KAFKA

KAFKA
KELARIN TANPA BUAT DIA MATI


__ADS_3

•Happy Reading•


Sebuah hentakan langkah kaki berirama selaras memenuhi indra pendengaran tiap manusia yang kini menolehkan wajahnya ke arah pintu utama gedung belakang Markas, Kafka dengan wajah santai nya yang terlihat tenang tapi tidak menghilangkan sisi kuasanya terpancar jelas, mata elang yang menyorot tajam kearah pemuda yang kini tengah di ikat di sebuah kursi pun dapat membuat seseorang menunduk dan tak berani menolehkan pandangan nya. Ia ikut menarik sebuah kursi dan di letakan kursi tersebut tepat di depan pemuda yang tengah duduk terikat, kemudian didetik itu juga ia mendaratkan dirinya di kursi tersebut.


"Lepasin gue." pinta Rama keras. Mata elang kafka kini kembali menatap kearah mata Rama yang menatapnya takut-takut. "Siapa?" tanya Kafka pelan namun penuh penekanan.


Rama menundukkan kepala, ia kini tidak lagi berani menatap ke arah Kafka. Baginya Kafka lebih menakutkan dibandingkan dengan Prince jika sedang marah. Prince akan menggebu-gebu mengeluarkan emosinya tapi pemuda di depan nya ini malah justru menampilkan wajah datar tetapi mengaurakan kematian.


"Siapa?" tanya Kafka lagi. Lelaki itu tersenyum tipis, sangat begitu tipis bahkan hampir tidak terlihat jika Rama tidak melihatnya dari jarak yang cukup dekat.


Rama yang semula menunduk pun kini dengan ragu-ragu menegakkan wajahnya, "Abang gue." tuturnya pelan.


Mendengar jawaban dari lelaki yang kini di tatap tajam oleh beberapa anggota Waldemmar. Kafka terkekeh kecil dengan bibir meremehkan tentunya.


"Bangs*t, kalau ngomong jangan muter-muter. To the point, lo pikir kita itu dukun yang bisa tau siapa Abang lo tanpa lo jelasin." sambar Sanz, membuat Rama menjadi sangat gusar.


"Cepetan, kasih tau siapa Abang lo." ikut Aleshaqi berbicara dengan nada yang tak sabaran.


Rama menolehkan wajahnya ke arah Gaishan. Gaishan dengan cepat mengkodekan Rama dengan sebuah kedipan seolah ia memang harus mengatakan nya dengan jujur agar terhindar dari amukan sang Leader Waldemmar.

__ADS_1


"Kennedy, dia Abang tiri gue" ujar Rama. (Sekedar info, Kennedy adalah laki-laki yang Kafka cs pukuli di kantin. Di eps suka lihat lo panik, tapi sok berani)


Bugkh!!


Sanz dengan gerakan cepat meninju rahang Rama, yang membuat robek sudut bibirnya.


"Bangsa*t!" ujar Kafka dengan intonasi nada yang begitu teramat menahan amarah. Tak butuh waktu yang lama Kafka berdiri melangkah dengan cepat menuju kearah pintu.


Gaishan yang melihat Kafka tengah dirundung emosi, pun dengan cepat melangkah menyusul Kafka. "Lo urus, sisanya biar gue sama Kafka" perintah Gaishan berbicara kencang sambil berlari kecil.


Sanz, Ali, dan Aleshaqi yang paham dengan ucapan Gaishan pun mangut- mangut mengerti.


...****************...


Beruntung sekarang sudah Pukul 02.00 malam, jadi jalan tak begitu ramai. Setelah hampir setengah jam perjalanan dari markas kini motor keduanya tepat berada di jalan Kashuari II. Memarkirkan motornya secara sembarangan, kaki keduanya melangkah cepat, Gaishan mengetuk pintu membuat penghuni rumah di buat terkejut oleh kedatangan dua malaikat maut berparas tampan bak dewa yunani.


Pemuda yang barusan membuka pintu pun langsung berlari cepat kearah belakang sebuah rumah yang ia tinggali sendirian. Membuat Gaishan serta Kafka berlari mengejarnya, dengan gerakan cepat Gaishan dapat menarik kaos belakang yang lelaki itu gunakan. Robek? Ya sudah pasti, kekuatan anggota inti dari Waldemmar tak dapat di ragukan lagi. Mereka selama ini belajar bela diri, tentu kekuatan mereka begitu besar bukan? Namun kini keberuntungan masih berpihak kepadanya, sehingga ia bisa lolos melarikan diri, taklama.


Bugkh!!

__ADS_1


Berhasil, Kafka berhasil melumpuhkan Kennedy. Satu tendangan yang Kafka lontarkan berhasil membuat Kennedy terjatuh ke tanah.


Kafka dengan cepat menarik kaos Kennedy dengan kasar agar Kennedy dapat bangkit. Wajahnya memerah akibat amarah yang menyelimuti, buku-buku jari tangan nya memutih akibat terlalu kencang, kepalan tangan yang ia kepalkan.


"BRENGS*K LO PENGECUT." teriak Kafka sambil menghadiahkan pukulan-pukulan kencang tepat mengenai mulut juga rahang pria itu, sehingga ia memuntahkan darah segar akibat robeknya bibir tersebut.


"Stop Kaf, kita bawa dia ke markas."


Kafka tak menghiraukan ucapan Gaishan, ia terus saja memberikan bogeman telak membuat Kennedy lagi dan lagi jatuh ke tanah. Kennedy begitu sangat sulit berdiri dan mengeluarkan suara, ia hanya dapat mengangkat satu tangan nya keatas dengan begitu sangat lemah. Memberikan kode bahwa ia menyerah.


Kafka memang bukan lawannya, tak seharusnya ia membuat kembali masalah dengan pemuda itu. Cukup ia menerima dengan lapang dada bukan? Malah justru sekarang ia seakan menggali kuburan nya sendiri.


Bak kesetanan, Kafka mengambil sebuah kayu besar atau yang biasa kita ketahui dengan sebutan "balok" berniat menghantam Kepala Kennedy, namun berhasil di tahan oleh Gaishan. "Udah Kafka, lo bisa masuk penjara nanti."


"Gue nggak perduli." sentaknya menatap nyalang Gaishan.


"Kalau lo pukul pakai ini dia bakalan mati, kaf. Gue nggak akan ngebiarin lo. Dan lo pikir Alta akan setuju dengan tindakan lo?" tutur Gaishan memperingati sambil membuang balok itu ke sembarangan arah.


"BRENGS*K," Kafka membalikan diri nya lalu Kembali menghantam wajah Kennedy dengan satu pukulan tangannya. Kennedy meringis hampir kehilangan kesadaran. Rasa sakit begitu menyelimuti membuat pria itu memejamkan mata. Ia hampir saja kehilangan nyawa jika Kafka benar-benar memukulinya dengan balok besar. Kafka yang melihat Kennedy sudah terdiam lemah tak berdaya pun akhirnya berbalik arah meninggalkan Kennedy juga Gaishan. "Lo kelarin."

__ADS_1


Gaishan terdiam, matanya melayangkan protes kepada Kafka yang menyuruhnya agar menghabisi Kennedy. "Gimana bisa, kaf?"


"Kelarin tanpa buat dia mati, asal jangan lagi nongolin batang hidungnya di depan gue." pintanya.


__ADS_2