengan geli, akibat tingkah konyol pacarnya barunya. Sampai tiba-tiba terdapat suara yang mengganggu aktivitas baru Kafka.
"WOW." teriak Aleshaqi sambil menutup kedua mata dengan kedua tangan nya yang tidak tertutup rapat.
"OWW, MY GOOD. MATA GUE SEDANG TERDZOLIMI YA KAWAN-KAWAN. TOLONG GUE YA ALLAH, GUE UDAH MAU JADI ANAK INSYAF." teriak Gaishan mengangkat tangan nya seperti sedang berdoa saat memasuki markas yang disuguhi pemandangan dari Kafka dan Alta.
Kafka dengan cepat menjauhkan diri dari wajah Alta, ia mendecak sebal kepada sahabat-sahabat nya yang dengan berani mengganggu aktivitas nya itu.
Ali terkekeh, namun kaki nya melangkah cepat menghampiri tiga sahabatnya untuk menyeret mereka pergi keluar markas. "Sorry ganggu."
"Pada mau kemana lo? Sini lo semua masuk!" ucap Kafka santai.
"Beneran nih kita masuk? Kenapa gak di lanjut aja Bos." ejek Aleshaqi membuat Gaishan mendecih dan menoyor kepala Aleshaqi.
"Gak peka banget sih lo, justru kebalikannya gobl*k" kata Gaishan terkekeh kecil.
Wajah Alta sudah terlihat memerah, entah ia menahan rasa amarah nya atau rasa malu, mungkin keduanya. Ia merutuki kebodohan Kafka kali ini, bisa-bisa nya pemuda itu dengan santainya tak merasa malu di hadapan ke tiga sahabatnya.
"Terlanjur, lo semua juga udah pada liat kan? Ngapain juga lo semua harus repot-repot balik keluar markas." katanya sedikit sewot "Sini lo semua."
Mereka berempat menurut, sambil senyum-senyum gak jelas, menduduki sofa depan Alta duduk. Sedangkan Kafka berjalan kearah kulkas dan melemparkan satu persatu minuman dingin yang di tanggapi Gaishan.
"Jadi masalah kecilnya, tuh ini kaf?" tanya Gaishan.
Kafka mengangguk, "Mau coba-coba bikin gue on, dia" ucap Kafka sambil duduk kembali.
__ADS_1
Alta melotot, matanya membulat sempurna, "Ngarang bebas lo" ucap nya kesal tak tahan untuk tidak menabok pemuda yang kini duduk anteng di sebelah nya.
Sedangkan tiga sahabat Kafka yang lainnya hanya terdiam, pikiran mereka sudah traveling ke mana-mana. Memikirkan ucapan Kafka yang terdengar ambigu, sampai akhirnya Ali berkata "Al, lo nakal juga ya ternyata. Nanti kalau junior nya Kafka sampai beneran on, lo sendiri nanti yang kelabakan. Keluar markas tekdung tralala."
"Bangs*t, belajar dari mana lo viktor."
"Tuh, sama sang suhu." tunjuk Ali pada Gaishan.
"Gue lagi aja, brother."
"Kan lo jagonya, buktinya aja Jessie bisa lo dapetin lagi."
"Lo balikan sama Jessie? Kok Jessie gak cerita ke gue?" tanya Alta kencang.
"Biasa aja kali Al,"
Mata Alta membulat sempurna, "Ck, nanya doang kali gue!" Ucapnya kesel, kemudian ia menyenderkan tubuhnya dan langsung memainkan ponsel.
"Yah ngambek kan, lo sih Sanz." goda Ali sambil menghisap sebatang rokok nya.
Kafka mendekati Alta, merapatkan tubuhnya.
"Al" panggil Kafka lembut.
Gadis itu hanya tetap diam, merajuk, mengerucutkan bibirnya. Terlihat begitu menggemaskan.
Kafka tersenyum tipis "Lo marah?" tanya nya dengan tangan yang merangkul pinggang gadis itu. "You look so adorable when angry" (lo terlihat menggemaskan saat marah) bisik Kafka.
Sh***, siapa yang bisa tahan dengan ucapan manis yang Kafka lakukan barusan? Pemuda dingin, yang tidak pernah terlihat bersama seorang gadis bisa mencair begitu manis. Alta melengkungkan sebuah senyuman, pipinya bersemu merah menahan malu.
"Aduh, kalah pro lo Gaish. Predikat lo luntur dah. Bos kita itu begitu sweet!" ledek Sanz.
"Bacot, akh."
"Lo semua cabut?" tanya Kafka, mengalihkan pembicaraan.
"Iya" jawab Sanz.
"Em, kita semua khawatir." kata Gaishan sambil membuka pengait minuman kaleng yang di beri oleh Kafka.
"Khawatir kenapa?"
"Lo tadi marah banget soalnya. Bingung juga gue harus apa, pas tau kalau Ali bilang lo marah karena lihat Alta di peluk Prince di depan gerbang sekolah. Kita semua jadi paham."
"Lo marah karena itu kaf? Kenapa gak bilang."
"Males."
"Dih, salah lo ya kenapa lo gak bilang. Main marah-marah gak jelas."
"Jadi salah gue lagi nih? Oke gue minta maaf" mengelus pipi Alta dengan lembut.
__ADS_1
"Akhh, mau ikutan di elus." ucap Ali merengek.
"NAJIS GOBL*K" teriak Gaishan menoyor kepala Ali. Diiringi tawa kencang yang lainnya.