KAFKA

KAFKA
GUE YANG EGOIS ATAU LO YANG APATIS?


__ADS_3

•Happy Reading •


Kafka menatap gusar ponselnya yang mati karena kehabisan daya. Ia berusaha meminjam casan phonselnya, namun tidak ada yang mempunyai casan yang sama. Mencoba menghubungi Alta dengan ponsel orang lain namun ia tidak mengingat nomer Alta hanya beberapa digid saja. Gaishan adalah satu-satunya orang yang mempunyai nomer Alta tapi dia sudah pergi mengantarkan Lily untuk pulang kerumahnya. Jadi terpaksa untuk sementara waktu Kafka membiarkan ponselnya mati.


"Sebentar ya be, habis ini gue pasti akan datang kerumah lo." Monolog kafka pelan. Ia sedang berada di depan UGD rumah sakit.


"Kerabat pasien atas nama Aluna."


Kafka langsung menghampiri perawat yang menyerukan nama Aluna.


"Maaf, apakah Masnya adalah keluarga dari pasien?" Tanya perawat yang berada di hadapan Kafka.


"Saya teman satu sekolahnya, Sus."


"Keluarga pasiennya kemana?"


"Sudah di hubungi oleh teman saya, dan masih dalam perjalanan. Ada apa ya, Sus.? Mungkin kalau ada apa-apa untuk sementara waktu bisa dengan saya sambil menunggu orang tua pasien datang."


"Baik kalau begitu, Mas bisa urus terlebih dahulu administrasinya di sebelah sana kemudian baru Masnya bisa langsung menemui Dokter untuk mendapatkan kejelasan mengenai keadaan pasien." Tutur perawat itu dengan jelas.


"Baik Sus, terimakasih."


Setelah mendapat penjelasan dari suster tadi, Kafka langsung mengurus semua keperluan administrasi serta pembiayaan yang di perlukan. Setelah selesai dengan urusan administrasi, akhirnya Kafka di arahkan untuk langsung menemui Dokter yang menangani Aluna.


"Permisi Dok, saya teman dari pasien atas nama Aluna." Seru Kafka dengan sopan.


"Silahkan duduk," Jawab Dokter itu ramah. Kafka duduk di hadapan dokter muda yang diperkirakan usianya kisaran kepala tiga.


"Bagaimana dengan keluarga pasien?" tanya Dokter yang di ketahui kafka melalui taq, bernama Hans.


"Sudah di hubungi Dok, kemungkinan dalam perjalanan. Dokter bisa jelaskan secara rinci tentang keadaan Aluna nanti kepada ke dua orang tuanya saja. Tapi kondisinya sekarang apa baik-baik saja, Dok?"


"Sejauh ini saya belum bisa mengatakan kalau keadaanya stabil, karena saya belum melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien tanpa persetujuan keluarga pasien. Tetapi, dari sekala tingkat benturan pasien saya dapat menyimpulkan bahwa saat ini pasien dalam kondisi baik tanpa benturan yang cukup parah yang mengakibatkan cedera otak. Kita bisa menunggu dari seberapa cepat pasien sadar. Apa ada yang ingin anda tanyakan?"


"Tidak Dok, kalau begitu, saya permisi. Terimakasih atas penjelasannya. Nanti saya akan jelaskan kembali kepada Orang tua Aluna dan memberitahukan mereka untuk segera menemui Anda." Ucap kafka di iringi senyuman.


"Baik, sama-sama." jawab dokter tersebut.


Kafka keluar dari ruangan Dokter dan kembali duduk di depan ruang UGD tempat Aluna masih terbaring, menunggu kedatangan orang tua dari Aluna. Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya kedua orang tua Aluna datang.


"Malam Om, Tante." Sapa Kafka diiringi dengan bersalaman.

__ADS_1


"Malam." Jawab Ayah Aluna. "Kamu siapa?" Tanya nya kembali.


"Perkenalkan, saya Kafka teman satu sekolah Aluna."


"Bagaimana keadaan anak saya? / Bagaimana bisa anak saya masuk ke rumah sakit?" Tanya kedua Orang tua Aluna berbarengan.


Kafka tersenyum kikuk, pertanyaan yang mana dulu yang harus di jelaskan dan di jawabnya.


Sepertinya Ayah Aluna memahami kebingungan Kafka. "Kamu bisa jawab terlebih dahulu pertanyaan istri saya."


"Baik Om, Aluna terjatuh saat ia sedang latihan Cheerleader, tepatnya bagaimana ia terjatuh saya tidak tau pasti karena pada saat Aluna terjatuh saya tidak berada di tempat terjadinya perkara tersebut Om, Tante. Saya hanya bisa membantu membawa Aluna ke rumah sakit ini. Sedangkan untuk kondisi Aluna Dokter mengatakan keadaannya tidak terlalu serius dan baik-baik saja hanya saja belum stabil dan sadarkan diri" Jelas Kafka secara gamblang.


"Terimakasih banyak, sudah membantu Aluna."


"Sama-sama Om, nanti kalau memang malam ini Aluna belum juga sadarkan diri. Om bisa langsung menemui Dokter untuk meminta penjelasan dan tindakan selanjutnya."


"Iya, Nak. Sekali lagi Om sangat berterima kasih kepada kamu."


"Sama-sama Om. Semoga Aluna bisa cepet sembuh. Kalau begitu saya izin pamit karena saya belum mengabarkan orang di rumah sejak sepulang sekolah tadi."


"Ah iya, hati-hati di jalan."


"Baik Om." Setelah mengatakan itu, kafka langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu.


...****************...


"Lo kemana sih, kenapa sampai saat ini lo nggak ada kabarnya." Monolog Alta didalam hati.


Alta memilih naik menuju kamarnya. Masih berusaha untuk tetap berpikiran positif dan kembali melihat Aplikasi Whats*pp berharap nomer Kafka sudah aktif. Lagi-lagi tanda centangnya masih tetap satu dan tak berubah. Begitupun ketika ia mencoba menelpon nomer Kafka dengan sambungan telpon seluler dan yang menjawab malah sang operator. Itu artinya, ponsel kafka memang sedang tidak aktif.


Alta merebahkan dirinya di atas kasur Queen size, tanpa sengaja Alta melihat status milik Jessie dan langsung melakukan Video Call kepada Jessie.


"Halo" Sapa Jessie dari sebrang sana yang memang langsung mengangkat panggilan dari Alta.


"Jess, lo kenapa?" Tanya Alta to The point.


"Gue gak apa-apa, Al. Emangnya gue kenapa?"


"Kenapa status lo kaya gitu? Aku pikir itu adalah rasa ke khawatiran. Nyatanya, setelah kamu jelasin aku baru paham kalau itu rasa empati kamu terhadap orang lain. Maaf ya be sudah berpikiran buruk."


"Oh, iya itu tadi Gue sempet salah paham sedikit sama Gaishan. Tapi sekarang udah nggak apa-apa setelah dia jelasin." Jelas Jessie.

__ADS_1


"Oh." Jawab Alta lesu dan hanya beroh ria saja tak seperti Alta yang biasanya yang selalu ada saja topik pembicaraan dan ceria.


"Kenapa lo? Tumben banget lesu gitu?"


"Gue butuh pelukan Jess."


"Kenapa? Lo berantem lagi sama Kafka?


" Nggak."


"Terus?"


"Tadi di sekolah dia bilang mau kerumah gue malam ini, tapi dia gak dateng sampai sekarang."


"Ya lo telpon lah." Ucap Jessie heran.


Rasanya belakangan ini hubungan Alta dan Kafka selalu saja dirundung permasalahan yang ujung-ujungnya membuat mereka bertengkar.


"Udah, handphonenya nggak aktif."


"Mungkin dia capek dan ketiduran kali habis nganter Luna ke rumah sakit." Ucap Jessie keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


"Apa Jess,? Lo ngomong apa barusan?" Tanya Alta berapi-api.


"Woy, kalem, kalem. Jangan ngenggg!!"


"Jessie, bisa lo jelasin apa maksud dari omongan lo!"


"Iya gue kasih tau tapi lo janji gak akan overthinking. Nanti ujung-ujungnya kalian malah berantem lagi."


Alta menghela napas pelan. " Iya, asal lo ceritain semuanya tanpa lo tutup-tutupin."


"Oke gue ceritain, lo pasang kuping baik-baik. Jadi gini, tadi buku matematika gue ketinggalan di kelas alhasil gue puter balik lagi kesekolah. Disaat gue baru sampai di parkiran sekolah, gue lihat dari lorong sekolah Gaishan lari bareng Lily buat ke parkiran mobil untuk mengambil mobilnya lily. Dan gak lama gue lihat cowok lo gendong Aluna yang di belakangnya terdapat Sanz yang ikutan jalan cepet. Mereka buru-buru yang sepertinya Aluna sakit. Gaishan langsung bukain pintu penumpang dibagian belakang untuk meletakkan Luna yang pingsan. Sedangkan Kafka meletakan Luna dengan begitu hati-hati di jok belakang mobil, serta berlari kecil mengitari mobil yang kemudian duduk di samping Aluna untuk menopang tubuh lemah Aluna dengan raut wajah khawatir. Gaishan sendiri duduk di bagian kemudi yang disampingnya sudah terdapat Lily. Itu yang jadi penyebab gue bikin status kaya begitu. Gue lihat wajah khawatir mereka seakan takut Aluna kenapa-kenapa. Dan beruntungnya Gaishan langsung peka, jadi setelah dari rumah sakit dia langsung kerumah gue buat jelasin semuanya biar gue nggak salah paham."


Tanpa sadar, penjelasan jessie membuat hati Alta terenyuh sakit. Bagaimana tidak? Lain halnya dengan Gaishan yang memang menganggap Aluna hanya sebatas seorang teman yang ia kenal. Lain ceritanya dengan Kafka, ia pernah menyukai gadis itu bahkan sampai rela bertahun-tahun menunggu gadis itu. Kekhawatiran apa yang Kafka rasakan pada saat itu? Khawatir sebagai seseorang teman atau kekhawatiran sebagai seorang pria yang pernah mencintai gadis itu? Entah lah, Alta hanya dapat menerka-nerka nya. Bahkan sampai saat ini pun Kafka masih belum bisa ia hubungi, apakah salah jikalau ia berasumsi buruk dan meragukan perasaan Kafka terhadapnya?


"Jess, sorry udahan dulu ya. Gue dipanggil nyokap." Bohong Alta.


"Oke, Al. Jangan galau lo." Pesan jessie sebelum mengakhiri sambungan telponnya dan di iyakan oleh Alta.


"Jadi ini alasannya kenapa lo gak dateng kerumah gue dan nggak bisa di hubungi." Lirih gadis itu sendu menatap layar ponselnya yang berwallpaper dirinya dan juga Kafka.

__ADS_1


"Apa gue belum jadi satu-satunya yang ada di hati lo, kaf? Apa rasa sayang lo itu masih ada buat dia? Apa gue yang terlalu egois atau lo yang terlalu apatis sama perasaan gue?" Alta menghela napas lalu mengusap pipinya yang basah karena buliran bening yang mengalir tanpa permisi. kemudian Menonaktifkan layar handphonenya.


...****************...


__ADS_2