
•Happy Reading •
Udara di minggu pagi ini begitu sangat sejuk, sinar matahari pagi yang nampak tak terlalu panas mulai menyibak di sela-sela jendela kamar milik Alta. Gadis itu tengah membuka jendela kamar nya lebar-lebar dengan wajah senangnya sehabis menyelesaikan kegiatan membersihkan tubuh nya dikamar mandi.
"Jess, ayok bangun."
Jessie menggeliat, "Emang udah jam berapa?"
"Jam 7 pagi" Ucap Alta sambil berjalan menuju kaca rias untuk mengeringkan dan menata rambut panjang nya.
"Ya ampun Al, masih pagi banget. Ini hari minggu gue mau rebahan puas di atas kasur."
Alta terkekeh pelan. "Tapi Cowok lo udah bangun dan lagi sarapan bareng cowok gue di bawah. Bangun cepet. Gue tunggu di bawah gak pakai L, oke!!"
"Em, gue mandi dulu! "
Setelah menjawab dengan anggukkan, Alta langsung berjalan keluar kamarnya. Ia menuruni tangga dengan sedikit cepat.
Senyum gadis itu merekah, kaki kecilnya dengan cepat menghampiri Kafka yang kini menatapnya dengan senyuman tulus yang selalu ia berikan kepada gadis keras kepala yang selalu berhasil memporak porandakan perasaannya. Kafka langsung berdiri dan merentangkan kedua tangan nya, meminta pelukan.
Alta yang melihat itu pun dengan cepat berlari kecil. Dan tepat! Alta kini berada di pelukan pemuda tampan yang sudah terlihat mempesona dengan rambut yang masih basah namun tertata rapih. Kafka dengan lembut mengusap pucuk kepala Alta lalu memberikan sedikit kecupan ringan di pucuk kepala tersebut. "Morning be!!"
"Morning too dear!"
Kafka tersenyum bahagia. Baru hari ini ia mendengar Alta yang memanggilnya dengan kata sayang. Hampir saja Kafka jadi salah tingkah. Kalau saja tidak ada Gaishan yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik mereka. Namun dengan cepat Kafka merespon dengan tingkah senormal mungkin agar tak dapat ejekan dari sahabat nya itu.
"Gausah segitunya ngeliatin gue." Kata Kafka sembari menuntun Alta untuk duduk bersamanya.
__ADS_1
"Mau sarapan apa? "
"Sarapan mie nya kang Eman aja boleh?"
"Nggak!!" Jawab nya singkat, padat, dan jelas.
"Please, kali ini aja. Lagi pingin mie kornet kang Eman." Mohon Alta.
"Promise just this once. (Janji kali ini aja) "
Alta mengangguk, gadis itu kini menghadap Kafka. Matanya menatap Kafka yang juga sedari tadi menatapnya "Em, promise."
"Good Girl. Kita tunggu Jessie dulu."
...****************...
"Happy sunday your friends." Jawab Aleshaqi, sambil menyambut high five (tos) dari Ali.
Ali dengan senyum merekah pun mulai menjalankan aksinya saat melihat banyak cewek-cewek cantik sedang duduk di pinggiran selepas mereka berolahraga. Sayang jika dianggurin, siapa tau akan ada salah satu yang mungkin bisa kecantol.
Parkiran di pinggir kali yang biasanya sepi kini di setiap malam minggu maupun minggu pagi akan di penuhi oleh berbagai kalangan. Sisi sebelah kanan sudah di penuhi oleh sebagian anggota dari Waldemarr, ada yang sarapan, ada yang mabar, dan ada pula bernyanyi ria. sedangkan di sisi sebagian sebelah kiri sudah di penuhi berbagai orang yang kebanyakan kalangan muda terutama segerombolan cewek.
"Hay, Cantik." Sapa Ali kepada segerombolan cewek yang duduk tak jauh dari meja yang Ali duduki bersama Aleshaqi untuk memulai aksinya. Sedangkan cewek cantik yang di sapa oleh Ali pun tersenyum centil sebagai respon.
"Makan ubi bareng Yayuk, pacaran mau yuk?"
Ya Tuhan, perasaan anggota inti Waldemarr yang lainnya tak semurahan ini. Seketika Jessie dan Alta bergidik ngeri ketika baru saja tiba di warung kang Eman dan mendengar ucapan Ali.
__ADS_1
"ALI, INGET WOY. ADA HATI YANG HARUS LO JAGA." Teriak Jessie iseng. Sambil berjalan melewati anggota Waldemarr.
"TAU, NGGAK KASIHAN APA LO SAMA BINI LO YANG LAGI HAMIL GEDE DI RUMAH." Sahut Alta tak kalah kencang, agar segerombolan cewek itu mendengar nya. Membuat Ali merenggut pasrah. Sedangkan anggota Waldemarr yang lain tertawa atas perkataan Queen bos mereka.
"Bangs*t, gagal lagi aja gue ngelobi. Sial*n emang perempuan nya si bos. Kalau udah nyeletuk bikin semua bubar." Celetuk Ali.
"Lagian gobl*k, jadi anggota inti Waldemarr ngapain murahan banget lo. Gak perlu murahan, nanti juga ada yang berkualitas nyamperin sendiri." Saut Kafka, menepuk pundak Ali.
"Tau lo. Classy sedikit lah, brothers." Sambar Gaishan tak habis pikir.
"Frustasi dia bos, jomblo berakar. Dari masa ke masa perjalan di hidup dia selalu aja tak menemukan jodoh." Kata Chalief, membuat Ali menatap teman-temannya kesal.
"JURIG JARIAN LO!! KALAU AJA GUE BESTIAN SAMA MALAIKAT PENCABUT NYAWA. UDAH GUE REQUES LO SEMUA BUAT DI CABUT NYAWANYA SEKARANG JUGA." Seru Ali begitu kesal.
"Ucapan lo sembarangan, gobl*k!!" Ucap Sanz menoyor kepala Ali pelan sambil menarik diri untuk segera duduk bergabung di meja Kafka.
"Markas aman?"
"Aman Kaf" Jawab Sanz, lalu tak lagi menghiraukan Kafka yang sibuk memesan mie instan. Sanz lebih tertarik melihat kearah seorang gadis yang baru saja turun dari mobil Suzuki Swift berwarna yellow. Gadis berambut hitam panjang itu terlihat lebih cantik pagi ini. "Morning Cherry!" Sapa Sanz.
Seketika Cherry langsung menengok ke arah Sanz. Ia menatap Sanz datar. Bukan nya menyahut, gadis itu memilih cuek, mengedikkan bahu acuh lalu melewati nya santai tanpa membalas sapaan Sanz.
"Bangs*t, gue di cuekin!" Kata Sanz tak Terima.
"Ftttfffttt, Seorang Sans Einata dikacangin? Dahlah, predikat si Iblis berwujud malaikat detik ini luntur!" Oceh Ali menahan tawanya.
"Lihat aja, bentar lagi tuh cewek pasti luluh sama gue!"
__ADS_1
Aleshaqi mendengus "Perasaan dari kemarin begitu aja omongan lo."