KAFKA

KAFKA
SILAHKAN KALAU LO MAMPU.


__ADS_3

•Happy Reading•


"Gaish, Gaish, Gaishan. Bukan yang di bonceng sama Leader Volzer itu...?" Ali menabok-naboki lengan Gaishan.


"Alta woy, itu Alta. Fix gue yakin itu beneran Alta, mata gue kaga kotokan kali ini!" seru Aleshaqi memotong seruan Ali.


"Lah iya, anying." Sanz langsung berlari menghampiri Kafka, ia menepuk pundak pria itu dengan sangat gusar.


"Kaf," ucap nya.


Kafka, membuka visor helm dan menaikkan satu alisnya seperti bertanya kenapa? Or ada apa?


"Lo lihat ke belakang, Alta di bonceng Prince."


"Kafka langsung refleks membuka helm nya dan menengok kearah belakang, benar saja apa yang di katakan oleh Sanz.


Seperti sumbu yang sudah di berikan bensin, ia tersulut dan langsung menaruh helm full face hitam miliknya di atas tangki bensin motor nya, lalu turun dari motor.


"Turun lo." ucap Kafka ketika ia melihat Alta yang masih saja duduk di jok belakang sambil memegang pundak Prince dan tangan satunya lagi memegang cup ice cream milik Kafka.


Cowok itu, menatap nyalang kearah Prince tanpa bersuara.


"Al, turun lo." kini giliran Leo yang berseru ketika netra nya menangkap sosok yang ia kenali, lalu turun menyambangi motor Leadernya Volzer.


"Kenapa?"


"Kenapa?" gumam Leo mengikuti ucapan Alta dengan nada heran, dan di detik kemudian ia mulai bertanya lagi.


"Lo tanya kenapa Al? Lo udah gila, gue bilang lo turun nggak! Ngapain coba lo malam-malam begini ada di sini. Eh Prince, ngapain lo bawa sepupu gue malam-malam begini kesini?" ketus Leo, menatap nyalang.


"Seharusnya lo tanya sama pacarnya nih cewek? Kenapa bisa cewek secantik ini di biarin sendirian dan justru malah di tinggal pergi gitu aja demi balapan ini."


"Anj*ng, gue nggak ninggalin Alta sendirian demi hadir di sini, demi acara sial*n begini. Apa maksud lo? Lo mau jebak gue?" Kafka sudah mulai tersulut emosi, ia menggenggam kerah jaket Prince sehingga keadaan saat ini membuat riuh dan tegang. Para anggota inti dari masing-masing pun sudah bersiap siaga.


"STOP!!" Teriak Alta.


"Gue mau sama Prince."


"ALTA " teriak Kafka dan Leo berbarengan.


Nyali Alta yang sebenarnya sudah menciut, kini semakin menciut. Pasalnya ia berada di tengah-tengah para berandalan.


"Turun lo Alta, walaupun gue belum sepenuhnya berdamai sama Kafka, tapi gue lebih percaya dan ngerasa aman kalau lo sama dia. Terlepas lo ada masalah sama dia atau enggak, itu urusan lo. Tapi gue minta lo sekarang turun dan balik."


Alta diam, menatap Leo.


Melihat Alta hanya terdiam, lantas ia langsung menyuruh Kafka. "Kaf, bawa cewek lo balik."


"Cewek?" gumam Aleshaqi pelan, setengah berbisik kepada Ali.


"Sejak kapan?" pandangan mata mereka saling menatap.


"Lo nanya? Hah, lo bertanya-tanya? Apa kabar nya gue kalau lo juga bertanya?" kembali berbisik di telinga Ali dengan nada yang teramat menjengkelkan.


"Ayo, Al."


Alta menghela napasnya dalam-dalam dan hendak turun dari motor Prince, namun Prince menahan tangan gadis itu, membuat ice cream yang ada di tangan nya pun terjatuh.


"Ice cream nya." gumam gadis itu pelan.


"Lo gak bisa pergi gitu aja." seketika Alta menengok ke arah Prince yang sedang menatap nya sambil tersenyum.


Leo yang mendengar penuturan Prince pun tampak emosi dan mencoba untuk memukul Prince, beruntung Gaishan dan Cello buru-buru menahan nya di sertai gelengan kepala.

__ADS_1


"Gue tau, yang lo incer dari tadi tuh gue. Sekarang mau lo apa?"


prince tersenyum, lantas berdecih. "Lo emang cerdas, gue akuin lo bukan sekedar lawan yang mudah buat gue takluk kan."


"Gak usah bertele-tele, lo itu pecundang. Nyari alat buat bikin gue lemah."


"Lepasin Prince, tangan gue sakit, ogeb."


"Gue mau kita berdua test drive, kalau lo yang menang. Gue bakalan kasih lo uang cash 50 juta dan lo bisa bawa balik cewek lo. Tapi kalau lo yang kalah, gue gak butuh duit, cukup cewek lo yang cantik ini buka kaki lebar-lebar dan tidur sama gue." ucap Prince vulgar.


Plakk!!


"Bren*sek, lo pikir gue Bit*h." ucap Alta emosi.


"Oke, kalau itu mau lo. Tapi lepasin cewek gue dan biarin dia ikut dimotor gue." ucap Kafka berusaha untuk tenang dan tak tersulut emosi.


"Sial*n lo kaf!! Lo pikir gue piala bergilir."


Kafka menghampiri Alta dan memeluknya erat. "Lo tenang aja, gue gak akan biarin cowok bajingan kaya Prince menang dan seenaknya sama lo. Tapi kalau gue gak nurutin kemauan nya kali ini, dia juga gak akan lepasin lo." bisik Kafka.


ALTA menatap Kafka, entah mengapa Membuat Alta begitu mempercayai perkataan Kafka yang barusan.


"Tapi gue takut kaf."


"You believe me, I promise! (lo percayakan sama gue, gue janji!)" mengusap lembut pucuk kepala Alta.


"Uwch so sweet, tapi udah dulu drama romance nya, bisa mulai sekarang?" sanggah Prince.


"Lepasin cewek gue."


Prince langsung melepaskan tangan nya dan membiarkan Alta berlari menuju ke Kafka.


Alta yang sejak tadi merasa ketakutan pun mencoba menetralkan sejenak rasa takutnya. Ia langsung naik ke jok belakang Kafka dan memeluk cowok tampan yang kini sudah bersiap memakai helm Hitam miliknya.


Alta mengangguk, seraya berkata. "Tapi pelan-pelan ya kaf."


Kafka melirik gadis itu dari kaca spion nya dan tersenyum.


"Kalau pelan-pelan gimana mau menang? Memang nya lo mau Prince yang menang?"


Alta langsung menggelengkan kepala, serta tak tahan untuk tidak menabok pemuda tampan di depan nya. "Iya gue lupa kalau lo balapan, lo harus menang pokok nya! Gue gak mau tau."


"Iya bawel."


Suara gemuruh dari sorak Sorai penonton pun terdengar ramai, ada yang berpihak mendukung kepada Prince dan sebalik nya. malah hampir sekitar 80% mendukung dan mempercayai Kafka sebagai pemenang nya.


Keduanya sudah bersiap di garis start, seorang wanita berbaju minim pun sudah ready berdiri di antara keduanya. Gadis itu menghitung mundur dari angka ketiga sampai slayer di tangan nya pun terjatuh menyentuh aspal.


Kedua motor pun mulai melaju kencang, posisi Kafka tertinggal di belakang motor milik Prince. Tapi justru Kafka sengaja melakukannya.


Mata Kafka fokus menatap kearah medan sirkuit didepan nya, lalu tersenyum penuh arti. Sedangkan Alta sejak tadi menenggelamkan wajahnya pada punggung Kafka, aroma parfum yang dikenakan Kafka sedikit mampu menenangkan ketakutan Alta.


"Now, it's my turn. (sekarang giliran gue.)" Kafka langsung menaikan kecepatan nya, hingga jarak antara ia dengan Prince pun mulai setara.


Jarak keduanya pun semakin mendekati garis finish, semua orang menatap tercengang menunggu siapa yang akan menjadi pemenang nya.


Bruuummmmm, chittt!!!


Orang-orang pun sorak Sorai bertepuk tangan sambil meneriakkan nama Leader of Waldemarr.


"Kafka, Kafka!!"


Alta menghembuskan napasnya lega, ia bersyukur Kafka dapat memenangkan taruhan yang di buat Prince dan langsung buru-buru turun menghampiri anak-anak Waldemarr lain nya.

__ADS_1


"Air, mana air, gue butuh minum."


Mendengar itu, Gaishan, Ali dan Sanz buru-buru mencari botol kemasan air yang masih belum terbuka.


"Woy, ambilin air. The Boss Queen haus."


"Anj*rr, dengkul gue lemes."


Semetara, semua yang mendukung Kafka datang menghampiri mengucapkan selamat. Para Leader lain pun di buat geleng-geleng kepala karena tak menyangka strategi pemuda itu pun sulit di tebak dan tak terkalahkan. Kafka sempat tertinggal jauh di belakang Prince namun dengan strategi dan kepintaran nya ia mampu mengalahkan lawan nya secara tak terduga.


"Kafka, kemampuan lo emang bukan main. Gue salut sama lo." Alfa menghampiri masih dengan tangan yang sibuk memberikan applause.


"Selamat kaf, lo emang the winner sejati." ucap Adipati memberikan selamat.


"Selamat bro, lo emang suhu." ucap Azkals sambil geleng-geleng tertawa.


"Berapa derajat Celcius?" tersenyum.


"Bisa aja suhu bercanda nya."


"Thanks bro."


"Congrats, gue salut, lo emang pantes buat menang. Dari dulu kemampuan lo gak berkurang dan gak perlu di raguin lagi." Leo menepuk pundak Kafka, "Langsung bawa balik cewek lo, udah malam." ucap Leo, ia memang belakangan ini tidak akur dengan kafka. Namun ia tahu persis kalau Kafka gak akan mengecewakan dalam berbagai bidang apapun.


"Thanks Men, gue anterin setelah gue terima duit gue dulu."


"Gue kira lo gak butuh duit."


"Lumayan, buat party anak-anak."


"Jangan lupa undang gue dan anak-anak inti Zygmunt."


"Siap, pasti gue undangan. Jangan rese tapi."


"Sial*n lo."


"Lo jangan pura-pura ogeb, menangin Agusta rush buat gantian untuk Waldemarr party."


Leo tertawa terbahak-bahak. "Emang gak mau rugi lo, bangs*t."


"Yoi, siap-siap lo sana."


Setelah membuka helm nya, Prince turun dari motor dan berjalan menghampiri Kafka. Ia tersenyum sinis.


"Sesuai perjanjian dan taruhannya, sekarang cepat kasih gue uang yang udah lo janjiin." ujar Kafka dingin.


Prince menatap Kafka tak suka, ia juga menghela napas kasar. "Ambil uang itu! Tapi jangan seneng dulu, gue bakalan berusaha ngerebut dia dari lo." Prince melemparkan amplop coklat yang sudah berisi kan uang.


"Silahkan kalau lo mampu, tapi jangan dengan cara curang yang makin membuat lo semakin menjadi pecundang." Kafka tersenyum tipis dan langsung berjalan kearah Alta dan para inti Waldemarr.


"Yuhu, kita bisa party dong Bos." ucap Ali salah satu anggota inti Waldemarr.


Kafka menatap anggota nya, lalu melemparkan amplop coklat itu ke arah Gaishan. "Lo yang atur, dan ajak anak-anak party besok malam. Sama jangan lupa lo undang Zygmunt, Dentrax, dan cakrawala."


"Siap kaf,"


"Yuhu, boleh bawa ciwi-ciwi ya Bos?"


"Terserah, gue cabut."


"Thanks Bos, emang best deh lo."


"Rejeki anak Soleh." lanjut Aleshaqi.

__ADS_1


__ADS_2