
•Happy Reading •
Suasana Kelas IPS¹ pagi ini terlihat begitu ricuh, tingkah laku Gaishan dan Sanz yang dengan isengnya menggoda Jessie, membuat Jessie misuh-misuh sedari tadi. Kini Jessie tengah mengejar Gaishan yang baru saja mengambil dengan sengaja handphone milik gadis bermuka jutek itu.
"GAISHAN!!! ANJ*NG LO!!!" Teriak Jessie. Ia mengangkat sedikit rok nya ke atas agar ia bisa berlari mengejar Gaishan.
"Nih ambil Babe, kalau bisa." ledek Gaishan, dengan gerakan cepat Jessie pun berlari kearah Gaishan. Namun pemuda tampan itu justru memberikan handphone milik gadis itu ke Sanz ketika Jessie sudah mendekat ke arah nya.
"Babe, lo sengaja menggoda gue.?" ucap Gaishan, Jessie yang sadar langsung menurunkan dan merapikan roknya.
"Ni Jess." ucap Sanz sambil mengulurkan handphone itu. Mengubah atensi nya ke arah Sanz, Jessie tersenyum lalu mata nya kini menatap meledek kearah Gaishan, dan kini ia berlari kecil menghampiri Sanz.
"Tapi bohong!!" Sanz dengan langkah lebar nya, berlari dengan cepat mengelilingi ruang kelas dengan tangan terangkat keatas menggenggam handphone milik Jessie.
"Gak lucu ah Sanz, dateng pagi bikin onar aja lo berdua!!" Jessie berusaha mengejar Sanz. Namun lagi-lagi handphone milik nya dioper ke Gaishan.
"Tau ah, beraninya sama cewek." seru Jessie yang akhirnya kini menyerah, ia memilih duduk di bangku kepemilikan nya.
"Yah, segitu doang nih Jess??" Sanz.
"Bodooo, Bangs*t lo!!!"
Gaishan yang mendengar penuturan gadis itu pun dengan cepat menghampiri gadis jutek tersebut "Apa? Lo barusan ngomong apa, coba ulang?"
Jessie memutar bola matanya malas, "Budek lo, hah?" Serunya kencang dan sedetik kemudian ia mendapatkan kecupan di pipi kanan nya.
Jessie membelalakan matanya, "GAISHAN, GOBL*K!" teriaknya kencang dan jutek, serta di respon tawa kencang oleh Gaishan. "Bukan nya lo masih sayang sama gue??"
Sanz yang melihat tingkah Gaishan, lagi dan lagi di buat tertawa terbahak-bahak. Sementara para muridnya yang sudah datang pun ikut tertawa kecil, melihat tingkah iseng anggota Waldemarr yang mungkin jarang bisa mereka lihat di pagi hari ataupun di waktu tertentu. Mereka terkadang terlihat menyeramkan seolah tak punya hati, namun jika dapat di lihat lebih dalam disisi lain nya, mereka begitu sangat perduli apalagi terhadap anak-anak kelas mereka plus tingkah jail yang bikin senyum.
"Dih, siapa bilang?"
"Elo lah!!"
"Enggak, kapan ya gue pernah bilang gitu." elak gadis cantik berwajah jutek tersebut.
"Masa? Beneran amnesia atau pura-pura amnesia?"
"Emang, enggak!!"
"Perlu gue ulang?"
"Gaishan!!" sentak Jessie.
"Widih, udah rame aja nih?" seru Aleshaqi yang baru saja tiba bersamaan dengan Bunga, Cherry dan Alta.
"Ini jam gue gak salah kan ya? Tapi kayanya gue dateng kesiangan deh." sambar Alta menimpali.
"Belum jam tujuh, baru juga jam 06.50. Lo emang biasa datang jam segini kan??" tanya Cherry kepada Alta.
"Oh, jam gue gak ngaco ternyata. Tapi tumben banget dua makhluk hidup yang berabad-abad lamanya di cap tukang terlambat, sudah nongol."
__ADS_1
"Bangs*t lo Queen Bos, ngomong aja langsung gak usah nyindir-nyindir."
Alta tertawa kencang bersamaan dengan suara bel pertanda jam pertama pelajaran segera dimulai. Lelaki yang awalnya tengah menduduki meja guru pun kini melangkah bersamaan dengan Sanz, menduduki kursi masing-masing di area belakang.
"Gaishan, balikin?"
"Balikin apa Babe?"
"Sini balikin?"
"Handphone or status hubungan kita?" goda Gaishan, tersenyum manis.
"Handphone lah, gue gak mau di cap plakorr!!"
"Gue udah mutusin dia buat lo, lo mau gak balikan lagi sama gue? Nih ambil handphone lo."
Jessie hanya terdiam, lalu ia beranjak mengambil handphone milik nya di tangan Gaishan.
"Berarti setuju." celoteh lelaki itu.
"Setuju apa nya??" tanya Jessie heran.
"Setuju buat jadi cewek gue lagi, kalau lo ambil handphone ini di tangan gue."
"Dih, ngarep lo"
"Fix lo cewek gue lagi sekarang."
"Bangs*t lo gak luntur!" seru Sanz, tangannya kini menoyor kepala Gaishan yang masih cengengesan.
Gaishan mendudukkan dirinya di kursi kepemilikannya "Gue seneng kalau bisa lihat wajah juteknya Jessie, cantik." tuturnya pelan sambil menatap gadis jutek tersebut.
Aleshaqi berjalan menghampiri Gaishan dan Sanz setelah ia habis dari meja nya Bunga (Unge). Pandangan matanya menyusuri area koridor kelas lewat kaca jendela yang berada di depan nya itu. Ada yang kurang pikirnya.
Kafka dan Ali belum ada di kelas, biasanya Ali datang berbarengan dengan Sanz sedangkan Kafka sudah terlihat duduk dengan tangan yang sibuk mencoret-coret buku nya.
"Woy, Ali sama Kafka mana?" tanya Aleshaqi kepada Gaishan.
Gaishan menoleh, seperkian detik berikutnya ia mengedikan bahu sebanyak dua kali. "Nggak tau gue, mungkin nyebat kali di rooftop." Jawabnya santai.
Aleshaqi menganguk mengerti, sementara Sanz kini tengah menunjukkan sebuah postingan Prince. "Liat deh!"
"Ck, obsesi banget buat deketin Queen Bos. Lukisan makin lama makin antik kalau kamu makin lama makin cantik, naj*s." seru Gaishan kesal.
"Kalau kata-kata nya gue setuju, tapi kalau keluar nya dari mulut dia mah gue geli, Anj*ng." Aleshaqi.
"Itu pakai akun lo?" Gaishan.
"Bukan, fake." jawab Sanz.
"Kalau si Bos lihat, reaksinya gimana ya? B aja atau Memanas?"
__ADS_1
Belum sampai lima menit, sosok pemuda tampan dengan wajah datar nya dan di susul di belakang pemuda itu, ada Ali yang sudah berlari kecil berusaha mensejajarkan langkah Kafka dengan tas yang ia selempangkan hanya di tangan kiri. Kini mereka berdua memasuki kelas dengan santai, meskipun beberapa langkah di belakang nya sudah terlihat sosok lelaki paruhbaya berbadan gempal. Pak Firdaus, guru matematika .
Aleshaqi yang melihat kedatangan Kafka dan Ali pun menyambut mereka dengan rentangan tangan. Meminta sebuah pelukan yang biasa kedua pemuda itu lakukan bersama anggota inti Waldemarr kecuali Kafka, ia tidak akan mau dan sudi jika harus di peluk.
"Kemana saja engkau wahai pemuda tampan?" oceh Aleshaqi yang di hadiahi bogeman mentah oleh Kafka.
Gaishan tersenyum tipis, "Agak beda ya auranya, jantung masih aman kan? Belum pindah tempat?" serunya kencang dengan kekehan kecil dari Sanz.
Ali tertawa kencang mendengar penuturan dari Gaishan dan Aleshaqi.
"Gue rasa masih aman Gaish, jantung belum berpindah."
"Berarti B aja nih."
"Yah, kaga senam jantung dong!"
Sementara Kafka hanya menatap nyalang ke arah sahabat-sahabatnya lalu mendudukkan diri di kursi kepemilikannya di sebelah Alta.
"Aduh, lirikan matamu menarik hati." seru Gaishan kencang yang di hadiahi lemparan penggaris oleh Pak Firdaus, tentu nya.
"Aduh, sakit gobl*k!!" katanya kencang sambil mengusap-usap kepala yang terkena penggaris tadi. Lalu ia menolehkan wajahnya ke arah depan kelas dengan mata yang menajam. Sesaat setelah mengetahui siapa orang yang sudah berani melemparkan pengaris ke arah nya adalah Pak Firdaus yang memang sudah bersedekap dada. Ia tak berani untuk memarahi nya.
"Eh ada Pak Fir'aun, eh maaf salah. Maksudnya Pak Firdaus."
"Banyak omong kamu Gaishan, keluar dari kelas saya." suasana kelas mulai menegang kecuali Aleshaqi, Ali, dan Sanz yang kini menahan kekehannya untuk Gaishan.
Gaishan bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu untuk keluar. Tak disangka, bukan nya merasa kecewa karena di keluarkan dari kelas malah justru ia melangkahkan kaki nya dengan hati yang teramat senang. "Terimakasih Pak, saya jadi bisa kekantin untuk sarapan. Emang rejeki anak Soleh." setelah berseru, kini Gaishan langsung berlari cepat.
"Dasar manusia gak ada akhlak." Kekeh Alta, sambil geleng-geleng kepala.
"Berisik"
"Dih nyolot" sahut Alta pelan.
"Pak" panggil Sanz, Ali dan Aleshaqi mengacungkan tangannya.
"Apa kalian?"
"Kita kok kaga disuruh keluar sekalian, Pak?" tanya mereka serempak.
Pak Firdaus jadi geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang karena tingkah laku para anggota Waldemarr. Beruntung kali ini ketua geng tersebut tak ikut bertingkah, meskipun pemuda itu kini tengah menidurkan kepalanya di atas meja.
"YA SUDAH, KELUAR KALIAN!!" bentak Pak Firdaus. Wajahnya kini memerah menahan amarah atas ulah para anggota Waldemarr. Sanz dan Ali pun berjalan menuju pintu dengan wajah pura-pura pias, padahal dalam hati mereka sudah berteriak senang tidak mengikuti pelajaran matematika.
Sedangkan Kafka, jadi menegakkan kepala nya menatap wajah pak Firdaus yang kini juga menatap nyalang kearah nya.
"Apa kamu? Mau ikutan keluar juga?!" sentak pak Firdaus.
Kafka menggeleng lalu kembali menidurkan kepalanya ke meja dengan rasa tak perduli.
"Kafka, kalau kamu juga tidak niat sekolah. Mending keluar, tidak usah mengikuti jam pelajaran saya dan menyusul teman-teman mu. Saya hanya akan mengajarkan siswa yang niat bersekolah." Tuturnya tegas sambil membuka buku materi yang ingin ia ajarkan.
__ADS_1
"Kalau saya tidak niat sekolah, saya gak akan ada di dalam kelas Pak." Sanggah Kafka masih dalam posisi yang tertidur dengan tumpuan kedua tangannya yang ia lipat di atas meja, dan langsung membuat pak Firdaus terdiam melanjutkan aktivitas wajibnya mengajar. Pasalnya pak Firdaus sudah sangat hafal atas tingkah dan watak pemuda satu ini. Meskipun ia menidurkan dirinya, namun ketika bangun dan di beri pertanyaan tentang materi hari itu, ia akan segera menjawab dengan cepat dan tepat yang membuat hasilnya selalu benar. Maka dari itu semua guru masih mempertimbangkan nya, selain karena cucu dari pemilik sekolah, ia juga termasuk murid berprestasi yang sudah banyak menyumbang berbagai macam piala dari bidang akademik maupun non akademik.