
•Happy Reading•
"QUEENNNN!! LO MASIH WARAS KAN? GAK ADA SARAF-SARAF DI OTAK LO YANG PUTUS KAN?"
Alta menutup kedua telinga, ia mencoba menyelamatkan kesehatan indra pendengarannya dari mulut rombeng salah satu sahabatnya yang minim akhlak itu.
"MAKSUD LO ALTA JADI GILA GITU? KALAU NGOMONG JANGAN ASAL KENAPA SIH, CHERR." protes Jessie kencang kepada Cherry ketika baru saja masuk kedalam kamar Alta.
"Kali aja otaknya berpikiran macem-macem. Nggak nutup kemungkinan kan Jess?!"
"Serah lo deh Cherr."
"Eh, Queen. Ini berita beneran?" Cherry berlari kecil menghampiri ranjang Alta dan dengan segera ia duduk di samping Alta. "Kabar ini bukan sekedar kabar burung?"
Alta menggeleng pelan ke arah Cherry.
"Jadi beneran kabar berita yang lagi hits di Lentera Bangsa itu bener-bener bukan hoax?" kini giliran Jessie yang antusias bertanya.
Alta mengangguk pelan sebagai respon terhadap pertanyaan Jessie.
"Akh, sayang banget. Gue nggak rela kalau couple goals Lentera Bangsa harus berakhir seperti ini. Lo pasti sedih banget ya, Al?" Kata Cherry memeluk lengan Alta.
"Gue nggak papa, Cherr." bohong Alta.
"Gue tau lo bohong Queen. Mana ada di putusin sama orang yang paling lo sayang itu lo baik-baik aja. Meskipun gue kelihatan cuek sama hubungan lo, bukan berarti gue nggak perduli terhadap lo, ya!" Cherry menatap Alta dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Dih Apaan sih lo Cherr drama banget. Gue nggak apa-apa tau." Kata Alta mendorong tubuh gadis yang sedang bergelayut manja di lengan Alta. "Lebay lo!"
"EH KOK LEBAY, GUE ITU LAGI KHAWATIRIN LO QUEEN!" Sunggut Cherry keras.
"Seriusan? Bukannya lo gak rela kalau banyak cewek-cewek yang kembali deketin Kafka?"
"Itu salah satunya, gue emang gak rela kalau banyak cewek-cewek deketin dia. rasanya terlalu munafik banget gak sih mereka? Deketin Kafka cuma pingin aman dan populer."
"Bener yang di bilang Cherry. Tapi bukan cuma Cherry aja sih yang khawatir sama lo, gue pun sama khawatir nya. Maka dari itu kita berdua langsung kesini setelah denger kabar hits di grup sekolah."
"Kenapa lo nggak cerita ke kita berdua masalah lo. Kan gue bisa bejek-bejek muka tuh pelakor kaya perkedel." Kata Cherry mulai berapi-api.
Alta tersenyum tipis, "Udah akh, nggak usah bahas itu." Kata Alta mengelak.
"Terus mau bahas apaan dong? Kan topik terhangat nya itu tentang hubungan lo yang kandas Queen." Seru Cherry membuat Jessie langsung menabok bahu gadis itu.
"Kan bisa lo cari bahan yang lain Cherr. Gue mau VC Bebechan dulu."
Jessie tersenyum senang disaat panggilan video itu langsung dijawab oleh Gaishan. Dan dari sebrang telepon, terlihat Gaishan tengah bersantai sambil nyebat di balkon kamar yang entah itu kamar siapa.
"Kamu lagi di mana?"
"Di rumah Ali, be."
"Terus itu suara siapa yang lagi nyanyi? Galau bener nyanyi nya?"
"Coba dengerin baik-baik itu suara siapa."
Terdengar pelan sebuah melodi petikan gitar akustik yang benar-benar menyentuh di campur oleh beberapa guyonan banyak orang, Jessie berusaha memfokuskan pendengaran nya pada suara petikan gitar akustik itu. tak lama suara merdu seseorang kembali terdengar jelas.
__ADS_1
Ku pernah coba bertahan
Namun sering terlupakan
Ku pernah coba melawan
Tapi aku tersingkirkan
"Alta, coba dengerin ini suara siapa?" Kata Jessie membuat Alta melirik sebentar, lalu melengos sok tak perduli. Tapi diam-diam ia fokus mendengarkan dengan baik suara nyanyian seseorang yang pasti sudah sangat tidak asing bagi Alta, siapa lagi kalau bukan, Kafka.
… Lebih baik berpisah
Dari pada terus terluka
Karena ku s'lalu yang salah
Jujur aku trauma
… Aku tak mengejarmu saat kau pergi
Bukan karna ku tak cinta lagi
Tapi ku ingin berhenti
Kita saling menyakiti
… Aku tak menahanmu tetap disini
Bukan karna tak bahagia lagi
Cinta tak harus saling miliki
… Lebih baik berpisah
Dari pada terus terluka
Karena ku s'lalu yang salah
Jujur aku trauma.
"Kamu dari tadi sama Alta? Aku pikir kamu sendiri." tanya Gaishan di tengah kefokusan mereka.
Jessie menggelengkan kepalanya. "Aku lagi di rumahnya Alta, sama Cherry."
"Oh, Kaf, Kafka. Nengok dulu bentar." Kata Gaishan heboh kepada pemuda yang masih fokus pada gitarnya.
"Apa." jawab nya ketus.
"Ada Alta nih, kali aja lo kangen. Atau lo mau nyampein sepatah dua patah kata buat mantan terindah lo." Cerocos Gaishan membuat Kafka melirik sebentar ke layar handphone milik Gaishan yang di arahkan kepadanya. Benar saja, ada Alta yang tengah mengobrol dengan Cherry.
"KAFKA, BRENGS*K LO YA. LO MAU MATI, HAH?" teriak Cherry dari layar handphone milik Jessie saat dirinya melihat Kafka lah yang ada di layar, ia mengambil alih handphone itu sehingga kini hanya wajah nya lah yang terpampang jelas, sedangkan orang yang di teriaki malah hanya menatap wajah Cherry dengan datar.
"Bisa-bisanya lo nyakitin besti gue dengan selingkuh sama medusa."
"Lo ralat omongan lo, gue nggak selingkuh." protes Kafka tak terima.
__ADS_1
"Gak selingkuh katanya, tapi diem aja saat di peluk bahkan hampir mau di sosor." Pekik Alta sewot, yang mana hal itu membuat Kafka tanpa sadar tersenyum tipis.
"Gue nggak diem aja."
"Oh, berarti menikmati."
"Lucu banget sih jealous nya, belum bisa move-on ya?" Seru Ali di belakang sana.
"Dih, kata siapa gue gamon. Gue udah move-on kali."
"Seriusan nih?" Ali kembali melayangkan pertanyaan pada Alta dan di sambut dengan angguk kecil gadis itu.
"Gue jomblo nih, bisa kali jadi pengobat luka hati lo." Katanya lagi sambil cengengesan, membuat Kafka langsung menoyor kepala Ali. Sedangkan anak-anak inti Waldemarr yang lain langsung heboh mengompori Kafka untuk menyiksa Ali dan di akhiri dengan tawa kencang mereka.
"Wah, minta dipenggal kepalanya tuh kaf."
"Dih, parah nyari kesempatan diatas luka Bos sendiri."
"Wah kaga bener lo, Li. Nyari mati, anj*Ng."
Begitulah kira-kira seruan mereka. Kalau kata Aleshaqi, "Gue suka indahnya keributan."
Tapi justru pemuda tampan itu lebih memilih kembali cuek dan melanjutkan nyanyiannya dengan lagu yang berbeda, kali ini ia memilih lagu dari Asila Maisa.
Pada saatnya ku lelah berjumpa
Namun hati tetap mau kamu
Tolong kamu sadar ada Ku Disini
Yang tak bisa menghilangkan bayanganmu,
Dari sebrang telepon sana, Alta ikut menyanyikan lagu itu, seketika membuat yang lainnya langsung terdiam seakan memberikan dunia mereka itu pada ke dua insan yang masih sama-sama saling sayang namun gengsi.
Jika harus sakit biarkan ku sakit
Jika harus nangis biarkan ku menangis
Jika harus jatuh untuk bisa bersamamu
Biarkan Ku jatuh sampai lebam
Jika harus memohon aku siap memohon
Namun ternyata hati kuat ada rapuhnya
Sampai di titik ini aku angkat tangan
Aku menyerah
Ada saatnya ku lelah berjuang
Namun hati tetap tak mau kamu
Tolong kamu sadar ada aku di sini
__ADS_1
Yang tak bisa menghilangkan bayanganmu.