
•Happy Reading•
Para anggota Waldemarr, baik yang menggunakan mobil atau pun motor kini telah sampai di yayasan panti asuhan Harapan kasih. Mereka sengaja datang langsung ke panti terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka ke villa milik Kafka.
Kafka berjalan masuk kedalam panti sambil menautkan jari jemari nya kepada jari lentik Alta. Ya pemuda itu menggandeng erat kekasihnya. Menemui Ibu Saidah selaku ketua dari panti tersebut. Disusul para anggota Waldemarr lainnya sambil membawa kardus-kardus yang mereka bawa dari Jakarta.
Ibu Saidah mempersilahkan anak-anak Waldemarr untuk masuk, menaruh kardus-kardus itu di ruangan yang pihak panti siapkan. Tak lupa juga Ibu Saidah selaku pemilik sekaligus pengurus untuk memberi kata sambutan atas rasa terimakasih nya kepada para anggota Waldemarr. Di susul oleh Kafka sebagai perwakilan Waldemarr yang memberikan kata-kata sambutan juga penyerahan barang-barang.
Kegiatan penyambutan sudah usai kini mereka semua tengah bermain-main bersama anak-anak panti. Ada yang mengobrol, bercerita dan juga berlarian. Suasana panti harapan kasih begitu sangat ramai, mereka menyambut kakak-kakak dari anggota Waldemarr dengan begitu antusias dan bahagia. Terutama Kafka dan Alta yang kini tengah bersenda gurau juga mengobrol kecil dengan beberapa anak-anak disana. Namun ada satu bocah laki-laki yang menarik perhatian Alta, bocah itu sekitar berumur 4 tahun yang duduk menyendiri tanpa mau bergabung dengan anak-anak lainnya.
Alta berjalan menghampiri bocah laki-laki itu. "Hey, kamu ko sendirian disini?"
Bocah itu pun mengangguk.
"Kenapa tidak bermain bersama teman-teman yang lain?"
Bocah itu kembali menjawab namun sekarang dengan menggelengkan kepalanya.
"Kakak boleh duduk di sini?" tanya Alta kembali.
Lagi-lagi bocah itu pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenalan dulu dong nama kamu siapa?" tanya Alta pada bocah lucu yang tengah duduk sendirian di taman belakang panti, sembari mengulurkan tangannya untuk di jabat bocah tersebut.
"Aku elsan, kakak namanya siapa?" tanya Ersan kepada Alta dengan membalas jabatan tangan yang tengah Alta ulur kan kepada nya.
Alta tersenyum, "Nama kakak, Alta."
Ersan mengangguk mengerti.
"Ersan kenapa berdiam sendirian di sini? Mengapa Ersan tidak bermain bersama dengan teman-teman yang lain."
Ersan mengeleng-gelengkan kepala, mata nya memancarkan kesedihan yang mendalam, Alta dapat merasakan itu. "Mau main sama kakak Alta aja?"
__ADS_1
Bocah itu mendongakkan kepala, untuk menatap wajah Alta. Kemudian, ia tersenyum senang seraya mengangguk.
Alta yang gemas dengan tingkah laku bocah laki-laki itu pun meregangkan tangannya mengode agar Ersan masuk kedalam rengkuhan Alta. Ersan tersenyum tipis menanggapi nya lalu disaat berada dalam pelukan Alta bocah tersebut akhirnya menangis sedih.
Kafka yang sejak tadi memperhatikan gadis nya, kini ia menghampiri. Membiarkan bocah laki-laki itu memeluk Alta. Kini senyuman nya terpatri dengan jelas, lelaki itu tersenyum bangga terhadap ketulusan hati kekasihnya, matanya pun tak berpaling dari Alta dan Ersan yang terus saja memperhatikan.
"Hey, jangan lama-lama meluknya. Ini tuh punya gue tau" ucap pemuda itu. Alta yang mendengar penuturan kekasih nya tak tahan untuk tidak menabok nya. "Bicaranya pakai aku"
Ersan yang melihat Alta menabok gemas Kafka pun tertawa senang. Meskipun di pelupuk matanya masih terdapat sisa-sisa air mata.
"Jagoan itu tidak boleh menangis, harus banyak-banyak tertawa. Tunjukan kalau kamu hebat" seru Kafka menatap Ersan, mengusap pucuk kepala nya dan turun mengusap sisa air mata itu.
"Kakak, ini bukan lumah aku. Aku kenapa di suluh tinggal di sini?" tanyanya dengan menatap nanar ke arah Kafka.
"Karena disini itu ramai dan kamu punya banyak teman. Tidak enak jika kamu berada dirumah yang sepi sendirian. Jangan takut untuk tinggal di sini, semua yang berada di sini itu baik. jadi kamu harus selalu tersenyum dan tidak boleh bersedih, oke." ucap Kafka menyemangati Ersan.
Ersan menganguk. "Tapi disini tidak ada Ibu, nanti Ibu bagaimana, ka?" Kafka menggendong bocah tersebut "Ibu baik-baik saja, kamu cukup berdoa saja sama Allah agar selalu menjaga Ibu. Ersan bisa kan berdoa?"
"Iya, bisa" jawabnya sambil mengangguk kecil.
"Gue bersyukur punya lo sekarang, dan gue juga bersyukur karena gue masih cukup beruntung. Tidak dengan mereka yang nasibnya kurang baik. Bahkan ada dari mereka yang sejak lahir orang tua nya menitipkan mereka di panti ini." bisik Kafka pelan sambil menautkan jemari tangan nya ke jemari Alta. Alta menatap Kafka dan langsung tersenyum.
"Woy, berduaan aja lo. Noh sadar diliatin bocah-bocah." ganggu Ali yang juga ikutan berbisik di belakang mereka.
Kafka tak membalas ucapan Ali. Ia hanya mengepalkan tangannya di depan wajah Ali, yang membuat Ali mundur beberapa langkah sambil mengangkat kedua tangannya menyerah.
Tak sadar Tiga jam sudah berlalu, para anggota Waldemarr pun kini bersiap pamit untuk kembali undur diri. Acara bakti yang di gelar kali ini pun sukses mengingat anak-anak begitu bahagia atas kehadiran mereka dan atas bantuan yang mereka terima. Kafka yang kini tengah menggendong Ersan pun, kini tugasnya diambil alih oleh Ibu Saidah yang menggendong bocah tersebut sambil tertidur pulas.
...****************...
Kafka sedang bersama dengan teman-teman mengobrol santai sambil nyebat di pinggir kolam renang, sesekali mereka akan tertawa kencang mendengar lontaran konyol dari Ali, Aleshaqi dan Chalief yang memiliki sifat recehannya dan random. Sedangkan Alta ia sedang mengobrol asik berdua bersama dengan Cherry diatas sebuah ayunan rotan. Sampai dimana pandangan keduanya beralih kepada Gaishan dan Jessie yang barusan saja masuk.
Mata keduanya menatap Jessie dengan sedikit menaruh curiga, yang Jessie yakni kedua sahabatnya tengah mengejek nya. Jessie dengan cepat memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kenapa? Jangan salah paham deh!" tutur Jessie, kemudian gadis itu meraih satu yogurt squeeze varian purple taro tanpa sebuah izin pemilik nya yang Jessie yakni yogurt itu milik Cherry karena Cherry begitu teramat menyukai varian taro sedangkan Alta begitu menyukai varian rasa lainnya terkecuali varian taro dan original yang tidak Alta sukai.
Mereka berdua terkekeh kecil "Dih, apaan dah? Kan gue nggak ngomong apa-apa" seru Alta membela diri.
Mendengar pembelaan dari salah satu sahabatnya. Jessie berdecak sebal, "Mulut lo berdua emang nggak ngomong. Tapi muka lo berdua itu ngegambarin kalau kalian mau ngejek gue. Ngaku lo." Tutur Jessie yang di iringi tawa renyah dan kencang dari mulut Alta dan Cherry.
"Lagian lo gak ada cerita apa-apa kekita, padahal gue kalau ada apa-apa pasti langsung cerita" ujar Cherry sambil kembali memakan snack kentang berbumbu rumput laut.
Jessie lagi dan lagi berdecak sebal, "Gue gak balikan, masih belum percaya sepenuhnya sama Gaishan. Itu cowok masih banyak cewek nya. Coba lu liat whats*pp nya, berjejer tuh kontak cewek udah kaya asrama putri. Ngeri gak Lo" tutur Jessie.
"Yaelah, belum tentu juga di bales sama sang empu. Bukan cuma Gaishan aja kali, anak Waldemarr yang lainnya juga penuh dengan whats*pp cewek-cewek cantik." sahut Cherry.
Alta terkekeh kecil, "Dari pada isinya cowok semua, apa gak lebih ngerriii tuh." guyonan yang Alta lontarkan kini berhasil membuat Jessie mengumpat nya, dan didetik kemudian mereka tertawa kencang.
Hingga Jessie membangkitkan tubuhnya "Bentar akh, gue mau pesen makanan dulu. Lo udah pada makan?" tanya Jessie yang dihadiahi Alta dengan gelengan kepala.
"Lo belum pada makan? Wah parah banget si Kafka ngajak anak orang tapi nggak di empanin."
"KAFKAAAAAAAA." teriak Jessie.
"Woy bacot lo kenceng amat anj*rr!" balas Aleshaqi.
"Bodo. Kaf, parah banget sih lo bawa anak orang kesini tapi gak di kasih makan."
"****, bacot lo ya Jess." gerutu Alta, membuat Cherry terkikik geli dengan kerandoman sahabat-sahabatnya.
Kafka langsung berdiri dan menghampiri mereka. "Gue nggak mungkin ngak ngejamin cewek gue, apalagi soal makan nya. Hatinya aja gue jamin, apa lagi perutnya." seru Kafka berhasil membuat Alta dan lainnya jadi kicep.
Hening beberapa saat sampai akhirnya Kafka kembali berseru. "Sabar ya, Be. makan siangnya lagi otw ke villa. Tadi gue udah nyuruh Boris dan Bumi untuk beli makanan buat lo dan anak-anak yang lainnya juga. Mau sabar nunggu kan?" kata Kafka lembut yang kemudian mengusap pipi kanan Alta.
Alta tersenyum, lalu mengangguk. Siapa yang bisa tahan mendengar penuturan pemuda tampan itu, ucapan manis yang biasanya tidak terdengar sama sekali dari mulut lelaki itu kini bisa terdengar dengan lantang di depan banyak orang di sertai tindakan yang membuat semua cewek merasa iri.
"Terimakasih." jawab Alta merona salah tingkah.
__ADS_1
"Awh, Alta yang di gituin kok gue yang baper ya. Ya Allah, minta di sisain yang kaya gini satu buat gue ya" jerit Cherry baper sendiri.
"Ada kok, ada sayunk. Sanz noh yang sifatnya gak beda jauh sama Kafka" seru Jessie berhasil membuat Cherry menatap Sanz sedangkan Sanz juga sama menatap mata Cherry. Mata keduanya bertabrakan sesaat setelah itu Cherry terlebih dahulu menghindari.