
•Happy Reading•
Gelap dan tenang. Itu yang Kafka dapatkan ketika sudah berada di depan rumah kekasihnya.
Kafka membuka helm full face hitam yang biasa ia gunakan dan mengguyar rambutnya kebelakang serta merapihkannya. Lalu mengamati rumah itu dalam diam sebelum akhirnya ia memutuskan untuk turun dari motor dan menghampiri gerbang yang menjulang tinggi itu.
Berharap masih ada kehidupan di dalam sana namun sepertinya orang-orang yang berada di dalam rumah itu sudah beristirahat tidur. Niatnya Kafka hendak memencet bel rumah Alta, tapi ia urungkan ketika melihat jam yang melingkar di lengan menunjukkan pukul 22.20 WIB. Sudah sangat malam untuk bertamu ke rumah orang di jam segitu bukan? Sangat tak baik jika Kafka memaksa untuk bertamu.
"Be, maaf ya gue datengnya telat." Gumam Kafka sambil mengarahkan pandangannya ke balkon kamar Alta. yang terlihat masih terang.
...****************...
Brukk !!
Alta melemparkan tas ke atas meja begitu saja. Gadis itu kemudian mendudukkan dirinya di kursi kepemilikannya. Serta menyembunyikan wajahnya di kedua tangan yang ia tumpukan di atas meja.
Mitha yang sedang bertugas menyapu di kelas, di buat kaget dengan kedatangan Alta yang sepertinya tak baik-baik saja. Mitha menghampiri Alta lalu mengusap pundak Alta lembut. "Alta, lo kenapa?"
Alta mengangkat kepalanya untuk bisa melihat Mitha. "Gue nggak papa, Mit. Cuma sedikit pusing."
"Lo belum sarapan?"
Alta menggelengkan kepalanya.
"Mau gue beliin sarapan di kantin?"
"Gak usah, nanti aja pas turun istirahat. Lo lanjutin nyapu aja lagi. Gue mau tidur sebentar sampai bel masuk."
"Beneran?"
"Iya,"
"Yaudah gue nyapu lagi."
Mitha kembali melakukan aktivitas sebelumnya, sedangkan Alta benar-benar tertidur. Gadis itu terlihat lelah sekali, kondisinya sangat buruk, Matanya yang sembab terlihat jelas ditambah dengan wajah yang terlihat pucat. Bukan seperti Alta yang biasanya.
Selang tak berapa lama dari Alta tertidur, Cherry datang. Gadis yang berparas sedikit Oriental itu memang selalu datang agak pagi tak seperti teman-temannya yang lain.
"Morning." Sapa Cherry pada Mitha dan Echa.
"Morning Cherry." Balas keduanya. Di dalam kelas memang baru ada Mitha, Echa dan Alta. Berhubung Echa dan Mitha hari ini bertugas piket maka ia datang lebih awal. Sedangkan Alta? Entahlah kenapa gadis itu hari ini datang pagi-pagi sekali tak biasa-biasanya.
"Itu Alta?"
Echa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Cherry.
"Tumben dia udah dateng? Terus itu dia kenapa?"
"Bilangnya sih tadi mau tidur sampai bel masuk, karena pusing."
"Dia sakit?"
"Nggak tau, cuma bilang sedikit pusing aja tadi."
Cherry melangkah mendekati meja Alta. Lalu ia menempelkan tangannya pada lengan Alta yang sedang tertidur. Cherry semakin terkejut saat merasakan suhu tubuh Alta yang panas sekali. "Alta?"
"Em," Leguhnya pelan, kemudian Alta mengangkat kepalanya yang terasa berat sekali.
"Lo oke, Al?" seruan Cherry, terdengar khawatir.
"Kenapa Cherr?" Tanya Alta, saat melihat raut wajah khawatir Cherry.
"Lo sakit ya, Al?"
"Enggak."
"Tapi kenapa badan lo panas?" Katanya panik. "Tuh kan panas, Al"
Alta mendesah kecil, lalu menurunkan tangan Cherry yang menempel di dahinya dengan lembut. "Gue gak papa, Cherr."
"Gimana gak apa-apa, wajah lo itu pucet dan badan lo panas, Alta. Yang berarti lo itu lagi demam." Omel Cherry dan terus memastikan kalau Alta benar-benar sedang sakit.
Alta tak menjawab, ia kembali merebahkan kepalanya di atas tangan. Rasa di kepalanya semakin berdenyut sakit.
"Kita ke UKS aja ya, gue bantu." Bujuk Cherry.
__ADS_1
Mendengar itu Alta mengeleng. "Gue di kelas aja."
"Bener kata Cherry, Al. Lebih baik lo ke UKS aja. Lo bisa istirahat disana. Badan lo itu panas banget. Kalau lo kenapa-kenapa bagaimana?" Kini giliran Mitha yang berusaha membujuk Alta.
"Em, kata mereka berdua itu bener, Al. dari pada nanti malah jadi lebih parah," timpal Echa.
"Atau gue telepon Kafka aja? Biar di dateng lebih cepet ke sekolah dan bawa lo kerumah sakit?"
"Jangan Cherr, ya udah gue ke UKS aja."
"Nah gitu dong dari tadi. Ayo Mitha bantu Alta ke UKS biar Echa dan Rega yang izinin kita nanti."
...****************...
Brakk!!
Terdengar suara pintu UKS yang di buka dengan sangat kencang saat Kafka memasuki ruangan itu dengan raut wajah khawatir. Mitha dan Cherry hanya bisa mendelik saat Sang Leader datang dengan penuh drama.
"Alta baik-baik aja kok, Kaf. Gak usah deh lo drama pakai acara buka pintu UKS kenceng banget begitu. Yang ada dia malah bangun." Omel Cherry pada Pemuda yang sedang menatap kekasihnya itu.
"Dia beneran udah nggak papa?"
"Iya, demamnya udah turun setelah diberi obat. Tadi kata dokter yang jaga sih dia kecapean dan kurang tidur aja. Tapi sekarang udah nggak apa-apa." Jelas Mitha.
"Syukur deh kalau gitu." Ucap Kafka, sambil memilih duduk di sisi ranjang Alta yang sedang terbaring.
"Kan, udah ada lo nih yang jagain Alta. Gue sama Mitha mau balik ke kelas ya?"
Kafka menganggukan kepalanya sebagai tanda ia mengizinkan Cherry dan Mitha untuk naik ke kelas mereka. Sedangkan Mitha dan Cherry pun langsung keluar meninggalkan Kafka di ruang UKS setelah mendapatkan anggukan mengiyakan dari sang Leader.
Terlihat wajah tenang dari gadisnya yang sedang tertidur pulas, mungkin karena efek dari obat yang di berikan. Tangan Kafka terulur mengusap lembut kepala Alta lalu beralih mengusap lembut pipi gadis itu penuh perhatian.
"Sorry." Suara Kafka terdengar begitu pelan, entah karena alasan apa ia mengatakan sorry, tapi sepertinya ia menyadari kesalahannya. Pemuda itu merunduk, seperti ada sebuah penyesalan yang bergemuruh di hatinya.
Bahu Alta seketika terasa ringan saat mendengar suara pelan Kafka yang sepertinya memang dia menyadari kesalahannya. Namun gadis itu enggan membuka mata karena ia ingin mengetahui seberapa besar kekhawatiran dan rasa sayang pemuda itu terhadap dirinya.
"Be, sorry banget. Mungkin karena gue lo jadi sakit begini. Lo pasti semalem nggak tidurkan? Karena lo pasti mikirin gue dengan pemikiran yang macem-macem."
"Iya, emang." Seru Alta, tapi hanya bisa ia lakukan di dalam hatinya.
"Gue mana tau lo nggak macem-macem di luaran sana. Emangnya gue lihat, kan nggak. Terus lo pikir gue bisa denger kata hati lo dan pikiran lo gitu? Wajar ajalah gue overthinking." Masih Alta ucapkan di dalam hatinya.
"Dan untuk semalam, gue nggak ingkar janji, Be. Gue dateng kerumah lo tapi agak telat aja." Ucap pemuda itu seolah-olah sedang berbicara dengan Alta padahal ia hanya bermonolog sendiri.
"Lo seriusan dateng? Kalau iya, lah gue sia-sia dong nangisin lo. Tapi nggak sih, gue emang ngerasa kecewa dan sakit hati karena lo mungkin masih ada rasa sama Aluna." Masih berpura-pura tertidur.
"Gue gak suka lihat lo sakit, gue gak suka lihat lo marah. Cuma lo yang gue punya, cuma lo dunia gue. Terserah orang mau bilang gue lebay, tapi ini gue. Ini dunia gue, dan ini rasa gue. Gue mau lo sehat lagi Be, gue mau lihat lo tersenyum, gue mau denger suara bawelnya lo. Alta gue sayang sama lo." Monolog Kafka pelan.
Alta tersenyum tipis, ia sudah tak sanggup lagi berpura-pura tertidur. Rasanya Alta pingin peluk langsung aja Kafkanya. "Beneran lo sayang gue, Kaf?"
Pemuda itu sedikit tersentak kaget mendengar pertanyaan yang di ajukan kekasihnya itu. Ia melirik sebentar ke arah Alta yang kini tengah menatapnya. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menjadi salah tingkah karena tiba-tiba saja jantungnya terasa berdebar-debar tidak karuan. Ia juga mengumpat malu setengah mati. Bisa jatuh image cool yang selama ini di bangunnya setengah mati kalau Alta mendengar semua ucapannya.
"Ah, kenapa?" Tanyanya berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Alta barusan.
"Gue tau lo denger ya? Gak usah lo pura-pura gak denger gitu." Omel gadis itu, Alta merubah posisinya jadi duduk.
Diam-diam Kafka menghela napas lega saat tau kalau kekasihnya itu sudah baik-baik saja sekarang. Buktinya saja Alta sudah bisa mengomel.
"Lo denger, sejak kapan?" Tanya balik Kafka. Kebiasaan buruknya Kafka adalah bertanya balik dan bukan menjawab pertanyaan yang di ajukan untuk dirinya.
"Sejak lo bilang, Alta gue sayang sama lo." Bohong Alta, ia tidak ingin membuat kekasihnya malu, jadi terpaksa Alta harus berbohong bukan?
Kafka dapat bernapas dengan lega setelah mendengar pernyataan Alta barusan. Hening beberapa saat, Pemuda tampan itu mendesah samar. "Alta!"
Gadis itu menatap kearah Kafka, hatinya berdesir takala mendengar suara serak dari pemuda yang menjadi kekasihnya itu "Ya?" Tanyanya.
"Mau ngomong."
"Ngomong apa Kafka?"
Kafka tanpa sadar malah memandangi wajah cantik gadis yang di sukanya itu dari jarak yang begitu dekat, pemuda itu menngerjap kecil. "Gue tau, lo marah karena menurut lo gue ingkar janji bukan?"
"Em, terus?"
"Alta, gue nggak ingkar janji sama lo. Gue tau lo semalam belum tidur. Karena lampu di kamar lo masih menyalah, bukan? Gue dateng Al kerumah lo cuma agak telat dan udah malam. Karena.."
__ADS_1
"Karena lo di rumah sakit?" Sela Alta telak.
Kafka tidak merasa kaget, banyak dari sahabat-sahabatnya yang juga teman Alta, yang mengetahui prihal Kafka membantu dan membawa Aluna ke rumah sakit. Jadi tak heran dari mana Alta bisa mengetahui prihal itu.
"Iya, gue dirumah sakit nungguin Aluna. Ayah dan ibunya belum bisa dateng secepatnya karena mereka sedang berada di suatu tempat yang lumayan cukup jauh untuk bisa segera sampai di rumah sakit. Jadi terpaksa gue nungguin Aluna dulu. Soal gue yang nggak kasih kabar ke lo itu karena ponsel gue lowbat parah. Gue udah berusaha buat nyari casan tapi nggak ada yang punya."
"Lo bisa ngabarin gue lewat Gaishan."
"Iya, tapi Gaishan langsung pulang nganterin Lily dan nggak kembali lagi ke rumah sakit, Be."
"Terus?"
"Gue nggak mau lo salah paham lagi, Be. Gue nggak mau lo berpikiran kalau rasa gue terhadap Aluna masih ada."
"Beneran?" tanya Alta dengan raut wajah yang sulit di artikan.
" Iya."
"Nggak bohong?" tanyanya agak sarkas.
Kafka berdecak tak suka. "Ngapain bohong."
"Kali aja."
"Be, gue cuma mau lo tau. Kalau lo itu dunianya gue sekarang dan rasa untuk Aluna itu sudah tergantikan oleh seseorang yang jauh-jauh lebih gue sayangin."
"Masa?"
Kafka berdecak kesal, "Emangnya lo tau siapa yang gue sayangin sekarang?" Balik menjahili Alta.
"Tau."
"Siapa?"
"Gue kan?"
Kafka tertawa, "Kenapa lo jadi pede boros. Emangnya lo yakin kalau orang itu lo?
Alta melengos tak suka, "Ya udah kalau orang itu bukan gue, nggak papa juga."
"Yakin nggak papa? Lo nggak akan nangisin gue semalaman, kan? "
"Iya, yakin."
"Yaudah kalau lo yakin, gue jadi lega dengernya. Gue mau nemuin dia aja sekarang buat bilang kalau gue bener-bener sayang sama dia." Kafka mendorong kursi hendak bangun. Tapi tak disangka justru Alta malah menangis.
"Kenapa nangis?" Tanya kafka jadi khawatir. "Ada yang sakit lagi?"
Alta malah mengeleng.
"Terus kenapa?"
"Lo beneran mau bilang ke dia kalau lo sayang sama dia? Terus gue? Kenapa lo jadiin gue pacar lo kaf, kalau pada akhirnya bukan gue yang lo sayang. Hiks.. Hiks.."
Kafka Jadi tertawa melihat tingkah random kekasihnya itu. Mengapa gadis itu menjadi lemot. Kafka langsung menarik tangan Alta membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Tidak menolak justru Alta kembali menangis di dalam pelukan pemuda yang tengah menahan senyumnya. "Orang yang mau gue temuin itu ya lo, Alta. Lo yang gue sayang. Kenapa sakit, otak lo jadi lemot sih."
Alta langsung menjauhkan dirinya, memberi jarak dari kafka. Dan menabok pemuda itu. "Enak aja lo bilang gue lemot. Nilai ulangan mtk lo masih di bawah gue ya." kata gadis itu menggebu-gebu. Ia tak terima di katain lemot.
"Iya, iya, ampun. Udah enakan badannya?"
"Em."
"Mau ke kelas sekarang?" tanya Kafka, membuat Alta menggelengkan kepala.
"Terus mau kemana?"
"Mau ke kantin aja, gue laper."
Kafka tersenyum, "Ya udah, ayok."
Alta langsung turun dari brangkar UKS lalu tersenyum menatap kafka. "Gue sayang sama lo, kaf."
Kafka mendongkak, Pemuda itu tersenyum kemudian, "Udah tau." Katanya sambil mencium pucuk kepala Alta penuh rasa sayang.
"Akh, mood booster banget sih lo kaf" Katanya tanpa filter, sehingga lagi-lagi membuat Kafka tersenyum.
__ADS_1