
•HAPPY READING•
Alta yang tengah berbaring sambil mendengarkan sebuah lagu melalui earphone, mendadak mematikan putaran lagu di handphone miliknya karena samar-samar terdengar suara ketukan pintu. Alta menoleh pelan kearah pintu memastikan bahwa kalau yang ia dengar memang suara ketukan.
"Siapa?" tanya Alta dari posisinya saat ini. Tetapi tidak ada jawaban yang Alta dapatkan hanya ketukan pintu yang kembali terulang dengan tempo yang sama membuat Alta akhirnya bangkit dan berjalan pelan menuju ke arah pintu kamar Kafka.
Alta mengerjap pelan ketika mendapati sosok Pemuda tampan dengan style celana pendek coksu di mix kaos hitam polos di tambah rambut yang masih terlihat basah tengah berdiri di hadapannya.
"Be,"
Alta sontak menghindar ketika pemuda yang berada di depan nya hendak berniat menggenggam tangan nya. "Kenapa?" tanya Alta, membuat Kafka terdiam saja.
"Kalau emang gak ada yang mau lo omongin lebih baik keluar aja." Alta hendak menutup kembali pintu.
"Sebentar, lo lagi ngusir gue? Kan gue yang punya kamar."
"Ya udah kalau gitu gue yang keluar."
Kafka menarik lembut lengan Alta dan langsung di tepis oleh Gadis itu. "Awas, gue mau keluar."
"Mau keluar kemana malam-malam begini?"
"Mau pulang gue, minggir."
"Enggak."
"Gue males Kaf kalau harus debat lagi, capek tau. Please kali ini aja lo kasih pengertian lo buat gue, oke."
Kafka menggeleng, "Sini gue peluk biar capeknya hilang. Baikkan gue?" Kafka merentangkan tangannya untuk menerima Alta masuk kedalam rengkuhannya.
"Lo emang baik, paling baik malah. Apa lagi sama orang yang lo sayang jadi gak bisa nolak." ketusnya, Alta memilih meninggalkan Kafka. Gadis itu melangkah keluar dari dalam kamar menuju tangga yang mengarah pada lantai ruang keluarga. Langkah nya terhenti saat Kafka merengkuh Gadis itu dari arah belakang.
"We finish now, Be." lirih Kafka dengan dagu yang masih ia tumpukan di atas kepala Alta.
"Lepasin anj*r" menabok tangan Kafka pelan.
__ADS_1
Alta dapat merasakan penolakan yang di berikan Kafka dengan pemuda itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Gue gak mau."
"Lepas, atau gue teriak."
"Teriak aja."
"Ish," Alta berdecak tak suka. "Lepas, lo mau lepasin atau lo gak akan pernah liat gue lagi." ancamnya.
"BE." Kafka langsung melepaskan kedua tangan nya.
Alta memejamkan mata mendengar intonasi bicara Kafka yang meninggi, Gadis itu sangat tahu kalau Pemuda itu benar-benar tidak menyukai ucapannya dan tengah menahan emosi.
"Lo bentak gue." wajah Gadis itu sudah sepenuh nya menatap penuh wajah Kafka.
Seakan tak ingin kalah, Pemuda itu pun menatap balik Gadis di depannya.
"Gue gak suka sama apa yang barusan keluar dari mulut lo, Be."
"Kalau emang nggak suka seharusnya lo lepasin dari awal, Kaf." setelah mengatakan ucapannya, Alta menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan isak tanggis yang belakangan ini lebih gampang keluar. Kafka diam mendengar penuturan getir dari Alta, suara Gadis itu bergetar. Kafka sama sekali tidak lagi menatap Gadis itu.
Hembusan napas berat terdengar dari diri Kafka. "Gue minta maaf Be, entah untuk kesalahan gue yang mana. Karena gue hanya mampu untuk mengatakan maaf."
"Kalau nanti ternyata hati lo kalah buat gak berniat jauhin gue, tolong bilang ke gue, Be. Biar nanti hati lo gue jemput lagi."
"Tapi kalau lo bertahan untuk nggak balik ke gue jangan lupa juga lo bilang, biar gue tau posisi gue. Ternyata saat ini memaksakan gue dan lo baik-baik aja cuma akan saling nyakitin hati kita masing-masing."
"CAN STOP." teriak Alta.
Kafka menghembuskan napas nya perlahan. Ia menahan kuat emosi yang sebenar nya sudah ingin meledak. Sejujur nya ia tidak ingin berhenti di sini tetapi melihat sikap Alta, justru akan membuat hati Alta akan semakin sakit. Bukan kah ia memang seharus nya bersikap untuk bisa mengerti Alta. Toh ia juga sudah menjelas kan dengan sejujur nya, mungkin Alta membutuh kan sedikit waktu untuk dapat mengerti dan memahami.
Ucapan Kafka berhasil membuat Alta lagi-lagi merasa sesak, matanya kian memanas. Bahkan, bagian dadanya terasa amat nyeri.
"Gue benci lo Kafka!" sarkas Alta. Bukan seperti ini yang Alta inginkan, hati dan pikirannya benar-benar berperang dan saling bertolak belakang.
Kafka mengangguk paham, "Maaf Be, maaf kalau hadirnya gue bikin hati lo sakit dan gak nyaman."
__ADS_1
Alta menggeleng.
"Ini yang lo mau kan?" nada bicara Kafka tak lagi terdengar tinggi, sekarang suara itu cenderung terdengar lirih.
"Mulai sekarang gue gak akan nahan lo lagi buat bertahan dan mulai sekarang gue akan biarin lo istirahat dari rasa lelah lo, kalau lo udah pulih dan kita bisa sama-sama lagi atau bahkan tidak. Sekali lagi gue minta tolong buat lo bilang ke gue."
"Semudah itu? Lo bahkan bikin gue makin gak percaya sama lo!!"
Bugkh!!
Kafka meninjukan kepalan tangannya ke dinding, Menyalurkan semua emosi yang sejak beberapa hari ia tahan.
"Mau lo tuh sebenenya apa sih? Apa emang selama ini lo pernah percaya sama gue? Nggak kan? Bibir lo mungkin berkata iya, tapi justru sikap lo nunjukin kalau lo itu sepenuhnya gak percaya gue." Kafka mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia takut emosinya semakin tersulut.
Apakah kalian pikir Kafka sanggup mengatakan hal semacam ini pada orang yang ia sayangi? Apakah kalian pikir Kafka mampu bersikap seperti ini? Tidak, sama sekai tidak. Justru malah orang yang paling tersakiti disini adalah Kafka sendiri. Ia bingung harus bersikap seperti apa? Mengerti? Ia sudah berusaha mencoba mengerti. Bersabar? Itu pun sudah ia lakukan. Bahkan meminta maaf pun sudah ia jalankan. Tapi apa? Apa semuanya menjadi lebih baik? Nyatanya semua itu tidak menjamin hubungannya membaik.
Alta sendiri yang membuat Kafka akhirnya memutuskan untuk melepaskan. Mungkin jika hubungan mereka tetap ada, Alta hanya akan berpura-pura bahagia dan Kafka malah akan menyakiti.
Alta sudah menangis, kenapa harus menangis? Bukan kah ini yang Alta inginkan, lalu mengapa justru terasa begitu berat. Masalah kecil yang seharusnya dapat mereka perbaiki malah merembet menjadi besar seperti ini.
Siapakah yang harus di salahkan dalam peliknya permasalahan ini?
"KAFKA." teriak Bunda dari arah bawah sontak membuat Kafka menoleh. Bunda berjalan mendekat lalu mulai menaiki anak tangga.
"Jangan nangis, Be. Ini akan semakin buat gue jadi semakin sakit lagi." Kafka menghapus pelan air mata Alta yang terus terjatuh menggunakan ibu jarinya. "I Love you and will forever continue to love you. (Gue mencintai lo dan akan terus menintai lo.)" setelah mengatakan itu Kafka memilih pergi dan langsung menuruni anak tangga.
"Maaf, Bun." ucapnya ketik ia dan Bunda tengah berpapasan di tangga. Membuat Bunda mengerti lalu tersenyum bangga atas keputusan terbaik yang sudah pemuda itu pilih. Semuanya akan baik-baik saja nantinya jika keputusan itu, tepat.
Sebagai seorang Ibu, Bunda akan selalu mendukung keputusan terbaik anaknya jika itu adalah pilihan yang benar. Agar tidak ada yang tersakiti lebih dalam dan membekas menjadi sebuah kebencian. Karena Bunda begitu menyayangi keduanya. Sehingga tidak ingin melihat kedua anak tersayangnya malah menjadi saling membenci.
Sedangkan Alta kini malah tenggah menangis sambil berjongkok. Pertahanan Alta runtuh, kepala Gadis itu menunduk bahkan ia menggigit bibirnya kuat-kuat, mencoba menahan rasa sesak pada bagian dada. Tangan mungilnya mencengkram kuat-kuat hoodie hitam yang ia gunakan.
Hanya sampai di sini kah perjuangan mereka dalam mempertahan kan hubungan ini? Kafka menyerah dengan mengakhiri sedangkan Alta terlalu egois dan gengsi untuk mengatakan apa yang ia rasakan.
Sering sekali kita tidak menyadari ke egoisan dan rasa gengsi itu bisa menjadi penyebab dasar dari kandasnya sebuah hubungan_
__ADS_1
Akankah Alta benar-benar meenjadi pemenang dalam cerita ini? Apakah hubungan mereka kembali menyatu? Ataukah mereka malah justru menjauh? Coba kasih masukan buat ending mereka di komen ya.
Terimakasih.....☺️