KAFKA

KAFKA
DON'T DO IT AGAIN


__ADS_3

•Happy Reading •


"Alta mana?" Seru Kafka saat tengah memasuki ruang kelas nya.


"Lo nanya siapa dah." Jawab Mitha.


"Anj*ng, tinggal jawab ribet banget lo pada. Lo semua lihat Alta nggak?"


"Gue lihat tadi dikantin sama Cherry dan Jessie" Sanggah Arga.


Kafka langsung berlari ke arah kantin dengan terpogoh-pogoh. Saat sesampainya ia di tangga lantai satu malah ia berpapasan dengan Alta.


"Be, "


Alta tak memperdulikan panggilan dari Kafka, ia berjalan cepat, menarik tangan Jessie dan Cherry.


Kafka terus bersusah payah mengikuti Alta sampai akhirnya Alta tiba-tiba berhenti lalu menghadap Kafka.


"Kenapa ngikutin gue sih? Mau apa?"


"Karena gue mau."


"Mau apa?"


"Mau,!!"


"Mau bilang sorry, ia? Gue udah duduk bareng sama Aluna di lapangan basket tadi. Terus lo juga mau bilang kalau gue cuma duduk ngobrol sama dia, ia?" Gas Alta kesal.


"Be, sorry. Sumpah gue bisa jelasin hal itu tadi" Cowok pemarah yang biasanya tak pernah sabaran malah menghadapi gadis di depannya dengan seruan yang begitu lembut di telinga siapa saja yang mendengar nya.


"Al, kita berdua ke kelas duluan ya." Sanggah Jessie merasa tak enak jika ia dan Cherry berada di sana mendengar perdebatan mereka.


"Bareng." Jawab Alta, langsung berbalik hendak berjalan kembali ke arah kelas mereka.


"Lo nggak mau dengerin penjelasan gue, be?" Tanya kafka membuat Alta mematung. "Ada hal yang mungkin harus lo denger, biar gak salah paham dan bikin lo berasumsi buruk."


Alta berlalu begitu saja dari hadapan Kafka tanpa mau mendengarkan alasan nya apa. Anggap saja saat ini ia ingin berasumsi dengan rasa cemburu nya. Nyatanya memang saat ini ia sedang merasa cemburu. Apa tidak boleh jika ia merasa egois ingin Kafka hanya untuk nya.?


Namun realita tak seindah dan semanis ekspektasi. Mungkin di bayangan orang-orang atau cewek-cewek lain itu sangat menyenangkan bisa menjadi kekasih seorang pemimpin Waldemarr sekaligus most wanted Lentera Bangsa. Yang tampan, tajir, dan kalau kemana-mana jadi pusat perhatian para siswa maupun siswi. Tetapi nyatanya ada sisi pahit yang harus di Terima.

__ADS_1


Contohnya seperti sekarang ini, mereka menjadi pusat perhatian seluruh siswi yang berbisik-bisik di belakang Alta yang menyebarkan rumor yang tak sesuai dengan kenyataan nya.


Didalam kelas, terasa canggung bagi Kafka dan Alta. Kafka bingung harus berbuat apalagi. Ia berusaha untuk menjelaskan namun Alta sepertinya menolak, mau memaksa dan marah justru nanti Alta malah akan lebih marah bukan? Mengingat Alta seorang gadis yang keras kepala.



Melihat tak ada respon dari Alta untuk membalas chat nya, akhirnya Kafka merapatkan duduk nya agar lebih dekat lalu memegang jari tangan Alta.


"Woy, lo semua berasa gerah ngak sih?" Tanya Sanz heboh sendiri.


"Iya nih, padahal di kelas kita udah ada tiga AC tapi kenapa masih panas ya?" Timpal Gaishan.


"Cari udara seger aja yuk di luar" Saut Cherry ikut menimpali seruan Gaishan dan Sanz.


"Bener tuh, ditambah es markisa nya mpok Ela lebih seger gaess. Mumpung di jam terakhir gak ada yang ngajar plus di traktir Ali nih, ayok gasss!!"


"Anjj.... "Ali merintih kesakitan saat Aleshaqi dengan sengaja menginjak kakinya. Aleshaqi memberi isyarat agar anak-anak yang lainnya mau ikutanmenyetujui. "Lo bisa minta ganti sama Kafka, kalau dia dapat maaf dari Alta." Bisik Aleshaqi.


"Ya kalau Alta maafin, kalau nggak amsyong gue, anj*ng. Mana neraktir es sekelas lagi"


"Baru es, itung-itung lo sedekah." Jawab Gaishan enteng.


"Gampang nanti gue tambahin" Ujar Jessie.


"Oke ayo lah, gue traktir lo semua ke kantin buat minum es mpok Ela. Panas nih di kelas."


"Nggak akh, yang ada malah jadi masalah sama pak Darmawan lagi kalau kita satu kelas ke kantin. Lagian panas dari mana coba, orang dingin begini" Tolak Rega sang ketua kelas.


"Ban*sat dah, punya ketua kelas kaga peka begini. Minta gue Amputasi kakinya nih! "


"Paksa Mitha, buat ketua ikut keluar."


Akhirnya dengan berat hati Mitha membujuk Rega buat ikutan keluar kelas dengan bujuk rayu dan iming-iming yang hanya Mitha dan Rega yang mengetahuinya. 😆


Alta menghela nafas saat satu persatu teman satu kelas mereka keluar ruangan, Alta paham itu hanya alibi inti Waldemarr sekaligus dua sahabatnya untuk memberikan waktu pada mereka berdua. Bukan kah kelas 12 Ips¹ itu begitu sangat kompak?


"Semangat kaf, kalau Alta masih ngambek dan gak mau ngomong sama lo. Lo bisa cium, mumpung lo berduaan." Ujar Gaishan sambil berlari keluar kelas menyusul Sanz, dan juga sebelum Alta mencak-mencak.


"Be, bener gue berani sumpah. Kalau Aluna yang nyamperin gue duduk di sana. Gue nggak tau alasan dia kenapa tiba-tiba ada dan tau kalau gue lagi di dalam lapangan basket."

__ADS_1


Alta memalingkan pandangan nya ke arah lain. Sialan, mengapa Alta tak bisa marah jika mendengar suara Kafka yang begitu terdengar dingin dan serius. Seolah-olah malah jadi dia sendiri yang merasa ketakutan kalau Kafka akan marah dan pergi meninggalkan nya. Apakah ia sudah sebucin itu pada Kafka? Apakah ia sudah sesayang itu pada pemuda yang berada di sebelahnya.?


Helaan napas kasar terdengar, Alta masih menahan diri untuk tidak memeluk pemuda yang kini sudah menemani hari-harinya beberapa waktu ini.


"Please forgive me my love" Kata Kafka. Menempelkan dagunya di bahu Alta.


Oke, Alta menyerah. Ia tak tahan dengan perlakuan manis yang dilakukan pemuda di samping nya ini. Sederhana namun begitu manis bukan? Akhirnya, Alta mengarahkan pandangan nya ke arah Kafka. "Kenapa lo gak manggil gue? Malah lo asik ngobrol sama Aluna"


"Seriusan gue gak lihat lo, kalau gue lihat, masa lo gak gue panggil. Kan lo cewek gue be. Gue gak mau lah lo salah paham."


"Masa?"


"Beneran sayang. "


"Idih, chuiih."


"Kok gitu? Lo udah maafin nih?"


Alta menatap tajam pandangan nya ke arah Kafka "Siapa bilang?"


"Terus gue harus gimana biar lo maafin gue.?"


"Emm, pulang sekolah beliin gue es cream."celoteh nya lucu.


"Sama store nya kalau perlu gue beliin buat lo. Jadi kalau lo mau es cream bisa langsung minta sama penjaganya langsung."


"Tau deh, yang bisa beli apapun. Sombong banget." Sejenak mata biru langit itu mengunci pandangan pemuda tampan bermata hitam itu dengan teduh "Gue bosen diemin lo, jadinya baikan aja deh."


Kafka tertawa, dan dengan gerakan cepat tangan nya mengacak-acak rambut Alta. "Fix, pasti arwah lo udah ketuker sama orang lain, nih!"


"Ih, enak aja. Ini masih gue ya Aludra Altalune anak nya papa Arta Narendra dan mama Gaby Chandrawinata."


"Iya, pacarnya Kafka Aefar keizkara yang paling ganteng dan keren di jagat ini kan?"


"Anj*rr, narsis banget lo."


Kafka tersenyum bahagia. "Thank you for forgiving me, be" Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala Alta.


"You're welcome, my love. But don't do it again"

__ADS_1


__ADS_2