KAFKA

KAFKA
BUKANKAH SESEDERHANA ITU UNTUK MENGERTI PEREMPUAN?


__ADS_3

•Happy Reading •


"Mbu, tolong ambilkan handuk baru buat Alta dan kasih ke atas ya, Mbu." kata Kafka ketika ia hendak menuruni anak tangga dan kebetulan melihat Bi Mae sedang berlari kecil kearah pintu utama.


"Baik A, habis ini Mbu langsung kasih handuknya keatas." jawabnya.


"Terima kasih ya Mbu." Kafka langsung melangkah menuju ke kamar mandi tamu dengan membawa handuk yang ia sampirkan di pundak kanannya.


"Kafka" panggil Bunda Revielta.


Kafka melangkah mundur ketika Bundanya ingin memeluk. "Bun, baju Kafka basah, Kafka mau mandi dulu oke?!"


"Tidak apa-apa sayang, Bunda cuma ingin peluk kamu sebentar aja. Bunda kangen banget sama kamu."


Kafka menggeleng pelan. "Nanti aja ya Bun, sehabis Kafka mandi baru boleh Bunda peluk Kafka. Bye Bun."


Kafka langsung masuk kedalam kamar tamu. Sehingga membuat Bunda menaikan alisnya menandakan kalau beliau tengah kebingungan.


"Di kamar A Kafka ada Neng Alta, Nda." jelas Bi Mae menginformasikan.


"Alta ada di kamar Kafka?"


"Iya." jawab Bi Mae hati-hati.


Bunda mengangguk paham seraya tersenyum dan langsung melangkah pergi menuju kamarnya yang di ikuti Bi Mae sambil menarik koper milik nyonya nya itu.


Setelah sampai di kamar milik Bunda Revielta dan menaruh koper tersebut, Bi Mae meminta izin untuk segera pamit pergi.


"Terimakasih ya Mbu."


"Sama-sama Nda, saya permisi."


"Ah, tunggu sebentar. Mereka habis dari mana ya Mbu basah-basahan begitu?"


"Saya tidak tahu, Nda. Mereka pulang kesini sudah dalam keadaan basah kuyup begitu. Tapi memang sempat hujan deras beberapa menit yang lalu, mungkin saat dalam perjalanan pulang mereka kehujanan."


"Tapi mereka baru saja pulang kan?"


Bi Mae mengangguk kecil. "Maaf Nda, tapi saya sempet mendengar perdebatan mereka. Sepertinya mereka lagi bertengkar dan Neng Alta jadi nangis."


"Baik lah, biar nanti saya tanya kan langsung saja pada mereka. Sekali lagi terima kasih ya Mbu."


...****************...


Alta tengah mengelilingi kamar luas Kafka. Gadis itu berhenti pada objek yang cukup menyita perhatiannya. Menatap lama pada bingkai foto besar yang terpajang pada sisi tengah dinding. Memperhatikan foto Kafka yang tengah tersenyum, sungguh terlihat tampan dan manis.


"Anak Bunda ganteng banget kan? Kamu aja sampai terpesona gitu."

__ADS_1


Alta menoleh dan mendapati seorang wanita cantik tengah berdiri di sisi kiri pintu sambil tersenyum kearah nya.


"Bunda" sapa Alta, seketika ia langsung menghampiri Bunda Revielta.


Bunda langsung memeluk Alta dengan sangat erat dan mengecup kedua pipi gadis itu dengan begitu sayang. "Akhirnya Bunda bisa ketemu kamu lagi."


"Bunda apa kabar? Alta kangen sama Bunda. Maaf ya Alta baru main lagi kesini" kata Alta dengan tulus sambil menyalami tangan Bunda "Bunda sudah pulang ya dari jepang?"


"Iya baru aja Bunda pulang beberapa menit yang lalu." jawabnya. "kamu pakai hoodie Kafka?"


"Ah ini Bun, baju Alta..."


"Alta" seka Bunda tiba-tiba. Nada suaranya dan tatapan nya sedikit berubah lebih mengarah ke arah serius.


Alta menatap takut kearah Bunda Revielta yang juga tengah menatap kearah nya.


"Maaf Bun, Alta mohon Bunda jangan salah sangka dulu sama Alta."


"Hey, kenapa jadi takut?! Bunda tidak berpikiran yang macem-macem kok sama kalian. Bunda juga tidak akan memarahi kamu, yang ada justru Bunda cuma mau tanya sama kamu, sayang. Anak nakalnya Bunda sudah ngapain kamu?"


Pertanyaan dari Bunda cukup membuat Alta jadi terdiam dengan keterkejutannya. Alta menghela napas guna menetralkan perasaannya sendiri.


"Alta tidak habis ngapa-ngapain kok sama Kafka. Beneran deh Bun, tadi kita kehujanan saat hendak pulang dari taman kota, Bun." Jelasnya ragu-ragu.


"Bukan itu maksudnya Bunda sayang. Maksud Bunda itu, kenapa anak nakalnya Bunda buat kamu nangis?"


"I'ts oke sayang. Bunda tidak akan memaksakan kamu untuk bercerita pada Bunda. Bunda cuma mau berterima kasih karena kamu mau bertahan sampai saat ini pada anak nakalnya Bunda." Kata Bunda sambil mengusap lembut pucuk kepala Alta.


Gadis itu menghapus air matanya yang turun tanpa sadar.


"Kamu nginep aja disini ya sayang. Biar nanti Bunda yang telpon dan minta izin sama Mamah kamu."


" Tapi Bun?" Kata Alta memelas.


"Besok liburkan? Bunda mau kamu temenin Bunda jalan-jalan."


Bunda menggandeng tangan Alta menuju king size milik anaknya.


Alta menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya pada bord ranjang king size milik kekasihnya. "Baik Bun."


Percuma merengek dan menolak, Bunda akan tetap teguh pada pendiriannya.


"Kamu istirahat saja dulu ya, biar nanti kalau Bi Mae sudah selesai menyiapkan makan malam, Bunda suruh Kafka panggil kamu untuk segera turun." Ucap bunda seiring menutup pintu kamar Kafka.


...****************...


"Bunda."

__ADS_1


Namun sang empu yang sedang di panggil malah justru terdiam menatap anak semata wayangnya dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Bunda ngapain berdiri di situ?" tanya Kafka menautkan kedua alisnya.


"Boleh Bunda masuk?"


Kafka hanya terdiam saja, seakan tersihir oleh Bunda yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar ruang tamu menghampiri nya dan di detik berikutnya tanpa aba-aba lagi Bunda langsung saja memeluk erat tubuh sang putra.


"Bun, apakah proses menjadi seorang laki-laki sejati itu sesulit ini ya? Dan apakah proses menjadi seseorang yang kuat harus sesakit ini, Bun?" Tanya Kafka membuat hati Bunda mencelos.


"Apa ada masalah?" tanya Bunda langsung pada intinya dengan perlahan, dan menatap dengan sorot mata khawatir yang tersembunyi. Bunda sangat mengerti bagaimana sifat anak nya itu, kafka tidak bisa diajak bicara dengan nada yang tinggi, malah justru akan membuat anak itu salah memahami maksud dari lawan bicara nya.


Kafka terdiam, tak mau sama sekali menjawab pertanyaan Bundanya. Bukan karena tidak menghargai tapi ia hanya tidak ingin kembali menguras tenaga hanya untuk kembali berdebat apalagi dengan Bunda.


"Jawab Bunda, apa kamu sedang ada masalah dengan Alta? Masalah apa lagi?"


"Masalah apa lagi?" Kafka balik bertanya, lalu tersenyum remeh pada Bundanya.


"Apa di hidup aku hanya ada masalah, dan masalah, Bun?"


"Bukan seperti itu maksud Bunda."


"Terus maksudnya Bunda itu apa? Ah, Kafka baru sadar kalau Kafka itu memang biang onar, yang selalu buat masalah dan masalah bukan? Apa seburuk itu Kafka dimata kalian?"


Bunda menggeleng pelan, lalu menatap putranya dengan tatapan yang begitu sendu.


"Kamu salah, kamu itu spesial buat Bunda, kamu itu jagoan Bunda, bagi Bunda tidak ada laki-laki hebat di hidup Bunda selain kamu dan Ayah, setelah Bapak (kakek Kafka). Meskipun di luar sana kamu terlihat buruk tapi bagi orang-orang yang mengenal kamu, sayang sama kamu, kamu itu istimewa, kamu keren, kamu luar biasa, dan orang lain yang menganggap kamu buruk adalah orang-orang yang iri dan tak seberuntung kamu sayang."


"Tapi kenapa Alta justru sebaliknya? Alta meragukan Kafka, Bun?!"


"Lihat Bunda." Bunda membuat Kafka menghadap kearahnya.


"Yang Bunda lihat, Alta tidak pernah sekalipun meragukan kamu sayang. Dari tatapannya, begitu tersirat dalam rasa sayangnya untuk kamu dan diiringi dengan rasa kekecewaan. Alta merasa kalau justru dirinya lah yang tak pantas untuk bersama kamu. Kamu tahu bukan, kalau perempuan itu selalu?" Tanya Bunda di akhir kalimatnya.


"Benar." Jawab Kafka.


"Perempuan itu selalu ingin di..?" Lanjut Bunda.


"Mengerti." Kafka lagi-lagi menjawab pertanyaan Bunda dengan santai.


"Bukan kah sesederhana itu untuk bisa mengerti bagaimana seorang perempuan?"


"Dia hanya ingin di mengerti, dia cuma ingin kamu paham kalau dia sesayang itu sama kamu. Jadi mulai sekarang anak nakalnya Bunda harus bisa mengerti Alta bukan? Mengerti keinginan nya saat ini, Bunda minta kamu temui Alta lagi, katakan maaf dan hargai keputusan nya."


Kafka menatap Bundanya dengan tatapan binar sendu, tergetar hatinya mendengar penuturan Bunda yang begitu bisa di pahami tanpa menyudutkan.


Tanpa aba-aba Kafka menyerang Bundanya dengan sebuah pelukan. Pemuda itu memeluk Bunda dengan begitu sangat erat, Menyalurkan semua rasa yang ada di hatinya.

__ADS_1


Rasa hangat langsung menyergap tubuh Kafka, rasa sayang itu membungkus dalam kenyamanan yang sudah lama tak Kafka rasakan. Meskipun terkadang ia merasa kesepian, tapi ia sadar kalau rasa sayang, perhatian dan kepedulian orang tuanya terhadap nya itu tak pernah sedikitpun berkurang semenjak ia kecil. Hanya raganya yang berjauhan tapi rasa dan hati mereka tetap saling menyatu. Seperti halnya yang baru saja diajarkan oleh Bunda nya. Meskipun pada akhirnya Alta meminta untuk menjauh, Kafka hanya harus meyakini dirinya serta menjaga rasa dan hati nya tetap untuk Alta.


__ADS_2