KAFKA

KAFKA
ADA HATI LAIN YANG LO BIKIN SAKIT


__ADS_3

•Happy Reading•


Markas adalah tempat ia kembali pulang. Baginya, tempat ternyaman untuk ia kembali adalah markas, dimana ia merasa dihargai, dimana ia bisa menemukannya arti dari kebersamaan, dimana ia bisa berbagi cerita, dimana ia bisa sedikit tersenyum atas ulah konyol teman-temannya, bahkan ulah konyol keempat sahabat terbaiknya.


Meskipun terkadang membuat kepala pusing tapi disinilah rumah ia kembali dari peliknya permasalahan hidup yang ia hadapi di luar sana.


Kafka menyandarkan tubuh di kursi kepemilikan dirinya di markas. Kepalanya mengadah ke atas sembari memejamkan mata. Sesekali terlintas bayang-bayang punggung Alta yang pergi menjauh dari tatapan matanya.


Pemuda itu berdecak kesal menahan sakit atas ucapan terakhir Alta yang terdengar begitu ambigu di telinganya.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perkataan Alta yang ingin pergi dalam artian pergi selamanya dari hidup pemuda itu, rasanya terlalu sakit jika maksud arti dari Alta adalah pernyataan itu bukan?


Sanz yang menyadari Kafka begitu murung, langsung datang menghampiri sahabatnya.


"Kenapa ente Bos? Nggak biasanya muka lo ditekuk dan semrawut gitu, apa masih belum beres masalah lo sama Alta?" Menarik kursi lalu terduduk di sebelah Kafka.

__ADS_1


Kafka menatap kearah depan melihat anggota Waldemarr yang sedang bermain biliar dengan tatapan kosongnya. Lalu didetik berikut nya ia menganggukkan kepala. "Tambah makin semerawut, gue nggak tau kenapa Alta makin kesini semakin buat gue bingung sama sikapnya."


"Wajarlah Kaf kalau dia bersikap seperti itu. Itu namanya cemburu."


"Tapi tidak dengan dia bersikap keterlaluan. Itu terlalu kasar, Sanz."


"Wait." Sedetik ia terdiam, pikiran nya melayang. "Gue bingung nih arah pembicaraan lo itu kemana, lo lagi ngomongin masalah apaan sih? Kenapa jadi Alta yang kasar. Di video itu kan yang terdzolimi Alta dan yang kasar itu Aluna."


"Video?"


"Video apaan yang lo maksud?" Kafka mengusap wajahnya kasar. "Jangan bikin gue tambah pusing kenapa sih Sanz."


"Justru lo nj*ng, yang bikin gue mumet. Kemarin, bukannya lo nanyain tentang Evers Atmosphere kan?"


"To the points aja bisa nggak sih?!"

__ADS_1


"Lah sewot, beneran lo belum tau? Gaishan belum ke rumah lo?"


"Gue bilang to the points, Sanz."


Mendengar itu Sanz membulatkan mata. Ia langsung merogoh ponsel disakunya, kemudian menekan tombol panggilan kepada orang yang ia tuju. Beberapa menit berselang panggilan itu ia akhiri. Ia jadi paham ternyata Gaishan belum memberitahukan masalah video dan bukti-bukti tentang tgl 17 September itu kepada Kafka dan malah membiarkan Alta yang datang kerumah pemuda itu serta menambah masalah baru.


Sanz menjadi paham sekarang, ia menceritakan dari awal tentang bukti-bukti yang mereka dapatkan, rekayasa foto yang di buat Aluna, bahkan memberikan video yang sudah ia dapati dari Unge.


Rahang Kafka mengeras melihat itu, matanya menatap tajam layar ponsel yang ada di hadapannya, tangannya mengepal menahan amarah yang langsung melonjak.


"Sebenarnya yang jahat itu Aluna Kaf, tapi lo malah terkesan membela dia dan mengabaikan orang yang sebenernya hanya ingin di mengerti dan hanya ingin memperjuangkan hubungan nya sama lo."


"Gue berharap lo bener-bener lepasin yang buat lo sakit, perbaiki yang rusak sebelum semuanya semakin rusak dan lo terlambat."


"Gue tau lo udah move-on dari Aluna dan hati lo sepenuhnya buat Alta sekarang. Tapi gue berharap lo mampu menjaga perasaan pasangan lo yang sekarang. Jangan ngerasa nggak enak hati untuk menolak sesuatu yang akhirnya jadi Boomerang buat diri lo sendiri kaf. Lo terlalu nggak enak untuk tegas ke Aluna dan gak mau bikin hatinya sakit. Tapi lo lupa, secara nggak langsung kalau ada hati lain yang justru lo bikin sakit dengan cara yang tidak di sengaja." tambah Ali saat baru saja datang menghampiri kedua sahabatnya.

__ADS_1


Kafka langsung menarik jaketnya. "Thanks borther." berlari dengan terburu-buru, pergi meninggalkan markas.


__ADS_2