KAFKA

KAFKA
TITISAN MBAK KUN


__ADS_3

•Happy Reading•


Alta, Jessie, dan Cherry tertawa terbahak-bahak karena candaan Ali dan Aleshaqi yang terus saja terlontar dari mulut ke duanya. Mereka membuat lelucon yang terus saja menggelitik sehingga tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


"Anj*r, berasa kaya nonton Lapor Pak gue, ngakak terus." seru Cherry masih terkekeh geli.


Sedangkan anggota inti lainnya sedang di sibukkan dengan tumpukan kardus-kardus yang baru saja di turunkan dari mobil pickup sebuah toko. Gaishan dan Chalief tengah mengangkat kardus yang berisikan baju-baju dan perlengkapan sekolah pun kini geram melihat tingkah Ali dan Aleshaqi yang terlihat bersenda gurau tanpa berniat membantu.


"Woy, bantuin ogeb. Malah leha-leha lo berdua." sarkas Gaishan. "Leader lo aja kerja."


Ali terkekeh kecil "lni lo gak lihat, gue lagi kerja bantuin lo pada."


"Bantuin apaan?" ketus Chalief.


"Bantuin doa dan menghibur para ciwi-ciwi"


"Ye si gobl*k." protes Gaishan dan Chalief yang tak terima.


Kafka yang kini tengah memindahkan kardus berisikan susu pun ikut angkat bicara. "Kerja lo berdua bantuin yang lain. Noh, Bantuin Sanz di depan yang lagi masukin beberapa sembako dan beberapa kardus pakaian ke dalam mobil Jessie dan Cherry."


Ali dan Aleshaqi pun langsung mengangguk mengerti dan segera berlari kearah gerbang untuk ikut membantu Sanz dan beberapa anak biasa.


"Kita ikut Bantuin apaan nih, kaf?" tanya Jessie yang juga di susul anggukan kepala oleh Alta dan juga Cherry.


"Gak usah, lo bertiga duduk aja lihatin kita. Biar yang cowok-cowok aja yang kerja."


"Tapi, kita gak enak lah Kaf, kalau cuma hanya diam duduk santai disini sedangkan yang lainnya pada sibuk."


Kafka menyelesaikan pekerjaan nya, lalu kakinya melangkah menuju ke arah di mana Alta kini duduk. Ia mendekat, "Lo semua gak perlu kerja disini, cukup bantuin doa aja." ucapnya sambil mengusap lembut pucuk kepala Alta dan duduk di sampingnya. "Mau pulang?"


Alta tersenyum, "Belum, mau nungguin Jessie dan Cherry pulang dulu baru gue pulang."


Kafka mengangguk mengerti, "Laper?"


"Em?" Alta masih berpikir sejenak.


"Gue kaf yang laper. Kalau Alta sih kayanya udah kenyang deh sama perlakuan lo yang sweet banget dari tadi" sentak Cherry, memotong ucapan Alta.


"Ye, Malih. Yang di tanya siapa yang jawab siapa lo" protes Jessie.


"Habis nya dari tadi gue lihat ke uwaw'an lo berdua mulu. Jessie yang di perhatiin Gaishan, Alta sama Kafka, sedangkan gue sama siapa? Nasib jomblo ngenes gue."


"KAFKA GANTENG." teriak Ali mengalihkan atensi mereka berempat. Kafka yang nama nya dipanggil pun segera menoleh kebelakang, menaikan satu alisnya. "Apa?"


Ali tersenyum manis, sambil berjalan mendekat. "Bagi gue duit dong kaf, buat anak-anak makan. Mereka sudah selesai masukin semua dus ke mobil Jessie, Cherry, lo, dan Sanz."


"Panggil Gaishan dan anak-anak kesini, kita kumpul dulu." titah sang Leader.


"Oke siap 86" serunya, lantas langsung berlari keluar.


Hanya beberapa detik dari pemberitahuan yang di informasikan Ali, semua anak inti dan anak biasa pun sudah berkumpul di ruang tengah.


"Gaish, sisa uang belanjaan yang tadi berapa?" tanya Kafka.


"Sisa sembilan ratus tujuh puluh enam ribu, kaf!"


Kafka mengangguk mengerti. "Lo semua mau makan apa?"


"Apa aja Bos kita mah, gak milih-milih. Di sediain kita makan, gak disediain wah parah si lo Bos, kebangetan pelit." ucap salah satu anggota biasa.


"Sial*n, emang nya lo semua pernah gak di jamin semuanya di sini? Lo semua gak pernah gak di jamin makan nya sama Kafka?" kini Gaishan yang menjawab selaku kaki tangan Kafka yang juga mengatur seluruh keperluan anak-anak anggota Waldemarr. Mereka langsung menunduk dalam, takut-takut jika Gaishan mengamuk tak terima dengan candaan tadi.

__ADS_1


"Udah, udah, lo nggak usah ngeng juga, Gaish. si Naya cuma bercanda." seru Ali menengahi.


Gaishan berdecih, "Becanda sih gak ngenal waktu yang tepat."


"Sorry Gaish, sorry kaf." seru Naya meminta maaf dengan pelan, menunduk takut.


"Udah Gaish, beliin mereka pecel ayam di warung depan aja." ujar Sanz.


...****************...


Dering sebuah alarm handphone miliknya bersuara dengan begitu keras memenuhi ruang kamarnya, sehingga membangun kan sang empu. Di raih nya handphone tersebut dan waktu kini menunjukkan pukul 06.00 pagi. Kafka melangkah masuk kedalam toilet, melakukan ritual mandinya dalam beberapa menit kemudian ia melangkah keluar, menuju kearah walk in closet. Meraih kaos hitam polos, celana jeans hitam. Setelah rapih ia kembali melangkah keluar kamar untuk turun sarapan.


Kini di ruang makan sudah ada Zidane Wiguna Keizkara selaku Ayah Kafka yang sedang menikmati secangkir kopi hitam, sembari memegang iPad mengupdate berita terbaru tentang dunia perbisnisan. Ia melihat anak lelakinya yang kini melangkah menuruni anak tangga, wajah Kafka nyaris begitu sama persis dengan dirinya di waktu usia muda, begitu tampan, berkarisma seorang pemimpin handal. Tak heran jika beberapa dari kolega nya banyak yang memintanya untuk mengenalkan Kafka bahkan tak jarang meminta menjodohkan Kafka bersama anak-anak mereka. Sedangkan Revielta selaku Ibu kandung Kafka sedang sibuk menikmati sarapan. Mereka berdua tersenyum menyambut kedatangan Kafka anak lelaki satu-satunya pasangan itu.


"Sejak kapan Ayah sudah kembali pulang ke rumah?" tanya Kafka kepada Zidane.


Zidane menghela napas nya perlahan "Baru tadi malam, memang nya Ayah tidak boleh kembali pulang kerumah Ayah sendiri?" tanya nya dengan mata sendu menatap Kafka.


Kafka terkekeh mengejek "Boleh, ini kan rumah Ayah sendiri."


"Kafka, nada bicaranya yang sopan, sayang."


"Iya Bun."


"Mau sarapan sekarang A?" tanya Bi Mae kepada Kafka. Kafka dengan cepat menggeleng. "Tolong buatin Kafka susu aja, Mbu. Kafka mau sarapan pagi di rumah Alta, sekalian jemput."


"Baik A." jawab Bi Mae dan segera berlalu pergi kembali ke dapur.


"Siapa Alta?" tanya Zidane, menatap kearah anak lelakinya dengan tatapan mata menuntut jawaban.


"Perempuan Kafka." seru nya santai, namun terdengar lantang, tegas, tak terbantahkan.


"Maksudnya pacar?"


"Bawa pacar kamu kerumah untuk temuin Ayah."


"Atur aja dulu schedule Ayah, kalau gak sibuk. Aku akan bawa Alta untuk temuin Ayah."


"Akhirnya, mantu Bunda gak cuma sekedar daftar. Tapi sudah lolos sekarang." ledek Bunda Revielta, namun suaminya memandang heran akan ucapan istrinya barusan.


"Nanti aku ceritakan." mengusap lembut punggung tangan suaminya.


Kafka berdiri dari duduknya, ia meraih jaket dan kunci motor yang memang selalu tergeletak di atas nakas ruang televisi.


"Ayah, Bunda, Kafka berangkat" pamit Kafka menyalami tangan keduanya.


...****************...


Deru motor yang dikendarai Kafka kini berhenti di pekarangan rumah Alta. Matanya kini menemukan sosok Bi Aminarti yang sedang menyiram tanaman, kemudian ia menghampiri untuk menyapa.


"Langsung masuk aja Den, tangan bibik kotor."


"Oke bi, yang semangat kerja nya, ya?"


"Asiyap den" jawabnya sambil tersenyum ramah.


Kafka langsung kembali melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah Alta. Pemuda itu terlihat begitu tampan dengan style kaos hitam polos berbalut jaket hitam Waldemarr dan celana jeans hitam yang sedikit robek di bagian dengkul serta sepatu putih bermerk terkenal.


"Assalamualaikum," seru Kafka sesaat ia masuk kedalam rumah Alta.


"Wa'alaikumsalam" jawab Gaby, sambil berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk Kafka Salami.

__ADS_1


"Tan, Alta nya udah rapih?"


"Kamu naik ke atas aja ya Kaf, Tante buru-buru mau ke butik. Sudah di tunggu meeting."


"Nggak apa-apa Tan kalau Kafka keatas?"


"Iya, tapi jangan macem-macem kamu!"


"Ya sudah Kafka naik keatas. Tapi Kafka izin ajak Alta buat liburan sambil bakti sosial ya, Tan?"


"Iya, semalam Alta juga sudah bicara dan meminta izin kepada Papahnya untuk ikut kamu."


"Di bolehin, Tan?" tanya Kafka yang berdiri di anak tangga ke-tiga.


"Selama itu kegiatan baik dan positif, Papah nya Alta mendukung dan memberikan izin kepada Alta."


"Syukur deh Tan, jadi Kafka tenang kalau Alta memang sudah izin. Nanti Kafka juga akan izin kembali ke Om Arta by phone."


"Iya, Tante jalan dulu. Kamu bangunin Alta langsung saja, takut kesiangan karena tujuan kalian itu jauh."


"Oke Tan." melanjutkan langkahnya.


Kafka membuka pintu kamar kekasihnya yang tidak terkunci, lalu ia menyibak gorden kamar Alta yang masih tertutup sedikit agar cahaya pagi dapat masuk ke dalam lalu duduk di pinggir bed, mengusap lembut pipi gadis itu. "Be, bangun udah siang, lo gak jadi ikut?" bisik pemuda itu.


Gadis nya mengerjap-ngerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya karena telah terusik tidurnya oleh rasa geli yang menjalar terasa di telinga. "Lo udah Dateng?"


Kafka mengangguk "Siap-siap sekarang, anak-anak yang lain sudah kumpul di markas."


"Iya, lo tunggu disini aja."


" Em,"


Alta langsung berangsur bangun meninggalkan Kafka menuju ritual mandinya.


...****************...


Sanz tengah mengendarai motor sport nya di badan jalan yang terbilang lancar dengan kecepatan sedang untuk menjemput Cherry. Pasalnya gadis itu pulang semalam diantar oleh dirinya karena gadis itu dengan sengaja tidak membawa mobil.


Lelaki itu memasuki kawasan perumahan elite untuk menuju rumah Cherry. Ternyata gadis itu sudah berdiri menunggu Sanz dengan begitu cantik. Kemeja hitam yang di balut dengan celana jeans hitam beige serta sepatu sneaker putih dan rambut terurai bebas berterbangan tertiup semilir angin pagi.


"Astaghfirullah, sadar Sanz. Jangan coba-coba demen sama anak macan begitu. Lama-lama badan lo ilang sebelah di garot tuh macan." Gumamnya sendiri, sesaat melihat paras cantik dari sosok Cherry.


Motornya perlahan-lahan melaju mendekati Cherry. "Udah lama lo berdiri disitu?" tanya Sanz.


Cherry mendengus kesal, "Siapa bilang gue berdiri, gue melayang." jawabnya ketus karena hampir sepuluh menit Cherry berdiri menunggu Sanz. Dan ia langsung saja menaiki motor sport Sanz tanpa aba-aba.


Sanz terkekeh kecil "Mau pakai helm nya gak mbak?" tanya Sanz iseng meledek Cherry bagai tukang ojol yang mau mengantarkan penumpangnya.


"Gak usah, biar kepala gue terbang." jawab Cherry lagi dan lagi asal jeplak, sukses membuat Sanz tertawa kencang.


"Lo kira kepala lo balon. Susah ya ngomong sama titisan mbak Kun." pemuda itu terkekeh kencang sambil melajukan motornya ke badan jalan.


Cherry berdecak kesal, kini tangan nya dengan enteng menoyor bagian kepala belakang Sanz. Lagi dan lagi sukses membuat Sanz tertawa kencang. "Pegangan Cherr, gue mau ngebut." tangan kiri Sanz meraih pergelangan tangan Cherry. Cherry menurut saja dan langsung memeluk pemuda tampan di depan nya.


"Cie, nyaman kan lo meluk gue? Lain kali kalau lo butuh pelukan, lo bisa langsung telpon gue." tutur Sanz.


Cherry menangapi dengan kekehan mengejeknya. "telpon lo?"


"Iya lah, lo mau telpon siapa lagi."


"Oh, sampingan lo sekarang jasa penyedot wc?" serunya asal.

__ADS_1


"Bangs*t lo, masa gue ganteng-ganteng begini lo samain sama tukang sedot wc, sih Cherr. Bau Tokai dong gue." kesel Sanz.


Cherry tertawa kencang membuat semua pengendara yang berada di dekatnya menoleh memandangi keduanya remaja itu heran. Keduanya tak menghiraukan pandangan aneh para pengendara lain nya. Dua sejoli itu asik bercanda dan melontarkan tawanya di sela-sela perjalan mereka hingga sampai di markas.


__ADS_2