KAFKA

KAFKA
LEBIH SUKA ALTALUNE


__ADS_3

•Happy Reading •


Sepertinya Alta memang sudah baikan, terbukti dari keceriaan gadis itu yang terus saja mengoceh. Gadis cantik berhoodie hitam itu tengah berada di boncengan belakang cowok yang mengenakan kaos putih dan juga celana merah kotak-kotak seragam khas Lentera Bangsa. Siapalagi kalau bukan, Kafka!


"Mau langsung pulang atau mau jalan dulu?" Tanya Kafka sesaat motornya berhenti ketika lampu traffic berubah menjadi warna merah.


Alta tersenyum girang, "Mau jalan dulu boleh?"


"Em, kemana?" Tanya kafka lagi, sambil mengusap lembut jari Alta yang saat ini tengah memeluknya erat.


"Taman kota!"


Kafka tersenyum, kemudian mengangguk mengerti dengan mata yang tak berhenti menatap Alta dari pantulan kaca spion. Ia kembali menghadap ke depan jalan dan dengan segera menarik gas melanjutkan perjalanan untuk ke taman kota.


Warna merah berpadu orange di ujung sebelah barat langit di atas Ibu kota, pun sudah mulai berganti warna. Semburat biru kehitaman yang menandakan pergantian waktu sudah terasa sejak satu jam yang lalu. Kini saatnya rembulan malam bertugas memancarkan sinar terangnya yang dapat mereka nikmati pada taman kota.


Hari ini taman kota terlihat lumayan sepi, mengingat bahwa hari ini bukanlah malam minggu. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi sebaya mereka dan lebih di atas mereka yang sedang duduk bersila di rerumputan hijau menikmati kebersamaan mereka. Sambil tertawa.


Alta, gadis itu menarik Kafka ke arah stand makanan terlebih dahulu sebelum mereka ikutan duduk di hamparan rumput hijau yang sengaja dibuat seperti bukit kecil. Menceritakan beberapa hal yang mungkin menarik, sesekali Alta menikmati makanan yang ia beli sambil menyuapi Kafka.


"Emangnya udah nggak pusing lagi?" Tanya Kafka disaat posisi mereka sudah duduk bersila di atas rerumputan taman.


Alta menggeleng sebagai respon terhadap pertanyaan Kafka.


"Coba sini gue priksa dulu." Menautkan jari tangannya ke atas kening Alta.


"Gue udah nggak papa kok, Kaf." Katanya mencoba memberikan pengertian kalau dirinya memang sudah baik-baik saja.

__ADS_1


Senyum Kafka perlahan merekah, "Oke," ia mengambil ponselnya disaku lalu kemudian menslide aplikasi kameranya dan di arahkan ke atas langit. Membidik langit pekat yang diterangi Rembulan.


"Lo suka bulan?" Tanya Alta tiba-tiba. Membuat Kafka menengok ke arahnya.


"Suka." Jawab Kafka datar.


"Lebih suka Bulan atau Bintang?"


"Lebih suka Altalune."


"Kenapa?"


"Karena di atas Bulan."


Alta tertawa, membuat beberapa pasang remaja menoleh ke arahnya. "Berarti gue lebih diatas Luna?"


"Darimana lo tau kalau gue itu ngejebak lo?"


"Aluna yang berarti Bulan dan Altalune yang dalam bahasa Latin itu artinya diatas Bulan." Bisik Kafka pelan. Kepalanya kini tersandar di bahu Alta.


Alta mengusap wajah Kafka lembut. "Yah jadi gak seru deh!" Perkataan yang Alta lontarkan berhasil membuat Kafka kini tersenyum dan merenggangkan kepalanya tegak. Kembali membuka aplikasi kamera pada ponselnya kemudian Kafka mengarahkan kamera itu pada dirinya dan juga Alta. Mengambil beberapa jepretan dengan bermacam-macam gaya.


"Hapus yang itu, foto ulang kaf." Protes Alta setelah melihat ada satu hasil jepretan yang menurutnya jelek.


Kafka mengangguk dan kembali mengarahkan kamera ponselnya. "Siap?"


"Iya siap."

__ADS_1


"Oke, satu... Dua... Ti... Muach.." Tanpa basa-basi Kafka langsung mencium gemas pipi Alta dan berhasil mendapatkan potret dirinya yang tengah mencium pipi kanan Alta. Sedangkan Alta hanya diam bengong.


Kafka tertawa puas tanpa dosa, lalu spontan ia bangun, berlari sebelum Alta sadar dan menggebukinya sampai babak belur nanti.


Sampai saatnya Alta mengerjap sadar dan kemudian ikut berlari mengejar kafka. Alhasil, mereka berdua kejar-kejaran sambil tertawa ngakak satu sama lainnya, membuat beberapa orang melihat kearah mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kafka, anjir lo ya licik banget tau nggak?" Cerocos Alta masih terus saja berusaha mengejar langkah pemuda jangkung itu.


"Ayo kejar gue kalau bisa?"


"Gue capek, Kaf!"


"Segitu doang!" Ledek kafka membuat Alta mencibir kesal. Lalu dengan licik Alta membalas.


"Aduh kepala gue." Katanya berpura-pura sakit. Berhasil membuat kafka menjadi khawatir dan menghampiri Alta yang sudah berjongkok.


"Lo kenapa? Pusing lagi kepalanya. Tadi kenapa bilang nggak papa?!" Omel kafka.


"Tiba-tiba sakit lagi kepalanya."


"Yaudah kita pulang, biar lo bisa langsung istirahat."


Tepat saat Kafka hendak membantu Alta memapahkan tubuh semampai gadis itu, dengan sengaja Alta langsung mendorong tubuh Kafka dan mengelitik perutnya. "Tapi bohong!"


Hal itu membuat Kafka menjadi tertawa geli. Alta semakin mengelitik dengan cepat dan justru membuat Kafka semakin memberontak sambil terkikik. "Be please, stop. I can't stand this tickling. (Be, tolong berhenti. Gue nggak tahan dengan gelitikin ini.)"


Kafka menarik paksa kedua tangan Alta, membuat gadis itu terjatuh menimpa tubuh Kafka. Aretha mendelik, berikutnya terkejut setengah mati ketika Kafka justru kembali berhasil mengecup. Kali ini bukan pipi melainkan bibir ranum gadis itu.

__ADS_1


Baginya semua terasa berhenti di detik ini. Napasnya tertahan. Tubuhnya terdiam membatu tidak bisa bergerak ketika sentuhan lembut bibir Kafka, yang sudah tau-tau menempel tepat di atas bibirnya. Alta langsung terbangun dari atas tubuh Kafka dan menjauhkan diri sesaat.


__ADS_2