
•Happy Reading•
Hari ini adalah hari terakhir dalam seminggu mereka beraktivitas di sekolah.
Kafka mengeluarkan motor nya dari bagian ruang dalam bagasi menuju gerbang utama. Di mana, sang security pun dengan sigap membuka gerbang utama lebar-lebar.
"Terimakasih Pak, Kafka berangkat."
"Iya Mas hati-hati Yo, ojo ngebut." ucap Pak Aman mengingatkan.
Kafka mengangguk, lantas langsung memakai helm full face hitam miliknya dan di detik kemudian ia langsung melajukan motor besarnya ke badan jalan untuk keluar kompleks perumahan dengan kecepatan sedang.
Di sisi lain, setelah berpamitan pergi kepada kedua orang tua Alta, motor besar Prince sudah berjalan keluar perumahan Alta dengan santai.
"Ngapain lo jemput gue?" tanya Alta sedikit berbicara keras, karena suaranya tenggelam bersamaan dengan suara bising kendaraan.
"Gue pikir lo lagi marahan, sudah pasti gak bakalan di jemput doi. Jadi nya gue inisiatif duluan buat langsung jemput lo!"
"Di jemput siapa?"
"Cowok lo lah"
"Apa?"
"Cowok lo."
"Apaan sih? Gue kaga kedengaran." Alta menempelkan kupingnya ke arah samping kiri Prince seolah-olah seperti sedang memeluknya.
"Lo budek ya? Suara gue udah kaya toak ibu-ibu senam kompleks gue juga."
Alta tertawa nyaring "Kalau suara lo kayak toak, apa kabarnya sama mulut lo Prince?" ucapnya kencang.
Prince hanya tersenyum tipis menanggapi omongan Alta. Pasalnya jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 06.45. "Pegangan yang kencang Al, gue mau ngebut."
"Iya" seru Alta memegang ujung jaket Prince yang tidak di resletingi nya.
Tanpa mereka sadari, di belakang mereka sudah ada pemuda tampan yang sedang mengendarai sepeda motor besar, milik nya. Seluruh gerak-gerik dua remaja itu tak sedikit pun luput dari kedua bola matanya, pemuda itu memandang tak suka kearah mereka. Lalu bergerak melesat begitu saja dengan kecepatan tinggi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.
...****************...
"Ngude beli liu munyi" seru Aleshaqi bernyanyi Kencang di dalam kelas.
"Care bebek kwek kwek kwek kwek" sahut Gaishan, Sanz, Debby, dan Cherry yang memang sudah rusuh sejak tadi.
"Liu munyi ngobral janji" kini giliran bumi bernyanyi Kencang.
"Wa wa wa wa we we we we" kembali Gaishan, Sanz, Debby dan Cherry menyahut.
__ADS_1
Jessie dan Alta yang baru datang masuk bersamaan kedalam kelas pun langsung ikutan bergabung, setelah menaruh tas mereka di bangku masing-masing.
"Sekarang gue yang terusin nyanyi nya, sampai mana?" kata Alta.
"Jungklang jungkling mencintai" jawab Cherry.
"Ulang aja deh, ulang dari awal." pinta Jessie.
"Babe gue minta di ulang Lesh, sini be kamu duduk nya deketan." sunggut Gaishan tersenyum.
"Ck, babe aja lo Gaish. ya kali Jessie mau anggap lo lagi." sewot Sanz sambil menoyor kepala Gaishan pelan.
"BAZ*NGAN KAU, KELAPA GUE DI FITRAHIN EMAK GUE INI."
"Kepala woy, bukan nya kelapa." seru Cherry.
sedangkan Aleshaqi menuruti saja, malas memperotes. "Ngude beli liu munyi" ulang Aleshaqi berteriak keras.
"Care bebek kwek kwek kwek kwek" spontan Gaishan, Sanz, Debby dan Cherry, pun langsung menyahut.
"Liu munyi ngobral janji." Bumi
"Wa wa wa wa we we we we" teriak mereka berempat semangat.
"Jungklang jungkling mencintai
Aduh sakit hati ini" seru Alta berteriak kencang tak mau kalah.
"Sakit hati." Gaishan, Sanz, Debby, Cherry di tambah Jessie dan Moriz ikut bergabung menjadi backing vokal.
"Jujur tiang beli
Aku masih sangat mencintaimu Jangan lagi beli
Menyakiti hati dan ingkar janji" pekik ketiganya, collab bersama.
"Brakk!!" Bunyi pintu yang di tendang kasar. Membuat semua siswa yang berada di dalam kelas menoleh spontan kearah pintu yang di tendang barusan.
Rupanya suara tendangan itu berasal dari Kafka yang baru saja datang ke dalam kelas. Ia berjalan cepat menghampiri gadis yang sedang duduk di meja. Tampak sekali kilatan amarah yang terpancar dari kedua bola matanya, membuat semuanya langsung diam.
"Bos calm, Bos calm." seru Ali pelan yang sejak tadi mengekori pentolan Waldemarr itu.
"Lo ikut gue." seru Kafka, menatap nyalang kearah Alta dan mengabaikan seruan Ali.
Alta hanya terdiam, ia bingung tak tau kesalahan apa yang ia perbuat sehingga mengapa Kafka menyuruhnya untuk ikut bersamanya.
"GUE BILANG, LO IKUT GUE" teriak kafka mengintimidasi Alta.
__ADS_1
"Calm, Ada apa kaf?" tanya Gaishan mencoba menenangkan Kafka.
"SEKALI LAGI GUE BILANG, LO IKUT GUE" Kafka kembali menyentak sambil mencengkram erat tangan Alta.
"Kaf, udah Kaf, dia cewek, nyebut lo." Kini giliran Sanz yang berusaha menenangkan sahabat nya, meskipun ia sendiri bingung dan tidak mengetahui sama sekali apa yang sedang terjadi.
"Diem lo."
"Tapi lo udah kasar sama Alta, kaf." sahut Gaishan.
"DIEM LO ANJ*NG, BUKAN URUSAN LO!!" teriak Kafka yang benar-benar sudah marah.
"Gak usah pakai teriak bisa kan? Dan gak usah kasar juga. Lepasin tangan gue, baru gue mau ikut sama lo."
Kafka langsung melepaskan genggaman tangan nya. "ikut gue" titah nya, berjalan keluar kelas di susul Alta yang langsung mengekor.
"Lah, lo mau kemana?" tanya Gaishan.
"Ada urusan kecil yang harus gue selesaikan."
Jessie dan Cherry bangkit berdiri, akan melangkah maju mengekori sahabat mereka. Buru-buru di cegah oleh Gaishan, dan Aleshaqi dengan di sertai isyarat gelengan kepala.
"Gue takut Alta kenapa-kenapa," ucap Jessie cemas.
Gaishan menarik pergelangan tangan Jessie agar ia duduk kembali. "Biarin kasih mereka ruang, buat menyelesaikan permasalah mereka. Jadi kita jangan ikut campur." ucap Gaishan membuat pengertian, agar Jessie dan Cherry mengerti.
"Tapi, gue gak bisa tenang Gaishan. Lo lihat kan tadi? Kafka marah banget sama Alta."
"Iya, kamu yang mustinya tenang Beb, aku yakin Alta gak akan di apa-apain sama si Bos. Alta justru bisa menjadi obat penenang buat si Bos." mengusap lembut pucuk kepala Jessie. "karena Bos itu suka Alta, dia mungkin lagi jealous." bisik Gaishan di kuping Jessie.
Refleks Jessie langsung menengok, menatap Gaishan penuh tanya.
"Gak perlu lagi bertanya kenapa aku bisa tau, cukup terima kabar baiknya aja dari Alta, nanti." kembali berbisik.
"Lo berdua lagi ngomongin apa sih, kok ngomong nya bisik-bisik."
"Kepo" ucap mereka berdua kompak.
"Anj*rr, lo berdua beneran sehati. Kelas ini memang penuh dengan misteri" ucap Ali geleng-geleng.
"Kenapa cuma gue satu-satu nya yang bingung disini." rengek Cherry.
"Sabar Cherr, lo bisa pegangan sama gue kalau lo bingung." Sanz.
"Emang nya lo tiang?" sembur Cherry galak.
"Ternyata bukan cuma banyak misteri kelas ini. Tapi juga banyak orang yang bertegangan tinggi." kini Aleshaqi ikut angkat suara semenjak tadi ia hanya diam saja.
__ADS_1