Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 49


__ADS_3

"Qila.. Gimana tadi, apa dia menerima idemu?". Tanya Levin antusias begitu aku sampai diruangan.


"Iya pak, bahkan Pak Abi ingin ini segera direalisasikan dan memintaku untuk menjadi penanggung jawab proyek." Kataku dengan lesu.


"Wah..Bagus dong, aku yakin kamu pasti bisa. Semangat ya." Ujar Levin menepuk pundakku lalu kembali ke ruangannya.


Ya aku harus menunjukkan kemampuanku, aku tak ingin mengecewakan kepercayaan Levin terutama Pak Abi. Ayo Qila semangat.


****


Jam istirahat pun tiba, aku sudah sepakat untuk makan siang bersama dengan Rena di restauran depan kantor. Entahlah dia memaksaku ikut bersamanya dan bilang akan mentraktirku nanti.


Setelah merapikan sedikit meja kerja juga penampilanku, aku segera keluar dan menghampiri Rena di ruangannya yg tepat satu lantai dibawah divisiku.


"Hai Qilaku sayang, maaf membuatmu menunggu." Ujar Rena yg buru2 menghampiriku.


"Nggak kok baru 5 menit. Yuk!".


10 menit kemudian kami sampai di tempat tujuan kami, restoran klasik mewah yg sedang ramai dengan pengunjung.


"Hey.. Ada apa kau memaksaku kemari bahkan mentraktirku." Tanyaku penasaran pada Rena yg asik dengan makanannya.


"Ah tak apa, hanya saja itu.."

__ADS_1


Ucapan Rena terpotong karena ada seorang pria asing yg menghampiri meja kami.


"Ren maaf membuatmu menunggu." Ucap pria itu menggenggam tangan Rena dan duduk disampingnya.


"Lepas!! Dasar narsis, siapa juga yg menunggumu, tidakkah kau lihat aku sedang makan siang bersama temanku." Jawab Rena ketus.


Aku yg tidak mengerti apapun hanya diam melihat perdebatan mereka, sudahlah, aku tak berhak ikut campur.


"Bisakah kau sedikit lembut? kita akan bertunangan Rena, cepat atau lambat kau akan menjadi istriku." Ujar pria itu sedikit meninggikan nada bicarnya.


"Heh.. Nggak usah mimpi. Aku tak pernah mau untuk bertunangan apa lagi menikah denganmu. Lebih baik kau jauh2, aku sangat muak melihat wajahmu." Teriak Rena.


Nampaknya pria itu sedang berusaha mengejarnya. Rena sialan.. Bisa2nya ia membuatku menjadi penonton live seperti ini.


Pria itu terlihat sangat marah, hampir saja tangan kokohnya menampar pipi mulus Rena jika aku tidak sigap menahannya.


"Maaf tuan, sebagai seorang pria anda tak seharusnya bermain tangan dengan wanita. Apalagi katamu tadi kalian akan bertunangan." Tuturku mencoba melerai mereka.


"Hey.. ****** sebaiknya kau tak usah ikut campur dengan urusan kami." Umpat pria itu menghempaskan tanganku dengan kasar.


Plakk...


Tanpa segan ku ayunkan tanganku menampar pipi pria itu dengan keras. Berani sekali dia menyebutku ******.

__ADS_1


"Kurang ajar, berani sekali kau."


Aku terkejut, saat aku telah siap menahan pukulan pria itu tiba2 datang seseorang yg menarik dan memukulnya hingga tersungkur dilantai. Dan ya, kami benar2 menjadi pusat perhatian sekarang.


Levin, kenapa bisa disini. Pikirku bingung.


"Berani sekali tangan kotormu itu menyentuh wanitaku hah!!!" Teriak Levin masih terus mendaratkan pukulannya di perut pria itu.


Pria itu terlihat sangat kesakitan sambil berusaha melawan tenaga Levin yg kalap.


Sampai akhirnya datang dua security yg melerai perkelahian mereka.


Hufftt.. Syukurlah.


****


"Qila.. Pak Levin.. Saya benar2 minta maaf. Karena saya kalian jadi terlibat. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Rena menyesal menatap padaku dan Levin bergantian.


"Dia beneran tunangan kamu Ren?" Tanyaku penasaran.


"Bukan, tapi mama berusaha menjodohkan aku dengannya. Mama juga yg mengatur pertemuan ini, karena itu aku mengajakmu. Aku benci harus berduaan dengan pria gila sepertinya." Jelas Rena.


"Hmm.. Ya sudah ini jam istirahatnya sudah mau berakhir. Lebih baik kita kembali saja ke kantor." Ucap Levin.

__ADS_1


"Baik pak." Jawabku dan Rena bersamaan.


__ADS_2