
•Happy Reading •
Bel tanda berakhirnya pelajaran pun terdengar berbunyi, riuh sorak para murid pun terdengar ramai ketika bel itu menggema.
Setelah menutup buku, Jessie dan Cherry segera bergegas merapihkan semua peralatannya ke dalam tas. Jessie menengok kesamping, lebih tepatnya ke arah Alta. "Al, lo mau balik bareng sama gue or nungguin Abang lo?" tanyanya pada Alta.
"Gue ikut lo deh, soalnya Bang Shaka ada eskul basket hari ini."
Jessie mengangguk, beranjak dari duduknya untuk segera keluar kelas. Tak lama di susul oleh Cherry dan Alta. Mereka bertiga berjalan menuruni anak tangga satu persatu sesampainya di anak tangga terakhir, Alta berkata ingin ke toilet terlebih dahulu.
Jessie mengangguk sebagai respon mengiyakan.
"Gue sama Jessie nungguin lo di parkiran ya." kata Cherry.
"Ok" Alta berjalan pergi meninggalkan Jessie dan Cherry menuju toilet.
...****************...
"Kenapa?"
"Gue mau ngomong sebentar, lo masih belum mulai latihan kan?"
"Belum kok, tenang aja."
Kafka menarik jari jemari lentik milik Aluna, mengajaknya untuk duduk di kursi penonton lapangan basket. Kafka menoleh menatap Aluna, diam. Lalu Kafka mempersempit jarak duduk mereka dan kembali mengambil jari tangan Aluna.
"Lun,"
Luna tersentak, ia refleks menatap mata pemuda tampan yang sedang duduk bersama nya saat ini. "Iya kaf, Kenapa? Kamu mau ngomongin apa sih?"
__ADS_1
"Apa gue boleh jujur sama lo?"
"Hah? Ya boleh lah. Kamu lagi kenapa sih Kaf? Jangan bikin aku takut deh."
"Lo tau kan, kalau gue itu suka banget sama lo?"
Aluna mengangguk.
"Sekarang, gue mau mengungkapkan semua isi hati gue ke lo. Gue itu bukan sekadar suka dan kagum sama lo Lun, tapi gue itu sayang." ucap Kafka, tangan nya terangkat untuk menyentuh pipi Luna.
"Tapi kaf, kamu pun tau kalau aku..."
"Please, gue gak mau denger penolakan, Lun." sentak Kafka memotong ucapan Aluna.
"Gue itu beneran tulus sayang sama lo, gue pingin lihat lo terus bahagia, Lun," Kafka mengelus pelan pipi Aluna "Gue gak mau lihat lo nangis, karena hati gue akan sakit jika lo sedih, tapi..."
Entah sejak kapan di balik tembok, sudah ada seseorang yang mendengarkan semua penuturan pemuda tampan itu pada gadis cantik yang sedang menatapnya. Bukan maksud untuk menguping tapi pembicaraan mereka begitu terdengar jelas oleh nya, ia tau suara siapa itu sehingga ia enggan beranjak dari sana. Gadis itu menahan tangisnya agar tak menetes, hatinya terasa bagaikan di remas, apakah ini yang dinamakan sakit tapi tak berdarah? Sebelum akhirnya ia mendengar kan semua ungkap hati pemuda yang ia sukai lebih dalam dan menggores hati nya. Alangkah baik nya ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka.
...****************...
Aluna tersenyum manis sambil menahan haru nya. Meski ia tidak bisa membuka hati, tapi ia bukan gadis jahat yang harus menghindar dan menjauhi Kafka karena alasan yang tidak jelas. Aluna tetap menerima semua perlakuan baik Kafka, karena fakta nya Kafka memang cowok baik.
"Gue udah cukup egois, menutup mata, pendengaran gue, padahal gue cukup tau kalau gue lagi ngelakuin kesalahan besar. Kesalahan mencintai pacar sahabat lama gue. Hati gue juga sudah cukup capek buat lihat lo bahagia sama Leo. Gue lepasin lo buat bahagia Lun, Karena gue tau kalau Leo itu juga sayang sama lo, dia bisa jagain lo."
"Kaf, maafin aku karena aku nggak bisa mencintai seseorang yang baik seperti kamu. Maafin aku, aku nggak bisa bener-bener membuka hati untuk orang lain, selain untuk Leo."
Kafka mengusap lembut pucuk kepala Aluna, menenangkan gadis didepannya yang kini sudah berkaca-kaca.
"It's ok, jangan ngerasa bersalah. Dan lo mau tau perkataan jujur gue itu apa? Bukan perkara tentang perasaan gue ke lo lagi, melainkan karena gue sudah mendapatkan orang yang tepat yang bisa dengan mudah nya mengantikan nama lo di hati gue. Gue pingin orang yang pertama kali tau, ya itu lo. Dan lo tau, gue akhirnya berhasil move on berkat mulut ketus dan sifat keras kepalanya." Kafka tersenyum lebar.
__ADS_1
Aluna pun ikut tersenyum, "Aku ikutan bahagia mendengar perkataan kamu barusan. Congrats, you've managed to open your heart to Alta, that girl is Alta right? (Selamat, kamu sudah berhasil membuka hati untuk Alta, gadis itu Alta kan?)
"Darimana lo tau kalau gadis yang berhasil menggeser posisi lo itu Alta?"
"Aku asal nebak aja tadi, tapi beneran aku memang sudah feeling kalau Alta bisa buka hati kamu, sejak kejadian di kantin waktu itu. Karena tidak semudah itu kamu pergi begitu saja hanya karena ucapan aku. Kurang lebih nya sifat kamu itu tidak jauh berbeda dengan Leo."
"Maybe!! But please don't equate me with your beloved man. Because we are different. (Mungkin, tapi tolong jangan samakan gue dengan lelaki tersayang lo. Karena kita berbeda.)"
Aluna tertawa. "You are the nicest man I've ever known, and it's lucky that you also met a nice girl, as good as Alta. (Kamu adalah pria paling baik yang pernah aku kenal, dan beruntung kamu juga bertemu dengan gadis yang baik, sebaik Alta.)
"Really?" menatap lekat manik mata hitam Aluna.
"Emm"
"Boleh gue peluk lo untuk terakhir kalinya sebagai seseorang yang mencintai lo?"
"Beneran?"
"Ya beneran, jatuh cinta sama lo itu terlalu menyakitkan ternyata. Dan aneh nya sih gue nggak nyesel. Patah hati sedikit lah, tapi gak sebanyak waktu lo terang-terangan nolak gue."
Aluna mendelik sebal. "Sini aku peluk."
"Lun, kalau prioritas utama gue itu bukan lo lagi, lo gak akan marah kan?"
Aluna terkekeh kecil. "Ya enggak lah, justru sekarang aku bahagia, bisa lihat kamu move on. Selama ini pun aku pura-pura nggak menyadari bahwa prioritas utama kamu itu aku, karena ada hati dan perasaan yang aku harus jaga."
"Iya deh, yang bucin banget sama Leo."
"Ish, apaan sih kaf. Yaudah cepetan sini peluk, udah jam nya latihan nih Tiga menit lagi."
__ADS_1
"Iya"
Kafka pun langsung menerima pelukan hangat Aluna yang menjadi pelukan perpisahan perasaan nya.