KAFKA

KAFKA
GUE BELIIN SAMA GEROBAK NYA.


__ADS_3

•Happy Reading•


Kafka, kini sedang mengitari jalanan malam Ibu kota bersamaan dengan sang gadis pujaan hati nya. Ia lajukan motor sport itu dengan kecepatan sedang, menikmati hembusan angin malam yang terasa dingin menembus permukaan kulit nya. Sedangkan Alta, gadis itu kini memeluk erat tubuh Kafka, menyenderkan kepalanya di atas bahu Kafka.


"Kaf, makan di seafood gang yuk. Udah lama gue nggak makan di sana. Gue pingin banget makan cumi saos Padang nya sama ikan bakar gurame." ucap Alta sedikit berbicara dengan intonasi kencang.


Kafka merespon penuturan gadis cantik itu dengan sedikit menengok lalu mengangguk mengerti. "Em,"


Setelah menempuh kurang lebih Lima belas menit, motor yang Kafka kendarai sudah terparkir di lapangan depan gang yang memang khusus di buat parkiran oleh penduduk setempat.


Setelah Kafka meletakkan helm nya di stang kanan, pemuda itu langsung berjalan menggandeng Alta. Membawanya berjalan masuk kedalam sebuah gang sempit yang memang harus di lalui mereka sebelum akhirnya mereka tiba di warung seafood gang.


"Mau duduk di mana?"


"Di belakang sana aja, yang ada kipas angin nya."


Kafka mengangguk sembari tersenyum simpul kepada Alta. "Tempat pertama kalinya lo makan bareng gue, ya?"


"Iya, yang lo mergokin Aluna sama Leo kan?" Balas Alta.


Kafka langsung tertawa mendengar ucapan kekasihnya barusan, lalu mengusap lembut pucuk kepala Alta, kemudian ia mempersilahkan Alta agar terlebih dahulu duduk. Ia melangkah kepada salah satu karyawan laki-laki yang memang sedang mempersiapkan pesanan untuk pelanggan lain. Memesan sesuai pesanan yang Alta dan dirinya ingin kan, lalu kembali berjalan menghampiri Alta yang sedang duduk manis sambil sibuk memainkan handphone milik Kafka.


"Gimana soal bukti yang kemarin, apa hasilnya udah keluar?"


"Em, sudah."


"Terus, berarti lo udah tau dia siapa?


"Ya, dia anggota dari Volzer."


"BASTARD TUH COWOK, BELAGA NGGAK TAU APA-APA. BERARTI BENER PRINCE TAU KALAU ITU ULAH ANGGOTA NYA? KENAPA NGGAK LANGSUNG AJA LO TARIK KE MARKAS. KALI INI GUE NGGAK AKAN LARANG LO" ujarnya kencang sambil menggebrak meja, ia tidak perduli jika dirinya jadi pusat perhatian disana. Semenjak ia bersama Kafka, pun dirinya semakin menjadi pusat perhatian.


"Nggak, Be."


"Why? You don't look like Kafka?" (Kenapa? Lo seperti bukan Kafka)

__ADS_1


"Gue nggak mau tergesa-gesa, gue nggak mau ambil keputusan yang salah yang nanti nya bikin anggota gue dalam bahaya. Dan Prince nggak tau soal itu. "


"Lo yakin dia nggak terlibat?"


"Em, dia dateng ke markas buat nyerahin anggota nya. Dia cuma minta buat narik nama dia dari kasus ini"


"Lo udah tau siapa pelaku nya, kenapa harus nunggu lagi. Dia udah bikin celaka lo, kaf?"


"Gue akan bikin satu gerakan yang akan ngebuat dia selalu mengingat hal ini, Be. Tapi gue harus buat semuanya seolah gue masih tidak mengetahui apapun. Sampai sini lo paham kan?"


Alta mengangguk kecil "Seolah-olah lo masih menyalahkan Volzer?"


"Iya, Prince sendiri yang sudah menyerahkan nya kepada Waldemar."


Alta kembali mengangguk mengerti bertepatan dengan pesanan mereka datang.


...****************...


"Taro, cepetan taro."


"Nanti gue beliin lagi sama gerobak-gerobak nya. Cepetan, itu dia." menarik tangan Jessie dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan. "Terimakasih Pak"


"Mas kembaliannya."


"Ambil aja Pak" seru Gaishan sambil menaiki motor sport Putih miliknya disusul oleh Jessie. Dengan kecepatan tinggi Gaishan menerjang lalu lalang kendaraan lain membuntuti seorang pemuda yang sejak tadi di tunggu nya.


Gaishan berhenti tepat setelah melihat motor yang sempat dia ikuti berhenti beberapa meter di depan nya.


"Gaish, bisa majuan sedikit nggak sih? Sumpah, creepy banget nih rumah" seru Jessie, sambil menatap sekeliling dengan rasa takut. Pasalnya memang di sekeliling mereka terlalu sunyi, cahaya di jalan ini pun begitu remang karena hanya ada beberapa lampu jalanan yang menyala sedangkan rumah-rumah di jalan ini terlihat seperti banyak yang tak berpenghuni.


"Kalau lo takut, lo bisa peluk gue. Mata lo nggak usah kelilingan"


Gadis itu tidak tahan jika tidak menabok pemuda yang berada duduk di depan nya. "Nyari kesempatan lo."


"Shutt, jangan berisik, nanti kita berdua bisa ketahuan. Lo tunggu disini sebentar, gue mau kesana."

__ADS_1


Dengan cepat gadis itu menolak sambil menarik ujung jaket Gaishan. "Nggak mau, gue mau ikut. Takut gue kalau sendirian disini."


"Turun." serunya pelan.


Akhirnya mereka berdua turun dari atas motor, diawali oleh Jessie dan di susul Gaishan. Mereka berjalan perlahan mendekat, mengendap-endap. Sampai kini Gaishan dan Jessie tengah berada di balik sebuah pohon besar. Samar-samar suara percakapan mereka pun terdengar.


"Apa ada dari anggota Volzer yang curiga sama lo?"


"Sejauh ini aman Bang. Kalau gue boleh tau? Apa alasannya sampai lo nyuruh gue buat bikin Kafka celaka? Lo nggak tau seberapa bahayanya berurusan sama Anggota Waldemarr terutama Kafka, Bang!"


Pemuda itu tersenyum kecil "Dia udah permaluin gue, dia mukulin gue di depan murid-murid Lentera Bangsa. Dia yang udah buat gue keluar dari sekolah itu, padahal dia yang bersalah tapi justru gue yang di buat keluar." seru pemuda itu menggebu-gebu.


"Lo pecundang Bang, Lo nyuruh gue buat bikin Kafka celaka tapi lo sendiri nggak berani buat nunjukin diri lo di hadapan dia. Gue mau cabut dari Volzer Bang. Dunia gue nggak sama kaya mereka, gue terlalu takut Bang buat ada di tengah-tengah mereka."


"Tau apa lo, tutup mulut lo. Gue nggak akan biarin lo buat keluar dari Volzer sebelum lo berhasil bikin keduanya berseteru. Atau gue yang akan buat hidup lo mati di tangan salah satu dari mereka."


"Gue ini adek lo Bang. Kenapa lo tega sama gue?"


"Lo cuma adik tiri gue, balik sana." sanggah pemuda bertopi itu sambil memberikan sebuah amplop coklat lalu kembali berjalan meninggalkan pemuda yang berada di atas motor.


"Nggak seharusnya lo ngumpanin gue Bang." gumam nya sambil menstater motor metic miliknya.


Pergerakan nya terhenti saat tiba-tiba, kedua tangan pemuda yang berada di atas motornya di pautkan kebelakang secara bersamaan oleh tangan kiri dari Gaishan. Sementara tangan kanan Gaishan sibuk mengunci leher untuk menonaktifkan pergerakan kepala pemuda yang berada di motor scooter yang di ketahui bernama Rama, di bantu Jessie yang langsung ikut menyumpal mulut Rama dengan buff yang ada di leher Gaishan.


"Telpon ke Ali atau Sanz. Suruh mereka segera kesini."


"Tapi gue nggak bawa handphone."


"Pakai handphone gue."


Jessie mengangguk paham, lalu ia mencari dimana keberadaan handphone Gaishan.


"Handphone lo mana?"


"Di saku celana depan sebelah kanan" tutur Gaishan, membuat Jessie menghirup napas banyak-banyak.

__ADS_1


Ia menatap ragu ke arah paha Gaishan dengan gugup. Setelah beberapa detik ia berperang dengan batinnya. Akhirnya ia berhasil mengambil handphone milik Gaishan dan dengan cepat mencari kontak yang bertuliskan "Bamboo chopsticks."


__ADS_2