Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 10


__ADS_3

"Pagi bos.."


Ku sapa bosku yg kini tengah duduk di gubuk seraya asik berkutat dengan laptop di depannya.


"Hmm.." Hanya itu jawaban yg ku dengar.


Singkat banget jawabnya, kenapa lagi ni orang, Gumamku pelan takut terdengar olehnya.


"Bos lagi sibuk ya?".


Tanyaku sedikit melirik laptop yg di bawanya.


"Iya ini lagi sibuk ngurusin perijinan pabrik, saya juga masih bingung tema apa yg cocok untuk stand kita nanti, acaranya sudah bulan depan, tapi saya sama sekali belum terpikirkan ide yg bagus buat tema yg akan kita pakai. Tapi saya berharap kali ini kita bisa menang seperti dulu waktu ayah masih ada, dengan begitu konsumen kita pasti akan tambah banyak." Kata bos panjang lebar.


Ah iya aku lupa, tiap tahun kan daerah ini pasti ada festival panen, dan sejak meninggalnya almarhum suami bu Rahma stand kita tidak pernah menang lagi.


"Saya coba bantu boleh nggak pak? lagian saya juga sedang luang, tadi sebelum kemari saya sudah ke gudang dulu mengecek stok pupuk, serta pembasmi hama, juga sudah memastikan sendiri infrastruktur kita mulai dari saluran air, pagar, rambu rambu semua sudah beres pak, nggak ada masalah." Terangku padanya berharap ia akan menerima bantuanku.

__ADS_1


Sepertinya dia kelihatan sangat lelah dan kurang tidur, melihat ada sedikit kerut dikeningnya juga kantung hitam dibawah matanya. Karena itulah aku mencoba menawarkan bantuan, hitung hitung bisa menambah pengalamanku.


Ku lihat ia sejenak berpikir sambil melihatku.


"Emm..


Baiklah saya serahkan ini sama kamu, saya harap kamu nggak ngecewain saya, dan lagi kalau kamu butuh bantuan atau ada pertanyaan kamu hubungi saya saja, saya masih harus mengurus masalah pabrik dulu." Ucapnya serius seraya menatapku tajam, sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkanku.


Huft....


Semangat Ai!! Kamu pasti bisa.. yap ku semangati diriku sendiri dan mulai memikirkan serta mencari referensi atas tugas yg diberikan pak bos padaku.


"Ya halo saya sudah sampai, iya saya tunggu".Ucapku pada sesorang diseberang telpon.


Semoga nego kali ini berhasil, aku harus bisa meyakinkan pak Dahlan agar mau menjual tanahnya itu tanpa harus aku menikah dengan anaknya.


"Siang Rey.." Sapa seorang pria paruh baya yg tak lain adalah pak Dahlan.

__ADS_1


Hari ini aku menghubunginya kembali mengajaknya makan siang di restoran ini sembari membahas masalah tanah itu, sungguh aku berharap pak Dahlan mau menjual tanahnya, agar pembangunan pabrik yg telah ku rencanakan sedari lama terealisasikan.


"Siang pak.. silahkan duduk, saya sudah memesankan makanan untuk bapak. Gimana pak kabarnya? maaf kalau saya sedikit mengganggu waktu berharga anda." Ucapku basa basi.


"Alhamdulillah baik Rei seperti yg kau lihat, ku dengar dari Mona kamu nggak ngajar di kampus lagi ya? kenapa? Dia selalu saja ngomongin kamu."


Hah.. ke hela nafasku panjang


"Iya pak saya sepertinya akan benar benar berhenti mengajar, karena kebun dan sawah bunda saya yg di desa membutuhkan saya, apalagi sekarang saya berencana mendirikan pabrik pengolahan sendiri agar bisa lebih memaksimalkan hasil panen nantinya." Terangku pada pak Dahlan


"Ah ya.. soal tanah itu masih sama, maaf Rey saya tetap tidak bisa menjualnya ke kamu kecuali kamu mau menikahi Mona, dia sangat menyukaimu Rey, dia tidak mau saya jodohkan dengan pria manapun, dia hanya ingin kamu." Ucap pak Dahlan sambil menggenggam tanganku, menatapku sendu berharap aku bisa menerima putri satu satunya itu.


Sudah kuduga, tak akan mudah merayu pak Dahlan begitu saja, tapi sangat tidak mungkin untukku menikah dengan putrinya yg manja dan agresif itu, aku sama sekali tidak menyukainya, dan bisa dipastikan akan sangat menyiksa kami berdua jika nanti kami benar akan menikah karena aku tidak mencintainya.


"Maaf pak Dahlan seperti yg anda tahu saya sama sekali tidak menaruh hati pada putri anda, akan sangat menyakitkan baginya jika dia nanti menikah denganku yg sama sekali tidak mencintainya, dia tidak akan bahagia dengan pernikahan seperti itu. Mona adalah gadis yg baik juga cantik, saya percaya suatu saat kelak akan ada pria yg bisa mencintai Mona lebih dari apapun." Kataku lembut mencoba memberi pengertian padanya, semoga ia bisa mengerti.


"Baiklah kalau begitu, saya bisa menjual tanahku itu padamu asal kamu bisa membuat Mona melupakanmu, dan terima kasih atas makan siangnya, maaf saya buru buru ada rapat nanti." Balasnya padaku sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Haahh...


Susah sekali Tuhan meyakinkan dia, ku mohon bantulah aku. Teriakku dalam hati sambil menyandarkan sejenak punggungku di kursi restoran.


__ADS_2