Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 69


__ADS_3

Sesuai janjiku, siang ini aku membawa Nadine ke rumah barunya. Ya dia telah keluar dari rumah sakit pagi tadi, aku yg menjemputnya pun langsung membawanya kemari, rumah sederhana namun ku rasa cukup nyaman untuk dihuni gadis sepertinya.



"Ini rumah barumu, masuk dan lihatlah." Ucapku pada Nadine yg masih melamun dalam mobilku.


"Eh.. I iya kak.." Jawabnya gugup lalu mengikutiku turun.


Wajah Nadine kini nampak lebih cerah dari biasanya. Namun dari ekspresinya ia seperti tidak percaya dengan apa yg ia lihat.


Aku menuntunnya masuk ke dalam rumah itu, membawanya berkeliling dan menunjukkan letak kamarnya.


Selain rumah dan perabotan, aku pun menyiapkan beberapa pasang pakaian di lemari salah satu kamar untuk Nadine, juga bahan makanan lumayan banyak di kulkas untuknya memasak.


Lagi lagi Nadine meneteskan kembali air matanya, membuatku bingung sekaligus penasaran. Apa dia masih ada yg sakit? Pikirku.


"Hiks.. Hiks.. Aku sangat bersyukur dipertemukan denganmu kak. Sangat sangat bersyukur.". Gumamnya disela tangis.


"Jika kamu bersyukur maka senyumlah, jangan membuang buang lagi air matamu seperti ini." Hiburku mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Dan ya, mulai besok kau bisa bekerja di perusahaanku. Datanglah jm 8 ke RHD grup, aku sudah memilihkan posisi untukmu." Sambungku lagi.


"Tentu, aku akan bekerja sekeras mungkin dan mengembalikan semua uangmu. Aku janji." Ucap Nadine penuh semangat.


Wajahnya begitu lucu saat seperti ini, hingga mampu membuatku tersenyum tanpa ku sadari.


*****


Aqila pov


Hari ini cukup melelahkan, banyak sekali pekerjaan dikantor yg hampir deadline. Di tambah lagi dengan masalahku dan Levin yg entah bagaimana akhirnya.


Namun apa dayaku? Meskipun aku berusaha menolak dan memberinya pengertian, ia tetap keras kepala, dan tidak mau mengerti.


Tak bisa dipungkiri dia memang pria yg baik, sepertinya ia juga mencintaiku. Tapi tetap saja wanita mana yg akan tahan dengan sikap posesif pria yg berlebihan? Itu malah membuat kami para wanita merasa jengkel dan kesal.


"By, sudah jam 12. Yuk istirahat, kita makan siang diluar." Ajak Levin yg langsung menarikku untuk ikut bersamanya.


Dan masih sama seperti sebelumnya, begitu kami lewat banyak pasang mata yg menatap ke arah kami. Ada yg biasa, ada yg terlihat kagum, ada pula yg terang terangan menatap dengan tajam.

__ADS_1


Bagi Levin itu biasa, dia sangat cuek dengan hal hal seperti itu, ia justru semakin mengeratkan genggaman tangannya dan tersenyum padaku. Tapi tidak denganku, aku malu, aku juga merasa risih ditatap seperti itu. Bahkan beberapa hari yg lalu tanpa sengaja aku mendengar beberapa karyawan tengah bergosip dibelakangku. Menjelek jelekkan aku, mengutukku, juga menuduhku telah merayu Levin.


Hah.. Dasar manusia kurang kerjaan. Memang apa salahnya jika Levin memilihku? Toh aku tidak mengemis cinta padanya.


****



Dan disinilah kami sekarang. Restoran mewah dengan gaya klasiknya. Levin dengan sigap menarik satu kursi didepannya untukku dan segera memesan makanan.


"Mau makan apa By?". Tanya Levin sambil membuka buku menu yg pasti berisi makanan makanan berharga fantastis.


"Terserahmu saja." Jawabku malas.


"Baiklah kita pesan ini saja."


Beberapa menit kemudian makanan pesanan kami tiba, kami berdua pun segera menyantapnya dengan hening dan khidmat.


Pantas saja harganya begitu mahal, rasanya memang tidak mengecewakan. Sangat pas dan lezat dilidah. Pikirku.

__ADS_1


__ADS_2