
•Happy Reading•
Markas sedang ramai saat ini, seperti sebuah rutinitas dimalam-malam biasanya. Para anggota inti maupun anggota biasa sering berkumpul, walau ada beberapa dari mereka yang berkumpul hanya sekedar menongkrong sebentar lanjut pulang ke rumah masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh bersiap bangun esok hari melanjutkan aktivitas kesekolah. Hanya saja malam ini cukup berbeda karena malam ini adalah malam terpanjang bagi kaum anak muda untuk menghabiskan waktu di malam Minggu ini sampai esok pagi.
Suasana di dalam terlihat begitu sangat ramai, gelak tawa menggema di seluruh ruang tengah markas dan obrolan ringan pun terdengar saling sahutan beberapa menit sebelum kedatangan ketua mereka ke markas, namun sekarang malah justru berbalik menjadi sepi dan begitu mencekam.
Ya, Kafka datang dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Semua anggota dapat mengetahui perihal itu. Wajah datar tanpa ekspresi dan bersahabat, serta tatapan mata elang yang menghunus tajam seperti sedang mengintai mangsa. Ini adalah raut wajah sang ketua mereka yang dapat mereka lihat jika dalam keadaan marah yang teramat luar biasa. Hampir delapan bulan lamanya wajah itu tidak di tunjukkan sang ketua mereka, namun malam ini mereka kembali melihat raut mengerikan dengan aura yang menguar kuat menandakan kemarahan.
Entah sudah berapa banyak pukulan yang kini telah di layangkan pemuda itu sambil meneteskan buliran air mata nya meninju punching bag dengan kekuatan penuh. Pemuda itu memilih menyalurkan emosi yang mendera hatinya di ruang pelatihan khusus markas Waldemarr sendirian dengan mengunci pintu ruangan agar tidak dapat seorang pun masuk kedalam sana.
Masih belum puas dengan punching bag, Kafka kembali melayangkan tinjunya pada cermin besar yang mengelilingi ruangan sebagai pelepasan terakhir yang Kafka layangkan, hingga cermin tersebut pun pecah tak beraturan. "ANJ*NG!!!" teriaknya bak kesetanan.
Sedangkan dari arah luar ruangan terlihat beberapa anggota serta Ali dan Aleshaqi yang sedang mengkhawatirkan Kafka. Ketukan pintu yang terus Ali gedor di abaikan begitu saja oleh Kafka dari dalam sana. Bahkan dobrakan pun tak mampu membuka pintu ruangan pelatihan dengan sangat mudah. Kafka benar-benar mendesain ruang itu dengan bahan material berkualitas tinggi. Hanya terdengar samar-samar sebuah suara gaduh dari dalam sana yang menandakan kekuatan Kafka, jika dalam keadaan marah yang teramat luar biasa. Memang sudah seperti orang yang sedang di rasuki setan, sungguh mengerikan.
Chalief terdiam sejenak sambil berpikir keras, dan di detik kemudian ia menepuk bahu Ali. "Telpon Sanz, minta Sanz buat cepetan datang ke markas."
"Ngapain njir, nanti juga dia kesini. Urus aja dulu Bos lo."
__ADS_1
"Itu gue kasih solusi gobl*k. Yang pegang kunci serep ruang pelatihan kan Bang Jo dan Sanz. Gak mungkin kan lo telepon bang Jo yang lagi di Kalimantan?!"
"Pinter lo." Aleshaqi langsung menghubungi kontak Sanz yang memang sedang dalam perjalanan menuju ke arah markas sehabis dari rumah Cherry. Sedangkan Gaishan, entahlah tak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan pemuda itu.
Waktu menunjukkan pukul Tiga pagi, namun sampai saat ini Kafka masih belum berniat mengakhiri kegiatan nya di dalam ruang pelatihan sampai setibanya Sanz di dalam markas dan berniat membuka pintu ruangan. Disaat yang bersamaan Kafka malah terlebih dahulu membuka pintu dengan keadaan yang cukup kacau balau, tangan kiri dari Pemuda itu pun sudah berlumuran darah segar yang terus saja menetes.
jangan bingung dan bertanya mengapa tangan kiri Kafka yang berdarah, karena jawaban nya adalah, Kafka salah satu orang yang selalu terbiasa menggunakan tangan kirinya atau biasa disebut kidal.
"Apa-apaan sih lo, Kaf. Kenapa enggak sekalian aja lo nabrakin diri lo, biar cepat mati." suara lantang itu berhasil lolos dari mulut Sanz yang tengah terlihat khawatir.
Bugkh!!!
"Ayo tanding, lo butuh pelampiasan kan?" tawar Ali.
"Jangan gila ya lo, Li!! Kafka gak sebanding sama lo. Lo kaga lihat tuh Kaca aja ancur berkeping-keping cuma dengan sekali pukulan. Apalagi muka lo anjir!!" seru Aleshaqi kencang.
"Minggir,"
__ADS_1
"Kaga mau, lo lagi ngelawak, hah? Eling atuh maneh eling, si Kafka lagi mode singa." tubuh Aleshaqi masih berdiri di antara keduanya sebagai penghalang.
"MINGGIR LO!!" bentak Ali kencang pada Aleshaqi, membuat Aleshaqi langsung memberikan space untuk Ali jalan memasuki ruang pelatihan.
"Ini orang kalau gak ada pelampiasan makin gila nanti nya, lebih baik gue yang berkorban." sunggut Ali menepuk pundak Aleshaqi.
...****************...
Lelah rasanya terlalu banyak menangis, padahal tangis itu di sebabkan dari ke egoisan dan rasa gengsi nya sendiri.
Alta yang masih berada di dalam kamar Kafka pun kini sulit untuk memejamkan mata walau hanya sebentar saja. Ia menghela napas berkali-kali guna melupakan sejenak permasalahan nya demi mengistirahatkan diri, namun berkali-kali pula ia gagal untuk memejamkan mata. Hati yang terus gelisah, tubuh yang ia gerakkan kekanan dan kekiri bahkan memaksakan mata untuk terus terpejam adalah hal tersulit baginya kali ini.
Disaat ia hendak mengambil sebuah minum, dering ponsel miliknya berbunyi menandakan notifikasi pesan dari sebuah aplikasi chat berwarna hijau. Dengan segera ia mengambil benda pipih yang tergeletak di atas nakas sebelah tempat tidur Kafka.
"Alesh." ditengah kebingungan nya, Alta langsung saja membuka isi dari chat yang Aleshaqi kirim.
__ADS_1
Alta hanya membulatkan mata tak percaya melihat foto yang di kirim oleh Aleshaqi tanpa berniat membalasnya.