
•Happy Reading •
Tujuan Gaishan kerumah Jessie selain untuk mengapel tetapi juga ingin mengatakan maksud dari tujuan anak inti Waldemarr yang mereka sudah sepakati, yaitu menyuruh Jessie menanyakan lebih tepatnya mencari tahu apa yang di lihat Alta pada ponselnya Aluna.
"Be, kok lama banget sih bukain pintunya?"
Orang yang Gaishan panggil namanya tampak acuh mengabaikan pertanyaan Gaishan dan langsung menyuruh pemuda tampan itu masuk kedalam rumahnya.
"Kok sepi banget Be? Yang lain udah pada tidur?" tanya Gaishan lagi. Kali ini pertanyaan nya di jawab oleh Jessie dan tak di abaikan.
"Aku sendirian di rumah."
Mata Gaishan mengerjab. "Jadi kita berduaan di rumah sebesar ini?"
Jessie langsung menggeleng. "Nggak kita bertiga, kok." Katanya.
"Ada mbak?"
Lagi-lagi Jessie menggelengkan kepalanya.
Gaishan mendengus geli melihat reaksi kekasihnya yang hanya menggelengkan kepala membuat Gaishan mengacak rambut panjang itu dengan gemas yang entah sejak kapan menjadi kesukaannya. "Terus siapa kalau bukan Mbak?"
"Alta."
"Alta? Kamu serius?"
Kali ini Jessie menjawabnya dengan tidak menggelengkan kepala tetapi malah justru mengangguk kecil. "Iya, tuh anaknya ada di kamar aku."
"Dia tau aku ada disini?"
"Tau, kenapa kok kamu kaya yang kaget gitu? Tadi Alta yang kaget, terus sekarang kamu. Kok aku malah jadi curiga ya." Mencimingkan mata curiga. Padahal gadis itu tahu kalau Alta kaget itu karena takut jika ada Kafka dan sebaliknya, Gaishan kaget karena ada yang ingin di sampaikan oleh Pemuda itu kepada Alta.
"Jangan coba berpikiran macam-macam."
"Dih, siapa yang mikir macem-macem." membuat Gaishan langsung tertawa dan mengecup kening gadis itu.
Entah mengapa Gaishan merasa sangat beruntung kali ini, tanpa harus repot-repot menyuruh kekasihnya lebih baik langsung saja ia sendiri yang bertanya kepada Alta.
"Kamu bisa panggilin Alta buat turun? Ada yang mau aku tanyain langsung ke dia."
"Masalah Alta sama Kafka?" Tanya Jessie membuat Gaishan tersenyum seraya mengangguk.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu. Aku mau ke atas sekalian ambilin kamu minum."
"Iya, bebejess."
Jessie naik ke atas menuju kamarnya, kemudian perlahan membuka pintu kamar.
"Al, Gaishan minta lo buat nemuin dia di bawah. Ada sesuatu yang penting yang pingin Gaishan bicarakan."
"Membicarakan masalah apa?" tanya Alta seraya bangkit menghampiri Jessie.
"Gue mana tau, lo turun aja dulu."
"Yaudah bareng turunnya, masa gue turun sendirian sih?!"
"Iya sama gue lah, nanti lo tikung lagi cowok gue." ucap Jessie bercanda, sambil berkacak pinggang di ambang pintu kamar nya.
Alta mendelik tak suka dan langsung mendorong tubuh gadis itu untuk segera turun bersamanya. "Dih, gue bukan ulet keket kali." katanya seraya terkekeh kecil.
"Bagus dong, jadi badan gue kaga gatel-gatel."
"Of course."
Disinilah Alta berada, di depan Gaishan yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Jessie berada di dapur untuk mengambilkan minuman untuk Pemuda itu.
"Gue minta waktu lo sebentar untuk bicara boleh? Ada sesuatu yang mau gue tanyain ke lo. Gue berharap lo mau terbuka dan bantu gue"
"Apa?"
"Apa yang lo lihat di ponselnya Aluna?" Gaishan langsung to the poin.
"Maksudnya?"
"Lo nggak usah pura-pura di hadapan gue, Al."
Alta tersenyum remeh. "Gue nggak pura-pura Gaishan. Apa yang ngebuat lo sepenasaran itu?"
"Karena sahabat gue uring-uringan Al, gue kesel lihatnya."
"Ini minum dulu." ujar Jessie menyerahkan dua gelas kepada kekasihnya dan sahabatnya yang sedang berbicara dengan serius.
Alta mendengus kesal. "Lo tau dari mana kalau gue berantem sama Aluna di toilet?"
__ADS_1
"Lo berantem sama si nenek sihir di toilet Al? Kenapa pas bagian itu lo nggak cerita ke gue?" Katanya kencang, membuat dua orang yang berbeda jenis itu mengalihkan satu atensi mereka ke satu arah, yaitu Jessie.
"Nanti gue ceritain"
"Sebentar ya Bebejess. Kamu diam dulu."
Seru mereka berdua secara bersamaan. Membuat bola mata Jessie berputar dan memanyunkan bibirnya kesal namun tetap menurut untuk diam dan duduk.
"Gue lihat Kafka mangku Aluna dan mereka melakukan..."
"Melakukan apa? Jangan bilang mereka udah ajeb-ajeb." Potong Jessie.
"Be, please. Alta belum menyelesaikan ucapannya." membuat Jessie kembali merenggut.
"Mereka..." Ucapan Alta berhenti sejenak, rasanya ia tidak sanggup mengatakan hal itu.
"Mereka melakukan kissing di Evers Atmosphere?" tanya Gaishan tepat sasaran. "Lo yakin mereka melakukan itu di sana?"
Alta mengangguk kecil
"Seberapa yakin?
"Gue yakin itu di Evers Atmosphere, karena gue tau betul tempat itu Gaish."
"Dan kenapa lo bisa tau foto itu diambil di tanggal 17 September dan pukul 02.00?"
Alta menghela napas. "Kafka nyuruh lo?" tuduhnya curiga. Sedangkan orang yang ia tuduh kemudian menggeleng.
Hening sebentar, Alta mencoba menelisik kebohongan yang ada pada pemuda di depannya, namun tidak juga ia temukan. Yang berarti pemuda itu berkata jujur kalau bukan Kafka yang menyuruhnya.
"Gue lihat detail foto itu."
"Dan lo percaya?"
Alta menggelengkan kepala "Awalnya gue sempet kecewa tapi gue nggak percaya begitu aja tanpa gue melihat sendiri dengan mata kepala gue Gaish."
"Dia punya tujuan ngerusak hubungan lo sama Kafka dengan cara Aluna ngerekayasa foto itu Al. Gue emang belum lihat keaslian foto itu. Tapi dari yang lo bilang tadi. Gue bisa jamin kalau di tanggal itu Kafka tidak berada di Evers Atmosphere dan bisa gue buktikan lewat file cctv yang Ali dapat dari Evers di tgl tersebut."
Alta terdiam, gadis itu masih mencerna ucapan demi ucapan yang terlontar dari Gaishan.
"Gue percaya bahwa foto itu memang di rekayasa oleh Aluna. Tapi ada beberapa faktor yang ngebuat gue jadi nggak yakin sama Kafka, Gaish."
__ADS_1
"Gue berharap sih lo yakin sama dia, Al. Kafka tidak akan mungkin menghianati lo dan gue cuma bisa support hubungan kalian."
"Gue juga yakin, kalau lo bisa menyelesaikan permasalahan lo itu sama Kafka." Jessie tersenyum seraya memeluk Alta.