
•Happy Reading•
Gadis cantik bernetra langit, terlihat tengah menarik napasnya dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan diri nya sendiri, seusai membuat keributan yang menggemparkan Lentera Bangsa. Dia sedang berada di markas besar Waldemarr. Jangan tanyakan mengapa gadis itu berada disana?! Jawabannya sudah pasti kalian tau, itu semua karena Kafka yang menyeretnya masuk ke sini.
Gadis itu kini tengah duduk bersila di atas ranjang empuk berukuran Queen size sambil merapihkan rambutnya yang acak-acakan akibat baku hantam versi cewek itu. Ia mencepol rambutnya asal lalu memperhatikan sekeliling ruangan yang begitu di dominasi nuansa persis seperti kamar Kafka yang berarti Alta dapat menebak kalau ruangan ini memang di peruntukan khusus hanya untuk ketua Waldemarr, padahal ini yang kedua kalinya ia berada disini tapi tak sampai begitu memperhatikan keseluruhan dari ruangan itu.
Selang beberapa menit kemudian, pintu ruang peristirahatan tersebut pun terbuka lebar yang berarti pemilik ruangan ini tengah memasukinya. Membuat Alta langsung menoleh dan jadi tertegun ketika Kafka sudah berada tepat di sampingnya. Seketika pandangan Alta langsung tertunduk, takut -takut jika Kafka memarahi nya karena membuat wajah Aluna di penuhi luka. Namun perkiraan nya terpatahkan, Kafka tersenyum tipis sambil menyodorkan satu botol plastik kemasan air putih dingin ditangannya.
"Nih minum." Kata Kafka.
Alta mendongkak, memandangi botol yang di sodorkan Kafka dengan begitu lama. "Kaf?!"
"Ya"
"Maaf."
"Untuk?"
"Udah bikin Aluna babak belur."
"Kenapa minta maaf nya ke gue?"
Alta menghela napas, "Karena dia duluan Kaf yang nakalin gue, beneran deh gue berani sumpah. Kalau lo gak percaya, lo bisa tanya Jessie or Cherry siapa duluan yang mulai." Serunya merengek seolah-olah dia lupa kalau pemuda di depannya ini adalah mantanya.
Kafka mendesah, memperhatikan, lalu mengulum senyum. "Good job, kalau lo gak salah dan itu untuk membela diri kenapa harus ngerasa bersalah? Apa yang udah lo lakuin itu bagus. Lo bisa bertindak tegas dan berani nunjukin kalau lo itu bukan cewek yang mudah untuk direndahkan bukan?"
"Em." Alta mengangguk antusias karena dapat pembelaan dari Kafka.
"Tapi ini yang terakhir nakalnya. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa dan dapat masalah di sekolah."
"Kan lo bisa lindungin gue?"
"Tetep aja, jangan sembarang! Gue gak mau lihat orang yang gue sayang luka gini." Katanya sambil mengelus pipi Alta tipis dengan ibu jari lalu melangkah menuju sebuah nakas. Membuat Alta diam-diam jadi salah tingkah tingkat tinggi. Wajahnya sudah merah merona akibat ucapan spontan Kafka yang memberikan efek candu bahkan sampai dia sendiri lupa kalau dia mau berusaha move-on.
(Kata otor "WOY, SALAH, SALAH,"🤣🤣 terus kata sahabat readers. "........" Isi di kolom komentar 🤭 )
Pemuda itu kembali menghampiri Alta dengan membawa sebuah kotak putih P3K, kemudian mengoleskan krim ke beberapa luka kecil yang berada di kening, sudut bibir Alta dan lengan dengan cukup telaten serta berhati-hati.
"Maaf!" gumam Alta dengan mendongkak memandangi wajah Kafka yang tengah serius mengoleskan krim ke luka Alta.
Kafka menahan senyum, "Lo pasti kesel banget karena Aluna ngaku-ngaku gue miliknya, kan? Dan lo ngerasa kalau lo itu nggak suka dengerin pernyataan itu?"
__ADS_1
"Ew, pede gila lo! Gue tadi war itu bukan karena alasan itu ya?! Kenapa jadi pede boros gini sih! Gue war itu karena membela harga diri gue. Kalau kata Ali dan Aleshaqi "PERJUANGIN HARGA DIRI LO, PERTARUHKAN NYAWA LO DEMI HARGA DIRI, KARENA HARGA DIRI ITU HARGA MATI!" Serunya menggebu-gebu membuat Kafka tertawa ringan.
"Eh Al, lo jujur, lo masih sayang gue kan?" Tanya nya santai berniat menggoda. Namun di tanggapi Alta dengan diam saja, ia seperti tengah memikirkan sesuatu untuk mengelak.
Kafka bangkit berdiri, lalu kemudian mengacak-acak rambut Alta dengan gemes. "Diam aja berati, iya bukan?" Membuat Alta mengumpat, mencoba membantah pernyataan itu.
Gadis itu mulai bergerak dengan menjulurkan tangan menarik ujung kaos hitam yang di kenakan Kafka, pemuda yang tadi nya hendak keluar kini berbalik arah kembali menatap Alta. Alta berusaha mencoba untuk menguasai diri dengan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Kenapa lagi?" tanya Kafka pelan.
Alta berlagak sok tenang, terus mencoba menatap penuh kearah Kafka yang masih setia memandangi nya. Secara naluri, pemuda yang masih jelas sangat menyukai gadisnya itu juga ikut grogi bahkan berusaha menenangkan diri agar tak terlihat salah tingkah.
"Mau lo sebenernya apa? Kalau lo pikir gue akan luluh sama sikap lo barusan, lo salah besar Kaf."
"Lo tenang aja Al, gue nggak akan pernah maksain apa yang jadi kehendak gue. Gue mampu bertahan dengan rasa sayang gue bahkan jika tak lagi terbalaskan."
"Look at Al, i Will give you time to fly as far as you want. But i will always be watching you from down here so as not to lose sight and out of my reach." (Lihat gue Al, gue akan memberi lo waktu untuk terbang sejauh yang lo mau. Tapi gue akan selalu ngawasin lo dari bawah sini agar gak kehilangan pandangan dan di luar jangkauan gue.)
Sementara Alta kini menunduk memainkan jarinya, jadi tertegun dengan bahu melemas ketika mendengar kalimat itu keluar dari bibir pemuda yang beberapa hari ini membuat dirinya uring-uringan.
"Kenapa sih suka banget bikin gue ngerasa bimbang?"
"Kan lo sendiri yang bilang Al, lo udah gak mau sama gue lagi." kata pemuda itu dengan suara seraknya. "Barusan aja juga lo ngomong gitu, harusnya gue yang bilang, kenapa ucapan lo barusan kaya ngasih harapan lagi buat gue. Padahal gue tau harapan itu udah gak ada." Lanjutnya lirih, membuat Alta tanpa sadar menggigit bibirnya kuat-kuat menahan isakan.
"Dari awal siapa yang gak jujur? Dari awal siapa yang gak pernah mau jelasin dan bikin keadaan jadi serumit ini? Gue itu cuma mau lo hargain gue, gue cuma mau di anggap ada, dan gue cuma mau lo ngerti perasaan gue." Sindir Alta.
"Sorry kalau sampai saat ini sikap gue belum sejauh itu untuk bisa seperti apa yang lo mau. Tapi kalau gue boleh jujur, gue itu selalu anggap lo rumah terbaik buat gue balik yang artinya gue selalu anggap lo ada, Al."
"Jangan berbuat sesuka hati lo kaya gini." Katanya, yang di angguki oleh Kafka.
"Sini Kaf," Alta menyuruh Kafka untuk mendekati nya.
"Ngapain?" Jawabnya santai.
"Jangan mikir yang aneh lo, gue mau jewer telinga lo sama mau gue bogem muka lo tau nggak!"
Kafka tertawa kemudian menurut, ia berjongkok di hadapan Alta dengan menjewer kedua telinga nya sendiri. "Sorry my Queen, gue belum bisa jadi seperti yang lo harapkan."
Alta menangkup wajah Kafka, ia menggiring Kafka agar duduk di depannya. Memandangi wajah itu lama dengan jarak yang teramat sangat dekat, lalu di usapnya wajah itu, membuat mata Alta jadi berair, tak lama justru tangis Alta pecah begitu saja membuat Kafka jadi tersentak dan melebarkan matanya kaget. Sementara itu gadis yang duduk di depannya malah semakin terisak dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Hey, kenapa jadi nangis gini? Gue ada nyakitin lo lagi? Apa kata-kata gue yang tadi ada yang salah, yang bikin lo sakit hati?" Kafka langsung panik semakin membuat isakan Alta semakin kencang dan bergetar.
__ADS_1
"Harusnya gue nggak ajak lo kesini! Harusnya gue bener-bener ngejauhin lo, biar lo gak terluka lagi dan nangis kaya gini!" Lanjutnya membuat Alta menggeleng kepala pelan.
Alta langsung memeluk erat tubuh Kafka. Ia menumpahkan tangis nya itu dengan sejadi-jadinya di atas dada Pemuda yang berada di hadapannya, sampai gadis itu terisak kecil sedangkan Kafka hanya bisa bungkam, merasakan sesak yang terus menghimpit nya tanpa mau mendekap tubuh gadis itu.
"Jujur, selama dua minggu ini perasaan gue tersiksa banget. Di dalam hati gue, gue berusaha buat bisa lupa dan ikhlas. Tapi di hati gue yang paling dalam, gue gak rela kehilangan lo dan malah sialnya perasaan gue semakin yakin kalau sayang lo ke gue itu akan selalu ada." Ujar gadis itu sambil merenggangkan jaraknya.
"Gue minta maaf karena egois dan terlalu gengsi untuk akuin itu."
Kafka menarik napas berat, memandangi Alta. Meski awalnya ragu, ia akhirnya memantapkan diri menarik pelan tubuh Alta kembali, mengurungnya dengan kedua lengan, mendekap erat tubuh Alta yang terjatuh pasrah dengan kembali meneteskan buliran bening dalam dekapannya.
"Maaf." bisik Alta lirih, masih menangis terisak di pelukan kafka.
Merasa kalau hal ini lah yang di butuhkan Alta, dia merasa sudah terlalu lelah. Aroma wangi khas seorang Kafka memenuhi rongga hidung Alta, dia sangat menyukainya dan selamanya akan merindukan momen seperti ini, momen dimana ia dapat dengan nyaman berada di pelukan seseorang selain mamah Gaby dan Papa Arta.
"Untuk apa?"
"Untuk segala nya, gue terlalu egois karena terlalu menuntut ingin dimengerti. Padahal lo udah berusa ngertiin gue dengan jujur meskipun agak telat."
"Dan maaf juga karena gue udah ragu sama lo selama dua Minggu ini."
"Hm." Kafka menganggukkan kepalanya, disela-sela pelukan keduanya. Mereka sama-sama memejamkan mata rapat, menikmati aroma yang menguar dari tubuh masing-masing, seakan-akan mereka tidak ingin kembali terpisahkan. Hanya kafka lah tempat terbaik untuk Alta bersandar, begitupun sebaliknya hanya Alta lah tempat ternyaman untuk Kafka kembali pulang.
"Kedepannya kita sama-sama saling introspeksi diri, belajar menutupi kekurangan dengan kelebihan yang kita punya. Terutama saling percaya satu sama lain. Dengan begitu gak akan ada lagi orang ketiga yang akan berhasil buat kita berjarak."
"Em!" angguk Alta setuju. "Wait, kita?"
"Lo lagi ngajak gue balikan?" tanya Alta membuat Kafka terdiam kemudian menggeleng ragu.
"Jiakh pake malu-malu meong."
"**** lo." membuat Alta tertawa ngakak.
Di balik pintu ruang peristirahatan khusus Leader Waldemarr yang memang sedikit terbuka akibat tidak jadinya Kafka keluar ruangan tadi, membuat sosok Tiga pemuda iseng yang absurd nya kaga ketulungan itu berkesempatan mengintip.
Keputusan mereka untuk kepo seperti nya menemukan titik terang yang berkemungkinan Leader mereka akan mengadakan pesta besar menyambut perasaan nya yang kembali berbahagia.
"Sat, betapa indahnya kisah cinta orang lain." Sunggut Ali karena hanya Ali sendiri lah yang sampai saat ini masih jomblo.
Sampai detik berikutnya, ke tiga Pemuda itu di buat tersentak dan kesakitan ketika telinga mereka di jewer dari belakang oleh Gaishan dan Sanz yang baru saja tiba di markas setelah mengatasi situasi rumit yang di lakukan Gadis mereka.
"Ngapain lo pada di sini?" tanya Gaishan, yang tak perduli dengan rengekan sahabatnya yang mengeluh sakit.
__ADS_1
"Apaan sih Gaish, gue mantau mereka noh. Takut hilaf berduaan di kamar."
Sanz mendelik, "Nggak perlu, kalaupun mereka khilaf juga Kafka mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tujuh turunan tanpa kerja juga gak akan ke kurangan. Nah, Kalau lo pada, justru masih jauh harus berjuang dulu. Jadi kaga usah nontonin live, kepengen repot lo!" Membuat Gaishan mengumpat sambil menoyor kepala Sanz. "Jangan kejauhan imajinasi lo, jalan lo semua, ganggu kesenangan orang aja.