
•Happy Reading•
Waktu bergulir dengan cepat, cahaya dari teriknya siang pun sudah berganti menjadi teduh. Suasana yang begitu indah dalam pandangan mata berhasil membuat siapa saja terlena akan suguhan yang tersaji dari hamparan luasnya alam terbuka.
Ya, Kafka memang telah menjamin semua fasilitas untuk anak-anak Waldemarr terutama soal makan mereka. Mereka semua tengah menikmati hidangan yang sudah di beli Boris dan Bumi, diiringi obrolan ringan dari beberapa anak-anak inti.
Alta tak henti-hentinya terkekeh mendengarkan celotehan Cherry, Jessie karena mereka memisahkan diri dari anak lainnya.
Hingga selesai menyantap makanan yang mereka makan telah habis tak tersisa, Kafka kini tengah membawa Alta ke Rooftop villa. Pemuda itu menidurkan kepalanya tepat di atas paha milik Alta. Menatap gadis nya dari arah bawah.
"Maaf" seru Kafka tiba-tiba, membuat Alta menjadi bingung.
"Buat apa?" Jawab gadis itu sambil memainkan rambut Kafka.
"Buat, our first failed date" (kencan pertama kita yang gagal)
Mendengar jawaban lelakinya, gadis itu kini menatap Kafka yang juga masih menatap nya. "Nothing fails, kaf. for me this is already a date." (Tidak ada yang gagal, kaf. Bagi gue ini sudah kencan.)
Kafka membangkitkan tubuhnya, ikut duduk disamping Alta. Mendekap gadisnya dari arah samping, mendaratkan kepalanya di bahu Alta. "Beneran?"
"Iya, lo gak perlu ngelakuin hal yang istimewa. Hal sederhana yang lo lakuin ke gue aja itu udah buat gue bahagia banget kaf."
"Kenapa lo suka sama gue?" tanya Kafka.
"Lah, lo juga kenapa jadi suka sama gue kaf?"
"Kebiasaan, kalau di tanya lo malah justru balik nanya." gerutu Kafka.
Alta tertawa, "Emang butuh alasan ya buat suka sama lo?"
Belum sempat Kafka menjawab ucapan Alta, terdengar samar-samar langkah orang yang sedang menaiki tangga. Menampakkan dua lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Gaishan dan Ali keduanya menggoda Kafka dan Alta yang tengah menikmati udara dingin dari alam terbuka di depan nya.
"Gue bilang juga apa, timing nya gak pas, Gaish." seru Ali kencang diiringi dengan kekehan Gaishan.
Gaishan dan Ali kini berjalan semakin mendekat menuju bangku yang Kafka dan Alta duduki. Sementara Kafka, berdecak kesal lantaran kedua makhluk yang berada di depan nya kini mengganggu aktivitasnya bersama Alta.
Ali mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku yang tak jauh dari bangku mereka. Di ikuti oleh Gaishan yang juga menarik kursi kecil di pojok untuk ia duduki. Ali meraih Yogurt Squeeze stick yang disediakan Kafka untuk Alta.
"Punya cewek gue, Bangs*t!" ujar Kafka.
Ali cengengesan, matanya menatap Alta. "Emang gak boleh, Al?" tanya Ali.
Alta tersenyum, "Boleh, makan aja Li"
"Boleh Bos," serunya dengan nada mengejek Kafka.
__ADS_1
"Lo berdua mau ngapain kesini?" tanya Kafka tanpa basa-basi.
Gaishan melemparkan layar pipih miliknya ke atas meja. "Gue gak tau, dari mana anak VOLZER dapat informasi kalau kita lagi ada di sini."
"Maksud lo?" tanya Kafka meraih handphone milik Gaishan.
Kafka terdiam, tangan nya terkepal kuat. "Bangs*t!!"
"Lo mau terima tawaran Prince?" tanya Ali dengan begitu hati-hati.
"Skip" jawab Kafka santai, ia mengambil rokok yang ada di saku nya, lalu mematikan api ke batang rokok tersebut.
"Kenapa?" tanya Gaishan.
"Gak ada alasan buat gue terima tantangan dia." mengepulkan asap ke udara dengan posisi ia yang tengah berdiri menghadap jajaran luas nya villa lain dengan latar belakang gunung.
"Ada kaf" seru pemuda yang baru saja melangkah mendekat.
"Leo" seru Alta cepat. "Kok lo bisa ada disini?"
"Panjang ceritanya Al, gue kesini karena Sanz bilang kalau semua inti Waldemarr lagi gak di Jakarta. Hanya ada beberapa anggota biasa dan bang Jo yang jagain markas. Dan ..." Leo menjeda ucapannya.
"Ngomongin apa yang emang lo pingin omongin." sargas Gaishan yang jelas-jelas tau kalau sahabat lamanya Kafka lagi dalam masalah.
"Kenapa sama Aluna?" Ali.
"Dia di bawa sama Bitzar ke villa milik Prince yang gak jauh dari sini. Dia minta buat gue bawa Kafka ke road race malam ini, karena dia tau pasti Kafka bakalan nolak karena gak ada alasan buat Kafka terima tawaran dia." jelas Leo panjang.
"Luna itu cewek lo, apa hubungannya sama gue?" ketus Kafka
"Dia emang cewek gue, tapi..." kembali lagi-lagi Leo menjeda ucapannya. Ia menatap sepupunya yang duduk terdiam, dia tidak ingin ucapan yang akan ia lontarkan dapat melukai sepupu nya.
"Tapi apa? Gue pernah suka sama dia, iya?" menatap Leo nyalang, membuat Leo terdiam. Kafka tetaplah Kafka yang dingin meskipun sekarang ia tak lagi bermusuhan dengan orang yang ia tatap sekarang.
"Udah, gak usah lo perpanjangan tentang itu, Le. Sekarang kembali kepermasalahan intinya aja. Kok bisa Luna sampai di bawa Bitzar, gimana ceritanya?" kini Gaishan menengahi, ia mengerti akan situasi canggung ini. Sedangkan Kafka kembali duduk di samping Alta sembari merengkuh pinggang gadis itu.
Leo menceritakan dari awal sampai ia berada disini.
Flashback on.
LARIOSHCAFFE
Tepat Pukul 19.30. setelah tak lama Luna mengirimkannya sebuah chat. Akhirnya Leo memarkir motor besarnya berjajar rapih di deretan barisan motor pengunjung Caffe tersebut. Ia mengeluarkan benda berlayar pipih dari saku celana jeans miliknya dan menekan sebuah kontak nomer kekasihnya, sekali panggilan itu tak di respon sang empu, hingga beberapa kali masih tetap tak mendapatkan respon. Akhirnya Leo pun memutuskan untuk segera masuk kedalam. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari keberadaan kekasihnya namun tak dapat ia temui. Saat ia mencoba melangkah beberapa langkah tak sengaja netranya menatap seseorang yang begitu ia kenali. "Lily" panggil Leo.
__ADS_1
"Eh, Leo. Di disuruh Luna buat jemput ya?"
Leo mengangguk. "Luna nya kemana?"
"Ketoilet bentar, lo tunggu aja dulu."
Leo menarik kursi sedikit, lalu mendudukkan dirinya. Ia memainkan game di ponsel miliknya sembari menunggu kekasihnya keluar dari toilet.
"Ketoilet nya dari tadi atau baru Ly?" tanya Leo, pasalnya ia sudah menunggu beberapa menit namun Aluna masih tidak keluar.
"Dari beberapa menit lalu sih, Le. Kenapa gak keluar-keluar ya? Apa mungkin ngantri." jawab Lily.
"Boleh coba lo susulin nggak Ly? Biar tas Luna gue yang jagain." Leo memberi saran.
Lily mengangguk setuju. "Bentar ya gue periksa dulu." namun di detik kemudian Lily kembali berjalan sendirian kearah Leo duduk.
"Leo, di dalam toilet gak ada siapa-siapa. Toilet nya kosong." bisik lily.
"Kok bisa, terus Lunanya kemana?"
"Gue nggak ta."
"Maaf mbak, ini kembalian dan struk wanita yang tadi bersama mbak nya." potong salah seorang waiters yang menghampiri Lily.
"Wanita ini kemana ya setelah membayar?"
"Tadi sih yang bayar bukan mbak nya, tapi pacar nya. Dia bilang kembaliannya kasih ke mbak yang ada di meja ini. Dan sekalian nyuruh saya kasih tau kalau mbak nya, disuruh pulang duluan aja."
"Ah begitu ya? Terimakasih mbak."
"Sama-sama" waiters itu langsung pergi.
"Luna tadi kesini sama cowok lain?" sentak Leo.
"Nggak kok, kita pergi dari tadi cuma berdua. Tapi tadi Luna sempat ngerasa kalau ada yang memperhatikan dia sewaktu kita di salah satu toko. Dan gak mungkin juga dia ninggalin tas, dompet, dan hpnya. Bahkan gak pamit buat ninggalin gue gitu aja."
"Kalau gitu, ada yang nggak beres" Leo langsung bergegas merapihkan barang-barang milik luna. "Lo gue anterin balik."
"Gue gak apa-apa balik sendirian aja. Sekarang lo cari dulu Luna, Le."
"Beneran?"
"Iya, kalau Luna udah ketemu lo kabarin gue. Nanti biar gue yang ngomong ke Bundanya, Luna."
"Ok, thanks ya Ly"
__ADS_1
Lily mengangguk, tak lama dari itu pun Leo pergi meninggalkan Lily dengan mengendarai motor nya.
Flashback off.