KAFKA

KAFKA
BERTAHAN ATAU PERGI


__ADS_3

•Happy Reading •


Dalam perjalan, Alta hanya terdiam, begitu juga dengan Leo. Rasanya akan percuma jika mereka berbicara di atas motor karena pasti tidak akan kedengaran.


"Kenapa?" Tanya Alta saat menyadari motor yang ia tumpangi berhenti di pinggir jalan dekat trotoar.


"Tuh," tunjuk Leo pada gerobak bakso yang tengah mangkal di pinggir trotoar jalan.


"Ngebakso?"


"Yes, udah lama kan lo nggak ngebakso?!"


Alta mengangguk. "Kok lo tau banget sih."


"Ketara dari muka lo yang kelaparan."


"Sialan lo."


Alta menurut begitu saja, ikut duduk di samping Leo setelah Pemuda itu memesan.


"Lo tadi mau ngomong apa?"


"Ah, itu. Apa ya gue lupa."


Leo berdecak tak suka. "Cepet ngomong, kelamaan lo. Keburu baksonya dateng."


Menghembuskan napasnya kasar, Alta menunduk memainkan jarinya membuat Leo mengerutkan kening menatap serius pada sepupunya itu.


"Kalau lo jadi gue? Lo bakalan bertahan atau pergi?"


"Nggak dua-duanya."


"Kenapa?" tanyanya mendongkak, menatap kearah Leo.


"Bertahan, kalau untuk terus disakiti buat apa? Pergi, kalau masih sayang juga akan percuma. Kalau lo ngerasa lelah, lo bisa berhenti sejenak untuk istirahat. Dan kalau lo udah ngerasa baikan, lo bisa lanjut." Ujar Leo dengan cepat.


"Walaupun dengan waktu yang cukup lama?"


"Seberapa lama?"

__ADS_1


Alta menggelengkan kepalanya "Gue nggak tau berapa lama."


Leo menarik sudut bibirnya. "Lo harus tentuin berapa lama lo istirahat dan kembali. Jangan berusaha lari dari kenyataan, semakin lo lari dari kenyataan semakin tertutup mata hati lo buat Nerima keadaan." Katanya sambil memulai ritual ngebaksonya.


"Maksudnya?"


Leo menghela napas pelan. "Gue nggak tau lo lagi ada problem apa saat ini. Dari yang gue lihat, lo ingin pergi tapi rasanya berat bukan? Lo ingin stay tapi lo ngerasa lo terluka. Kenapa gue bilang lo harus istirahat sejenak dan kembali setelah lo ngerasa baikan? Agar lo bisa pahami dimana letak problem lo. Kenapa harus pergi kalau masalah itu bisa lo perbaiki, kenapa harus stay karena perasaan lo nggak pernah salah." Katanya,


Tangan Leo mengusap bahu Alta pelan. Lalu ia menggenggam tangan Alta, membuka ruas-ruas jari Alta hingga membentuk angka lima dan menaruh jari tangan itu di bagian dada Leo. "Lo coba tanya hati lo, Karena jawaban terbaiknya itu ada di sini." Memupuk tangannya kedada berkali-kali.


Alta menundukkan kepala. Matanya terasa perih dan tidak kuat menahan genangan air yang sudah menggenang itu untuk tumpah.


Leo mengambilkan box tissue yang berada di meja sebelah. Kemudian ia memberikan satu lembar tissue itu kepada Alta agar Alta bisa menghapus air matanya. "Makan dulu, Al. Nanti bisa lo terusin nangisnya kalau perut lo udah kenyang." Kata Leo berusaha membuat Alta terhibur dan sepertinya cukup berhasil. Alta menabok lengan Pemuda tampan yang duduk di sebelahnya itu dengan cukup kencang, merenggut, sambil mengelap sisa-sisa air matanya.


Leo tertawa, "Nah, gitu baru Alta yang gue kenal. Kehilangan satu orang nggak bakal bisa bikin dunia lo runtuh. Justru dunia orang itu yang akan runtuh karena kehilangan cinta yang tulus dari lo."


"Termasuk dengan apa yang nantinya lo rasain?"


"Maksud lo?"


"Ah, maksud gue. Semisalnya, jika lo ada diposisi gue? Apa itu akan berlaku buat diri lo sendiri juga?"


...****************...


"Gue langsung balik." Serunya cepat, sebelum gadis yang baru saja turun itu mempersilahkannya untuk mampir.


Alta langsung menatap kearah pemuda yang berstatus sepupunya itu. "Kenapa?"


"Udah mau jam tujuh, gue takut macet doang di jalan Berbahagia V. Kapan-kapan gue mampir, salam aja buat Om Arta sama Tante Gaby." Lanjutnya, menarik gas untuk puter arah. Kemudian tersenyum kepada Kafka. "Gue duluan, Kaf."


"Kafka mengangguk kecil, "Terimakasih udah anter Alta pulang." Membuat pemuda itu menengok lantas tersenyum. "Udah jadi tanggung jawab gue." Serunya langsung menarik gas.


Langkah Alta langsung menuju ke arah gerbang pintu masuk rumahnya tanpa melihat atau bahkan menyapa pemuda tampan yang masih duduk di atas motor sportnya itu, seperti biasanya.


Kafka menarik pelan lengan Alta agar gadis itu mendekat kearahnya, disaat Alta melangkah melewati Kafka.


"Darimana? Bukannya tadi lo pamit sama Gaishan buat pulang bareng sama Bang Shaka?"


"Iya, tapi gak jadi."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ada rapat kesekretariatan mendadak katanya."


"Terus kenapa nggak nungguin gue?"


"Nggak ada, tadi lo gue cariin nggak ada dan kebetulan ada Leo."


"Kenapa nggak telepon?"


"Udah, tapi hp lo ada di dalam tas, Kaf."


Kafka mengangguk kecil, kemudian mengusap lembut tangan Alta pelan. "Maaf, nggak kebawa, tapi tadi gue ke rooftop buat nyebat sebentar. Kenapa nggak kepikiran buat nyari gue disana?"


Alta hanya mampu tersenyum tipis, "Ayo masuk." Ajaknya.


"Mau ikut gue keluar sebentar nggak?"


"Kemana?" Tanyanya sambil mengajak Kafka masuk kedalam ruang tamunya.


"Keliling taman kota." Jawab Kafka.


"Gue ganti baju, sebentar."


Kafka kemudian duduk dan membiarkan Alta untuk naik keatas kamarnya. Selang beberapa menit kemudian Alta kembali turun dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


"Be, panggilin Papa atau Mama boleh?"


"Mereka nggak lagi dirumah, Kaf."


"Kemana?"


"Ke Semarang, papa ada projects di sana untuk satu minggu kedepan." Jawab Alta sambil memakai sepatu.


"Berarti nanti sendirian?"


"Nggak, ada Bang Shaka. Palingan pulang jam 11 malam dia."


Alta menutup pintu dan mengunci rumahnya sebelum mereka berdua pergi meninggalkan rumah. Seperti biasa juga Kafka tidak akan absen untuk memakaikan helm untuk Gadis kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2