
Kafka mengandeng tangan Alta, mereka berjalan menelusuri jalan yang terlihat sepi di taman itu. Hanya ada beberapa orang dan pedagang yang terlihat berada di sana, karena memang di hari-hari lain selain weekend itu terlihat sepi.
Sejak berangkat tadi, sikap Alta tak seperti biasanya. Ia tak terlalu banyak bicara bahkan terlihat biasa saja dan terkesan menghindar. Biasanya saat mereka keluar bersama menuju ke suatu tempat, Alta akan mengoceh random bahkan tertawa ngakak jika mereka menemukan hal yang menurut mereka lucu. Mereka akan bernyanyi bersama dengan diawali tebak-tebakan kata yang mereka jumpai secara acak di jalan.
"Be, lo mau beli makan apa?" Tanya Kafka.
Alta hanya terdiam dari tadi tanpa menjawab pertanyaan Kafka. Kafka menoleh untuk menatap Alta "Be?" Tanya Kafka pelan.
"Hm?"
"Lo nggak dengerin gue ngomong dari tadi?"
"Terserah, Kaf. Gue ikut aja apa yang akan terjadi." Jawab Alta ngawur.
"Maksudnya?"
"Ah, maksudnya gue ikut apa aja yang mau lo beli."
Kafka tersenyum kecil lalu merangkul Alta dengan begitu erat. "Lo tunggu di sini gue mau beliin lo minum sama kebab disana."
Alta mengangguk kecil kemudian ia berjalan kearah gundukan rerumputan hijau yang berada disebalah sana, tepatnya bukit favorit yang biasa mereka duduki saat berada di sini. Dimana dari bukit tersebut mereka dapat melihat langit luas, bintang dan bulan secara bersamaan.
Kafka menatap punggung Alta yang menjauh pergi tanpa berpamitan atau mengatakan sesuatu terlebih dahulu. Ia menatap heran sekaligus aneh. biasanya gadis itu akan mengatakan sesuatu terlebih dahulu sebelum ia pergi menunggu. Namun kali ini ia langsung nyelonong tanpa mengatakan apapun, membuat Kafka berpikir apakah ia marah karena hal tadi?
"Be, kenapa gue ngerasa kalau lo akan pergi jauh tanpa berpamitan." Batin Kafka.
Kafka berjalan menghampiri stand kebab dan minuman, setelah selesai membeli kebab serta minuman tersebut Kafka kembali menghampiri Alta yang tengah duduk di sana.
"Be, you okey?" Tanya Kafka khawatir. Pasalnya Alta duduk dengan kepala yang menunduk sambil memeluk kedua dengkulnya.
Mendengar suara Kafka ia terjaga dengan duduk seperti biasa dan tersenyum tipis, "I'm okey." Seru Alta meyakinkan.
"Really?"
"Iya, kenapa sih? Kesannya lo nggak percaya banget."
"Kok lo jawabnya nyolot gitu sih? Perasaan gue nanya lo baik-baik, kenapa harus pakai urat?"
Alta memalingkan wajahnya, ia enggan menatap Kafka yang sedang menatapnya datar dan dingin.
"Kenapa liat kesana? Gue disini, Be!"
Alta menghela napasnya pelan lalu ia kembali memalingkan wajahnya ke arah Kafka namun pandangannya tetap fokus pada jalan yang berada di belakang Kafka.
"Bisa matanya fokus ke gue?"
Alta menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
Alta hanya diam, ia tidak ingin menjawab apapun dan memberikan alasan apapun terhadap Kafka. "Gue cuma nggak mau akhirnya kita berantem."
"Lebih baik lo ngomong, jangan kaya begini, Al? Yang ada justru kalau lo kaya gini malah akan ngebuat kita berantem."
"Al?" Alta memastikan kalau ucapan yang didengarnya itu tidak salah. Ia jadi teringat akan ucapan Aluna saat bersama Kafka tadi, membuat Alta jadi beranggapan bahwa benar jika Kafka masih begitu perhatian terhadap Aluna.
"Nih lo makan dulu, gue mau kesana sebentar."
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Alta.
"Nyebat, mungkin lo butuh waktu."
"Kan bisa disini, kenapa harus pergi? Biasanya juga lo nyebat gak harus ninggalin gue."
Kafka menghela napas kasar, "Lo lagi kenapa sih? Lo marah? Gue buat kesalahan?"
"Maaf, kalau selama ini gue jadi penghalang buat lo. Lo bisa kembali ke dunia lo seperti sebelumnya."
Kafka langsung tersentak dan seketika menengok kearah Alta dengan pandangan yang sulit di artikan. "Lebih baik gue anter lo pulang."
...****************...
Saat sejak bel masuk bahkan sampai bel istirahat berbunyi Alta dan Kafka saling diam, mereka berdua sedang melakukan perang membisu satu sama lain. Hanya Kafka yang sesekali melirik kearah Alta yang sedang mengerjakan soal ujian akhir semester.
Hening!!
Atmosfir di dalam kelas IPS¹ terasa mencekam, bukan karena mereka sedang ujian saja tetapi juga karena perang membisu yang terjadi di antara sepasang kekasih yang sama-sama keras kepala itu.
"Coba tanya Bos lo kenapa?"
"Gue nggak berani, mode garangnya lagi on, yang ada gue nanti yang kena damprat." Kata Sanz pada Jessie.
"Ah, nyali lo kecil." Sambar Mitha berbisik, karena posisi gadis itu berada tepat di belakang Sanz.
"Bodo amat lo mau ngatain gue apa, yang penting gue nggak ikut campur dan jadi bantalanya."
"Jangan ngegosip, dikiranya lo semua lagi kerja sama." ujar Chalief memperingatkan. "Kerjain, nanti pada nggak lulus lo gara-gara berisik."
Chalief terkekeh kecil. "Maaf" katanya sesaat seluruh siswa di kelas memandangi nya.
Mereka kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing sampai akhirnya terdengar bel pulang berbunyi.
Alta membereskan semua peralatan sekolahnya yang berserakan di atas meja ke dalam tas, lalu bangkit berdiri dan hendak melangkah keluar tetapi langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menarik jemarinya.
"Pulang bareng gue."
Alta mengangguk, ia tak menolak ajakan dari kekasihnya namun ia ingin pergi ke toilet terlebih dahulu. "Gue mau ke toilet sebentar, tunggu di parkiran aja."
"Iya, sini tasnya biar gue yang bawain." Alta memberikan tasnya pada Kafka.
"Jess, Cherr, gue ketoilet sebentar. Kalian berdua kalau mau turun duluan, turun aja, nggak usah nungguin gue." Kata Alta.
"Lo sendirian?" Tanya Jessie.
"Iya, Nggak papa."
"Okeh deh."
"siap."
kata Cherry dan Jessie berbarengan. Turun bersama anggota Waldemarr, sedangkan Alta langsung menuju toilet.
"Langsung markas apa ke kang Eman dulu nih, brother?" Tanya Ali.
"Langsung aja ke markas, gue anterin Alta pulang dulu." Kata Kafka ketika mereka berada di tangga lantai satu.
__ADS_1
Anak-anak Waldemarr mengangguk setuju.
...****************...
Alta hendak pergi keluar toilet setelah ia dari arah wastafel sehabis mencuci tangannya, tiba-tiba Aluna masuk kedalam toilet dan menghadang langkah Alta. Sejenak Alta pun memberhentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Alta tanpa basa-basi seperti terdengar ketus.
Aluna tersenyum remeh. "Aku cuma mau minta tolong kasih sesuatu ke Kafka bisa?"
Aluna mengeluarkan paper bag putih yang kemarin ia bawa untuk di berikan ke Kafka langsung sebagai ucapan terimakasih.
"Kenapa nggak lo kasih langsung aja ke orangnya. Tuh, dia lagi ada di parkiran."
"Boleh kalau aku nemuin dia?"
Alta menghela napasnya, lalu ia tertawa Sinis. "Bukannya di belakang gue atau pun Leo, lo sering nemuin Kafka diam-diam, kan? Kenapa sekarang lo malah nanya boleh atau nggak?"
Aluna tersentak kaget. "Aku udah nggak pernah nemuin Kafka lagi semenjak dia deket sama kamu."
"Bullshit!!" sentak Alta mulai emosi. Ia tidak menyangka jikalau gadis yang berada di depannya ini begitu pandai berbohong. Pasalnya Alta melihat sendiri dia masih menemui Kafka. Alta tidak pernah mempermasalahkan pada siapa Kafka harus bertemu dan berteman tetapi ia tidak menyukai cara gadis itu yang berusaha kembali merebut perhatian Kafka darinya. Bukan hanya hati Alta saja yang akan ia sakiti tetapi juga hati sepupunya.
"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu? Kamu nuduh aku berbohong?"
"Lo ngerasanya? Mungkin lo bisa sandiwara didepan Leo, Lun. Tapi didepan gue nggak! Lo bisa bohongin Leo tapi lo nggak bisa bohongin gue."
Aluna mengernyit bingung akan ucapan Alta. "Aku bohong apa sama kamu ataupun Leo. Aku nggak pernah bohongin siapapun." Katanya sendu.
Alta tertawa, terus bertepuk tangan. "Menarik dan hebat. Lo itu seharusnya udah main layar lebar, Lun. Lo pikir gue nggak tau kemarin lo nemuin Kafka di rooftop gedung lama dan lo bilang sama Leo kalau lo udah balik di jemput sama supir lo. Apa itu namanya kalau bukan berbohong?"
Aluna tertawa. "Oh, ternyata lo tau ya? Bagus deh, gue jadi nggak usah pura-pura nggak ngerti lagi sama apa yang lo ucapin barusan. Ya gue bohong soal itu sama Leo." Katanya dengan penuh penekanan.
"Kenapa lo bohong sama Leo, Lun?"
"Karena gue mau ketemu sama Kafka. Kalau gue jujur sama Leo, Leo nggak akan izinin gue buat ketemu sama Kafka."
"Leo bukan orang yang kaya gitu, lo bisa jujur dan bilang kalau lo mau ketemu Kafka. Kenapa harus bohong dan nemuin Kafka diam-diam dibelakang gue ataupun Leo. Apa niat lo?"
"Gue cuma mau kasih ini dan Kafka nolak."
"Bukan cuma itu, tapi lo ada maksud lain kan? Kenapa cuma hanya sekedar lo mau kasih itu lo harus bohongin gue dan Leo? Apa maksud tujuan lo yang sebenarnya, Lun?"
Dengan tiba-tiba Aluna mendorong tubuh Alta dengan sangat keras hingga Alta terhuyung ke belakang menabrak wastafel dan terjatuh.
"LO" teriak Alta kencang.
"Kenapa? Asal lo tau ya, gue nggak suka lo dapetin perhatian yang selama ini gue dapetin dari Kafka. Gue nggak suka rasa perduli yang Kafka kasih selama ini ke gue pindah begitu aja ke lo." katanya kesal sambil menunjuk ke arah Alta yang masih terduduk di lantai.
"Tapi lo punya Leo, lo punya perhatian Leo, lo dapetin rasa perduli dari Leo, bahkan kasih sayang dan cinta pun lo dapetin dari Leo. Kenapa lo masih cari itu semua dari cowok gue?"
"Semua itu berubah semenjak Leo di Singapura dan Kafka juga berubah semenjak dia deket sama lo. Gue nggak suka itu."
"Freak lo, dasar cewek gila."
Aluna tertawa. "Lo yang akan jadi gila setelah tau ini." Katanya sambil memperlihatkan sesuatu yang berada di handphone miliknya "Kafka itu cinta mati sama gue dan nggak akan pernah cinta sama orang lain, termasuk lo. Lo itu hanya pelampiasan dia sesaat." Setelah berbisik itu, Aluna berlalu pergi meninggalkan Alta.
Alta terdiam di tempatnya terjatuh tadi. Matanya mengerjap tak percaya lalu di detik berikutnya buliran bening menetes membasahi pipinya yang putih bersih sembari mencerna kejadian yang barusan terjadi. Mengela napas lalu bangkit berdiri, mengelap sisa-sisa air matanya dan membasuh wajahnya.
__ADS_1