KAFKA

KAFKA
SI PELAKU


__ADS_3

•Happy Reading•


"Turun woy, nyaman banget lo di pelukan gue." pinta Kafka karena melihat Alta tak kunjung turun selama satu menit dari motor pemuda itu.


Gadis itu merespon dengan berdehem, kemudian menjadi bersuara dengan intonasi nada yang cukup jutek. "Sabar kali, lo nggak lihat apa gue kesusahan buka helm nya."


"Turun dulu, Be. Apa mau nunggu bel masuk dulu biar kita berdua terlambat."


"Iya" saut Alta dengan gerutun kecil di belakangnya.


Kemudian Kafka melepaskan helm fullface hitam yang biasa ia gunakan dan menaruh nya di tanki depan, lalu melakukan ritual nya sebelum turun dari motor dengan melihat kaca spion merapihkan rambut nya. "Buang aja helm nya, ganti yang baru." seru Kafka masih terus merapikan rambutnya yang sedikit berantakan agar lebih terlihat rapih.


"Mulai deh tuh mulut lancar." tutur Alta menjawab sambil terus berusaha membuka tombol pengait helm yang macet akibat terlalu Alta paksa untuk terbuka. "Ishhh, susah banget sih."


Kafka yang baru saja turun dari motornya, mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alta mencoba membantu gadis itu. Ia menundukan sedikit kepalanya hingga wajah mereka kini sejajar.


Kafka sibuk mencoba membuka helm Alta dan tak butuh waktu lama akhirnya Kafka berhasil membuka pengait helm dengan sempurna. Mata yang tadinya terfokus pada tombol pengait kini beralih ke bibir lembab pink milik Alta yang terlihat menggoda karena jarak wajah keduanya hanya setengah jengkal, bahkan hembus napas keduanya dapat terasa di kedua wajah masing-masing.


Alta terdiam, tak bergerak sama sekali. Matanya kini tak bisa fokus pada satu titik.


Dengan gerakan cepat Kafka berhasil mencetak satu kecupan tepat di bibir pink gadis itu secara tiba-tiba. Membuat jantung Alta berpacu cepat takut-takut ada yang melihat kelakuan Kafka. Untung saja mereka berada di ruang terbuka sekolah yang bisa kapan saja mereka kepergok orang lain, sehingga Kafka takan berani berbuat lebih.


Tapi lihatlah, si pelaku justru terlihat tenang bahkan santai sambil senyum-senyum membuka helm dari kepala gadisnya. Kemudian meletakkan helm itu di jok belakang. Lalu menarik dan membawa gadisnya dengan wajah merona malu masuk kedalam lorong menuju kelas mereka.


"Gila lo Kaf, beneran bikin jantung gue nggak aman."


"That's the fun of it. (justru itulah keseruannya)"

__ADS_1


...****************...


"Aku lihat-lihat, kamu makin lengket banget sama Alta. Sesayang itukah?"


Kafka Terlonjat kaget mendengar suara yang tiba-tiba saja terdengar dari arah belakang. Pemuda yang kini tengah duduk santai memperhatikan teman-temannya yang sedang asik main basket, kini jadi bergeser memberikan ruang agar gadis itu dapat duduk di sebelah nya.


Ini pertama kali nya lagi mereka berdua duduk bareng dan berkomunikasi setelah terakhir mereka bertemu di villa milik Kafka, ya hanya bertemu sebentar sebelum Leo membawa pulang Luna ke Jakarta.


Kafka tersenyum tipis, "Lo udah pasti paham tanpa gue pertegas jawaban gue atas pertanyaan lo barusan."


Aluna tertawa gemas, "Aku jadi iri lihatnya."


Kafka langsung menoleh ke arah Aluna "Maksudnya?"


"Jujur, aku sempat ngerasa kehilangan banget perhatian kecil kamu. Seharusnya perhatian itu masih buat aku jikalau Alta bukan kekasih kamu sekarang." katanya..


Melihat ekspresi Aluna yang murung, Kafka sadar bahwa Aluna duduk di sebelah nya karena ada niat lain yang bukan hanya sekedar duduk menyapanya saja tetapi ada hal yang mungkin ingin ia bicarakan atau ia cerita kan. Kafka masih begitu hafal tabiat Aluna.


Aluna tersenyum getir "Aku nggak drama kaf, memang itu yang aku rasain."


Di sisi lain, Gaishan yang baru saja kembali ke area lapangan basket sedari kantin pun terkejut saat tubuhnya di tabrak oleh seorang gadis. Untung plastik hitam berisikan beberapa es yang di bawa Gaishan tidak jatuh. "Woy, jalan pakai mata." Ocehnya.


"Sorry Gaish, gue buru-buru." ungkap gadis itu, lalu kembali berjalan pergi meninggalkan Gaishan.


Gaishan sedikit dibuat bingung, lalu sedetik kemudian ia mencoba tak menghiraukan dan masuk ke arena courtside (pinggir lapangan.)


"Istirahat dulu brothers, nih gue bawain es dingin." ujar Gaishan kepada teman-temannya dengan intonasi nada yang kencang. Membuat mereka berlarian dan meninggalkan area lapangan Mengngerubunggi Gaishan.

__ADS_1


"BOS, ES BUAT LO NIH. " sanggah Chalief berteriak.


"BAWA KESINI LIEF" jawabnya. Membuat Chalief langsung berjalan menghampiri Kafka.


"Lah, gue kira tuh anak sendirian di tribun sejak di tinggal Queen Bos."


"Emangnya Queen Bos kesini?" tanya Ali.


"Emangnya nggak ya? Tadi gue ketemu dia yang baru keluar dari gedung basket. Gue pikir dia habis ketemu sama Kafka."


Sedikit informasi mengenai lapangan basket di sekolah Lentera Bangsa. Lapangan basket di sekolah ini terdapat dua lapangan yang berada di indoor dan outdoor, kalau kalian inget lapangan basket di bab melepaskan itu versi outdoor yang biasa di gunakan anak-anak basket maupun anak-anak Cheerleader latihan. Sedangkan untuk saat ini lapangan yang anak-anak dari Waldemarr pakai adalah lapangan yang berada di indoor.


"Jangan bilang Queen Bos kaga jadi masuk karena lihat?"


"Waduh, bakal ada perang dunia kalau emang beneran Queen Bos lihat si Bos yang lagi duduk berduaan sama mantan terindah nya" celetuk Aleshaqi sambil menyeruput es.


"Bukan mantan, si Bos belum pernah jadian sama Aluna." ujar Sanz tegas memperjelas hubungan Bos nya.


"Maksudnya mantan gebetan, ogeb"


"Stop, sebelum semuanya keruh. Ada baiknya lo langsung bilang ke si Bos dah."


"Bener noh."


"Wait, " Gaishan langsung chat ke si Kafka


__ADS_1


Kafka langsung berlari keluar meninggalkan Aluna sendirian, setelah chat nya tidak di balas oleh Alta.



__ADS_2