
•Happy Reading•
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, namun Alta masih terlihat begitu nyaman bersama Kafka sehingga enggan untuk pulang.
"Ayo, gue anter lo balik." sanggah Kafka yang sudah terlihat fresh sehabis mandi.
"Emm,"
Kafka melangkah keluar terlebih dahulu dan di susul oleh Alta mengekori, mereka berdua menuruni anak tangga satu persatu dengan Alta yang terus saja merengek dan menarik-narik punggung Hoodie Kafka.
"Kaf, kita mampir dulu ya ke pasar festival dekat taman kota."
"Ogah"
"Ish, lo nyebelin banget."
"Kalian sudah mau pergi." sapa seorang wanita dewasa yang begitu terlihat cantik yang sedang duduk di depan ruang televisi.
Dengan gerakan refleks yang begitu kompak, mereka berdua menengok ke arah dimana wanita itu duduk.
"Tumben, sudah ada di rumah?" ketus Kafka.
"Kok kamu bicaranya seperti itu sih, nak?" jawab wanita cantik berwajah oriental yang terlihat begitu anggun meskipun hanya terbalut piama, sambil berjalan menghampiri Kafka dan Alta.
"Sorry Bun." ucap Kafka menyalami tangan Bunda nya.
"No problem, who is this girl? Is she your girlfriend? (tidak masalah, siapa gadis ini? Apakah dia pacarmu?)"
"Kurang tepat Tante, belum jadi pacar, baru calon pacar. Perkenalkan aku Alta Tante." jawab Alta absurd sambil menyalami tangan Bunda Revielta.
"Are you serious? (Apakah kamu serius?)"
Kafka langsung menatap nyalang ke arah Alta.
"Apa?" sengak Alta melihat Kafka yang sedang memelototi nya. "Daftar aja dulu ya Tan, untuk pembukaan lowongan nya kapan, itu urusan belakangan. Habis nya Kafka masih gamon Tante sama Luna."
"Serah lo." kesel Kafka.
__ADS_1
"Apa itu gamon?" tanya Bunda Revielta, bingung.
"Jangan di dengerin Bun." seka Kafka.
"Gamon itu, gagal move on Tante. Dia masih berjuang buat orang yang jelas-jelas gak pernah liat dia sebagai seorang lawan jenis. Masih aja ditunggu yang enggak pasti."
"Lo bisa diem gak, atau lo balik sendiri aja." berbalik badan ingin meninggalkan mereka.
"Yaelah, anak Tante mah ngambekan." meraih tangan Kafka dan menahan nya.
Bunda tertawa kecil, melihat kedua remaja yang dimata nya terlihat begitu lucu. "Kalian berdua itu lucu banget sih. Semoga aja perasaan Alta cepet di sambut Kafka, biar Kafka buka lowongan. Nanti kan gak cuman jadi calon, tapi langsung jadi mantu nya Bunda."
"Wah, Tante ngerestuin aku jadi calon mantu Tante?" girang Alta.
"Iya, bukan cuma calon, tapi langsung mantu nya Bunda kan?" ucap Bunda Revielta sambil tersenyum.
"Tuh kaf, nyokap lo aja udah ngerestuin gue. Tinggal tunggu restu bokap lo, dan lo move-on. Resmi deh kita jadi manten."
Bunda Revielta langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan gadis cantik didepan nya ini, sedangkan Kafka hanya terdiam sesaat menatap kesal, lalu. Berkata dengan ketus. "Murah lo."
Bukan nya marah, Alta justru malah tertawa mendengar penuturan pemuda tampan, yang berdiri di samping Bunda nya itu sambil tertawa gemas. "Ngengg aja lo kaf."
"Tante, maaf ya Tante. Alta cuman bercanda kok, jangan di ambil hati ya? Biar suasana nya mencair aja. Habisnya Alta grogi ketemu tante, tuh tante bisa lihat anak tante wajah nya udah kaya singa yang membidik mangsa nya, tinggal caplok."
"Justru tante yang seharusnya minta maaf sama kamu sayang." membelai lembut rambut panjang Alta. "Kafka emang kalau bicara suka asal dan pedes kaya bon cabe."
"Sudah biasa lihat Kafka narik urat terus, tan." ia tersenyum. "Alta izin pamit pulang ya tante, takut kemaleman." menyalami tangan Bunda Revielta.
"Beneran juga nggak papa, malah Tante seneng bisa punya mantu kaya kamu, sayang. Rumah Tante pasti bakalan ramai banget."
"Ah, Tante jangan kasih harapan ke Alta dong. Alta Baper nih jadinya."
"Cepet, ngomong mulu lo. Kapan baliknya?"
" Iya, sabar sih Kaf. Tante Alta pamit."
"Iya sayang." mengusap lembut pucuk kepala Alta.
__ADS_1
"Ah, sayang Tante. Alta boleh peluk gak sih?"
"Boleh dong, sini." Bunda Revielta melangkah, merapatkan tubuh nya dan langsung memeluk Alta.
Alta pun membalas pelukan hangat yang di berikan Bunda Revielta. "Terimakasih ya tante, bye-bye tante ."
"Hati-hati ya nak, jangan ngebut dan jangan di apa-apain mantu Bunda."
"Isth, Kafka pamit. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, besok-besok main lagi ya cantik."
Alta tersenyum, seraya mengangguk dan langsung menaiki motor Kafka dengan segala kesusahan nya.
"Sebenarnya siapa sih yang jadi anak nya, gue atau lo?" ketus Kafka sambil memberikan helm.
...****************...
Setelah hampir 10 menit diperjalanan pulang menuju ke arah rumah Alta, akhirnya mereka sudah terlihat berada di depan rumah Alta.
"Cepet, 5 menit."
"Siap Bos garang." ucap Alta meledek Kafka, lalu dirinya kabur kedalam rumah.
Kafka geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis, ia tidak mengerti mengapa bibir nya selalu ingin saja terus tersenyum bila melihat tingkah laku gadis berparas cantik itu.
Satu menit, dua menit, tiga menit, berselang. Kafka masih setia duduk di atas motor nya menunggu Gadis cantik itu keluar dari rumah nya sambil memainkan game di handphone nya.
"Tringggg!!" notifikasi tanda pesan Whats*pp grup Waldemarr.
Setelah komentar itu, Kafka langsung leave dan menutup handphone nya.
__ADS_1