KAFKA

KAFKA
PUNYA NENEK MOYANG KAU


__ADS_3

•Happy Reading•


Terlihat dari lantai bawah ruang makan, seorang laki-laki dengan seragam sekolah khas Lentara Bangsa tengah menuruni anak tangga.


Satu persatu anak tangga di tapakinya dengan begitu sangat santai, padahal jam sudah menunjukkan Pukul 06.55 yang berarti ia memiliki waktu lima menit untuk menempuh jarak perjalanan antara rumahnya kesekolah.


"Mbu, jaket hitam Kafka mana ya?" tanyanya sambil menarik kursi di meja makan.


"Maaf A, jaket hitam yang kulit atau jaket hitam yang penuh tempelan ya A?" tanya Bi Maemunah Art di rumah Kafka. Ia tidak suka jika ia di panggil dengan sebutan Aden. Baginya semua sama, tidak membedakan status, sosial, bahkan kedudukan. Ia lebih suka di perlakukan sebagai seorang anak dibandingkan sebagai seorang majikan.


"Itu bukan tempelan Mbu, namanya badge atau emblem. Tolong diambilkan yang itu saja ya, Mbu."


"Oh, namanya Baek."


Kafka tersenyum tipis "Bukan Baek Mbu, tapi badge."


"Ya, itu maksudnya lah A." kata Bi Mae, sambil tertawa kecil.


"Ya sudah Mbu, ambilkan ya."


"Baik A, Mbu ambilkan dulu." ucap Bi Mae sambil melenggang pergi meninggalkan Kafka.


Sambil menunggu Bi Mae mengambilkan jaket hitam dengan badge kebesaran Waldemarr, Kafka mengoleskan satu potong roti dengan selai coklat dan keju untuk menu sarapan paginya kali ini.


"Ini A, jaket dan tasnya."


"Terimakasih."


"Sama-sama A."


Setelah ritual sarapannya selesai, Kafka langsung berdiri dan memakai jaket hitam kebanggaannya yang di bagian belakang punggung terukir lambang Culture Indonesia dipadukan dengan dua sayap Angel yang bertuliskan Waldemarr sebagai icon. Kemudian ia langsung menyambar kunci motornya yang berada di nakas ruang televisi serta menyampirkan tas hitam di bahu kanannya.


"Mbu, Kafka berangkat ya." ucap Kafka sambil menyalami tangan Bi Mae. Bagi Kafka, Bi Mae adalah Ibu kedua yang selalu menemaninya dari kecil Ketika Ibu kandungnya selalu sibuk di luar.


"Iya A, hati-hati jangan terlalu ngebut ya."


Ia hanya menganggukkan kepala dan langsung melangkah keluar menuju pintu garasi rumahnya, mengambil motor serta berangkat ke sekolah.


...****************...


SEKOLAH LENTARA BANGSA.


Motor Ducati hitam miliknya melesat memasuki gerbang utama sekolah menuju parkiran yang sudah penuh berjejer dengan mobil atau motor. Baru saja ia menurunkan standart motornya dan kemudian membuka helm full face hitam miliknya. Kafka sudah merasa sedang di amati pergerakannya dari gapura gedung sekolah.


Dengan segera Kafka turun dari motor dan berjalan kurang lebih tiga meter tepat di depan lapangan basket, Kafka sudah bisa melihat seorang wanita paruhbaya tengah menatapnya nyalang sambil berkacak pinggang. Siapa lagi kalau bukan Bu Duma Nasution, Guru galak berdarah batak yang hari ini kebagian bertugas piket menyambut anak-anak yang datang terlambat.

__ADS_1


"KAFKA AEFAR KEIZKARA!" teriak Bu Duma memanggil nama Kafka yang berusaha mencoba kabur.


"HEY, KAMU TAU INI SUDAH JAM BERAPA? KAU PIKIR SEKOLAH INI PUNYA NENEK MOYANG KAU, HAH?" omel Bu Duma dengan khas suaranya.


"Bah, ibu ini macam mana pula. Sekolah ini memang bukan punya nenek moyangnya Kafka, tapi punya kakeknya. Apa ibu sudah lupa?" oceh Sanz yang hari ini juga datang terlambat.


"DIAM KAU." Bu Duma kembali murka, wajahnya sangat memerah, membuat nyali Sanz menciut.


"Shyutt, Bu jangan keras-keras. Yang lain lagi pada belajar nanti mereka terganggu lo." kini giliran Samudra yang berbicara.


"Kau diam, kalian ini kerjaannya selalu saja membuat onar. Setiap hari telat terus, selalu saja membuat masalah yang membuat kalian bulak balik ruang BK. Kalian tak kasihan apa sama Pak Darmawan yang selalu membuatkan kalian surat cinta. Belum lagi Pak Darmawan pula harus memberikan kalian itu hukuman. Sampai -sampai ia bingung pula, karena hampir kewalahan menghadapi kalian yang terlalu sering bikin onar. Tangan saya juga sampai kapalan menulis nama kalian itu di buku ini." oceh Bu Duma dengan nada yang agak lembut sedikit.


Bu Duma melirik penampilan Kafka yang datang dengan penampilan yang kacau balau.


"Dan kamu Kafka, macam mana pula baju mu itu berantakan. Membuat pandangan saya menjadi pusing. Kemana dasi kau? Baju di keluarkan begitu, sepatu mu berwarna merah, belum lagi rompi kau tidak kau kancing kan. Macam mana kau ini Kafka." Bu Duma menggeleng.


"Kalian ikut saya kelapangan." perintah Bu Duma menggiring mereka dengan wajah yang kesal.


"Mau ngapain Bu.l?" tanya Samudera.


"Mau gantung kalian semua di tiang bendera." jawab Bu Duma.


"Emang tiangnya gak akan rubuh Bu, kalau kita semua di gantung bareng-bareng di sana? Di pikir kita bendera kali, yang bobotnya ringan." protes Sanz.


"Diam kau Sanz, sekarang kalian bertiga hormat di depan tiang bendera sampai jam istirahat berbunyi. Jangan coba-coba kabur. Saya pantau kalian dari ruang kelas." Intruksi Bu Duma dan langsung melangkah meninggalkan mereka bertiga.


"Apaan lagi tuh bahasa Gecu?" tanya Sanz bingung.


"Gemoy dan lucu, ogeb." jawab Samudera terkekeh pelan.


"Ciah, garing." ledek Sanz.


Setelah memastikan Bu Duma pergi dan menghilang dari pandangannya, Kafka meninggalkan lapangan dan melangkah ke arah rooftop yang berada di belakang gedung sekolah.


"Eh, Bos mau kemana?" tanya Sanz dan Samudera kompak.


Namun sang empu yang di maksud mereka pun tidak sama sekali menggubris, ia hanya berjalan lurus.


Sedangkan Sanz yang melihat Kafka berjalan tanpa menggubris perkataannya pun akhirnya hanya mampu membuntuti.


"Telat lagi kamu? Pasti lagi di hukum di lapangan? Tapi dengan santainya kamu malah lari ke arah rooftop." ujar gadis berambut sebahu yang bertemu Kafka di tangga rooftop.


"Eh neng Luna, kenapa ada disini?" tanya Sanz sambil cengengesan.


"Ngapain lo disini, bukannya di kelas?" Kafka.

__ADS_1


"Galak amat, nanyanya." Sanz.


Namun Kafka hanya melirik sebentar dan kini kembali menatap Luna.


"Aku lagi pemeriksaan, apa ada siswa yang datang ke sini atau enggak. Tadi sih aman, gak ada siapa-siapa. Eh, justru sekarang aku bertemu kalian berdua yang malah mau naik ke rooftop." jelas Luna.


"Nama kalian berdua mau aku tulis di buku ini?" Luna menunjukan buku penertiban yang berada di tangan nya. "Kalau kalian masih mau nyoba nerusin langkah kalian naik ke atas."


"Gue cuma mau ngerokok sebatang, abis itu cabut ke kelas." Kafka.


"Gak bisa kaf, kamu harus turun dan balik lagi ke lapangan. Bukan ke kelas, yang ada malah hukuman kamu di tambah nanti."


"Bentar." ucap Kafka.


"Kaf, aku minta kamu balik ke lapangan sekarang."


"Lo yang anter gue?"


"Kenapa harus aku, kaf? Kan kamu bisa balik sama Sanz."


"Lo kaya gak tau Kafka aja, udah anter Lun. Dari pada gak mau nurut tuh bocah." ledek Sanz dengan senyum mengejek.


"Ya udah, ayo." melenggang pergi ke lapangan.


Sementara Samudera yang tidak mengikuti Kafka dan Sanz. Malahan justru sekarang sedang asik berada di kantin menikmati nasi goreng dan es teh manisnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Derap langkah kaki yang mengenakan sepatu high heels bergema di ruang kantin. Samudera tak menghiraukan seseorang yang tengah berjalan kearahnya.


"SAMUDERA? PANTAS YA, SAYA CARI KEMANA-MANA TIDAK ADA. RUPANYA KAMU SEDANG ENAK-ENAKAN MENYANTAP NASI GORENG DISINI." Murka Bu Duma sambil menjewer telinga sebelah kiri Samudera.


"Aduh, duh, duh, aduh, sakit Bu. Perut saya keroncongan Bu tadi. Makanya saya sarapan dulu." Pekik Samudera kesakitan.


"SAYA ENGGAK MAU TAU. SEKARANG KEMANA KAFKA DAN SANZ?" teriak Bu Duma menggelegar di seluruh ruang kantin.


"Mereka ke rooftop Bu."


"Kamu ikut saya kembali ke lapangan. Hukuman kamu saya tambah nanti."


"Tapi Bu??"

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian." ucap Bu Duma mengomel.


__ADS_2